Share

Fitting Baju

Penulis: NisfiDA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 13:07:39

“Turunlah.”

Suara dingin Zavian terdengar begitu mobil berhenti di depan sebuah butik mewah.

Naresa yang sejak tadi hanya diam selama perjalanan langsung tersadar dari lamunannya.

Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak berani bertanya apa pun. Aura dingin Zavian membuat suasana di dalam mobil terasa begitu menegangkan.

Perlahan, Naresa membuka pintu mobil lalu turun.

Begitu kakinya menginjak lantai, matanya langsung menyapu bangunan butik besar di hadapannya.

Kaca-kaca tinggi, lampu-lampu elegan, dan logo butik terkenal yang terpampang di depan membuat Naresa langsung sadar bahwa tempat itu pasti sangat mahal.

Ia menelan ludah pelan.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya Naresa bingung.

“Fitting baju,” jawab Zavian singkat dengan nada dingin.

Naresa langsung menoleh cepat ke arahnya.

“Fitting baju?” ulangnya terkejut. “Untuk apa?”

Pertanyaan itu membuat Zavian dan Reyhan sama-sama menoleh ke arahnya.

Reyhan langsung terkekeh kecil melihat ekspresi polos Naresa.

Sedangkan Zavian menatapnya datar.

“Untuk acara pernikahan orang tua kita,” jawab pria itu singkat.

Naresa langsung terdiam.

Oh…

Ia hampir lupa bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan.

Namun tetap saja—

“Bukannya baju biasa saja cukup?” gumam Naresa pelan.

Reyhan langsung tertawa kecil.

“Adik imut,” ujarnya santai sambil menepuk pelan kepala Naresa, “keluarga kami tidak pakai baju biasa untuk acara penting.”

Naresa langsung menegang saat kepalanya disentuh begitu saja.

Sementara Zavian hanya membuka pintu butik lalu berkata dingin,

“Masuk. Jangan membuat kami menunggu lagi.”

Rayhan langsung menarik tangan Naresa dan membawanya masuk ke dalam butik itu.

Naresa sempat terkejut dengan tindakan tiba-tiba pria itu, tetapi ia tidak sempat protes karena Reyhan sudah lebih dulu berjalan masuk.

Begitu memasuki butik tersebut, mata Naresa langsung membelalak kagum.

Ruangan itu terlihat sangat mewah dan elegan.

Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, sementara deretan gaun dan jas mahal tersusun rapi di setiap sudut ruangan.

Gaun-gaun pengantin berwarna putih terlihat begitu indah dengan detail berkilauan yang membuatnya tampak seperti gaun para putri di dongeng.

Sedangkan jas-jas mahal yang dipajang di lemari kaca terlihat begitu elegan dan berkelas.

Naresa sampai tidak sadar sedang memandangi semuanya dengan takjub.

“Cantik…” gumamnya pelan.

Reyhan yang berdiri di sampingnya langsung tersenyum kecil melihat ekspresi kagum gadis itu.

“Baru pertama kali masuk tempat seperti ini?” tanyanya santai.

Naresa langsung tersadar lalu mengangguk malu.

“I-iya…”

Jawabannya membuat Reyhan terkekeh kecil.

Sementara itu, Zavian yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan Naresa diam-diam.

Tatapannya sempat tertahan beberapa detik pada wajah polos gadis mungil itu yang terlihat begitu antusias hanya karena melihat deretan gaun dan jas mahal.

Entah kenapa…

ekspresi sederhana itu terasa menarik di matanya.

Mereka akhirnya tiba di ruang khusus fitting.

Saat Rayhan membuka pintu ruangan itu, mata Naresa langsung tertuju pada sosok ibunya.

Liana berdiri di depan cermin besar sambil mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat begitu indah dan elegan.

Detail berkilauan pada gaun itu membuat wanita tersebut tampak sangat anggun.

Mata Naresa langsung berbinar kagum.

“Wah… Ibu cantik sekali,” ucapnya tulus.

Mendengar suara putrinya, Liana langsung menoleh sambil tersenyum lembut.

“Kalian sudah datang?” tanyanya hangat.

Naresa mengangguk sambil tersenyum kecil.

Namun belum sempat ia mendekat, tiba-tiba Rayhan kembali menarik tangannya.

Naresa langsung menatap pria itu kesal.

Ia benar-benar mulai kesal karena Rayhan selalu menariknya tiba-tiba tanpa peringatan.

Saat mereka tiba di dekat Liana, pandangan Naresa beralih ke samping.

Di sana, Rendra baru saja keluar dari salah satu ruangan fitting sambil mengenakan jas hitam elegan.

Penampilannya terlihat rapi dan berwibawa.

Naresa sampai sedikit terkejut melihat perubahan pria itu.

“Om juga sangat tampan,” ucap Naresa polos.

Ucapan jujur itu langsung membuat Rendra menoleh padanya.

