ログイン“Naresa.”
Suara itu membuat Naresa langsung menoleh. Dan seketika matanya membelalak terkejut. Rayhan berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil menatapnya santai. Sementara itu, Naresa baru saja pulang sekolah bersama sahabatnya, Sonia. Mereka sudah berteman sejak kecil dan hingga sekarang masih selalu bersama. Sonia ikut menghentikan langkahnya lalu menatap penasaran ke arah Rayhan. “Sa, itu siapa?” tanyanya pelan. Naresa langsung panik. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya lalu menarik tangan Sonia. “Ayo pergi,” bisiknya gugup. Namun baru beberapa langkah berjalan— Seseorang tiba-tiba menarik lengannya. Naresa langsung tersentak. “Mau ke mana, adik imut?” ujar Rayhan dengan nada menggoda. Naresa membeku. Matanya kembali membelalak. Bukannya tadi Rayhan masih berdiri di dekat gerbang? Bagaimana pria itu bisa tiba-tiba sudah berada di sampingnya? Sementara itu, Sonia semakin penasaran melihat interaksi mereka. Tatapannya bergantian mengarah pada Naresa dan Rayhan. “Naresa,” panggil Sonia lagi. “Siapa dia?” Mendengar pertanyaan itu, Naresa dan Reyhan sama-sama menoleh ke arah Sonia. Naresa tampak gugup, sedangkan Reyhan justru tersenyum santai. “Aku?” ujar Reyhan sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku kakak tirinya.” Mata Sonia langsung membesar karena terkejut. “Kakak tiri?” ulangnya tidak percaya. Sementara Naresa langsung menundukkan wajahnya malu dan panik. Ia benar-benar tidak menyangka Rayhan akan datang ke sekolahnya seperti ini. Sonia langsung mengernyitkan kening sambil menatap Naresa penuh keterkejutan. “Sa, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau ibumu mau menikah lagi?” tanyanya cepat. Naresa tampak gugup. Ia membuka mulut, berniat menjelaskan semuanya. Namun sebelum sempat berbicara, Rayhan lebih dulu menyahut santai, “Ayahku belum menikah dengan ibunya.” Ucapan itu justru membuat Sonia semakin bingung. “Belum menikah?” ulang Sonia heran. Rayhan mengangguk santai. “Tapi tadi kamu bilang kalau kamu kakak tirinya,” lanjut Sonia bingung. “Jadi bagaimana, sih?” Naresa semakin panik. Ia ingin menjelaskan, tetapi lagi-lagi Rayhan lebih cepat membuka suara. “Maksudnya calon kakak tiri,” jelas Rayhan sambil tersenyum santai. “Ohh… begitu,” sahut Sonia pelan. Kemudian gadis itu kembali menatap Naresa penasaran. “Lalu kapan Tante Liana menikah?” Naresa kembali ingin menjawab. Namun tiba-tiba— Rayhan menutup mulut Naresa dengan tangannya. Mata Naresa langsung membelalak kaget. “Minggu depan,” jawab Rayhan santai. “Minggu depan?” ulang Sonia terkejut. Rayhan mengangguk kecil. Sementara itu, Sonia kini menatap Naresa dengan wajah sedikit kesal. “Sa, kenapa kamu tidak cerita apa-apa padaku?” tanyanya lagi. Naresa langsung menarik tangan Rayhan yang masih menutupi mulutnya. Begitu lepas, ia mengembuskan napas kesal. “Aku juga baru tahu beberapa hari lalu,” jawab Naresa cepat. Ia lalu menoleh tajam ke arah Rayhan. “Dan bisakah kamu berhenti menjawab semuanya?” protesnya pelan. Reyhan justru terkekeh geli melihat wajah kesal Naresa. “Kenapa? Aku hanya membantu menjelaskan.” Naresa langsung menatapnya tidak percaya. Sementara Sonia hanya bisa memperhatikan mereka dengan ekspresi bingung sekaligus penasaran. “Sahabatku jadi salah paham kalau kamu terus yang menjawab,” protes Naresa pelan. Rayhan malah semakin terkekeh geli mendengarnya. “Ah, sudahlah. Aku sudah menjelaskan semuanya,” ujarnya santai. “Sekarang ayo kita pergi. Zavian