Share

Bab 3

Author: Crispy Coco
Dokter Haris membaringkanku di lantai ruangan kosong itu dan berlari keluar.

"Aku akan memeriksa ruang perawat untuk mencari persediaan!" teriaknya.

Indri bersandar di kusen pintu, menikmati pertunjukan itu.

"Sungguh dramatis," katanya sambil memeriksa kuku-kukunya. "Tapi aktingmu masih perlu ditingkatkan."

Kontraksi lain menerjangku, dan aku meringkuk seperti bola.

Darah terus menggenang di bawahku, menyebar di lantai marmer putih.

Dua menit kemudian, Dokter Haris berlari kembali.

Dengan tangan kosong.

Wajahnya pucat pasi.

"Tidak ada apa pun di ruang perawat," katanya dengan suara gemetar. "Bahkan hemostat dasar pun tidak ada. Kain kasa juga tidak ada."

Indri terkekeh. "Oh, itu? Itu juga dikirim ke kamar Karin atas perintah Rendi."

"Ini pembunuhan!" teriak Dokter Haris. "Dia akan mati! Bayinya akan mati!"

"Itu sudah takdir." Indri mengangkat bahu. "Kebutuhan keluarga adalah yang utama."

Dokter Haris berlutut di sampingku dan menggenggam tanganku.

"Nyonya, aku minta maaf," katanya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak punya peralatan, juga tidak ada obat. Tidak ada apa-apa."

"Kalau begitu gunakan tanganmu!" Aku mencengkeram kerah bajunya. "Lakukan apa saja!"

"Aku tidak bisa mengambil resiko. Ini tidak steril, aku tidak punya apa pun untuk menghentikan pendarahannya ...."

"Cukup!" Indri tiba-tiba membentak.

Dua penjaga masuk dan mencengkeram lengan Dokter Haris.

"Nona Indri bilang sudah cukup." Salah satu dari mereka mendengus.

"Tidak!" Dokter Haris meronta. "Dia butuh dokter!"

Mereka mulai menyeretnya keluar.

"Dengarkan aku!" Dokter Haris berteriak saat mereka menyeretnya pergi. "Anda harus mengejan! Temukan titik kontraksi terkuat dan dorong ke bawah! Manfaatkan rasa sakit itu!"

Suaranya pun menghilang di lorong. "Mengejan! Jangan menyerah!"

Pintu dibanting hingga tertutup.

Sekarang hanya ada aku dan Indri.

Dia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan video.

"Rendi?" Suaranya tiba-tiba penuh kepedihan. "Kau harus melihat pertunjukan baru yang sedang dipentaskan istrimu yang baik ini."

Dia mengarahkan kamera kepadaku.

Aku melihat wajah Rendi. Dia berdiri di lorong yang terang benderang di luar kamar lain. Jasnya tampak kusut dan wajahnya kelelahan.

Ketika dia melihatku dalam genangan darah, selintas keterkejutan tampak di wajahnya. Namun, langsung hilang dalam sekejap, dan digantikan oleh ekspresi dingin.

"Ada apa dengannya?" Suaranya tercekat dan dingin.

"Menurutmu bagaimana? Itu hanya sandiwara," kata Indri dengan ringan. "Dia memang sedikit berdarah, tapi Dokter Haris itu ratu drama. Kurasa dia hanya mencoba membuatmu datang ke sini."

Rahang Rendi menegang saat menatapku melalui layar.

Kemudian, suara wanita lemah terdengar dari sisinya. Itu suara Karin.

"Rendi … siapa itu … Apa itu Elsa? Apa dia … apa dia menyalahkanku lagi?"

"Bukan apa-apa, jangan kehilangan fokus," kata Rendi. Suaranya langsung melembut untuk wanita itu. Tetapi, tatapannya padaku semakin dingin.

"Rendi!" teriakku dengan sisa kekuatan. "Selamatkan aku … bayinya … bayinya benar-benar akan lahir!"

"Elsa, hentikan." Ekspresinya tidak berubah. "Karin sedang mengalami komplikasi. Para dokter sedang bersamanya sekarang. Dia adalah prioritas."

"Tapi aku ...."

"Aku akan mengurusmu nanti," potongnya dingin.

Di layar, aku melihatnya berbalik dan mengelus dahi Karin dengan lembut.

"Itu adalah penebusan dosa atas apa yang sudah kau lakukan."

Layar menjadi hitam.

Indri menyimpan ponselnya, dia merasa puas.

"Lihat itu?" Dia berlutut di depanku, sorot matanya penuh kekejaman. "Kau bukan apa-apa bagi Rendi. Kau itu hanya seorang perempuan yang naik ke ranjangnya demi uang. Seekor kuda betina. Dan sekarang, kau bahkan tidak berguna lagi untuk itu."

"Kau pikir bisa menikah dengan Keluarga Ferano dan menjadi seorang ratu?" katanya sambil berdiri untuk menyampaikan vonis terakhirnya. "Kau dan makhluk di dalam perutmu itu hanyalah sampah yang perlu dibersihkan."

Aku menutup mata, tidak bisa lagi menatapnya.

