LOGIN“Turunlah.”
Suara dingin Zavian terdengar begitu mobil berhenti di depan sebuah butik mewah. Naresa yang sejak tadi hanya diam selama perjalanan langsung tersadar dari lamunannya. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak berani bertanya apa pun. Aura dingin Zavian membuat suasana di dalam mobil terasa begitu menegangkan. Perlahan, Naresa membuka pintu mobil lalu turun. Begitu kakinya menginjak lantai, matanya langsung menyapu bangunan butik besar di hadapannya. Kaca-kaca tinggi, lampu-lampu elegan, dan logo butik terkenal yang terpampang di depan membuat Naresa langsung sadar bahwa tempat itu pasti sangat mahal. Ia menelan ludah pelan. “Untuk apa kita ke sini?” tanya Naresa bingung. “Fitting baju,” jawab Zavian singkat dengan nada dingin. Naresa langsung menoleh cepat ke arahnya. “Fitting baju?” ulangnya terkejut. “Untuk apa?” Pertanyaan itu membuat Zavian dan Reyhan sama-sama menoleh ke arahnya. Reyhan langsung terkekeh kecil melihat ekspresi polos Naresa. Sedangkan Zavian menatapnya datar. “Untuk acara pernikahan orang tua kita,” jawab pria itu singkat. Naresa langsung terdiam. Oh… Ia hampir lupa bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan. Namun tetap saja— “Bukannya baju biasa saja cukup?” gumam Naresa pelan. Reyhan langsung tertawa kecil. “Adik imut,” ujarnya santai sambil menepuk pelan kepala Naresa, “keluarga kami tidak pakai baju biasa untuk acara penting.” Naresa langsung menegang saat kepalanya disentuh begitu saja. Sementara Zavian hanya membuka pintu butik lalu berkata dingin, “Masuk. Jangan membuat kami menunggu lagi.” Rayhan langsung menarik tangan Naresa dan membawanya masuk ke dalam butik itu. Naresa sempat terkejut dengan tindakan tiba-tiba pria itu, tetapi ia tidak sempat protes karena Reyhan sudah lebih dulu berjalan masuk. Begitu memasuki butik tersebut, mata Naresa langsung membelalak kagum. Ruangan itu terlihat sangat mewah dan elegan. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, sementara deretan gaun dan jas mahal tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Gaun-gaun pengantin berwarna putih terlihat begitu indah dengan detail berkilauan yang membuatnya tampak seperti gaun para putri di dongeng. Sedangkan jas-jas mahal yang dipajang di lemari kaca terlihat begitu elegan dan berkelas. Naresa sampai tidak sadar sedang memandangi semuanya dengan takjub. “Cantik…” gumamnya pelan. Reyhan yang berdiri di sampingnya langsung tersenyum kecil melihat ekspresi kagum gadis itu. “Baru pertama kali masuk tempat seperti ini?” tanyanya santai. Naresa langsung tersadar lalu mengangguk malu. “I-iya…” Jawabannya membuat Reyhan terkekeh kecil. Sementara itu, Zavian yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan Naresa diam-diam. Tatapannya sempat tertahan beberapa detik pada wajah polos gadis mungil itu yang terlihat begitu antusias hanya karena melihat deretan gaun dan jas mahal. Entah kenapa… ekspresi sederhana itu terasa menarik di matanya. Mereka akhirnya tiba di ruang khusus fitting. Saat Rayhan membuka pintu ruangan itu, mata Naresa langsung tertuju pada sosok ibunya. Liana berdiri di depan cermin besar sambil mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat begitu indah dan elegan. Detail berkilauan pada gaun itu membuat wanita tersebut tampak sangat anggun. Mata Naresa langsung berbinar kagum. “Wah… Ibu cantik sekali,” ucapnya tulus. Mendengar suara putrinya, Liana langsung menoleh sambil tersenyum lembut. “Kalian sudah datang?” tanyanya hangat. Naresa mengangguk sambil tersenyum kecil. Namun belum sempat ia mendekat, tiba-tiba Rayhan kembali menarik tangannya. Naresa langsung menatap pria itu kesal. Ia benar-benar mulai kesal karena Rayhan selalu menariknya tiba-tiba tanpa peringatan. Saat mereka tiba di dekat Liana, pandangan Naresa beralih ke samping. Di sana, Rendra baru saja keluar dari salah satu ruangan fitting sambil mengenakan jas hitam elegan. Penampilannya terlihat