Share

Bab 2

Author: Crispy Coco
Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di gudang bawah tanah itu.

Pendarahan semakin parah. Lantai di bawahku sudah basah menggenang. Kesadaranku datang dan pergi seiring dengan rasa sakit yang kurasa.

Setiap kontraksi terasa seperti bom yang meledak di perutku.

Tiba-tiba, pintu terbuka lebar.

"Ya Tuhan!" Sebuah suara familiar terdengar.

Itu suara Dokter Haris.

Dokter pribadi Keluarga Ferano.

Dia bergegas ke sisiku, berlutut di genangan darahku, tangannya yang gemetar memeriksa denyut nadiku.

"Nyonya Elsa! Apa yang Anda lakukan di sini?" Wajahnya pucat. "Kukira Anda berada di kamar VIP di lantai atas ...."

"Indri," kataku lemah. "Dia menaruhku ...."

"Jangan bicara lagi." Dokter Haris mengangkat gaunku untuk memeriksa. Ekspresi kengerian terpancar jelas di wajahnya. "Pembukaannya sudah lengkap, air ketubannya juga sudah pecah, Anda juga mengalami pendarahan. Ini darurat!"

Dia mencoba menggunakan ponsel, tetapi layarnya menunjukkan: [Tidak Ada Sinyal].

"Sial!" umpatnya, lalu menatapku. "Nyonya, saya harus bawa Anda ke ruang persalinan sekarang juga!"

Dokter Haris membungkuk untuk mengangkatku. "Sini, pegang aku yang kuat."

"Bayiku ...." Aku meraih lengannya. "Kumohon, selamatkan bayiku."

"Aku akan menyelamatkan kalian berdua," katanya sambil menggertakkan gigi, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya. "Tapi pertama-tama, kita harus keluar dari tempat mengerikan ini dulu."

Para penjaga di luar melihatnya dan bergerak untuk menghalangi jalan kami.

"Berhenti! Nona Indri bilang ...."

"Nona Indri bilang apa?!" Dokter Haris meraung. "Membiarkan seorang wanita yang mau melahirkan kehabisan darah sampai mati di gudang bawah tanah? Minggir!"

Suaranya berwibawa layaknya seorang dokter, bahkan para penjaga pun tersentak.

Dokter Haris pun terhuyung-huyung membawaku menuju lift.

Darah menetes ke lantai, meninggalkan jejak yang menjijikkan di belakang kami.

"Bertahanlah," katanya terengah-engah. "Lantai atas memiliki peralatan terbaik. Kita hampir sampai."

Lift itu terasa seperti bergerak menembus beton. Setiap lantai bagaikan sebuah siksaan.

Pandanganku mulai kabur, tetapi aku bisa merasakan bayiku sedang berjuang, dia sedang berusaha keluar.

"Berapa lama lagi?" bisikku.

"Dua menit," kata Dokter Haris sambil memperhatikan nomor lantai. "Hanya dua menit."

Lift akhirnya sampai di lantai atas. Pintu terbuka, dan Dokter Haris bergegas menuju ruang persalinan pribadi yang mewah ....

Pintu terbuka.

Kami bergegas masuk dan langsung membeku seketika.

Ruangan itu kosong.

Peralatan medis senilai triliunan ... semuanya hilang.

Monitor, ventilator, meja operasi, bahkan tempat tidur sialan itu pun hilang.

Tidak ada apa pun di sana kecuali empat dinding kosong dan beberapa kabel yang menjuntai.

"Ini tidak mungkin," bisik Dokter Haris. Dia berdiri terpaku di ambang pintu. "Di mana semua peralatannya?"

Langkah kaki bergema dari lorong.

Indri muncul di pintu dengan beberapa perawat di belakangnya.

Dia melihat kami dan berpura-pura memasang ekspresi terkejut.

"Ya Tuhan, Elsa!" Dia memegang dadanya. "Kau terlihat mengerikan! Dokter Haris, mengapa dia tidak beristirahat saja di tempat tidur?"

"Beristirahat?" Dokter Haris menatap Indri. "Dia mengalami pendarahan di gudang bawah tanah! Dan, ke mana semua peralatan di ruangan ini?"

Indri berkedip, seolah jawabannya sudah jelas.

"Oh, peralatan itu?" katanya dengan santai. "Kami pindahkan ke kamar Karin."

Wajah Dokter Haris semakin pucat. "Apa?"

"Untuk memastikan kelahiran yang aman dari ahli waris sah Keluarga Ferano," kata Indri dengan suara lambat dan penuh makna. Matanya pun menatapku dengan penuh penghinaan. "Karin pantas mendapatkan yang terbaik. Itu memang haknya."

"Tapi Nyonya Elsa akan segera melahirkan!" Dokter Haris berteriak sekarang. "Dia butuh operasi sekarang juga!"

Indri melirikku, dan hanya mengangkat bahunya.

