Share

Bab 7

Penulis: Seth
Saat tersadar kembali, Laras mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya yang dingin dan sunyi di kediaman utama.

Hanya Ajeng yang setia berjaga di sisi ranjang dengan mata sembab. Melihat majikannya sadar, dia begitu terkejut sekaligus gembira, buru-buru membawakan air hangat.

Tubuh Laras lunglai tidak bertenaga. Dengan tatapan kosong, dia membiarkan Ajeng membantunya minum, mengganti pakaiannya, dan membalut lukanya.

Sambil berlinang air mata, Ajeng menceritakan kelanjutan kejadian itu. Sang Pangeran telah memerintahkan agar semua orang tutup mulut. Kejadian malam itu tidak boleh dibocorkan ke luar. Sementara itu, Selir Niken yang keguguran butuh istirahat total. Sang Pangeran dan Kresna setiap hari datang menjenguk serta menemaninya, memberikan berbagai hadiah yang mengalir tiada hentinya.

Di luar sana, desas-desus beredar bahwa nyonya utama begitu kejam dan pendengki, sampai-sampai tega mencelakai darah daging pangeran dan kini telah dicampakkan oleh Pangeran ....

Laras mendengarkan kabar itu dalam diam. Tatapannya kosong, terpaku pada sulaman motif sulur teratai di langit-langit kelambu ranjang.

Dicampakkan? Dia sudah lama dicampakkan.

Kini, dia tidak lagi peduli pada apa pun, tidak ingin memperebutkan apa pun lagi, bahkan untuk membenci pun, dia sudah terlalu lelah.

Dia hanya merawat lukanya dalam diam, menghitung hari, dan menunggu waktunya pulang.

Akhirnya, hari di mana munculnya fenomena tujuh bintang sejajar pun tiba.

Laras mengenakan kembali kaos dan celana jins yang dia pakai saat pertama kali terlempar ke dunia ini. Dia duduk tenang di dekat jendela, menatap langit, menunggu saat yang telah dia nantikan selama tujuh tahun sekaligus membuatnya hidup dalam keputusasaan selama bertahun-tahun.

Masih ada waktu setengah jam menjelang tengah malam.

Tiba-tiba, Ajeng berlari masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Wajahnya pucat pasi tanpa darah sedikit pun, dan suaranya gemetar hebat tidak keruan, "N-Nyonya! Gawat! Ada masalah besar! Selir Niken beberapa hari ini mendadak demam tinggi. Sudah tidak terhitung berapa tabib yang memeriksanya, tapi semua obat tidak mempan dan demamnya tidak kunjung turun! Barusan ... Pangeran mengundang mahaguru dari Kuil Kedaton datang. Mahaguru itu berkata kalau Selir Niken diganggu roh jahat! Dan sumber kutukan itu ... adalah ... arwah penasaran dari bayi yang dulu ... tewas setelah dibanting oleh seorang pembunuh bayaran!"

Laras tersentak dan langsung menoleh. Sepasang matanya yang sejak tadi tenang tanpa riak, akhirnya bergolak hebat.

"Mahaguru itu berkata, jasad anak itu harus digali, lalu dicambuk dan disegel dengan ritual penaklukan, baru bisa mengusir roh jahat sekaligus menyelamatkan nyawa Selir Niken!" Ajeng menangis histeris. "Pangeran ... sudah memerintahkan orang. Saat ini mungkin, mungkin mereka sudah ...."

Belum selesai Ajeng berbicara, Laras sudah melesat keluar bagai angin!

Dia berlari begitu cepat, begitu tergesa-gesa, seolah tidak lagi merasakan perih di kakinya. Hanya ada satu pikiran yang berputar di benaknya, 'Hentikan! Bayu! Kamu tidak boleh melakukan itu! Itu anakmu! Anakku!'

Dia berlari terhuyung-huyung menuju tempat pemakaman. Namun, pemandangan di depannya seketika membekukan seluruh darah dalam tubuhnya!

Di tengah area terbuka, beberapa pengawal sedang menuangkan setumpuk tulang-belulang mungil dari sebuah guci tanah liat yang kasar.

Bayu berdiri di samping dengan wajah masam, sementara Kresna mencengkeram erat lengan bajunya, wajah mungilnya pucat pasi.

Seorang mahaguru berjubah pendeta sedang mengangkat cambuk hitam, merapalkan mantra, dan sebentar lagi akan mencambukkan ke tumpukan tulang belulang itu!

"Hentikan!"

Jeritan histeris Laras yang menyayat hati membelah keheningan malam. Dia menerjang maju seperti orang gila, berusaha melindungi tumpukan tulang-belulang kecil itu.

"Tahan dia!" bentak Bayu dengan lantang.

Para pengawal segera maju, mencengkeram tubuh Laras dengan kuat hingga tidak bisa bergerak.

"Bayu! Kamu gila! Itu anakmu! Itu darah dagingmu sendiri! Bagaimana kamu bisa ... bagaimana kamu bisa ...." Laras meronta sekuat tenaga, matanya mendelik lebar hingga memerah, air matanya tumpah ruah. "Kalau kamu membenciku, lampiaskan saja padaku! Lepaskan dia! Dia tidak tahu apa-apa! Dia bahkan belum sempat melihat dunia ini!"

Melihat Laras yang tampak seperti orang gila, Bayu mengernyitkan dahi. Kilatan kebimbangan sempat melintas di matanya, tetapi keraguan itu seketika sirna begitu mengingat rintihan lemah Niken dan ucapan tegas sang mahaguru bahwa roh jahat itu sangat kuat.

Dengan dingin, dia berkata, "Itu hanya jasad janin yang telah mati. Nyawa Niken sedang terancam sekarang. Laras, berhentilah membuat keributan."

"Ibunda!" Kresna ikut berseru, "Mahaguru sudah bilang, hanya dengan begini Selir Niken bisa sembuh! Ibunda ... anggap saja ini pengorbanan demi menyelamatkan Selir Niken. Lagi pula, adik sudah lama tiada ...."

"Kalian ...." Laras menatap ayah dan anak di hadapannya. Rasa asing yang luar biasa menyelimutinya, hawa dingin merambat dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. "Kalian ... apa kalian masih manusia?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status