MasukRestoran L'Eclat de Nasan adalah puncak dari segala kemewahan kuliner di kota ini. Bangunannya bergaya kolonial dengan jendela-jendela kristal yang menjulang tinggi. Biasanya, aku masuk melalui pintu belakang, mengenakan seragam pelayan yang kaku, dan mulai membersihkan meja-meja yang ditinggalkan para bangsawan.
Namun hari ini... Segalanya berbeda. Begitu aku melangkah masuk melalui pintu utama, dua orang doorman membungkuk dalam-dalam. "Selamat siang, Nona Moretti," ucap mereka serempak. Langkahku terhenti. Nama itu... terdengar sangat asing dan berat di telingaku. Di dalam foyer, Pak Wijaya, sang manajer restoran yang biasanya sangat ketat dan tak segan menegurku jika aku terlambat semenit saja, kini berdiri dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar. Di sampingnya, semua staf berjajar rapi. "N-nona Nadine, selamat datang," Pak Wijaya membungkuk hampir sembilan puluh derajat. "Kami sudah menyiapkan ruang kerja Anda di lantai atas. Kami... kami mohon maaf atas segala ketidaknyamanan selama ini. Kami tidak tahu jika Anda adalah bagian dari keluarga Moretti." Aku merasa muak dengan kepalsuan ini. "Berdirilah, Pak Wijaya. Tidak perlu seperti ini. Kita masih bekerja bersama. Aku masih Nadine yang sama yang membersihkan tumpahan wine di meja empat kemarin." "Tentu tidak, Nona. Sekarang Anda adalah pemilik tunggal tempat ini," sahutnya dengan nada ketakutan yang nyata. Pemilik. Kata itu terasa asing, seperti pakaian yang tidak pas di tubuhku. Di tengah kerumunan itu, aku melihat satu wajah yang sangat kukenal. Julian. Sahabat masa kecilku. Orang yang menolongku saat aku hampir terpuruk. Pria yang membawaku bekerja di restoran ini ketika hidupku nyaris runtuh. Ia berdiri dengan seragam kokinya, menatapku dengan mata berbinar, bangga, namun terselip kecanggungan. "Julian," panggilku, memberikan senyum tulus pertamaku hari ini. "Nadine... atau harus kupanggil Nona Bos sekarang?" canda Julian, meskipun ia tetap memberikan anggukan hormat. “Jangan berani-berani memanggilku begitu,” kataku sambil menarik lengannya menjauh dari kerumunan. “Ayo ikut aku ke atas. Aku butuh teman bicara yang nyata.” Ruang kerjaku berada di lantai atas. Ruangan itu luas, dindingnya dari kaca yang menghadap langsung ke dermaga kota Nasan. Kapal-kapal besar tampak seperti bayangan bergerak di kejauhan. Aku duduk di kursi kulit besar di balik meja kerja, merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Julian duduk di depanku, membawa dua gelas kopi hangat. “Selamat, Nadine,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali santai seperti dulu. “Pernikahan ibumu dengan Tuan Moretti… itu berita besar di seluruh kota.” Aku menghela napas, menatap cairan hitam di gelasku. “Ini bukan seperti yang kau bayangkan, Julian,” lirihku. “Ini bukan dongeng Cinderella. Ini lebih seperti… terjebak di tengah kawanan singa.” Julian menatapku dengan raut prihatin. “Aku tahu kau kuat,” katanya pelan. “Kau sudah bertahan melewati masa paling sulit setelah ayahmu tiada. Kalau kau butuh bantuan mengurus operasional restoran ini, aku di pihakmu. Seratus persen.” Ia tersenyum kecil. “Aku tetap temanmu, Nadine. Apa pun statusmu sekarang.” “Terima kasih,” jawabku lirih. “Aku sangat butuh itu.” Kami tenggelam dalam pembicaraan. Tentang sistem kerja restoran. Tentang dapur. Tentang bagaimana aku ingin tetap memperlakukan semua orang dengan adil, tanpa rasa takut. Empat puluh menit berlalu. Empat puluh menit yang membuatku hampir lupa bahwa aku sedang berdiri di dalam sangkar emas keluarga Moretti. Namun... Yang tidak kuketahui adalah, di sudut ruangan, tersembunyi di balik ornamen dinding yang tampak mewah, sebuah kamera kecil merekam setiap gerak-gerik kami. Di tempat lain. Matteo berdiri di ruang latihan pribadinya. Buku jarinya berlumur darah. Bukan darahnya sendiri. Ia baru saja menyelesaikan sesi “latihan”, melampiaskan amarahnya dengan tinju brutal ke tubuh musuhnya yang dijadikan samsak hidup. Napasnya berat saat ia mengelap noda darah di buku jarinya. