LOGINLaras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran
Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem
Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal
Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak
Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko
Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re