"Hentikan sandiwaramu, Elsa. Rendi sudah memberitahuku kalau dosis itu tidak berbahaya. Kau hanya berpura-pura mencari simpati, mencoba mengalihkan perhatian dari persalinan Karin. Kami tidak akan tertipu lagi oleh permainanmu."

Aku menatap wajahnya yang dirias sempurna.

Tiba-tiba aku teringat peristiwa setahun yang lalu, dengan menggunakan uang pertama yang kudapatkan dari penjualan lukisanku, aku membelikannya gaun rancangan Dixor yang selama ini dia impikan.

Dia saat itu memelukku dan berkata, "Elsa, kau itu kakak perempuan terbaik yang tak pernah kupunya."

Lelucon sekali.

"Kakak perempuan yang tak pernah dia miliki" itu terbaring di lantai dan sekarat karena kehabisan darah, namun dia dan kakaknya yang berharga itu justru mendorongku menuju kematian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 11

    Tiga tahun kemudian. Di kantor pusat Keluarga Manahan di Kota Ner Kora, ruangan teratas.Aku duduk di kursi yang dulunya milik ayahku, sebuah kesepakatan akuisisi senilai triliunan ada di depanku.Penaku meluncur di atas kertas, menandatangani namaku.Elsa Manahan."Nyonya, kami punya kabar dari Serovo," kata Lukas sambil memasuki ruangan. "Kebun anggur ayahmu mencatat rekor panen tertinggi tahun ini.""Baguslah," kataku tanpa mendongak. "Dia sudah seharusnya menikmati masa pensiun."Di luar jendela, cakrawala Ner Kora berkilauan di bawah matahari terbenam.Dalam tiga tahun, aku telah memperluas kerajaan bisnis Keluarga Manahan ke ketinggian yang belum pernah dicapai sebelumnya.Dari Ner Kora ke Loksar, dari Celion ke Mitisao. Pengaruh kami ada di mana-mana."Ada lagi, Lukas?" tanyaku."Laporan yang Nyonya minta," katanya sambil menyerahkan sebuah berkas kepadaku. "Tentang Celion."Aku mengambilnya.Laporan tentang status Rendi Ferano.Setelah pertemuan terakhir kami tiga tahun lalu, d

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 10

    Hanya dalam tiga bulan, Rendi menjual semuanya. Rumah besar, kasino, pelabuhan, bahkan perhiasan keluarga.Sebagian besar uangnya digunakan untuk melunasi utang.Dengan sisa uang yang ada, dia melakukan sesuatu yang mengejutkanku.Dia membeli sebidang tanah pemakaman, tepat di sebelah "makamku.""Papa, aku mau nomor itu," kataku."Nomor apa?""Nomor ponsel lamaku. Nomor yang Rendi kira sudah tidak aktif."Ayahku mengerutkan kening. "Kenapa?""Aku mau mendengar apa yang ingin dia katakan."Ayahku memberi sebuah ponsel lama.Layar menunjukkan empat puluh tujuh panggilan tak terjawab.Semuanya dari Rendi. Dan, puluhan pesan suara.Aku memutar pesan suara pertama.Suara Rendi terdengar serak dan parau, memenuhi ruangan."Elsa ... aku tahu kau tidak bisa mendengar ini, tapi aku harus mengatakannya.""Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tentang Karin, tentang bayi itu. Tentang apa yang dia lakukan padamu.""Itu salahku. Aku yang sudah membunuhmu."Aku mendengarkan, wajahku tanpa ekspresi seperti

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 9

    Malam itu, Rendi memanggil orang-orang kepercayaannya."Aku ingin tahu semuanya tentang oksitosin." Suaranya terdengar dingin. "Setiap detailnya.""Bos, kita sudah memastikan kalau Nyonya Karin yang mengambilnya ....""Aku ingin lebih." Rendi memotongnya. "Kenapa dia menginginkannya? Dengan siapa dia bicara? Aku ingin tahu setiap gerak-geriknya."Tiga hari kemudian.Lukas masuk ke ruangan dengan senyum puas."Nyonya, kami punya semua bukti yang kau inginkan."Dia meletakkan sebuah berkas di hadapanku.Foto pertama membuatku merinding.Karin di sebuah kamar motel dengan seorang pria yang bukan kakaknya Rendi.Tubuhnya menempel pada pria itu, bibir mereka berciuman.Keterangan waktu pada foto: [Hamil dua bulan]."Siapa pria itu?" tanyaku."Rudi Surya. Wakil pimpinan kelompok Celion Timur," jawab Lukas. "Musuh bebuyutan Keluarga Ferano."Aku membalik halaman.Sebuah laporan DNA.Subjek: [Putra Karin Romano]Ayah yang Diduga: [Tedy Ferano]Kemungkinan Hubungan: [0%]Aku tertawa dingin. Yan