bukan tipe orang yang suka menunggu lama.” Seketika mata Naresa membelalak. “K-kak Zavian juga ada di mobil?” tanyanya gugup. Rayhan mengangguk santai. “Iya. Aku datang ke sini bareng dia.” Naresa langsung menelan ludah pelan. Entah kenapa mendengar nama Zavian saja sudah membuatnya merasa tegang. Sementara itu, Sonia yang sejak tadi mendengarkan hanya bisa menatap mereka bergantian dengan bingung. “Tunggu,” ucap Sonia sambil mengerutkan dahi. “Siapa lagi Zavian?” Naresa langsung menoleh ke arahnya. Ia baru saja ingin menjawab ketika Rayhan kembali mendahuluinya. “Itu kakakku,” jawab Rayhan santai. Sonia langsung terdiam beberapa detik. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang jelas. Informasi yang ia dengar hari ini benar-benar terlalu mendadak. Perlahan Sonia kembali menatap Naresa. “Jangan bilang…” ucapnya pelan. “Calon kakak tirimu ada dua?” Naresa tampak canggung. Dengan pelan, ia mengangguk kecil. “I-iya…” Sonia langsung membelalak tidak percaya. “Sa, hidupmu tiba-tiba jadi seperti drama,” gumamnya syok. Sedangkan Rayhan di samping Naresa malah tertawa puas melihat reaksi Sonia. “Tapi aku butuh penjelasan lengkap darimu, Naresa,” ucap Sonia serius. Naresa langsung terlihat semakin gugup. Ia memang ingin menjelaskan semuanya kepada sahabatnya itu, tetapi situasinya sekarang benar-benar membuatnya bingung. Belum sempat Naresa membuka suara, tiba-tiba Rayhan merangkul bahunya santai. Seketika tubuh Naresa menegang. Matanya membelalak kecil karena kaget. “Aduh,” ujar Rayhan santai sambil tersenyum jahil, “sepertinya waktunya benar-benar tidak cukup untuk Naresa menjelaskan semuanya.” Naresa langsung menatap Rayhan kesal. Namun pria itu justru terlihat santai seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sonia yang melihat kedekatan mereka hanya bisa mengerjapkan mata bingung. Baru saja ia menarik napas untuk kembali bertanya— Tiiin! Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar dari depan gerbang sekolah. Ketiganya spontan menoleh ke arah sumber suara. Di sana terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Dan entah kenapa… Naresa langsung merasa gugup lagi. Ia punya firasat bahwa orang di dalam mobil itu adalah Zavian. “Ah, sepertinya dia sudah bosan menunggu,” ucap Reyhan santai tanpa merasa bersalah. Ia lalu menurunkan tangannya dari bahu Naresa. Namun sebelum Naresa sempat mengatakan apa pun, Reyhan langsung menggenggam tangannya dan menariknya pergi begitu saja. “Eh— Kak!” Naresa terkejut saat tubuhnya ikut terseret langkah panjang Reyhan. Bahkan mereka pergi tanpa sempat berpamitan dengan Sonia. “Loh, Naresa!” teriak Sonia kaget dari belakang. Suara itu membuat Naresa spontan menoleh ke belakang. Ia melihat Sonia berdiri dengan wajah syok dan kebingungan di depan gerbang sekolah. Rasa tidak enak langsung muncul di hati Naresa. Ia segera menoleh kembali ke arah Reyhan dengan wajah kesal. “Kak, bisa tidak jangan pergi begitu saja?” protesnya. “Kasihan sahabatku. Dia sudah syok begitu.” Reyhan malah terkekeh kecil. “Besok saja kamu jelaskan semuanya,” jawabnya santai. Ia lalu melirik Naresa sekilas. “Daripada nanti kamu kena amukan Zavian.” Mendengar nama itu, Naresa langsung terdiam. Entah kenapa, meski Zavian jarang berbicara, pria itu tetap berhasil membuatnya merasa gugup dan takut secara bersamaan. Saat mereka tiba di depan mobil, langkah Naresa langsung melambat. Mobil mewah berwarna hitam itu terparkir tepat di pinggir jalan depan