แชร์

Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur
Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur
ผู้แต่ง: Seth

Bab 1

ผู้เขียน: Seth
Raut wajah Laras Diwanto yang tampak tidak bersalah dan berjarak itu, benar-benar memantik amarah Bayu Adiatma yang telah menumpuk berhari-hari.

"Belakangan ini, kamu melarangku masuk ke kamarmu, malah setiap hari menyuruhku menginap di tempat Niken! Sekarang, Kresna sakit parah, demamnya tidak kunjung turun dan terus-menerus memanggil ibunya. Kamu sebagai ibunya bukannya merawat, malah malah santai membaca buku cerita di sini?" Dada Bayu naik turun, tatapannya tajam bagai pisau. "Laras, kamu sebenarnya sengaja menyiksa dirimu sendiri, atau menyiksa aku dan Kresna?"

Mendengar tuduhan itu, Laras langsung memasang wajah seolah-olah dialah yang paling dizalimi. "Pangeran, aku menyuruhmu menginap di Kediaman Niken karena kamu sendiri yang pernah bilang kalau dia piawai di atas ranjang dan bisa melayanimu dengan memuaskan. Aku tidak merawat Kresna karena dia sendiri yang bilang jangan mengganggunya kalau tidak ada keperluan. Baginya, ditemani Selir Niken saja sudah cukup. Aku cuma melakukannya sesuai keinginanmu dan Kresna."

Bayu seolah baru saja ditinju tepat di wajah. Segala amarah yang meluap di dadanya seketika membeku, berganti menjadi tatapan kosong yang menyimpan rasa malu.

Dia membuka mulutnya, ingin membantah, tetapi menyadari bahwa tidak satu kata pun bisa keluar dari tenggorokannya.

Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya mengangkat tangan dan memijat pelipisnya. Nadanya melunak, tersirat kelelahan dan kepasrahan. "Aku salah. Aku mengaku salah, tidakkah itu cukup? Ya, aku mengingkari sumpahku untuk setia hanya padamu seumur hidup. Tapi, Niken itu ... Dia sudah menyerahkan kesuciannya padaku dan hidup sebatang kara. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Kresna itu masih kecil. Dia bilang dia menyukai Niken, itu hanya karena kamu terlalu ketat soal pelajarannya, jadi dia sedang ngambek. Sekarang dia sakit dan terus-menerus memanggilmu, itu membuktikan kalau kamu tetap yang paling penting di hatinya. Nanti akan kuajari dia dengan baik agar tidak bersikap begitu padamu lagi. Mulai sekarang ... kita berempat akan menjalani hidup bersama dengan baik. Sekarang, tolong temui dia sebentar, ya?"

Dia mengulurkan tangan ke arah istrinya. Tangan itu ramping dan kokoh, tangan yang pernah berkali-kali menggenggamnya, memeluknya, serta mengukir begitu banyak janji dan kehangatan.

Namun, Laras tetap menggeleng, nadanya terdengar acuh tidak acuh. "Terlalu jauh, aku benar-benar tidak ingin ke sana."

Bayu tertegun, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. "Apa?"

"Dari sini ke Kediaman Kresna terlalu jauh. Aku malas berjalan. Lagi pula, buku cerita ini sedang seru-serunya. Aku belum selesai membaca."

Rona di wajah Bayu memudar perlahan. Dia menatap Laras dengan tidak percaya, seolah baru pertama kali ini benar-benar mengenal perempuan di hadapannya.

"Laras ...." Suaranya bergetar. "Cuma belasan langkah ... kamu bahkan tidak sudi berjalan beberapa langkah saja demi Kresna?"

Laras tidak menjawab. Dia hanya menunduk, mengambil kembali buku ceritanya.

Penolakan tanpa kata ini jauh lebih menusuk harga diri dan memantik amarah Bayu daripada bentakan keras apa pun!

Tiba-tiba dia mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Laras dengan begitu kuat hingga membuat wanita itu sedikit mengerutkan kening.

"Aku akan menggendongmu! Aku akan menggendongmu ke sana! Bagaimana?"

Namun, begitu ujung jarinya menyentuh kulit Laras, perempuan itu seolah tersengat api. Dia segera menarik tangannya, menarik tubuhnya menjauh untuk menghindari sentuhan Bayu.

Tangan Bayu terpaku di udara. Dia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.

"Sekarang ... kamu bahkan tidak mau aku sentuh?"

Laras menundukkan pandangannya, merapikan lengan bajunya yang sedikit kusut. Suaranya datar, tanpa tersirat emosi apa pun. "Mana mungkin. Pangeran terlalu banyak berpikir. Hamba hanya ... benar-benar tidak ingin pergi."

Melihat Laras yang bersikap keras kepala dan tidak mau mengalah, api amarah yang telah lama dipendam di dada Bayu akhirnya tidak terbendung dan meledak dahsyat!

"Laras! Kamu benar-benar mau bersikap seperti ini, ya?"

"Bagus! Bagus sekali! Tapi, jangan lupa, tanpa kasih sayangku, kamu bukan siapa-siapa di kediamanku ini! Aku benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan! Berapa lama lagi kamu bisa terus merajuk padaku! Aku tunggu sampai kamu datang memohon padaku!"

Dia mengibaskan lengan bajunya dan berbalik pergi dengan amarah yang meluap-luap. Dia membanting pintu hingga bergemuruh keras, getarannya seolah membuat debu di langit-langit kamar berjatuhan.

Laras tetap duduk tenang di tempatnya, seolah suara bantingan pintu itu sama sekali tidak menyentuh perasaannya. Selang beberapa saat, dia baru memanggil, "Ajeng."

Ajeng, yang sedari tadi menunggu di ruang luar dan gemetar ketakutan, segera masuk dengan tergopoh-gopoh. "Nyonya, hamba di sini! Apa Nyonya ingin hamba memanggil kembali Pangeran? Hamba akan pergi sekarang juga!"

"Tidak. Tutup pintunya. Tempat Kresna berisik sekali sejak tadi, mengganggu konsentrasiku membaca buku."

Ajeng menatapnya dengan mulut ternganga, seolah baru pertama kali ini mengenal majikannya.

Setelah terdiam cukup lama, Ajeng tiba-tiba jatuh berlutut sampai terdengar suara gedebuk, lalu berkata dengan suara tercekat.

"Nyonya! Nyonya ... Nyonya benar-benar akan bersikap seperti ini? Mengabaikan Pangeran dan Putra Pangeran ... Apa Nyonya tidak takut jika hari-hari Nyonya di istana ini akan penuh penderitaan? Nyonya ... Nyonya sungguh tidak menyesal?"

Menyesal?

Laras tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sedikit pun mencapai matanya.

Hal yang paling dia sesali adalah menikahi Bayu tujuh tahun lalu dan melahirkan Kresna untuknya.

Untungnya, tinggal lima hari lagi.

Lima hari lagi, dia akan pergi.

Semua ini pun akhirnya akan kembali ke jalur semestinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status