共有

Bab 6

作者: Seth
Tengah malam, saat Laras sedang terlelap, dia mendadak tersentak bangun oleh suara gedoran pintu yang bertubi-tubi serta jeritan panik dari Ajeng.

"Nyonya! Nyonya, gawat! Ada masalah besar di Paviliun Rembulan!"

Laras terbangun karena keributan itu, kepalanya agak pening. "Ada apa sampai heboh begitu?"

Wajah Ajeng pucat pasi, bicaranya bahkan sampai terbata-bata. "Selir Niken ... tengah malam tadi dia bangun untuk ke kamar kecil, tapi dia terpeleset di tangga! Kepalanya terbentur keras hingga berdarah! Tabib baru saja memeriksanya dan ... dan ternyata dia sedang hamil satu bulan, tapi sekarang ... sekarang keguguran!"

Laras mengerutkan kening.

Niken hamil? Lalu, keguguran?

"Pangeran sangat murka dan sedang mengusutnya sampai tuntas! Hasilnya, ada yang menumpahkan minyak di tangga itu! Siapa sangka, setelah pelakunya tertangkap, orang itu malah mengaku ... kalau Nyonya yang menyuruhnya! Pangeran menyuruh Nyonya segera ke sana!" Ajeng menangis tersedu-sedu karena cemas. "Nyonya, ini jelas-jelas fitnah! Cepatlah pergi dan jelaskan baik-baik pada Pangeran!"

Laras memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, tatapannya begitu jernih, bahkan tersirat sedikit rasa muak.

Setibanya di depan pintu Paviliun Rembulan, dia mendorongnya terbuka.

Seketika, semua mata tertuju padanya. Tatapan menyelidik, marah, curiga, hingga iba.

Bayu mendongak dan menatap ke arahnya. Tatapan pria itu dingin dan tajam, seolah ingin menembus tubuhnya. "Laras, jelaskan."

Laras berdiri di ambang pintu, membalas tatapannya dengan tenang. "Menjelaskan apa?"

"Jelaskan kenapa kamu menyuruh orang menumpahkan minyak di tangga yang selalu dilewati Niken! Kamu membuatnya terpeleset dan keguguran!" Bayu bangkit berdiri dengan kasar, dadanya naik turun menahan amarah. "Belakangan ini, sikapmu aneh dan terus memaksaku dan Kresna untuk mengalah padamu. Aku masih bisa menganggap semua itu hanya ulahmu yang sedang merajuk dan tetap memaklumimu! Tapi, kamu malah tega menggunakan cara serendah ini! Itu darah dagingku! Itu sebuah nyawa!"

Kresna pun menatapnya dengan mata merah, melayangkan tuduhan dengan suara yang bergetar menahan tangis, "Ibunda! Kenapa Ibunda bisa sekejam ini? Selir Niken sangat baik pada Ibunda! Dia bahkan selalu menyuruhku untuk menjenguk Ibunda!"

Tiba-tiba, Laras merasa sangat lelah. Lelah yang merasuk hingga ke tulang, fisik maupun batin.

"Baik, aku akan menjelaskan," ucap Laras, nadanya sedingin angin malam. "Kalau aku bilang aku tidak melakukannya, apa kamu akan percaya?"

Sikap Laras yang seolah tidak peduli, bahkan tersirat sedikit nada mengejek, benar-benar memantik amarah Bayu. "Buktinya sudah sangat jelas! Kamu masih berani mengelak? Laras, dulu aku hanya mengira kamu agak manja, tapi hatimu tetap tulus dan baik! Ternyata aku salah besar! Kamu benar-benar berhati iblis!"

Berhati iblis.

Mendengar kata-kata itu, hati Laras seolah tertusuk jarum-jarum halus. Rasa perih menjalar, tetapi rasa sakit itu dengan cepat langsung tertutup oleh mati rasa yang jauh lebih dalam.

Dia menarik sudut bibirnya, entah bagaimana masih bisa menyunggingkan senyum. "Lalu? Pangeran mau menghukumku seperti apa? Cepat jatuhkan hukumannya. Setelah selesai, aku mau kembali tidur."

"Kamu!" Sikap Laras yang keras kepala dan seolah menganggap segala hal tidak ada artinya membuat Bayu murka. Tali kesabarannya putus seketika.

Dengan kasar, Bayu mengangkat tangan dan melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Laras!

Laras terpukul hingga menoleh ke samping. Pipinya seketika memerah dan bengkak, sementara setetes darah mengalir keluar dari sudut bibirnya.

Perlahan dia menoleh kembali menatap Bayu. Di dalam sorot matanya, tidak ada dendam, tidak ada rasa tersinggung, yang tersisa hanyalah kehampaan yang mati dan gersang.

"Hukumannya sudah selesai?" Laras mengangkat tangan, menyeka darah di sudut bibirnya dengan ujung jari. Nadanya tetap datar saat berucap, "Kalau begitu, hamba pamit undur diri."

