LOGIN“Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka
“Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar
“Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn
“Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m
“Filmnya seru banget ya, Naresa,” ucap Sonia dengan wajah antusias. “Haha, iya benar,” sahut Naresa sambil tertawa kecil. “Aku benar-benar dibuat tegang tadi nonton.” Kini mereka sudah keluar dari bioskop. Suasana mall cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. “Sudah jam dua belas,” ucap Rayhan sambil melihat arlojinya. “Kita makan dulu. Nanti baru lanjut jalan.” “Setuju!” jawab Sonia cepat. Rayhan langsung menatapnya datar. “Cepat banget ngasih pendapatnya.” “Hehe.” “Dasar.” Membuat Sonia hanya tertawa kecil. Namun tepat saat mereka hendak berjalan menuju area restoran. Tiba-tiba. “Zavian?” Seketika langkah mereka terhenti. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan saat melihat siapa yang memanggil. Wajah Naresa langsung berubah. “Kenapa harus bertemu lagi sih?” gerutunya kesal. “Hm?” Sonia yang tidak mengenal wanita itu langsung mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?” Naresa langsung mendengus pelan. “Tanya saja sama Kak Rayhan siapa d
“Kita menonton film apa?” tanya Rayhan kepada mereka. Setelah satu minggu berlalu. Akhirnya mereka benar-benar jadi pergi bersama. Karena selama beberapa waktu terakhir. Rayhan sibuk dengan proyek dan kuliahnya. Zavian sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan Naresa dan Sonia sibuk dengan magang. Kini mereka sedang berada di sebuah mall. Awalnya hanya ingin jalan-jalan. Namun entah bagaimana akhirnya berakhir di depan bioskop. Masalahnya. Tidak ada satu pun yang tahu ingin menonton film apa. “Terserah Kakak sih,” jawab Naresa santai. Rayhan langsung menatapnya datar. “Jangan terserah.” “Heh.” “Kau yang memberikan ide tadi.” Membuat Naresa langsung menunjuk seseorang di sampingnya. “Bukan cuma aku.” “Hm?” “Sonia juga berkata begitu.” Sonia yang tiba-tiba ditunjuk langsung membelalakkan matanya. “Hah?” “Dan parahnya lagi.” “Apa?” “Malah aku yang disuruhnya ngomong.” “Heh!” Sonia langsung tertawa canggung. Sedangkan Rayhan menggeleng kecil. “Jadi kalian berdua tidak
“Loh, Bi, di mana Naresanya?” tanya Rendra saat melihat Bi Rara kembali ke ruang makan. “Nona kecil tidak mau turun, Tuan,” jawab Bi Rara pelan. “Dia meminta saya membawakan makan malamnya ke kamar.” Liana langsung menghela napas kecil. “Apa dia masih marah?” tanyanya heran. Bi Rara mengangguk
“Sampai kapan wajahmu seperti itu terus?” tegur Zavian saat masuk ke dalam mobil. Naresa tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya ke arah jendela. Wajahnya masih terlihat cemberut sejak tadi. Benar-benar kesal. Karena semua makanan yang ia inginkan tidak ada satu pun yang diperbolehkan.
“Ibu, kenapa beberapa hari ini tidak menjenguk Naresa? Giliran hari ini Naresa pulang baru datang,” protes Naresa pelan. Hari ini tepat hari kelima Naresa dirawat di rumah sakit. Dan akhirnya, dokter memperbolehkannya pulang. Namun selama beberapa hari terakhir, yang selalu menjaga Naresa hanyal
“Ini ponselmu.” Zavian menaruh sebuah kotak ponsel baru di samping mangkuk Naresa. Seketika perhatian Naresa langsung teralihkan dari obat-obatan di depannya. Matanya membesar pelan. “Kak…” Rayhan yang melihat kotak itu langsung bersiul kecil. “Wah, cepat juga.” Naresa perlahan mengambil kot