sekolahnya. Belum sempat Naresa bernapas lega, tiba-tiba jendela mobil di kursi belakang perlahan turun. Dan di sana— Zavian terlihat duduk dengan wajah dingin dan ekspresi kesal yang begitu jelas. Aura pria itu langsung membuat suasana terasa menegangkan. “Bisa tidak kalian jangan membuang waktuku?” ucap Zavian dengan nada super dingin. Naresa langsung membeku. Refleks, ia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap pria itu. Sementara Reyhan masih terlihat santai. “Ayolah, Kak,” katanya ringan. “Tadi aku cuma menjelaskan sesuatu ke sahabatnya Naresa.” Zavian menatapnya tajam. “Apa pedulinya aku?” balasnya ketus. Lalu pandangannya beralih ke Naresa yang masih menunduk gugup di samping Reyhan. “Masuk sekarang,” perintahnya dingin. Nada suara pria itu membuat Naresa langsung menelan ludah pelan. Tanpa berani membantah, ia segera membuka pintu mobil dengan gugup. Sementara Reyhan hanya menghela napas kecil melihat sikap kakaknya yang selalu kaku dan menyeramkan.“Bu… kapan Naresa pulang?” keluh Naresa sambil memanyunkan bibirnya. “Naresa benar-benar bosan berada di rumah sakit…” Liana yang sedang mengupas buah hanya tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. “Kamu masih belum sembuh, Sayang,” jawabnya lembut. “Jadi harus dirawat beberapa hari lagi.” “Tapi kan Naresa sudah dua hari di sini, Bu…” Nada suaranya terdengar benar-benar pasrah. Liana baru saja ingin menjawab, namun suara pintu terbuka lebih dulu terdengar. Dan sosok yang masuk membuat Naresa langsung terdiam. Zavian. Pria itu masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di tangannya. “Kau belum sembuh total,” ucapnya datar begitu masuk. Naresa langsung menghela napas pelan. “Lihat kan, Bu…” gerutunya kecil. “Kak Zavian pasti ngomong begitu lagi.” Namun berbeda dari biasanya, kali ini Zavian tidak membalas. Ia justru berjalan mendekat lalu menaruh kantong belanja itu di atas meja. “Apa itu?” tanya Naresa penasaran. “Makanan.” “Makanan rumah sakit aja Naresa sudah bosan
“Dokter, tolong!” Suara Zavian menggema begitu ia memasuki ruang gawat darurat. Para perawat dan dokter yang berjaga langsung berlari menghampiri. “Ada apa?” tanya salah satu dokter dengan cepat. “Dia pingsan!” jawab Zavian tegas namun panik. “Penyakit lambung… kambuh.” Tanpa menunggu lagi, Naresa segera dipindahkan ke ranjang dorong. Beberapa perawat langsung memeriksa kondisi vitalnya. “Tekanan darah menurun, Dok!” “Segera pasang infus!” “Siapkan obatnya!” Instruksi terdengar bertubi-tubi. Zavian hanya bisa berdiri di samping, menatap semua itu dengan napas tidak teratur. Tangannya masih sedikit gemetar. Saat ranjang mulai didorong masuk ke dalam ruang penanganan— Zavian refleks ingin ikut. Namun— seorang perawat menahannya. “Maaf, Anda tidak bisa masuk.” Kalimat itu membuat langkah Zavian terhenti. Pintu langsung tertutup di hadapannya. Seketika— dunia terasa sunyi. Beberapa detik kemudian, Rayhan dan Sonia datang dengan tergesa. “Kak!” panggil Rayhan. Zavia
“Loh, Sonia sedang apa di sini?” Suara itu membuat Sonia langsung menoleh cepat. “Ibu Rina!” ucapnya lega sekaligus panik. Tanpa menunggu, ia langsung menarik tangan guru kesehatan itu. “Ibu, ayo cepat masuk. Tolong periksa Naresa!” “Naresa?” ulang Ibu Rina heran. Namun saat matanya tertuju ke dalam UKS— ia langsung mengerti situasinya. Tanpa banyak bicara, Ibu Rina segera masuk dan menghampiri ranjang tempat Naresa terbaring. “Apa yang terjadi?” tanyanya serius. “Penyakit lambungnya kambuh, Bu,” jawab Sonia dengan suara gemetar. Ibu Rina langsung mulai memeriksa. Tangannya dengan hati-hati menekan bagian perut Naresa. Dan saat itu juga— wajah Naresa langsung mengernyit kuat. “Akh…” lirihnya menahan sakit. Ibu Rina langsung menarik napas kecil. “Sudah berapa lama dia tidak makan?” Sonia menggigit bibirnya. “Sepertinya dari pagi, Bu…” Ibu Rina menggeleng pelan. “Pantas saja.” Ia segera mengambil obat dari lemari. “Ini harus segera diminum.” Sonia langsung memban
