Share

Perasaan Aneh

Penulis: NisfiDA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 11:40:10

“Ayo, silakan dimakan. Om tidak tahu makanan apa yang kamu suka, jadi Om memilih beberapa menu terbaik di sini. Semoga kamu menyukainya,” ucap Rendra lembut kepada Naresa.

Naresa mengangguk pelan.

“Iya, Om. Terima kasih,” jawabnya lirih.

Ia memang bukan tipe orang yang pandai berbicara, apalagi di situasi seperti itu. Rasa gugup membuatnya semakin sulit membuka suara.

Perlahan, Naresa hendak mengambil garpu dan pisau di atas meja.

Namun tiba-tiba—

Tubuhnya langsung menegang.

Ia merasakan sebuah tangan menyentuh pahanya di bawah meja.

Napas Naresa tertahan.

Matanya melebar panik.

Dengan gugup, ia menundukkan pandangan ke bawah meja.

Dan benar saja.

Sebuah tangan besar berada di atas pahanya.

Jari-jari tangan itu bergerak pelan seolah sengaja mengusapnya.

Jantung Naresa langsung berdegup kacau.

Dengan napas tidak beraturan, ia mengikuti arah tangan itu.

Tatapannya perlahan beralih ke samping.

Dan di sana…

Reyhan sedang menatapnya sambil tersenyum tipis penuh godaan.

“Jadi ini yang akan jadi adik tiriku?” ucap Reyhan santai.

Nada suaranya terdengar ringan, tetapi tatapannya membuat Naresa semakin gugup.

Naresa menelan ludah susah payah.

Tangannya langsung mencengkeram ujung dress yang ia kenakan.

“Reyhan, jangan menggodanya,” tegur Rendra dengan nada serius.

Reyhan hanya terkekeh pelan.

“Iya, iya.”

Namun meski berkata begitu, jemarinya justru bergerak pelan mengusap paha Naresa sekali lagi.

Seketika tubuh gadis itu semakin menegang.

Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai pucat karena gugup.

Sementara di sisi lain, Zavian yang sejak tadi diam perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Reyhan.

Tatapan pria itu berubah tajam.

“Jaga sikapmu, Reyhan,” tegur Zavian dingin.

Suasana meja makan seketika terasa menegang.

Naresa yang mendengar nada suara Zavian langsung menahan napas. Entah kenapa, suara pria itu terdengar begitu tajam hingga membuatnya semakin gugup.

Sementara itu, Reyhan hanya terkekeh santai.

“Baiklah, Kak.”

Ia akhirnya melepaskan tangannya dari paha Naresa lalu kembali menyantap makanan di depannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sedangkan Naresa diam-diam mengembuskan napas lega.

Perlahan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Jantungnya masih berdetak cepat akibat kejadian tadi.

“Nak,” panggil Rendra lembut, membuat Naresa kembali mengangkat wajahnya.

“Yang di sebelah kananmu itu Zavian, anak pertama Om.”

Rendra kemudian menoleh ke arah pria berwajah dingin itu.

“Sedangkan yang di sebelah kirimu itu Reyhan, anak kedua Om.”

Naresa mengangguk pelan.

“Iya, Om,” jawabnya lirih.

Dengan ragu, ia mencoba menoleh ke arah kiri.

Dan benar saja—

Reyhan malah melambaikan tangan kepadanya sambil tersenyum jahil.

Refleks, Naresa langsung mengalihkan pandangannya kembali dan menunduk gugup.

Pipinya terasa memanas.

“Apa hanya perasaanku saja yang aneh… atau memang sifat mereka seperti itu?” batin Naresa bingung.

Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan kedua kakak tirinya itu.

Naresa perlahan mengambil garpu dan pisau yang tadi belum sempat ia gunakan.

Ia mencoba fokus pada makanan di depannya agar rasa gugupnya sedikit berkurang.

Perlahan, gadis itu mulai memotong steak di atas piringnya.

Namun tiba-tiba—

Piring di depannya bergeser.

Naresa langsung menoleh kaget.

Ternyata Reyhan menukar piring mereka begitu saja.