Kemudian pria itu tertawa kecil.

“Haha, kamu sangat jujur,” sahutnya hangat.

Rendra lalu melangkah mendekat ke arah Naresa yang berdiri di samping Reyhan.

“Kapan kamu akan mengganti panggilan itu untukku?” tanyanya lembut.

Naresa langsung terkejut.

“E-eh…”

Ia tampak bingung harus menjawab apa.

Melihat reaksi gugup gadis itu, Rendra tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa,” ujarnya lembut. “Kalau kamu belum siap mengubah panggilan itu.”

Ucapan tersebut justru membuat Naresa merasa tidak enak.

Ia menundukkan kepalanya pelan.

Kemudian Rendra mengalihkan pandangannya ke arah kedua putranya.

“Bantu dia mencari gaun yang cocok,” ucapnya serius.

Tatapannya lalu sedikit menajam.

“Dan jangan pilih yang terlalu terbuka.”

Rendra kembali menatap Naresa sekilas sebelum melanjutkan,

“Pilih yang cocok dengan wajah dan kepribadiannya.”

Rayhan kembali menarik tangan Naresa dan membawanya berjalan ke bagian lain butik itu.

Seketika Naresa menghela napas kesal.

Ia benar-benar mulai muak dengan kebiasaan Rayhan yang selalu menariknya tiba-tiba tanpa meminta izin terlebih dahulu.

“Kak, bisa tidak jangan menarik Naresa tiba-tiba seperti itu?” protesnya dengan nada kesal.

Namun bukannya merasa bersalah, Rayhan malah terkekeh geli.

“Aku suka melihat wajah adik imutku kalau sedang kesal,” jawabnya santai.

Ucapan itu justru membuat Naresa semakin kesal.

Pipinya bahkan sedikit memerah karena malu sekaligus jengkel.

Sementara itu, Zavian berjalan mengikuti mereka dari belakang dengan langkah tenang.

Tatapan pria itu sesekali mengarah pada tangan Reyhan yang masih menggenggam tangan Naresa.

Sebenarnya…

ada keinginan dalam dirinya untuk melakukan hal yang sama.

Entah kenapa, tubuh mungil Naresa membuatnya ingin menarik gadis itu mendekat dan menjaganya.

Namun rasa gengsi yang terlalu besar membuat Zavian memilih diam.

“Ayo ikut aku,” ujar Reyhan kepada Naresa. “Biar aku yang memilihkan gaun yang cocok untukmu.”

Namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, suara dingin Zavian terdengar dari belakang.

“Jangan pilih gaun yang mesum seperti otakmu itu, Reyhan.”

Naresa langsung menoleh cepat ke arah Zavian.

Sementara Reyhan menghela napas dramatis.

“Ayolah, Kak,” protesnya santai. “Sejak kapan aku berpikir mesum pada adik imutku ini?”

Zavian menatapnya datar penuh ketidakpercayaan.

Tatapan itu seolah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak percaya pada ucapan adiknya.

“Cari gaun yang sesuai dengan wajahnya,” ucap Zavian tegas.

Lalu tatapannya perlahan beralih ke Naresa beberapa detik.

“Ingat itu.”

Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya menemukan gaun yang dirasa paling cocok untuk Naresa.

Setelah itu, Naresa dibawa ke ruang fitting untuk mencoba gaun tersebut.

Kini Zavian dan Reyhan sedang menunggu di luar ruang ganti.

Reyhan tampak santai bersandar di sofa, sedangkan Zavian duduk diam sambil sesekali melihat jam tangannya.

Tak lama kemudian—

Tirai ruang fitting perlahan terbuka.

Dan seketika pandangan kedua pria itu langsung tertuju pada sosok yang keluar dari balik tirai.

Untuk beberapa detik, suasana terasa hening.

Naresa berdiri canggung sambil menggenggam ujung gaunnya pelan.

Gaun berwarna pastel lembut itu membalut tubuh mungilnya dengan sangat pas.

Modelnya sederhana, tetapi elegan.

Potongan gaun tersebut justru membuat wajah polos dan imut Naresa terlihat semakin manis.

Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai menambah kesan lembut pada dirinya.

Dan tanpa disadari—

kedua pria itu terpaku menatapnya.

Benar-benar mengejutkan.

Naresa terlihat sangat cantik.

Bahkan jauh lebih cantik dari yang mereka bayangkan.

“Amazing…” gumam Reyhan pelan sambil menatap Naresa tanpa berkedip.

Sementara itu, Zavian tetap diam.

Namun tatapannya tertahan terlalu lama pada gadis mungil di depannya.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa sulit mengalihkan pandangannya dari Naresa.

“Bagaimana, Tuan?” tanya salah satu karyawan butik yang berdiri di samping Naresa.

Seketika Reyhan dan Zavian tersadar dari tatapan mereka.

