Share

Bab 4

Author: Seth
Bayu menatap tajam sisi wajah Laras yang tenang. Amarah di dadanya mendidih, tetapi tidak satu kata pun keluar dari bibirnya. Akhirnya, dia hanya balik badan dengan kasar dan berkata dengan suara berat, "Niken, ayo. Aku akan mengajakmu berburu."

Dia membawa Niken, memacu kudanya masuk ke arena perburuan.

Kresna melirik Laras sekilas, lalu mengatupkan bibirnya dan memacu kudanya, mengikuti di belakang.

Sepanjang jalan, Bayu seolah sedang meluapkan amarah yang tertahan. Panahnya tidak pernah meleset. Setiap kijang, rusa, dan kelinci yang berhasil diburu, semuanya dilemparkan kepada Niken yang berada di belakangnya, memancing sorak sorai dan tatapan iri dari orang-orang di sekitar.

Kresna pun tidak mau kalah. Dia berhasil memburu beberapa ekor ayam hutan berbulu indah, lalu mempersembahkannya kepada Niken layaknya menyajikan harta karun.

Niken duduk tegak di atas kudanya, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan, pipinya merona. Dia menikmati curahan kasih sayang yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh Bayu dan Kresna, serta tatapan kagum dari orang-orang di sekitar. Sesekali dia menoleh, menatap Laras yang tertinggal jauh di belakang dengan sorot mata penuh kemenangan dan provokasi.

Laras menunggang seekor kuda betina yang jinak, mengikuti rombongan dengan santai di paling belakang.

Bisik-bisik, tatapan simpati, maupun pandangan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak dia pedulikan. Dia hanya sesekali mendongak menatap rimbunnya hutan di kejauhan, ekspresinya datar tanpa emosi.

Hingga rombongan mereka masuk makin jauh ke dalam hutan, tiba-tiba terdengar auman harimau yang memekakkan telinga dari arah depan!

Seekor harimau besar berdahi putih menerjang keluar dari balik semak, langsung menerjang ke arah rombongan. Suasana seketika kacau balau. Kuda-kuda mulai panik dan meringkik liar.

Bayu tetap tenang menghadapi situasi genting. Dia menarik busur dan memasang anak panah, lalu berkata kepada Niken, "Jangan takut, lihat bagaimana aku memburu harimau ini untukmu!"

Anak panah melesat kencang, tepat menghujam bahu harimau tersebut. Hewan buas itu meraung kesakitan, lalu ambruk dan tidak mampu bangkit.

Orang-orang di sekitar langsung bersorak gemuruh. Para pengawal baru saja hendak maju mengambil buruan, ketika tiba-tiba terdengar lagi auman harimau yang berat dan menggeram dari arah depan!

Gawat! Itu kawanan harimau!

"Lindungi Pangeran dan Nyonya Utama!" teriak para pengawal. Mereka buru-buru maju untuk melawan, tetapi kawanan harimau itu terlalu ganas, formasi pertahanan mereka seketika porak-poranda.

Di tengah kekacauan, kuda yang ditunggangi Laras terkena sabetan cakar tajam seekor harimau di kaki belakangnya. Hewan itu meringkik kesakitan dan melemparkan Laras ke tanah!

Tubuhnya terbanting keras ke antara semak dan daun kering. Pergelangan kakinya terasa perih luar biasa, membuatnya tidak bisa segera bangkit.

"Laras!"

"Ibunda!"

Bayu dan Kresna hampir bersamaan melihat Laras terjatuh. Wajah mereka pucat pasi, secara naluriah hendak memacu kuda untuk menyelamatkan wanita itu.

"Pangeran! Kresna! Aku takut sekali! Ayo kita pergi dari sini! Di sini terlalu berbahaya!" Niken mencengkeram erat lengan baju Bayu. Dia menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat, dan tampak seolah akan pingsan.

Bayu menatap Laras yang terjatuh tidak berdaya tidak jauh dari sana, lalu menoleh ke Niken yang gemetar ketakutan dalam pelukannya. Tatapannya dipenuhi pergulatan.

Kresna pun berteriak panik, "Ibunda! Ibunda, cepat bangun! Cari tempat untuk sembunyi!"

Tepat saat seekor harimau seolah menyadari Laras sendirian, binatang buas itu menggeram rendah dan bersiap menerkam ke arahnya.

Sorot mata Bayu menegang kejam. Dengan sigap, dia menarik busurnya dan melepaskan anak panah tepat ke arah harimau tersebut.

"Laras! Cepat, cari tempat sembunyi!" teriaknya parau. Tanpa menoleh lagi, dia memutar kudanya, melindungi Niken, lalu berteriak panik kepada Kresna, "Kresna! Ikuti Ayah! Kita harus segera keluar dari sini!"

Dia memilih membawa Niken dan Kresna untuk pergi lebih dulu.

Meninggalkan Laras seorang diri, menghadapi kawanan harimau yang kian rapat mengepungnya.

Laras tergeletak di atas tanah yang dingin. Dia menatap punggung mereka yang pergi tanpa ragu, menatap kilatan cemas, bimbang, serta keputusan akhir di balik tatapan terakhir Bayu sebelum pria itu berpaling ....