rapi dan berwibawa. Naresa sampai sedikit terkejut melihat perubahan pria itu. “Om juga sangat tampan,” ucap Naresa polos. Ucapan jujur itu langsung membuat Rendra menoleh padanya. Kemudian pria itu tertawa kecil. “Haha, kamu sangat jujur,” sahutnya hangat. Rendra lalu melangkah mendekat ke arah Naresa yang berdiri di samping Reyhan. “Kapan kamu akan mengganti panggilan itu untukku?” tanyanya lembut. Naresa langsung terkejut. “E-eh…” Ia tampak bingung harus menjawab apa. Melihat reaksi gugup gadis itu, Rendra tersenyum kecil. “Tidak apa-apa,” ujarnya lembut. “Kalau kamu belum siap mengubah panggilan itu.” Ucapan tersebut justru membuat Naresa merasa tidak enak. Ia menundukkan kepalanya pelan. Kemudian Rendra mengalihkan pandangannya ke arah kedua putranya. “Bantu dia mencari gaun yang cocok,” ucapnya serius. Tatapannya lalu sedikit menajam. “Dan jangan pilih yang terlalu terbuka.” Rendra kembali menatap Naresa sekilas sebelum melanjutkan, “Pilih yang cocok dengan wajah dan kepribadiannya.” Rayhan kembali menarik tangan Naresa dan membawanya berjalan ke bagian lain butik itu. Seketika Naresa menghela napas kesal. Ia benar-benar mulai muak dengan kebiasaan Rayhan yang selalu menariknya tiba-tiba tanpa meminta izin terlebih dahulu. “Kak, bisa tidak jangan menarik Naresa tiba-tiba seperti itu?” protesnya dengan nada kesal. Namun bukannya merasa bersalah, Rayhan malah terkekeh geli. “Aku suka melihat wajah adik imutku kalau sedang kesal,” jawabnya santai. Ucapan itu justru membuat Naresa semakin kesal. Pipinya bahkan sedikit memerah karena malu sekaligus jengkel. Sementara itu, Zavian berjalan mengikuti mereka dari belakang dengan langkah tenang. Tatapan pria itu sesekali mengarah pada tangan Reyhan yang masih menggenggam tangan Naresa. Sebenarnya… ada keinginan dalam dirinya untuk melakukan hal yang sama. Entah kenapa, tubuh mungil Naresa membuatnya ingin menarik gadis itu mendekat dan menjaganya. Namun rasa gengsi yang terlalu besar membuat Zavian memilih diam. “Ayo ikut aku,” ujar Reyhan kepada Naresa. “Biar aku yang memilihkan gaun yang cocok untukmu.” Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, suara dingin Zavian terdengar dari belakang. “Jangan pilih gaun yang mesum seperti otakmu itu, Reyhan.” Naresa langsung menoleh cepat ke arah Zavian. Sementara Reyhan menghela napas dramatis. “Ayolah, Kak,” protesnya santai. “Sejak kapan aku berpikir mesum pada adik imutku ini?” Zavian menatapnya datar penuh ketidakpercayaan. Tatapan itu seolah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak percaya pada ucapan adiknya. “Cari gaun yang sesuai dengan wajahnya,” ucap Zavian tegas. Lalu tatapannya perlahan beralih ke Naresa beberapa detik. “Ingat itu.” Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya menemukan gaun yang dirasa paling cocok untuk Naresa. Setelah itu, Naresa dibawa ke ruang fitting untuk mencoba gaun tersebut. Kini Zavian dan Reyhan sedang menunggu di luar ruang ganti. Reyhan tampak santai bersandar di sofa, sedangkan Zavian duduk diam sambil sesekali melihat jam tangannya. Tak lama kemudian— Tirai ruang fitting perlahan terbuka. Dan seketika pandangan kedua pria itu langsung tertuju pada sosok yang keluar dari balik tirai. Untuk beberapa detik, suasana terasa hening. Naresa berdiri canggung sambil menggenggam ujung gaunnya pelan. Gaun berwarna pastel lembut itu membalut tubuh mungilnya dengan sangat pas. Modelnya sederhana, tetapi elegan. Potongan gaun tersebut justru membuat wajah polos dan imut Naresa terlihat semakin manis. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai menambah kesan lembut pada dirinya. Dan tanpa disadari— kedua pria itu terpaku menatapnya. Benar-benar mengejutkan. Naresa terlihat sangat cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari yang mereka bayangkan. “Amazing…” gumam Reyhan pelan sambil menatap Naresa tanpa berkedip. Sementara itu, Zavian tetap diam. Namun tatapannya tertahan terlalu lama pada gadis mungil di depannya. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa sulit mengalihkan pandangannya dari Naresa. “Bagaimana, Tuan?” tanya salah satu karyawan butik yang berdiri di samping Naresa. Seketika Reyhan dan Zavian tersadar dari tatapan mereka. Keduanya langsung mengalihkan pandangan seolah tidak ingin ketahuan terlalu lama memperhatikan Naresa. “Oh, sudah pas,” jawab Reyhan cepat sambil berdeham kecil. “Aku ambil gaun itu untuk dia.” “Baik, Tuan,” sahut karyawan itu ramah. Sementara itu, Naresa hanya berdiri diam dengan perasaan gugup. Ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka sebenarnya. Apakah gaun itu benar-benar cocok untuknya… atau justru terlihat aneh? Tangannya mencengkeram ujung gaun pelan. Namun beberapa detik kemudian, Reyhan tiba-tiba membuka suara lagi. “Sepertinya aku akan memilih jas dengan warna yang sama seperti gaun Naresa.” Ucapan itu langsung membuat Zavian menoleh tajam. “Apa maksudmu?” tanyanya ketus. Reyhan tersenyum santai sambil menatap Naresa. “Lihat saja dia,” ujarnya ringan. “Dia terlihat cantik dan imut sekali. Jadi dia butuh pangeran tampan seperti aku untuk berdiri di sampingnya.” Mata Naresa langsung membelalak malu mendengar ucapan itu. “Ka-kak!” Namun Reyhan malah tertawa kecil. Sementara itu, wajah Zavian perlahan berubah dingin. Entah kenapa, ia merasa tidak suka mendengar ucapan adiknya barusan. Dan kali ini— ia tidak ingin kalah. “Kalau begitu,” ucap Zavian tiba-tiba, “aku juga akan memilih jas dengan warna yang sama dengan gaun gadis itu.” Seketika Reyhan membelalak tidak percaya. “Apa-apaan?” protesnya cepat. “Kenapa malah ikut-ikutan?” Zavian hanya mengangkat bahu santai. Ekspresinya tetap datar, tetapi sorot matanya terlihat menantang. Hal itu justru membuat Reyhan semakin kesal. Sedangkan Naresa hanya berdiri di tempat dengan wajah bingung sekaligus gugup melihat kedua kakak tirinya mulai saling bersaing karena hal aneh seperti itu.“Kak.” “Hm?” sahut Zavian sambil fokus menyetir. “Lain kali kalau jemput jangan terlalu ganteng bisa kan?” Seketika Zavian menoleh sekilas ke arahnya. Sedangkan Naresa masih terlihat kesal sambil menatap ke luar jendela. “Apa?” “Naresa kesal melihat mereka menatap Kakak gimana gitu.” Membuat sudut bibir Zavian perlahan terangkat. “Siapa?” “Anak-anak tadi.” “Hm.” “Jangan hmm terus.” “Kamu sedang cemburu?” Seketika Naresa langsung menoleh. “Hah?” “Karena mereka melihatku?” “Tentu saja tidak!” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Membuat Zavian semakin yakin. “Kalau begitu kenapa kesal?” Naresa langsung mengerucutkan bibirnya. Karena jujur saja. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya kesal. Yang jelas. Sejak melihat beberapa siswi tadi diam-diam memperhatikan Zavian. Suasana hatinya langsung berubah. “Pokoknya kesal.” “Alasan yang bagus.” “Heh.” Membuat Zavian terkekeh pelan. Sedangkan Naresa semakin kesal. “Bahkan ada yang sampai pura-pura jalan pelan.” “Hm.” “
“Naresa.” panggilan Sonia membuat Naresa mengangkat kepalanya dari buku magang yang sedari tadi dibacanya. “Ada apa?” tanya Naresa. Saat ini mereka sedang berada di laboratorium. Waktu istirahat baru saja dimulai. Sedangkan Naresa memilih duduk sambil memeriksa kembali catatan magangnya. “Aku dengar dari Kak Rayhan.” “Hm?” “Dua hari yang lalu Kak Zavian ngomong sama Om dan Tante ya?” “E-eh?” Seketika Naresa langsung menegang. Membuat Sonia menyipitkan matanya curiga. “Nah kan!” “Apa sih?” “Jadi benar?” Naresa langsung memalingkan wajahnya. Namun telinganya yang mulai memerah membuat Sonia semakin yakin. “Ya ampun, jadi benar!” “Sonia, kecilin suaramu.” “Terus?” “Terus apa?” “Jangan pura-pura tidak tahu.” Sonia langsung menarik kursinya mendekat. “Ceritakan semuanya.” “Tidak mau.” “Kenapa?” “Malu.” “Loh?” Naresa langsung memegangi dahinya. Karena dirinya sudah bisa menebak bagaimana reaksi Sonia jika mengetahui semuanya. “Naresa.” “Apa?” “Aku sahabatmu.”
