Beranda / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 7 - Sisi gelap Mansion.

Share

Bab 7 - Sisi gelap Mansion.

Penulis: Za_dibah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 23:59:26

Malam di kota Nasan tidak pernah benar-benar tidur.

Ia hanya berpura-pura tenang, bersembunyi di balik lampu-lampu neon bar yang berkedip malas, menutupi kebusukan yang hidup dan bernapas di setiap sudutnya.

Aku melangkah keluar dari bar—tempat yang kini secara teknis adalah milikku—dengan perasaan yang sulit kujelaskan. Dulu, aku keluar dari pintu ini sebagai pelayan yang kelelahan, dengan kaki pegal dan pikiran kosong. Sekarang, aku keluar sebagai Nona Moretti.

Dan anehnya… gelar itu tidak membuatku merasa lebih besar.

Justru sebaliknya. Aku merasa semakin kecil.

Para staf yang dulu bercanda denganku kini berdiri terlalu tegak. Tatapan mereka tidak lagi setara, melainkan penuh kehati-hatian. Mereka menunduk terlalu dalam, seolah aku bisa menghancurkan hidup mereka hanya dengan satu kalimat yang salah ucap.

“Mobil sudah siap, Nona Nadine,” ucap sopir berbadan tegap yang dikirim Sebastian.

Nada suaranya datar. Gerakannya kaku. Orang-orang Moretti selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar hidup, hanya berfungsi.

Aku masuk ke dalam sedan hitam itu. Kabinnya kedap suara, terlalu sunyi, seolah dunia luar langsung terputus begitu pintu tertutup. Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap keluar jendela, menyaksikan cahaya kota yang meluncur mundur seperti kenangan yang tidak ingin kuingat.

Kuasa Moretti memang luar biasa.

Uang masuk ke rekeningku tanpa aku minta.

Perintahku dilaksanakan tanpa bantahan.

Namun jiwaku terasa semakin menyusut, seolah aku sedang mengenakan mahkota milik orang lain—mahkota yang terlalu berat dan dingin.

Saat mobil memasuki gerbang raksasa mansion Moretti—Saint-Noire—jam di dashboard menunjukkan pukul satu dini hari. Keheningan di tempat ini selalu terasa tidak wajar. Lampu taman menyala remang-remang, menciptakan bayangan pepohonan yang tampak seperti jemari hantu, mencakar langit malam.

“Berhenti di sini saja, Pak,” ucapku tiba-tiba, saat mobil masih berada di jalur lingkar luar.

Sopir itu menoleh ragu. “Tapi Tuan Sebastian berpesan agar saya mengantar Anda sampai pintu utama, Nona.”

“Hanya beberapa meter,” kataku, berusaha terdengar tenang. “Aku ingin berjalan sebentar. Kepalaku penuh.”

Yang tidak kukatakan adalah:

aku ingin menghindari foyer utama.

Aku ingin menghindari tatapan Matteo.

Dan lebih dari itu, aku ingin menghindari Dominic.

Setelah mobil itu pergi, aku berdiri sendirian di bawah langit gelap Saint-Noire. Udara malam menusuk paru-paruku, namun aku tetap melangkah. Kakiku membawaku memutar, melewati jalur yang jarang dilalui, berniat masuk lewat pintu perpustakaan di sisi barat.

Namun saat aku melewati paviliun tua yang terletak di sudut paling tersembunyi dari taman luas itu...

“AAARRGHHH!”

Suara itu menghantamku tanpa peringatan.

Itu bukan sekadar teriakan.

Itu jeritan mentah, purba, yang lahir dari rasa sakit di luar batas manusia.

Langkahku terhenti seketika.

Insting warasku berteriak agar aku berlari, berbalik, dan tidak pernah menoleh lagi. Namun rasa ingin tahu yang beracun dan bodoh, menahan kakiku di tempat. Tubuhku gemetar saat aku bergerak pelan, bersembunyi di balik semak-semak dan tumpukan kayu hias.

Cahaya di dalam paviliun redup, kuning pucat, bergoyang tertiup angin yang menyelinap lewat celah jendela.

Aku mengintip.

Dan saat itulah… dunia yang kukenal runtuh.

