LOGIN“Apa-apaan kamu, hah? Kenapa malah benar-benar memilih warna yang sama persis dengan gaun Naresa?” protes Reyhan kesal.
Zavian menatap adiknya datar tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, Naresa hanya bisa menghela napas pelan. Saat ini ia sedang berdiri di antara kedua kakak tirinya yang terus berdebat sejak tadi pagi. Hari ini adalah hari pernikahan Liana dan Rendra. Dan hari ini pula, Naresa terlihat sangat cantik. Gaun pilihan Reyhan membalut tubuh mungilnya dengan sempurna. Warna lembut gaun itu membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Riasan natural di wajahnya membuat kecantikannya tampak lembut dan manis. Ditambah hiasan kecil di rambutnya, Naresa benar-benar terlihat sangat imut dan menawan. Bahkan beberapa orang sejak tadi diam-diam terus melirik ke arahnya. Namun di tengah semua itu— yang paling membuat Naresa pusing justru pertengkaran dua kakak tirinya. Semua hanya karena warna jas. “Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku akan memilih jas dengan warna yang sama dengan gaun Naresa,” ujar Zavian santai. “Tapi bukan berarti harus sama persis!” balas Reyhan kesal. Zavian hanya menatapnya malas. “Itu masalahmu.” Rayhan langsung mendecakkan lidah kesal. Melihat mereka terus berdebat, Naresa akhirnya tidak tahan lagi. “Apa kalian tidak bisa berhenti berdebat terus?” tanyanya pelan namun terdengar lelah. Namun— “Diam.” Kedua pria itu menjawab bersamaan. Naresa langsung terdiam. Matanya membelalak kecil tidak percaya. Sedangkan Reyhan dan Zavian kembali saling menatap tajam satu sama lain seolah lupa bahwa Naresa masih berdiri di tengah mereka. Akhirnya pintu ruangan perlahan terbuka. Liana dan Rendra keluar bersamaan dengan penampilan yang begitu elegan dan memukau. Seketika perhatian banyak orang langsung tertuju kepada mereka. Melihat itu, Zavian, Naresa, dan Reyhan segera berjalan mendekat. Hari itu seharusnya menjadi hari paling spesial untuk Liana dan Rendra. Namun entah kenapa— pandangan para tamu justru berkali-kali tertuju pada Naresa. Gadis mungil itu terlihat begitu cantik dan menawan dengan gaun yang dikenakannya. Wajah polosnya yang dihiasi riasan natural membuat dirinya tampak lembut dan menggemaskan. Ditambah lagi, ia berjalan di antara Zavian dan Reyhan yang sama-sama memiliki wajah tampan dan aura yang begitu mencolok. Banyak tamu diam-diam berbisik kagum saat melihat mereka bertiga. Beberapa bahkan tidak bisa berhenti memperhatikan ketiganya. Perlahan mereka mengikuti langkah Liana dan Rendra menuju pelaminan. Langkah kaki Naresa terasa semakin berat. Tangannya menggenggam ujung gaunnya pelan untuk mengurangi rasa gugup. Jantungnya berdetak tidak tenang. Entah kenapa suasana ramai itu justru membuatnya semakin cemas. Karena setelah acara pernikahan ini selesai… semuanya akan berubah. Ia akan resmi menjadi bagian dari keluarga Pratama. Dan itu berarti— Zavian dan Reyhan benar-benar akan menjadi kakak tirinya. Saat mereka tiba di pelaminan, suasana ballroom langsung menjadi lebih hening. Lampu-lampu mewah menerangi ruangan besar itu dengan indah, sementara seluruh tamu memusatkan perhatian mereka ke arah pelaminan. Tak lama kemudian, suara pembawa acara mulai terdengar melalui pengeras suara. “Selamat malam kepada seluruh tamu undangan yang terhormat,” ucapnya dengan suara penuh semangat dan profesional. Naresa langsung menundukkan kepalanya pelan karena merasa gugup menjadi pusat perhatian banyak orang. Pembawa acara itu mulai menceritakan perjalanan hubungan Liana dan Rendra. Tentang bagaimana keduanya bertemu, saling mengenal, hingga akhirnya memutuskan untuk membangun keluarga bersama. Beberapa tamu terlihat tersenyum mendengarnya. Setelah itu, sang pembawa acara mulai memperkenalkan keluarga mereka. “Dan malam