Share

Bab 2

Author: Seth
Dia sebenarnya tidak berasal dari dunia ini.

Tujuh tahun lalu, usai menempuh ujian masuk perguruan tinggi, dia berkemah di puncak gunung bersama sahabatnya, menunggu fenomena langka Tujuh Bintang Sejajar. Tepat saat cahaya bintang-bintang itu membentuk sebuah garis, pandangannya mendadak gelap gulita. Saat membuka mata, dia sudah berdiri di tengah jalanan zaman kuno yang sama sekali asing.

Tidak membawa uang sepeser pun dan tidak mengerti bahasa setempat, dia nyaris dibakar hidup-hidup karena dianggap makhluk aneh. Di saat paling putus asa, dia bertemu dengan Pangeran Wali, Bayu Adiatma, yang baru saja kembali ke ibu kota setelah memenangkan peperangan, lalu membawanya pulang ke Kediaman Pangeran.

Bayu memberinya pakaian dan makanan, mengajarinya menulis aksara dunia ini, serta merawat dan memanjakannya sedikit demi sedikit hingga tumbuh dewasa.

Lama-kelamaan, desas-desus mulai beredar di ibu kota. Konon, Bayu yang terkenal dingin itu membawa pulang seorang gadis entah dari mana. Dia memanjakannya layaknya permata berharga, sampai-sampai orang mengira dia sedang membesarkan calon istrinya sendiri.

Laras ketakutan setengah mati. Khawatir Bayu akan mendengar rumor itu dan menghukumnya, dia buru-buru menghampirinya untuk menjelaskan, "Pangeran, bukan aku yang menyebarkan gosip itu!"

Saat itu Bayu sedang membaca. Mendengar penjelasan paniknya itu, dia mendongak, menatap Laras cukup lama, lalu tiba-tiba tersenyum.

Itu adalah pertama kalinya Laras melihatnya tersenyum. Senyum itu bagaikan es di sungai yang mencair, begitu memukau hingga membuat gadis itu terpaku.

"Kenapa panik? Ucapan mereka tidak salah."

Sambil memandangi mata Laras yang seketika membelalak, Bayu mengucapkan setiap kata dengan perlahan dan jelas.

"Aku memang sedang membesarkan calon istri."

"Setelah bertahun-tahun berperang, sudah saatnya aku berkeluarga. Awalnya kupikir, aku akan menikahi wanita yang anggun dan bersahaja, atau yang cantik jelita hingga mampu meruntuhkan negara. Tapi, setelah melihatmu, aku baru sadar ...."

"Ternyata, perempuan yang kusukai adalah yang cerdik dan penuh kejutan sepertimu."

"Laras," tanyanya, "Maukah kamu menjadi istriku?"

Laras membelalakkan mata, lalu saat itu juga, dia kabur tunggang langgang karena ketakutan.

Namun, karena Bayu bisa memungutnya dari tengah lautan manusia, tentu saja dia juga bisa menemukannya berulang kali.

Bayu memperlakukannya dengan begitu baik dan memanjakannya tanpa batas. Bahkan saat Laras dengan keras kepala kabur dari Kediaman Pangeran hingga terjebak dalam bahaya, Bayu rela menghalau panah mematikan untuknya, hingga nyaris meregang nyawa.

Di ranjangnya, wajah Bayu pucat pasi, tetapi dia tetap menggenggam tangan Laras erat-erat. Tatapannya begitu keras kepala hingga menakutkan.

"Laras, aku tidak percaya kamu sama sekali tidak punya perasaan padaku."

Saat itu juga, tembok pertahanan di hati Laras runtuh berkeping-keping.

Dia menangis, menghambur ke dalam pelukan Bayu, dan berkata dengan suara terisak, "Aku memang jatuh hati padamu ... Tapi, Bayu, aku berasal dari dunia yang sangat, sangat jauh. Aku masih mencari cara untuk pulang. Lagi pula, di tempatku, seseorang hanya setia pada satu pasangan seumur hidup ...."