Di tengah ruangan berdiri Matteo Moretti.

Punggungnya menghadapku.

Kemeja hitamnya digulung kasar hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang bersimbah cairan gelap.

Darah.

Di depannya, tiga pria terikat di kursi besi yang dipaku ke lantai. Wajah mereka nyaris tak berbentuk, bengkak, biru, merah, dan berkilat oleh darah yang terus mengalir. Salah satu dari mereka terkulai lemas, setengah pingsan.

Matteo memegang tongkat pemukul besi.

“Siapa yang memberitahu kalian tentang dermaga utara?” suaranya tenang. Terlalu tenang. “Aku tidak suka mengulang pertanyaan.”

“K-kami tidak tahu… Tuan Matteo… tolong…” pria di tengah merintih.

BUGH!

Tongkat besi itu menghantam tulang kering tanpa ragu.

Jeritan baru pecah, lebih menyayat dari sebelumnya.

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Ini bukan dunia yang kukenal. Ini bukan kekerasan dalam berita. Ini nyata. Ini terjadi di depan mataku.

Matteo menghela napas panjang, seolah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan yang membosankan. Ia merogoh pinggang belakangnya.

Sebuah pistol hitam muncul di tangannya.

“Kalian membosankan,” bisiknya.

DOR!

Letusan itu memecah malam.

Tubuhku tersentak hebat. Dunia seakan berhenti. Aku hampir berteriak...

Namun sebuah tangan besar tiba-tiba membungkam mulutku dari belakang.

'Tunggu siapa ini! Jangan-jangan aku ketahuan!'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 17 — Sarapan tidak pernah aman

    Aku terbangun jauh sebelum matahari benar-benar memutuskan untuk muncul. Bukan karena mimpi buruk, karena semalam aku bahkan tidak yakin sempat bermimpi, melainkan karena tubuhku menolak untuk terus berbaring. Ada sesuatu yang berdenyut di dadaku sejak aku membuka mata. Naluriku yang berbisik bahwa di rumah ini, tidur terlalu lama sama dengan membuka celah. Langit-langit kamar terlihat dingin dan asing. Terlalu tinggi. Terlalu bersih. Terlalu sunyi. Dan sunyi di mansion Moretti bukan ketenangan—melainkan jeda sebelum bahaya. Aku duduk perlahan di tepi ranjang. Kaki telanjangku menyentuh lantai marmer yang dinginnya langsung merayap ke tulang. Rasa dingin itu seperti pengingat kasar bahwa aku sepenuhnya terjaga. Tidak ada ruang untuk lengah. Malam kemarin masih melekat di kulitku.Nada rendah Dominic yang mengancam tanpa perlu berteriak masih menggema di kepalaku. Gigitan kecil Dominic yang lebih menyerupai cap kematian.Ancaman itu dingin, terukur, dan mematikan—ia berjanji akan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 16 — Dua pria... Dua jenis ancaman

    Koridor lantai dua terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu-lampu dinding redup, memantulkan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah kakiku. Detak jantungku masih belum kembali normal sejak aku keluar dari perpustakaan, sejak suara Dominic menempel di telingaku seperti bisikan maut yang tak mau pergi. Dan sekarang… Matteo berdiri di depanku. Ia tidak bergerak saat aku mendekat. Tidak menyingkir. Tidak memberi jalan. Tubuhnya bersandar santai pada pilar marmer, satu kaki ditekuk, seolah ini hanyalah pertemuan biasa, bukan momen di mana napasku masih gemetar dan pikiranku porak-poranda. Rokok di jemarinya menyala redup. Bara apinya berpendar lembut, kontras dengan tatapan matanya yang gelap dan penuh perhitungan. Aku berhenti dua langkah darinya. Jarak itu terasa terlalu dekat. Terlalu intim. Terlalu berbahaya. Matteo mengangkat alisnya sedikit, senyum miring tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah benar-benar ramah, selalu ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 15 — Ulangi kata-katamu Little Bird

    Suara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 14 — Intimidasi di Balik Pintu

    “Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 13 — Perpustakaan dan Aroma Kayu Cendana

    Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 12 — Bertahan atau menghilang?

    Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status