แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Seth
Di dalam tenda, air mata Kresna akhirnya jatuh. "Ayahanda, Ibunda ... Kenapa Ibunda jadi begini? Apa ... apa kita memang sudah keterlaluan? Bagaimana kalau kita pergi minta maaf ... ya?"

Bayu menatap tirai tenda yang masih bergoyang pelan. Dadanya terasa sesak, luka di lengannya pun berdenyut perih.

Bagaimana mungkin dia tidak tahu betapa kejamnya kejadian hari ini bagi Laras.

Namun, Bayu tidak bisa menurunkan gengsinya.

Dia sudah terbiasa dengan kepatuhan dan cinta mati Laras. Terbiasa bahwa apa pun yang dia lakukan, pada akhirnya wanita itu akan memaafkannya dan kembali ke sisinya.

Begitu dia mengalah kali ini, Laras pasti akan terus memakai cara seperti ini untuk menekannya.

Dia menarik napas panjang, berusaha meredam kegelisahan dan rasa tidak nyaman di dadanya. Nadanya kembali berubah dingin dan tegas.

"Tidak perlu. Dia sengaja memakai cara ini untuk memaksa kita tunduk, memaksa kita mengusir Niken. Dia cuma berani bersikap seenaknya ini karena tahu kita mencintainya! Kita tidak boleh masuk ke dalam perangkapnya! Kalau kita membujuknya sekali, pasti akan ada kedua kalinya. Jangan sampai dia merasa cara ini akan selalu berhasil membuat kita mengalah!"

Dia menatap Kresna, seolah sedang meyakinkan bocah itu, sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

"Tenang saja. Tidak lama lagi, dia sendiri tidak akan sanggup berpura-pura seperti ini. Begitu dia tidak tahan, dia pasti akan mengakui kekalahannya dan datang memohon kepada kita."

Kresna menatap wajah ayahnya yang begitu yakin, lalu mengalihkan pandangan ke kegelapan malam di luar tenda. Rasa cemas di hatinya tidak juga surut, tetapi dia hanya bisa mengangguk pelan dengan ekspresi bingung.

Selama beberapa hari berikutnya, Laras mengurung diri di kamarnya untuk memulihkan luka dan sama sekali tidak keluar dari kediamannya.

Selama masa itu, para pelayan Bayu dan Kresna bolak-balik datang dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan luka Pangeran terasa sangat nyeri dan ingin bertemu Laras. Ada yang menyampaikan bahwa Kresna merindukan ibunya dan sering terbangun dari mimpi buruk di tengah malam. Bahkan ada yang mengatakan Pangeran sedang murka dan hanya Laras yang bisa menenangkannya ....

Namun, Laras menolak semuanya dengan alasan yang sama. "Lukaku belum sembuh. Aku tidak bisa banyak berjalan. Kalau Pangeran dan Kresna membutuhkan sesuatu, silakan cari Selir Niken saja."

Melihat tekad Laras yang begitu kuat untuk tidak datang, wajah Bayu dan Kresna pun berubah makin muram hari demi hari. Namun, keduanya tetap keras kepala dan menolak untuk mengalah duluan.

Sampai akhirnya hari ulang tahun Laras tiba.

Sesuai tradisi di Kediaman Pangeran, ulang tahun sang nyonya utama wajib dirayakan dengan perjamuan untuk para perempuan bangsawan ibu kota dan keluarga para pejabat tinggi. Kepala pelayan telah sibuk menyiapkannya sejak pagi, membuat perjamuan ini tampak begitu megah dan meriah.

Namun, meski perjamuan sudah berlangsung lama, Bayu tidak kunjung muncul. Kresna pun tidak terlihat batang hidungnya, bahkan Niken yang sedang naik daun pun absen.

Hanya kepala pelayan yang dengan canggung memberikan penjelasan, "Pangeran sedang mengurus urusan negara yang mendesak, Selir Niken sedang kurang sehat, sedangkan Putra Pangeran ... Putra Pangeran mendadak kurang enak badan."

Tiga tokoh utama absen bersamaan di perjamuan ulang tahun sang nyonya utama. Ini sama saja dengan secara terang-terangan menginjak-injak harga diri Laras!

Para tamu yang hadir saling berpandangan dan suara bisik-bisik tidak lagi bisa dibendung.

"Ini ... Pangeran Wali keterlaluan sekali, ya? Hari ini 'kan ulang tahun istrinya!"

"Kabarnya Nyonya Utama benar-benar sudah kehilangan kasih sayang Pangeran. Bahkan Putra Pangeran pun lebih dekat dengan Selir Niken."

"Ck, ck. Dulu padahal begitu diagungkan. Sekarang ... perjamuan ulang tahunnya saja tidak ada yang sudi datang menyemarakkan. Kasihan sekali."

"Menurutku, dia sendiri yang tidak becus. Lelaki satu saja tidak bisa ditaklukkan ...."

Ajeng begitu geram hingga air mata berlinang di kelopak matanya. "Nyonya, Pangeran dan Selir Niken ... Mereka benar-benar keterlaluan!"

"Tidak apa-apa," Laras berkata dengan nada datar. "Aku lelah. Pergilah dan umumkan kalau kondisiku sedang kurang sehat, perjamuan sudah bisa dibubarkan."

Ajeng tertegun. "Tapi, Nyonya, perjamuan baru saja dimulai ...."

"Lakukan seperti yang kukatakan." Nada Laras tenang, tetapi tidak terbantahkan.

Ajeng hanya bisa menuruti perintah itu dengan mata berkaca-kaca.

Setelah semua tamu beranjak pulang, Laras berniat kembali ke kediamannya. Namun, saat melintas di depan Paviliun Rembulan, kediaman Niken, Laras melihat sebuah tubuh kecil sedang duduk di luar gerbang halaman.

Itu adalah Kresna.

Bocah itu hanya mengenakan pakaian tidur yang tipis, duduk memeluk lutut di atas undakan batu, wajah mungilnya tampak tegang.

Sementara dari dalam Paviliun Rembulan, terdengar samar suara-suara yang membuat siapa pun tersipu mendengarnya.

Langkah Laras terhenti sejenak.

Kresna seolah mendengar langkah kaki seseorang, mendongak cepat. Melihat siapa yang datang, raut panik sekilas melintas di wajah mungilnya. Namun, bak anak binatang yang wilayahnya diganggu, dia langsung melompat berdiri, merentangkan kedua tangan untuk menghalangi pintu gerbang!

"Ibunda! Selir Niken dan Ayahanda ... sedang membuat adik untukku! J-jangan masuk dan mengganggu mereka!"

Membuat adik untuknya?

Laras menatap wajah polos putranya yang penuh dengan sikap membela, sembari mendengarkan desahan berat Bayu yang samar terdengar dari dalam paviliun, desahan yang dulu begitu dia hafal. Sisa kehangatan terakhir di hatinya kini menguap tidak berbekas.

Dia menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyum yang sangat tipis.

"Baiklah." Suaranya begitu lirih, nyaris menyerupai sebuah helaan napas. "Kalau begitu ... semoga keinginanmu terwujud."

Usai berkata demikian, dia tidak lagi menatap ekspresi tertegun putranya. Dia berbalik dan melangkah pergi tanpa ragu sedikit pun.

Kresna terpaku di tempatnya. Dia menatap punggung ibunya yang perlahan lenyap ditelan kelamnya malam. Mulutnya terbuka, ingin memanggil, tetapi tidak ada suara yang keluar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status