Bayu memeluknya erat. Mendengar itu, dia justru tertawa pelan. Tawanya mengguncang lukanya, membuatnya terbatuk pelan, tetapi tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. "Apa sulitnya?" Dia mengecup puncak kepala Laras, nadanya terdengar santai saat berkata, "Nanti saat kamu bisa pulang, bawa saja aku bersamamu. Adapun soal hanya memiliki satu pasangan seumur hidup ...."

Dia menangkup wajah Laras, menatap lurus ke dalam matanya yang berkaca-kaca, lalu berjanji dengan sungguh-sungguh, "Aku, Bayu, seumur hidup ini memang hanya berniat menikahimu seorang. Mengurus istri itu merepotkan, satu saja, sudah lebih dari cukup."

Laras memercayainya, lalu menikah dengannya.

Pada tahun-tahun awal pernikahan, mereka memang menikmati masa-masa penuh keharmonisan.

Meski Bayu merupakan seorang Pangeran Wali yang kekuasaannya begitu besar di pemerintahan, di tengah kesibukannya, dia selalu ingat untuk membelikannya buah tusuk berlapis gula di sudut jalan.

Meski dikenal sebagai sosok berwajah dingin yang ditakuti bagai Raja Neraka, hanya karena sepatah kata dari Laras, "Bunga plum di halaman sudah mekar," Bayu rela menunda segala urusan demi menemaninya menghangatkan arak dan menikmati bunga di tengah salju.

Bayu orang yang sangat menjunjung tinggi aturan dan tata krama, tetapi dia sanggup memaklumi tingkah manja Laras di ruang kerjanya, bahkan membiarkan Laras mencoretkan tinta hitam ke wajahnya.

Semua orang iri padanya. Mereka bilang, entah berapa banyak berkah yang sudah dikumpulkan Laras di kehidupan masa lalu hingga bisa mendapatkan cinta sedalam itu dari Bayu.

Di masa-masa paling mesra itu, Laras melahirkan putra sulung mereka, Kresna Adiatma.

Tiga tahun kemudian, Laras kembali mengandung.

Namun, tepat pada saat itu, dia mengetahui bahwa Bayu menyimpan seorang wanita simpanan di luar sana, Niken Kalandra.

Dunia Laras seolah runtuh. Dia mengurung diri di kamar dan menangis seharian semalaman. Pada akhirnya, dia memilih untuk menemui Niken secara langsung dan memintanya pergi.

Keesokan harinya, Bayu pulang. Wajahnya tampak mengeras menahan amarah, dan untuk pertama kalinya, dia menatap Laras dengan sorot mata yang begitu dingin.

"Laras! Kenapa kamu mengusir Niken? Apa kamu tahu, saat meninggalkan kediaman terpisah, dia dirampok bandit di tengah jalan dan hampir kehilangan nyawa!"

Laras menatapnya, merasa seluruh darah dalam tubuhnya mendadak membeku.

"Jadi ...." Suara Laras terdengar serak, diwarnai getaran yang bahkan tidak dia sadari, "Dia benar-benar gundikmu? Bayu, hanya memiliki satu pasangan seumur hidup ... Bukankah itu janjimu padaku?"

"Aku memang pernah berjanji padamu! Tapi, Niken adalah gadis yatim piatu yang kutemukan di medan perang perbatasan. Dia sama sepertimu dulu, tidak punya siapa-siapa! Awalnya, aku hanya berniat mencarikan tempat bernaung baginya, tapi malam itu aku minum terlalu banyak dan semuanya telanjur terjadi ... dia menyerahkan kesuciannya padaku. Aku tidak bisa menelantarkannya!"

"Laras, bukannya aku sudah cukup mencintaimu? Demi menepati janjiku padamu, aku menyembunyikannya di luar bertahun-tahun, tidak membawanya masuk ke kediaman dan tidak membiarkanmu mengetahuinya. Apa aku tidak bisa membagi sedikit saja kasih sayangku untuknya? Haruskah kamu bersikap sekejam ini ... hingga nyaris mencabut nyawanya?"