Di depan Naresa kini sudah ada steak yang dipotong kecil-kecil dengan rapi.

“Makanlah,” ucap Reyhan santai sambil menatapnya dengan senyum menggoda. “Aku sudah memotongkannya untukmu.”

Naresa terdiam.

Ia benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa.

Belum lama mengenal mereka, tetapi Reyhan sudah bersikap terlalu akrab padanya.

Hal itu justru membuat Naresa semakin canggung.

Ia hanya menatap piring di depannya tanpa berkata apa-apa.

Namun beberapa detik kemudian, suara dingin Zavian terdengar.

“Dimakan. Jangan hanya diam.”

Nada tegas pria itu membuat Naresa langsung tersentak kecil.

Refleks, ia menoleh ke arah Zavian.

Tatapan pria itu terlihat datar, tetapi entah kenapa terasa begitu menekan.

“I-iya…” jawab Naresa gugup.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia akhirnya mulai memakan steak yang sudah dipotongkan Reyhan.

Sementara itu, Reyhan tersenyum kecil saat melihat Naresa akhirnya menurut.

Sedangkan Zavian kembali fokus pada makanannya, meski sesekali tatapannya diam-diam mengarah ke gadis mungil di sampingnya itu.

Beberapa menit kemudian, Naresa akhirnya selesai makan.

Meski sejak tadi ia makan dalam keadaan gugup, setidaknya ia berhasil menghabiskan makanannya tanpa menjatuhkan apa pun.

Namun tiba-tiba perutnya terasa mulas.

Naresa langsung menahan napas pelan.

Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Setiap kali merasa terlalu gugup atau tegang, perutnya pasti akan bereaksi seperti ini.

Pelan-pelan ia bergerak kecil, berniat mengambil tas yang ia letakkan di kursi.

Gerakannya itu ternyata diperhatikan oleh Liana.

“Mau ke mana, Sayang?” tanya wanita itu lembut.

Naresa langsung menoleh ke arah ibunya.

“I-itu… Resa mau ke toilet, Bu,” jawabnya gugup.

Begitu mendengar suara kecil Naresa yang terdengar begitu lembut dan imut, sudut bibir Reyhan langsung terangkat.

Bahkan Zavian yang biasanya datar tampak menyipitkan mata samar.

Entah kenapa suara gadis itu terdengar terlalu manis di telinga mereka.

“Oh, ya sudah. Hati-hati,” ucap Liana.

“Iya, Bu,” jawab Naresa cepat.

Ia segera bangkit dari kursinya.

Namun di saat bersamaan, Reyhan tiba-tiba ikut berdiri.

Hal itu langsung membuat Rendra menoleh heran pada putra keduanya.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya.

Reyhan memasukkan satu tangan ke saku celananya lalu menjawab dengan santai,

“Tentu saja menemani adik imut ini.”

Mata Naresa langsung membelalak.

Ia spontan menoleh ke arah Reyhan.

Sementara itu, Reyhan justru membalas tatapannya sambil mengedipkan sebelah mata dengan jahil.

Naresa semakin panik dibuatnya.

“Oh, benar juga,” ucap Rendra setuju. “Kamu harus menjaga calon adikmu.”

Mendengar itu, Naresa langsung menoleh cepat ke arah Rendra.

“A-ah, tidak perlu, Om. Resa bisa pergi sendiri, kok,” ucapnya gugup sambil buru-buru menolak.

Ia benar-benar tidak ingin pergi berdua dengan Reyhan.

Apalagi setelah kejadian di bawah meja tadi.

Namun Reyhan malah tersenyum lebar.

“Jangan malu-malu begitu,” godanya santai.

Sedangkan di sisi lain, Zavian hanya diam memperhatikan mereka dengan tatapan sulit diartikan.

“Ayo, kita pergi,” ucap Reyhan santai.

Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung menarik tangan Naresa.

Naresa sontak terkejut.

Matanya membelalak lebar saat merasakan genggaman hangat di pergelangan tangannya.

“Eh—!”