“Sa, kamu nggak bawa obatmu?” tanya Sonia panik. Naresa hanya menggeleng pelan. Tangannya masih menekan perutnya yang semakin nyeri. “Aduh…” lirihnya. Sonia langsung semakin khawatir. “Ya ampun, Naresa! Kamu ini kenapa sih nggak sarapan tadi?!” Naresa memejamkan matanya. Bukan karena tidak mau— tapi karena hatinya masih terlalu penuh sejak semalam. “Aku nggak lapar…” jawabnya lemah. “Ini bukan soal lapar atau nggak!” ujar Sonia setengah panik. “Ini soal kesehatan kamu!” Naresa mulai berkeringat dingin. Tubuhnya terasa semakin lemas. Melihat itu, Sonia langsung berdiri. “Nggak bisa. Kita ke UKS sekarang.” “Nggak usah…” ucap Naresa pelan. “Nanti juga hilang…” Namun tiba-tiba— rasa nyeri itu datang lebih kuat. “Akh…” Naresa meringis kesakitan. Sonia langsung membelalak. “Oke, nggak bisa ditunda!” Ia langsung memapah tubuh Naresa. “Ayo berdiri pelan-pelan.” Dengan susah payah, Naresa mencoba bangkit dari kursinya. Namun kakinya terasa lemah. Hampir saja ia terjatu
“Aku hanya ingin menjaganya…” Suara Zavian terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Tatapannya menunduk sebentar sebelum kembali berkata, “Karena Naresa terlihat sangat polos.” Suasana ruang tengah langsung hening. Liana dan Rendra saling berpandangan. Sedangkan Reyhan menatap kakaknya beberapa detik. Ia tahu— Zavian memang bukan tipe pria yang pandai menunjukkan perhatian dengan cara lembut. Cara pria itu menjaga seseorang selalu berlebihan dan terlalu keras. Namun kali ini— orang yang dijaga justru terluka karena sikapnya sendiri. “Tapi dia bukan anak kecil lagi, Kak,” ucap Reyhan pelan. Zavian terdiam. Rendra akhirnya menghela napas kecil. “Kamu takut sesuatu terjadi padanya, Ayah mengerti.” Tatapan pria paruh baya itu melembut. “Tapi rasa takutmu jangan sampai membuat Naresa merasa dikekang.” Zavian mengepalkan tangannya perlahan. Bayangan mata Naresa yang berkaca-kaca tadi terus terlintas di pikirannya. Aku capek selalu dianggap tidak bisa apa-apa. Kalimat itu
“Ayah, Ibu…” Panggilan Naresa membuat Liana dan Rendra yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh kepadanya. “Iya sayang, ada apa hm?” jawab Liana lembut. Naresa menggenggam jemarinya sendiri kecil. “Naresa mau ngomong sesuatu sama Ibu dan Ayah.” Hal itu membuat Rendra dan Liana saling bertatapan penasaran. “Memangnya apa yang ingin kamu omongkan?” tanya Rendra. Naresa menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Itu… besok sepertinya Naresa pulang terlambat.” “Loh kenapa?” tanya Liana heran. “Naresa sama Sonia mau mampir ke toko aksesoris, Yah,” jelasnya hati-hati. “Ada tugas dari sekolah, jadi kami harus cari beberapa barang.” Rendra mengangguk pelan mendengarnya. “Makanya Naresa ngomong dari malam ini.” “Oh…” Rendra tersenyum kecil. “Jadi ceritanya kamu sedang minta izin?” “I-iya Ayah.” Liana langsung tersenyum lembut. “Tentu saja boleh.” Wajah Naresa langsung sedikit cerah. “Benarkah?” “Hmm,” jawab Liana. “Asal jangan terlalu malam.” Namun tiba-tiba—







