Bayu menatap tajam sisi wajah Laras yang tenang. Amarah di dadanya mendidih, tetapi tidak satu kata pun keluar dari bibirnya. Akhirnya, dia hanya balik badan dengan kasar dan berkata dengan suara berat, "Niken, ayo. Aku akan mengajakmu berburu."Dia membawa Niken, memacu kudanya masuk ke arena perburuan.Kresna melirik Laras sekilas, lalu mengatupkan bibirnya dan memacu kudanya, mengikuti di belakang.Sepanjang jalan, Bayu seolah sedang meluapkan amarah yang tertahan. Panahnya tidak pernah meleset. Setiap kijang, rusa, dan kelinci yang berhasil diburu, semuanya dilemparkan kepada Niken yang berada di belakangnya, memancing sorak sorai dan tatapan iri dari orang-orang di sekitar.Kresna pun tidak mau kalah. Dia berhasil memburu beberapa ekor ayam hutan berbulu indah, lalu mempersembahkannya kepada Niken layaknya menyajikan harta karun.Niken duduk tegak di atas kudanya, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan, pipinya merona. Dia menikmati curahan kasih sayang yang ditunjukkan secara ter
Read more