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 8

    Aku duduk di tengah pusat komando ayahku di Kediaman Keluarga Manahan.Sebuah peta detail Celion tergantung di dinding, dipenuhi bendera-bendera merah kecil.Setiap bendera menandai kerentanan Keluarga Ferano."Pengiriman pertama telah dicegat," lapor Lukas. "Senjata senilai empat ratus delapan puluh miliar. Orang-orang kita secara anonim memberi info kepada polisi maritim di sana."Aku mengangguk, lalu menggambar tanda X di atas sebuah titik di peta."Bagaimana dengan kasino?""Dinas pajak sudah menggerebek tiga titik terbesar mereka tadi pagi," lapor pria lain. "Mereka menyita buku kas, semuanya. Rendi menghadapi kerugian sekitar delapan ratus miliar. Mudah saja."Satu lagi tanda X."Kalau pelabuhan?""Pelabuhan sisi Timur dan Selatan sudah punya pemilik baru. Mitra kita dengan senang hati mengambil alih bisnis itu."Aku terus menggambar tanda X di peta.Satu bulan.Kerajaan bisnis Keluarga Ferano yang sudah dibangun selama beberapa dekade, akhirnya runtuh sedikit demi sedikit."Baga

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 7

    Di sebuah gereja kecil di Kediaman Keluarga Ferano. Lilin berkelap-kelip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari.Rendi sendiri yang membawa peti mati kecil yang terbungkus itu. Dia meletakkannya di depan altar.Dia pun mengusir semua orang."Bos, kau perlu istirahat ...." Salah satu anak buahnya berkata."Keluar." Suara Rendi dingin. "Kalian semua, keluar."Pintu tertutup, meninggalkannya sendirian dengan peti mati itu.Aku mengamati semuanya melalui kamera tersembunyi.Rendi berlutut di depan peti mati, diam tak bergerak.Jam demi jam berlalu. Langit di luar semakin gelap, namun dia tetap tidak bergerak."Apa yang dia lakukan?" Ayahku bertanya dari belakang."Pertunjukan," jawabku datar.Keesokan harinya, dan hari berikutnya, Rendi masih di sana.Tidak ada makanan. Tidak ada air. Dia bahkan tidak berdiri.Jasnya kusut berantakan. Wajahnya ditumbuhi janggut tipis, matanya cekung.Pada malam ketiga, Karin akhirnya muncul.Dia menggendong bayinya, mengenakan gaun berkabung hitam

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 6

    Di kediaman Keluarga Manahan, Kota Serovo.Aku duduk di ruang kerja ayahku, menatap deretan monitor.Layar-layar itu menampilkan setiap sudut rumah sakit swasta di Kota Celion itu."Jenazahnya sudah ada di kamar mayat," lapor Lukas dari belakang. "Orang kita sudah memastikan tidak ada yang terlewat."Aku mengangguk, mataku terpaku pada layar.Monitor ketiga menampilkan pesta di lantai atas.Rendi berdiri di sana dengan setelan jas yang rapi, menggendong bayi itu.Putranya Karin. Sang ahli waris.Anggota Keluarga Ferano mengerumuni mereka, wajah mereka berseri-seri.Dentingan gelas sampanye, suara tawa, ucapan selamat yang tak henti-hentinya."Selamat, Bos!""Masa depan keluarga!""Tedy pasti akan sangat bangga jika bisa melihat ini!"Aku menyaksikan semuanya dalam diam.Tidak ada yang menyebut namaku. Tidak ada yang bertanya di mana aku berada.Seolah-olah aku tidak pernah ada."Bajingan-bajingan itu." Lukas meludah. "Saat kau berjuang untuk hidupmu, mereka malah bersulang."Aku jadi p

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 5

    Anak buah Lukas menyerbu sepanjang lorong.Semenit kemudian, tempat itu dikunci.Lift dimatikan. Tangga dipenuhi pria bersetelan hitam."Di mana tim medis sialan itu?!" Lukas meraung."Sedang perjalanan ke atas!" Sebuah suara menjawab.Aku terbaring di lantai yang dingin. Nyawa seolah perlahan menin

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 4

    Kesadaranku mulai memudar.Indri masih berdiri di sana, hinaannya terdengar samar-samar."Kalau kau tidak hamil, Rendi tidak akan pernah menikahi orang asing sepertimu."Aku mencoba melakukan apa yang dikatakan Dokter Haris. Aku mencoba menggunakan rasa sakit itu. Mengejan sekuat tenaga pada setiap

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 3

    Dokter Haris membaringkanku di lantai ruangan kosong itu dan berlari keluar."Aku akan memeriksa ruang perawat untuk mencari persediaan!" teriaknya.Indri bersandar di kusen pintu, menikmati pertunjukan itu."Sungguh dramatis," katanya sambil memeriksa kuku-kukunya. "Tapi aktingmu masih perlu diting

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 1

    Kepalaku terasa berputar. Mereka mendorongku ke dalam sebuah gudang bawah tanah rumah sakit. Sebuah sel darurat."Kurung dia di sini!"Aku mengenali suara itu.Dia adalah Indri Ferano, adik suamiku.Dia mendekat, lalu sebuah pisau dingin menyentuh pipiku. Saat itulah, aku melihat pisau bedah di tang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status