Reaksi Laras benar-benar membuat Bayu nyaris gila oleh amarah. Amarah yang brutal meledak di kepalanya dan hampir tanpa pikir panjang dia berteriak, "Pengawal! Seret Nyonya keluar! Sebanyak darah yang keluar dari Selir Niken, keluarkan darah Nyonya sebanyak itu juga!"

Setelah berteriak, Bayu sendiri sempat tertegun. Melihat wajah Laras yang seketika pucat pasi, dadanya mendadak mencelos. Rasa penyesalan hampir saja meredam amarahnya.

Bayu membuka mulut, ingin menarik kembali ucapannya.

"Pangeran ...." Namun, Niken yang berbaring di ranjang justru mengeluarkan erangan kesakitan yang lemah tepat pada waktunya. "Jangan! Pangeran, mohon ampuni Kak Laras! Kak Laras cuma sedang khilaf. Anak kita itu ... memang tidak beruntung ...."

Bayu segera maju menopang tubuh Niken. Melihat perempuan itu begitu lemah dan menyedihkan, ditambah bayangan bayi anak mereka yang belum lahir, tetapi sudah kehilangan nyawa, hatinya kembali mengeras.

Dia menatap Laras yang masih berdiri dengan punggung tegak, lalu menggeram, "Asalkan kamu berlutut, minta maaf pada Niken, dan berjanji tidak akan mengulanginya, aku akan mengampunimu kali ini!"

Laras perlahan mendongak. Tatapannya menyapu kedua orang yang sedang berpelukan itu, beralih ke putranya yang menatapnya dengan marah, dan akhirnya, seolah menatap orang asing, dia menatap Bayu sekilas.

Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan melangkah keluar.

Bilah belati yang dingin mengiris kulit lengannya. Darah hangat memancar deras, menetes ke atas lantai batu, dan segera membentuk genangan merah pekat.

Ajeng menjerit menangis dan ingin menerjang maju, tetapi ditahan mati-matian oleh para pengawal.

Kresna ikut berlari keluar. Melihat darah yang terus mengalir deras dari lengan ibunya, raut iba dan ragu sekilas terpancar di wajah mungilnya. Namun, bayangan sosok Niken yang tampak begitu menyedihkan seketika menghapus rasa itu.

Kresna teringat pada apa yang pernah dibisikkan Selir Niken, bahwa sikap ibunya ini semua karena menyimpan dendam di hati. Jika tidak diberi pelajaran yang keras, ke depannya Laras pasti akan terus mencelakai orang lain.

Tiba-tiba, Kresna berbalik dan berlari pergi. Selang beberapa saat, dia kembali membawa semangkuk ramuan hitam pekat, lalu berjalan menghampiri Laras.

Pandangan Laras kini mulai menggelap akibat kehilangan terlalu banyak darah, kesadarannya pun kian memudar.

"Ibunda," suara Kresna terdengar dari atas kepalanya. "Kalau Ibunda berbuat salah, Ibunda harus dihukum. Darah yang keluar ini adalah hukuman dari Ayahanda, dan ini ... ini adalah hukuman dariku!"

Sambil berkata demikian, dia berjongkok, memaksa mulut Laras terbuka, lalu menjejalkan semangkuk ramuan obat itu ke dalam mulutnya!

Laras tidak punya kekuatan untuk memberontak. Dia terbatuk hebat karena tersedak, ramuan hitam itu bercampur dengan buih darah dan menyembur keluar dari sudut bibirnya.

Hampir seketika setelah ramuan itu masuk ke perutnya, rasa nyeri menusuk menyerang lambungnya. Tidak lama kemudian, ruam merah aneh muncul di sekujur tubuhnya, terasa gatal luar biasa, dan napasnya pun mulai sesak ....

Apakah ramuan ini dicampur daun mugwort?

Dia memiliki alergi parah terhadap daun mugwort, Bayu dan Kresna sama-sama tahu itu!

Inilah anak yang dikandungnya selama sepuluh bulan, yang dilahirkannya dengan mempertaruhkan separuh nyawanya.

Inilah anak yang dia sayangi dan manjakan selama lima tahun penuh.

Demi wanita lain, bocah itu justru dengan tangannya sendiri memaksanya menelan ramuan yang membuatnya merasa lebih baik mati daripada hidup.

Betapa ... berbaktinya anak itu.

Rasa nyeri yang luar biasa, gatal yang menyengat, dan rasa sesak napas, bercampur dengan pusing akibat kehilangan darah, menyerangnya bagaikan ombak pasang yang menenggelamkannya.

Tepat sebelum kesadarannya padam sepenuhnya, dalam pandangannya yang kian mengabur, yang terlihat hanyalah tatapan Kresna yang menyimpan rasa puas dan penuh kemenangan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status