Tanganku diam-diam bergerak ke arah kalung yang kupakai.

Itu adalah liontin antik dari nenekku. Garis pertahanan terakhir yang diberikan ayahku sebelum pernikahanku.

"Kalau kau berada dalam bahaya dan butuh bantuan ...." Pesan ayahku saat itu dengan suara yang sangat serius. "Hancurkan ini."

Jari-jariku menemukan mekanisme kecil di dalam liontin itu.

Suara Indri masih terngiang di telingaku.

"Karin memberitahuku bahwa kau memang tidak beres sejak awal. Aku bahkan sempat membelamu. Aku bodoh sekali. Seorang gadis dari antah-berantah, menikah demi uang. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Dengan segenap kekuatan, aku menghancurkan mekanisme itu.

Tidak ada suara, tidak ada cahaya. Tapi aku tahu bahwa sinyalnya telah dikirim.

"Setengah jam," kata ayahku dulu. "Dalam setengah jam, anak buahku akan menggeledah seluruh Celion untuk menemukanmu."

Tapi bayiku ... apa dia bisa bertahan setengah jam lagi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 11

    Tiga tahun kemudian. Di kantor pusat Keluarga Manahan di Kota Ner Kora, ruangan teratas.Aku duduk di kursi yang dulunya milik ayahku, sebuah kesepakatan akuisisi senilai triliunan ada di depanku.Penaku meluncur di atas kertas, menandatangani namaku.Elsa Manahan."Nyonya, kami punya kabar dari Serovo," kata Lukas sambil memasuki ruangan. "Kebun anggur ayahmu mencatat rekor panen tertinggi tahun ini.""Baguslah," kataku tanpa mendongak. "Dia sudah seharusnya menikmati masa pensiun."Di luar jendela, cakrawala Ner Kora berkilauan di bawah matahari terbenam.Dalam tiga tahun, aku telah memperluas kerajaan bisnis Keluarga Manahan ke ketinggian yang belum pernah dicapai sebelumnya.Dari Ner Kora ke Loksar, dari Celion ke Mitisao. Pengaruh kami ada di mana-mana."Ada lagi, Lukas?" tanyaku."Laporan yang Nyonya minta," katanya sambil menyerahkan sebuah berkas kepadaku. "Tentang Celion."Aku mengambilnya.Laporan tentang status Rendi Ferano.Setelah pertemuan terakhir kami tiga tahun lalu, d

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 10

    Hanya dalam tiga bulan, Rendi menjual semuanya. Rumah besar, kasino, pelabuhan, bahkan perhiasan keluarga.Sebagian besar uangnya digunakan untuk melunasi utang.Dengan sisa uang yang ada, dia melakukan sesuatu yang mengejutkanku.Dia membeli sebidang tanah pemakaman, tepat di sebelah "makamku.""Papa, aku mau nomor itu," kataku."Nomor apa?""Nomor ponsel lamaku. Nomor yang Rendi kira sudah tidak aktif."Ayahku mengerutkan kening. "Kenapa?""Aku mau mendengar apa yang ingin dia katakan."Ayahku memberi sebuah ponsel lama.Layar menunjukkan empat puluh tujuh panggilan tak terjawab.Semuanya dari Rendi. Dan, puluhan pesan suara.Aku memutar pesan suara pertama.Suara Rendi terdengar serak dan parau, memenuhi ruangan."Elsa ... aku tahu kau tidak bisa mendengar ini, tapi aku harus mengatakannya.""Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tentang Karin, tentang bayi itu. Tentang apa yang dia lakukan padamu.""Itu salahku. Aku yang sudah membunuhmu."Aku mendengarkan, wajahku tanpa ekspresi seperti

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 9

    Malam itu, Rendi memanggil orang-orang kepercayaannya."Aku ingin tahu semuanya tentang oksitosin." Suaranya terdengar dingin. "Setiap detailnya.""Bos, kita sudah memastikan kalau Nyonya Karin yang mengambilnya ....""Aku ingin lebih." Rendi memotongnya. "Kenapa dia menginginkannya? Dengan siapa dia bicara? Aku ingin tahu setiap gerak-geriknya."Tiga hari kemudian.Lukas masuk ke ruangan dengan senyum puas."Nyonya, kami punya semua bukti yang kau inginkan."Dia meletakkan sebuah berkas di hadapanku.Foto pertama membuatku merinding.Karin di sebuah kamar motel dengan seorang pria yang bukan kakaknya Rendi.Tubuhnya menempel pada pria itu, bibir mereka berciuman.Keterangan waktu pada foto: [Hamil dua bulan]."Siapa pria itu?" tanyaku."Rudi Surya. Wakil pimpinan kelompok Celion Timur," jawab Lukas. "Musuh bebuyutan Keluarga Ferano."Aku membalik halaman.Sebuah laporan DNA.Subjek: [Putra Karin Romano]Ayah yang Diduga: [Tedy Ferano]Kemungkinan Hubungan: [0%]Aku tertawa dingin. Yan