Namun Reyhan sudah lebih dulu berjalan keluar dari ruangan, membuat Naresa tidak punya pilihan selain mengikutinya.

Pintu ruang VVIP pun tertutup kembali setelah mereka keluar.

Liana tersenyum kecil melihat pemandangan itu.

“Sepertinya Reyhan sangat menyukai Naresa,” ucapnya pelan kepada Rendra.

Rendra tersenyum senang.

“Itu bagus, bukan?” balasnya.

Menurutnya, hubungan yang akrab sejak awal akan membuat keluarga baru mereka lebih mudah menyatu.

Namun berbeda dengan mereka berdua—

Zavian hanya diam.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Tatapannya terlihat dalam dan sulit ditebak.

Ia sangat mengenal sifat adiknya.

Reyhan bukan tipe orang yang mudah tertarik pada seseorang.

Anak itu hanya penasaran.

Terlebih lagi, Naresa memang terlihat terlalu mungil, polos, dan menggemaskan.

Tipe gadis yang paling mudah membuat Reyhan ingin mengganggu terus-menerus.

Zavian mengembuskan napas pelan.

Entah kenapa, ia mulai merasa akan ada banyak masalah setelah gadis itu masuk ke dalam keluarga mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Rasa Takut

    “Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut Kehilangan

    “Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kecewa

    “Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bertengkar Hebat

    “Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Waktu Bersama

    “Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Ketemu Lagi?

    “Filmnya seru banget ya, Naresa,” ucap Sonia dengan wajah antusias. “Haha, iya benar,” sahut Naresa sambil tertawa kecil. “Aku benar-benar dibuat tegang tadi nonton.” Kini mereka sudah keluar dari bioskop. Suasana mall cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. “Sudah jam dua belas,” ucap Rayhan sambil melihat arlojinya. “Kita makan dulu. Nanti baru lanjut jalan.” “Setuju!” jawab Sonia cepat. Rayhan langsung menatapnya datar. “Cepat banget ngasih pendapatnya.” “Hehe.” “Dasar.” Membuat Sonia hanya tertawa kecil. Namun tepat saat mereka hendak berjalan menuju area restoran. Tiba-tiba. “Zavian?” Seketika langkah mereka terhenti. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan saat melihat siapa yang memanggil. Wajah Naresa langsung berubah. “Kenapa harus bertemu lagi sih?” gerutunya kesal. “Hm?” Sonia yang tidak mengenal wanita itu langsung mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?” Naresa langsung mendengus pelan. “Tanya saja sama Kak Rayhan siapa d

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Terlalu Heboh

    “Eh, Naresa.” “Hm?” Sonia yang sedang berjalan di sampingnya tiba-tiba menghentikan langkah. Tatapannya tertuju pada tangan kanan Naresa. Membuat Naresa langsung punya firasat buruk. “Itu cincin apa?” Deg. Seketika tubuh Naresa langsung menegang. “Cincin?” “Iya.” Sonia langsung meraih tan

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Permintaan Maaf Yang Tulus

    “M-maafkan Naresa, A-ayah... Ibu...” ucap Naresa dengan suara yang bergetar. Air matanya terus mengalir. “M-maafkan Naresa...” Seketika Liana langsung berdiri dari duduknya. Namun Naresa lebih dulu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf karena sudah mempunyai perasaan seperti ini...” lanju

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Hati Yang Belum Siap

    “Malah dijemput...” gerutu Naresa pelan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. “Hah?” Sonia langsung menoleh bingung. “Apa maksudmu?” “Lihat ke depan gerbang.” Saat ini pukul tiga sore. Waktu magang mereka akhirnya selesai. Para siswa mulai keluar dari gedung laboratorium satu per

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Terlalu Cuek

    "Hari ini Kak Zavian pulang ya?" tanya Sonia kepada Naresa saat mereka sedang merapikan meja laboratorium. "Iya, katanya pulang," jawab Naresa dengan nada yang sama sekali tidak bersemangat. Sonia langsung mengernyitkan keningnya. "Loh?" "Apa?" "Kamu kenapa?" Naresa menghela napas panjang. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status