ini,” lanjutnya, “bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan sebuah keluarga baru.” Perlahan, perhatian para tamu kembali tertuju kepada Zavian, Reyhan, dan Naresa. “Putra pertama Tuan Rendra Pratama, Tuan Zavian Althera Pratama.” Beberapa tamu langsung bertepuk tangan kecil. “Putra kedua, Tuan Reyhan Arkana Pratama.” Reyhan bahkan sempat melambaikan tangan santai yang membuat beberapa tamu tertawa kecil. “Dan putri dari Nyonya Liana Elvano… Naresa Elvano.” Seketika banyak tatapan kembali mengarah pada Naresa. Gadis itu langsung merasa gugup. Ia menundukkan wajahnya sedikit karena malu diperhatikan begitu banyak orang. Namun tanpa ia sadari, Zavian dan Reyhan sama-sama melirik ke arahnya sejenak. Setelah sesi perkenalan selesai, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Kini acara inti dimulai. Prosesi pernikahan antara Liana dan Rendra akhirnya berlangsung. Beberapa menit kemudian, prosesi pernikahan akhirnya selesai. Liana dan Rendra resmi dinyatakan sah sebagai suami istri. Suasana ballroom langsung dipenuhi suara tepuk tangan dan ucapan selamat dari para tamu undangan. Beberapa orang tampak tersenyum bahagia melihat pasangan pengantin itu. Naresa pun ikut merasa senang. Melihat senyum bahagia di wajah ibunya membuat hatinya terasa hangat. Setidaknya sekarang ia tahu bahwa ibunya benar-benar bahagia. Namun di tengah suasana penuh kebahagiaan itu— sesuatu yang tidak diduga tiba-tiba terjadi. Seseorang mendadak menarik tangan Naresa. “Ah—!” Naresa tersentak kaget. Matanya langsung membelalak saat melihat Zavian menariknya pergi begitu saja dari area pelaminan. Langkah pria itu cepat dan tegas. Sementara Naresa hampir kesulitan mengimbangi langkah panjangnya. Reyhan yang melihat kejadian itu langsung menoleh tajam. “Woy! Mau ke mana kau membawanya pergi?” teriaknya kesal. Namun Zavian sama sekali tidak menjawab. Ia terus menarik Naresa pergi tanpa menoleh sedikit pun. Naresa benar-benar kebingungan. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa sikap Zavian tiba-tiba berubah seperti itu. “K-kak Zavian…” panggilnya gugup. Namun pria itu tetap diam. Tatapan dinginnya terlihat semakin sulit ditebak. Dan entah kenapa, itu membuat Naresa mulai merasa takut. “K-kak, kita mau ke mana?” tanya Naresa kepada Zavian dengan raut wajah bingung. “Diam saja, dan ikuti aku,” balas Zavian dengan suara dingin, ekspresi wajahnya datar tanpa menunjukkan emosi. Naresa mengernyit pelan, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bisa mengikuti langkah Zavian tanpa banyak bertanya lagi. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah taman yang sangat mewah. Air mancur berdiri megah di tengah taman, dikelilingi oleh kebun bunga yang tertata rapi dan indah. Mata Naresa membulat, ekspresi wajahnya berubah kagum saat melihat kemewahan halaman rumah Pratama. “Wah…” gumam Naresa pelan, matanya menyapu seluruh pemandangan dengan takjub. Tiba-tiba langkah Zavian terhenti. Naresa yang tidak sempat menghindar langsung menabrak punggung Zavian. “Aduh,” gumam Naresa sambil memegang dahinya, wajahnya sedikit meringis kesakitan. Zavian langsung membalikkan badan, menatap Naresa dengan ekspresi tajam namun tetap tenang. Naresa yang masih mengusap dahinya menatap balik Zavian dengan raut bingung. Belum sempat ia bertanya, Zavian tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Naresa. Naresa langsung terdiam, matanya membesar dengan ekspresi terkejut, tubuhnya menegang seketika. Namun bukan hal seperti yang ia bayangkan yang terjadi. Zavian justru mengamati wajah Naresa dengan serius, lalu dengan cepat mengangkat tangannya dan membersihkan sedikit debu atau kotoran di dahi Naresa. “Jangan sembarangan bergerak,” ucap Zavian pelan dengan ekspresi tetap dingin, namun matanya waspada mengamati sekitar. Naresa terdiam, masih belum