"Bagaimanapun juga, aku tidak akan membiarkanmu mengusirnya. Pikirkan baik-baik perbuatanmu dan tenangkan dirimu!"

Yang disebutnya sebagai waktu untuk "menenangkan diri" itu ternyata berubah menjadi pengabaian dingin selama setengah tahun penuh.

Bayu tidak pernah pulang ke Kediaman Pangeran, menolak menemuinya, bahkan saat Laras melahirkan pun dia tidak pernah muncul.

Hingga pada suatu hari, saat Laras membawa bayi yang baru lahir untuk berdoa di kuil, mereka dicegat oleh pembunuh bayaran.

Dalam kepanikan, Laras menembakkan suar yang dulu pernah diberikan pria itu.

Suar itu dulu diserahkan langsung oleh Bayu, dengan janji bahwa kapan pun Laras menyalakannya, tidak peduli di mana pria itu berada atau apa yang sedang dilakukannya, Bayu akan segera menghampiri Laras.

Namun, Laras terus menunggu dan menunggu. Dia menunggu hingga bilah pedang para pembunuh bayaran menebas ke arahnya, menunggu hingga para pengawal pribadinya gugur satu per satu, menunggu hingga dirinya sendiri terkena beberapa sabetan pisau demi melindungi sang bayi.

Pada akhirnya, bayi malang itu direnggut dari pelukan Laras dan dibanting hingga tewas.

Dan Bayu tetap tidak kunjung datang.

Belakangan, barulah Laras tahu bahwa hari itu Bayu sebenarnya berada di kediaman pribadi yang tidak jauh dari sana. Niken sedang bercinta dengannya. Bayu memang melihat suar tersebut, tetapi dia hanya ragu sejenak sebelum akhirnya kembali terbuai dalam gelora kemesraan bersama Niken.

Bayu memilih Niken.

Pria itu meninggalkan Laras dan bayi mereka yang baru saja lahir!

Di detik itu juga, hati Laras telah mati sepenuhnya.

Untungnya, di saat hatinya telah mati rasa, Laras mendapat kabar dari Ahli Nujum Istana bahwa fenomena Tujuh Bintang Sejajar akan segera terulang.

Laras akhirnya bisa pulang.

Dia memutuskan untuk membawa serta putra sulungnya, Kresna, pergi bersama.

Namun, saat dia menemui sang putra dan berkata, "Ibunda akan membawamu ke tempat yang sangat bagus." Kresna yang baru berusia lima tahun justru mengempaskan tangan Laras.

"Ibunda, sampai kapan Ibunda mau terus bertingkah?" Wajah bocah kecil itu menampilkan raut dingin dan muak yang sama sekali tidak pantas untuk usianya. "Seorang pria memiliki banyak istri itu hal yang wajar. Ibunda terus saja mengumbar kata 'dunia lain', tapi tidak pernah benar-benar pergi. Ayahanda sudah bilang sejak lama, tidak ada yang namanya dunia lain. Ibunda cuma memakai alasan itu untuk mengikat hati Ayahanda saja, 'kan? Ayahanda saja tidak percaya, apalagi aku."

"Lagi pula, Selir Niken itu lembut dan penuh perhatian. Apa salahnya kalau Ibunda dan Selir Niken melayani Ayahanda bersama-sama? Apa Ibunda tidak bisa bersikap lebih lapang dada?"

Laras terpaku seolah tersambar petir, berdiri kaku di tempatnya.

Dia baru saja kehilangan darah daging yang baru dilahirkannya, sebuah kepedihan yang menyayat hati.

Kini, putra yang merupakan darah dagingnya sendiri pun harus rela dia lepaskan.

Sejak saat itu, Laras berubah.

Apa pun yang mereka inginkan, akan dia berikan.

Sedangkan dirinya, hanya ingin pulang ke rumah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status