Hatinya kini benar-benar dingin dan mati rasa.

Baguslah.

Dengan begini, tidak ada lagi yang perlu dia sesali atau pertahankan.

Menahan perih yang luar biasa, dia merangkak dan menyeret tubuhnya bersembunyi di balik sebuah batu raksasa, lalu menahan napas.

Entah berapa lama waktu berlalu, suara auman harimau, derap kuda, dan hiruk-pikuk pertarungan di luar perlahan mereda.

Keadaan di sekelilingnya kembali sunyi senyap.

Barulah Laras melangkah keluar dari balik batu besar itu. Penampilannya berantakan, pakaiannya robek-robek, dengan lecet dan goresan darah di wajah serta tangannya.

Dengan langkah pincang, dia berjalan menuju arah perkemahan.

Senja telah berganti malam saat dia tiba di perkemahan.

Tempat itu terang benderang oleh cahaya obor dan lentera, tetapi suasana terasa begitu tegang.

Di dalam tenda utama, Niken duduk aman sentosa. Dia sedang menyesap sup penenang dalam tegukan kecil, tampak tidak kurang suatu apa pun selain sedikit syok.

Sementara itu, Bayu dan Kresna justru sama-sama terluka.

Demi melindungi Niken, lengan Bayu terkoyak panjang oleh cakar harimau, lukanya menganga hingga tembus ke tulang. Kresna juga terjatuh dari kudanya hingga pergelangan kakinya terkilir saat berusaha melindungi Niken.

Seorang tabib istana sedang sibuk membalut luka ayah dan anak itu.

Melihat Laras masuk dengan penampilan berantakan dan langkah terpincang-pincang, seketika suasana di dalam tenda menjadi hening senyap.

Kresna lebih dulu bersuara, "Ibunda! Ibunda ... Ibunda baik-baik saja?"

Bayu pun mendongak menatapnya. Tatapan pria itu begitu rumit, tersirat rasa takut yang belum hilang, rasa bersalah, dan secercah kelegaan.

Tabib istana selesai membalut luka Bayu, lalu berbalik menghadap Laras dengan sikap hormat. "Nyonya Utama, luka Pangeran dan Putra Pangeran sudah selesai ditangani. Luka Pangeran cukup dalam, jadi perbannya harus diganti secara rutin. Beliau harus menghindari makanan tertentu, serta menjaga lukanya agar tidak terkena air. Pergelangan kaki Putra Pangeran terkilir, perlu beristirahat beberapa hari dan tidak boleh banyak bergerak ...."

Laras mendengarkan dengan tenang. Setelah sang tabib selesai berbicara, barulah dia membuka suara dengan nada datar, "Semua yang Tabib katakan tadi, nanti sampaikan saja pada Selir Niken. Dia orangnya teliti, pasti bisa merawat Pangeran dan Kresna dengan baik."

Kresna tertegun, menatapnya tidak percaya. "Ibunda? Kenapa harus bilang pada Selir Niken? Ibunda tidak mau merawatku dan Ayahanda?"

Laras menatap pergelangan kaki putranya yang telah dibalut, lalu beralih ke lengan Bayu yang berlumuran darah. Nadanya tetap datar tanpa emosi, "Aku tidak bisa merawat kalian dengan baik. Kakiku sendiri juga terkilir. Lagi pula, kalian terluka karena menyelamatkan Selir Niken. Kurasa kalian lebih ingin Selir Niken yang menemani dan merawat kalian. Kehadiranku di sini malah hanya akan merepotkan."

"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi."

Usai berkata demikian, dia tidak lagi menatap siapa pun. Dia berbalik, lalu berjalan dengan langkah pincang keluar dari tenda.

"Laras!" Bayu mendadak berdiri hingga membuat lukanya tertarik. Dia melenguh kesakitan, tetapi mengabaikannya begitu saja. Dia berteriak parau ke arah punggung istrinya, "Kamu marah karena kami tadi meninggalkanmu, 'kan? Saat itu situasinya sangat mendesak! Kawanan harimau mengepung kami, dan Niken ketakutan sampai tidak bisa bergerak. Kalau aku tidak langsung membawanya pergi, apa aku harus membiarkannya dicabik-cabik harimau? Kamu selalu banyak akal. Biasanya selalu ada cara untuk menyelamatkan diri. Aku yakin kali ini juga begitu, makanya aku meninggalkanmu. Saat tahu kamu belum kembali, aku juga panik ...."

"Aku tidak marah." Laras menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh. Suaranya yang tenang memotong ucapan pria itu. "Dan tidak ada alasan untukku marah."

"Karena itu pilihan kalian. Aku menghargainya."

Usai berkata demikian, tanpa ada sedikit pun rasa ragu, dia menyibak tirai tenda lalu melangkah keluar.

Tidak peduli seberapa keras Bayu memanggilnya dari belakang, atau bagaimana Kresna memanggil 'Ibunda' dengan suara bergetar menahan tangis, Laras sama sekali tidak menoleh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status