sepenuhnya memahami situasi, sementara udara di sekitar mereka terasa tiba-tiba menjadi lebih tegang. Perasaan yang aneh mulai dirasakan oleh Naresa. Ia benar-benar bingung dengan sikap Zavian yang sejak tadi terasa berbeda dari biasanya. Ia menatap Zavian dengan alis sedikit berkerut, ekspresi wajahnya dipenuhi kebingungan. “Kak… sebenarnya ada apa?” tanyanya pelan, suaranya nyaris berbisik. Zavian tidak langsung menjawab. Ia justru mengalihkan pandangannya ke sekitar taman, matanya bergerak waspada seolah sedang memastikan sesuatu yang tidak terlihat oleh Naresa. Naresa semakin tidak tenang. Dadanya terasa sesak oleh pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban. Ia menelan ludah, lalu kembali berbicara dengan ragu. “Kenapa Kakak tiba-tiba membawa Naresa ke sini… dan kenapa Kakak jadi aneh?” Zavian akhirnya menoleh. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya tampak lebih tajam dari sebelumnya. “Jangan banyak bertanya sekarang,” ucapnya singkat dengan nada tegas namun rendah. Naresa terdiam. Bibirnya mengatup, ekspresi wajahnya menunjukkan campuran antara takut, bingung, dan sedikit kesal karena tidak mendapatkan penjelasan. Angin pelan berembus di taman itu, membuat kelopak bunga bergoyang lembut. Namun, suasana di antara mereka justru terasa semakin berat dan penuh tanda tanya.“Kenapa aku harus ikut juga?” Tanya Naresa sambil berjalan berdampingan dengan Rayhan menuju ruang tamu. “Bukannya itu urusan Ayah dan Zavian?” Rayhan menoleh sekilas. “Memang urusan Ayah dan Kak Zavian.” “Nah kan.” “Namun.” Rayhan menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih kepada Naresa. “Kamu juga bagian dari masalah ini.” “Hah?” “Mereka datang membawa lamaran untuk Kak Zavian.” “...” “Sedangkan kamu adalah kekasihnya.” Naresa langsung terdiam. “Jadi menurutku.” Lanjut Rayhan. “Lebih baik kamu mendengarnya langsung.” “Daripada nanti salah paham lagi.” Deg. Kalimat itu membuat Naresa langsung mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar. Tangannya menggenggam ujung bajunya. “Aku takut.” Ucapnya pelan. Rayhan tersenyum tipis. “Takut kenapa?” “Takut mereka kecewa.” “Hm.” “Dan takut kalau nanti suasananya tidak enak.” Rayhan menghela napas kecil. “Itu memang tidak bisa dihindari.” “...” “Namun lebih baik semuanya jelas sejak awal.” Naresa mengangg
“Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar
“Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka
“Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar
“Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn
“Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m
“Eh? Sarapan jam segini sudah siap?” tanya Naresa heran saat memasuki dapur. Pagi itu, ia sengaja bangun lebih awal karena ingin membuat sarapan sendiri. Namun begitu tiba di dapur, seluruh makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan besar itu. Naresa la
“Ini kamarmu.” Zavian berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading lalu menatap Naresa singkat. Malam ini, semuanya benar-benar telah berubah. Setelah acara pernikahan selesai, Liana resmi menjadi bagian dari keluarga Pratama. Dan itu berarti— Naresa juga kini menjadi anggota kel
“Turunlah.” Suara dingin Zavian terdengar begitu mobil berhenti di depan sebuah butik mewah. Naresa yang sejak tadi hanya diam selama perjalanan langsung tersadar dari lamunannya. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak berani bertanya apa pun. Aura dingin Zavian membuat suasana di dalam mobi
“Naresa.” Suara itu membuat Naresa langsung menoleh. Dan seketika matanya membelalak terkejut. Rayhan berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil menatapnya santai. Sementara itu, Naresa baru saja pulang sekolah bersama sahabatnya, Sonia. Mereka sudah berteman sejak kecil dan hingga sekarang ma