“M-maafkan Naresa, A-ayah... Ibu...” ucap Naresa dengan suara yang bergetar. Air matanya terus mengalir. “M-maafkan Naresa...” Seketika Liana langsung berdiri dari duduknya. Namun Naresa lebih dulu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf karena sudah mempunyai perasaan seperti ini...” lanjutnya sambil menangis. “Naresa benar-benar tidak pernah berniat seperti ini.” Ruangan kembali hening. Hanya suara isak tangis Naresa yang terdengar. “Aku sudah berusaha menganggap Kak Zavian hanya sebagai kakak.” Tangisnya semakin menjadi. “Aku juga berusaha menjauh.” “Aku berusaha melupakannya.” “Tapi aku tidak bisa...” Membuat hati Liana langsung terasa sesak. Karena selama ini. Putrinya menanggung semua itu sendirian. “Aku takut Ayah dan Ibu kecewa.” “Aku takut Ayah dan Ibu marah.” “Aku takut keluarga kita jadi hancur karena aku.” Tangannya mengepal erat. Bahkan tubuhnya sedikit gemetar. “M-maafkan Naresa...” “Naresa.” Suara Rendra akhirnya terdengar. Membuat gadis itu p
“Kak, jangan bilang dulu,” ucap Naresa kepada Zavian. Saat ini mereka sudah tiba di kediaman Pratama. Mobil baru saja berhenti beberapa menit yang lalu. Dan sekarang. Naresa mengikuti langkah Zavian dari belakang sambil terus mencoba menghentikannya. “Kak,” panggilnya lagi dengan wajah panik. Namun Zavian tetap berjalan santai menuju pintu masuk. “Kamu tidak perlu sepanik itu, Naresa.” “Tapi Kak—” “Aku akan mengatakan semuanya kepada Ayah dan Ibu.” Deg. Seketika wajah Naresa langsung pucat. “K-kak!” “Apa?” “Jangan sekarang.” “Kenapa?” “Karena aku belum siap.” Membuat Zavian akhirnya berhenti melangkah. Pria itu berbalik menghadap Naresa. Lalu menatap gadis itu beberapa saat. “Apa kamu tidak memiliki perasaan kepadaku sehingga kamu takut jika aku berbicara dengan Ayah dan Ibu?” Seketika Naresa langsung membeku. Wajahnya berubah kesal. “Kenapa Kakak malah bertanya seperti itu?” tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. Karena menurutnya. Pertanyaan itu sangat ti
“Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Seketika tubuh Naresa langsung menegang. Matanya membulat lebar. Sedangkan wajahnya sudah merah sepenuhnya. “K-kak!” “Apa?” “Kakak jangan ngomong sembarangan saat menyetir!” Membuat Zavian mengangkat satu alisnya. “Itu ada hubungannya dengan menyetir?” “Ada!” “Apa hubungannya?” Naresa langsung membuka mulutnya. Namun tidak ada jawaban yang keluar. Karena dirinya sendiri tidak tahu apa hubungannya. Pokoknya gugup. Sangat gugup. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucap Zavian santai. Naresa langsung memeluk kotak macaronnya semakin erat. “Pertanyaan apa?” “Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Deg. Jantung Naresa kembali berdetak tidak karuan. “Kak...” “Hm?” “Kita lagi di jalan.” “Iya.” “Jangan bahas begitu.” “Kenapa?” “Malu.” Jawaban jujur itu akhirnya keluar juga. Membuat Zavian meliriknya sekilas. Dan benar saja. Wajah Naresa benar-benar merah sampai ke telinga. Seolah ingin menghilang dari dalam mobil.
“Malah dijemput...” gerutu Naresa pelan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. “Hah?” Sonia langsung menoleh bingung. “Apa maksudmu?” “Lihat ke depan gerbang.” Saat ini pukul tiga sore. Waktu magang mereka akhirnya selesai. Para siswa mulai keluar dari gedung laboratorium satu per satu untuk pulang. Sonia yang penasaran langsung mengikuti arah pandangan Naresa. Dan beberapa detik kemudian— matanya langsung membulat. “Eh?” Di depan gerbang laboratorium. Terparkir sebuah mobil hitam yang sangat familiar. Mobil yang biasa digunakan Zavian. “Bukannya dia baru sampai?” tanya Sonia terkejut. “Iya.” “Terus langsung ke sini?” “Iya.” Sonia langsung menoleh ke arah sahabatnya. Sedangkan Naresa justru terlihat semakin tidak tenang. “Loh kok mukamu begitu?” “Bagaimana?” “Kayak orang mau sidang.” “Heh.” Padahal jujur saja— sejak membaca pesan Zavian tadi. Naresa sudah memikirkan kemungkinan ini. Namun dia tidak menyangka pria itu benar-benar datang menjemputny