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 8

    Aku duduk di tengah pusat komando ayahku di Kediaman Keluarga Manahan.Sebuah peta detail Celion tergantung di dinding, dipenuhi bendera-bendera merah kecil.Setiap bendera menandai kerentanan Keluarga Ferano."Pengiriman pertama telah dicegat," lapor Lukas. "Senjata senilai empat ratus delapan puluh miliar. Orang-orang kita secara anonim memberi info kepada polisi maritim di sana."Aku mengangguk, lalu menggambar tanda X di atas sebuah titik di peta."Bagaimana dengan kasino?""Dinas pajak sudah menggerebek tiga titik terbesar mereka tadi pagi," lapor pria lain. "Mereka menyita buku kas, semuanya. Rendi menghadapi kerugian sekitar delapan ratus miliar. Mudah saja."Satu lagi tanda X."Kalau pelabuhan?""Pelabuhan sisi Timur dan Selatan sudah punya pemilik baru. Mitra kita dengan senang hati mengambil alih bisnis itu."Aku terus menggambar tanda X di peta.Satu bulan.Kerajaan bisnis Keluarga Ferano yang sudah dibangun selama beberapa dekade, akhirnya runtuh sedikit demi sedikit."Baga

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 7

    Di sebuah gereja kecil di Kediaman Keluarga Ferano. Lilin berkelap-kelip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari.Rendi sendiri yang membawa peti mati kecil yang terbungkus itu. Dia meletakkannya di depan altar.Dia pun mengusir semua orang."Bos, kau perlu istirahat ...." Salah satu anak buahnya berkata."Keluar." Suara Rendi dingin. "Kalian semua, keluar."Pintu tertutup, meninggalkannya sendirian dengan peti mati itu.Aku mengamati semuanya melalui kamera tersembunyi.Rendi berlutut di depan peti mati, diam tak bergerak.Jam demi jam berlalu. Langit di luar semakin gelap, namun dia tetap tidak bergerak."Apa yang dia lakukan?" Ayahku bertanya dari belakang."Pertunjukan," jawabku datar.Keesokan harinya, dan hari berikutnya, Rendi masih di sana.Tidak ada makanan. Tidak ada air. Dia bahkan tidak berdiri.Jasnya kusut berantakan. Wajahnya ditumbuhi janggut tipis, matanya cekung.Pada malam ketiga, Karin akhirnya muncul.Dia menggendong bayinya, mengenakan gaun berkabung hitam

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 6

    Di kediaman Keluarga Manahan, Kota Serovo.Aku duduk di ruang kerja ayahku, menatap deretan monitor.Layar-layar itu menampilkan setiap sudut rumah sakit swasta di Kota Celion itu."Jenazahnya sudah ada di kamar mayat," lapor Lukas dari belakang. "Orang kita sudah memastikan tidak ada yang terlewat."Aku mengangguk, mataku terpaku pada layar.Monitor ketiga menampilkan pesta di lantai atas.Rendi berdiri di sana dengan setelan jas yang rapi, menggendong bayi itu.Putranya Karin. Sang ahli waris.Anggota Keluarga Ferano mengerumuni mereka, wajah mereka berseri-seri.Dentingan gelas sampanye, suara tawa, ucapan selamat yang tak henti-hentinya."Selamat, Bos!""Masa depan keluarga!""Tedy pasti akan sangat bangga jika bisa melihat ini!"Aku menyaksikan semuanya dalam diam.Tidak ada yang menyebut namaku. Tidak ada yang bertanya di mana aku berada.Seolah-olah aku tidak pernah ada."Bajingan-bajingan itu." Lukas meludah. "Saat kau berjuang untuk hidupmu, mereka malah bersulang."Aku jadi p

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 5

    Anak buah Lukas menyerbu sepanjang lorong.Semenit kemudian, tempat itu dikunci.Lift dimatikan. Tangga dipenuhi pria bersetelan hitam."Di mana tim medis sialan itu?!" Lukas meraung."Sedang perjalanan ke atas!" Sebuah suara menjawab.Aku terbaring di lantai yang dingin. Nyawa seolah perlahan menin

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 4

    Kesadaranku mulai memudar.Indri masih berdiri di sana, hinaannya terdengar samar-samar."Kalau kau tidak hamil, Rendi tidak akan pernah menikahi orang asing sepertimu."Aku mencoba melakukan apa yang dikatakan Dokter Haris. Aku mencoba menggunakan rasa sakit itu. Mengejan sekuat tenaga pada setiap

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 2

    Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di gudang bawah tanah itu.Pendarahan semakin parah. Lantai di bawahku sudah basah menggenang. Kesadaranku datang dan pergi seiring dengan rasa sakit yang kurasa.Setiap kontraksi terasa seperti bom yang meledak di perutku.Tiba-tiba, pintu terbuka lebar."Ya

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 1

    Kepalaku terasa berputar. Mereka mendorongku ke dalam sebuah gudang bawah tanah rumah sakit. Sebuah sel darurat."Kurung dia di sini!"Aku mengenali suara itu.Dia adalah Indri Ferano, adik suamiku.Dia mendekat, lalu sebuah pisau dingin menyentuh pipiku. Saat itulah, aku melihat pisau bedah di tang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status