Keduanya langsung mengalihkan pandangan seolah tidak ingin ketahuan terlalu lama memperhatikan Naresa.

“Oh, sudah pas,” jawab Reyhan cepat sambil berdeham kecil. “Aku ambil gaun itu untuk dia.”

“Baik, Tuan,” sahut karyawan itu ramah.

Sementara itu, Naresa hanya berdiri diam dengan perasaan gugup.

Ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka sebenarnya.

Apakah gaun itu benar-benar cocok untuknya… atau justru terlihat aneh?

Tangannya mencengkeram ujung gaun pelan.

Namun beberapa detik kemudian, Reyhan tiba-tiba membuka suara lagi.

“Sepertinya aku akan memilih jas dengan warna yang sama seperti gaun Naresa.”

Ucapan itu langsung membuat Zavian menoleh tajam.

“Apa maksudmu?” tanyanya ketus.

Reyhan tersenyum santai sambil menatap Naresa.

“Lihat saja dia,” ujarnya ringan. “Dia terlihat cantik dan imut sekali. Jadi dia butuh pangeran tampan seperti aku untuk berdiri di sampingnya.”

Mata Naresa langsung membelalak malu mendengar ucapan itu.

“Ka-kak!”

Namun Reyhan malah tertawa kecil.

Sementara itu, wajah Zavian perlahan berubah dingin.

Entah kenapa, ia merasa tidak suka mendengar ucapan adiknya barusan.

Dan kali ini—

ia tidak ingin kalah.

“Kalau begitu,” ucap Zavian tiba-tiba, “aku juga akan memilih jas dengan warna yang sama dengan gaun gadis itu.”

Seketika Reyhan membelalak tidak percaya.

“Apa-apaan?” protesnya cepat. “Kenapa malah ikut-ikutan?”

Zavian hanya mengangkat bahu santai.

Ekspresinya tetap datar, tetapi sorot matanya terlihat menantang.

Hal itu justru membuat Reyhan semakin kesal.

Sedangkan Naresa hanya berdiri di tempat dengan wajah bingung sekaligus gugup melihat kedua kakak tirinya mulai saling bersaing karena hal aneh seperti itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Tamu

    “Kenapa aku harus ikut juga?” Tanya Naresa sambil berjalan berdampingan dengan Rayhan menuju ruang tamu. “Bukannya itu urusan Ayah dan Zavian?” Rayhan menoleh sekilas. “Memang urusan Ayah dan Kak Zavian.” “Nah kan.” “Namun.” Rayhan menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih kepada Naresa. “Kamu juga bagian dari masalah ini.” “Hah?” “Mereka datang membawa lamaran untuk Kak Zavian.” “...” “Sedangkan kamu adalah kekasihnya.” Naresa langsung terdiam. “Jadi menurutku.” Lanjut Rayhan. “Lebih baik kamu mendengarnya langsung.” “Daripada nanti salah paham lagi.” Deg. Kalimat itu membuat Naresa langsung mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar. Tangannya menggenggam ujung bajunya. “Aku takut.” Ucapnya pelan. Rayhan tersenyum tipis. “Takut kenapa?” “Takut mereka kecewa.” “Hm.” “Dan takut kalau nanti suasananya tidak enak.” Rayhan menghela napas kecil. “Itu memang tidak bisa dihindari.” “...” “Namun lebih baik semuanya jelas sejak awal.” Naresa mengangg

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Rasa Takut

    “Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut Kehilangan

    “Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kecewa

    “Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bertengkar Hebat

    “Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Waktu Bersama

    “Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Kehidupan Baru

    “Eh? Sarapan jam segini sudah siap?” tanya Naresa heran saat memasuki dapur. Pagi itu, ia sengaja bangun lebih awal karena ingin membuat sarapan sendiri. Namun begitu tiba di dapur, seluruh makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan besar itu. Naresa la

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Suasana Baru

    “Ini kamarmu.” Zavian berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading lalu menatap Naresa singkat. Malam ini, semuanya benar-benar telah berubah. Setelah acara pernikahan selesai, Liana resmi menjadi bagian dari keluarga Pratama. Dan itu berarti— Naresa juga kini menjadi anggota kel

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Hari H

    “Apa-apaan kamu, hah? Kenapa malah benar-benar memilih warna yang sama persis dengan gaun Naresa?” protes Reyhan kesal. Zavian menatap adiknya datar tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, Naresa hanya bisa menghela napas pelan. Saat ini ia sedang berdiri di antara kedua kakak tirinya

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Shock

    “Naresa.” Suara itu membuat Naresa langsung menoleh. Dan seketika matanya membelalak terkejut. Rayhan berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil menatapnya santai. Sementara itu, Naresa baru saja pulang sekolah bersama sahabatnya, Sonia. Mereka sudah berteman sejak kecil dan hingga sekarang ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status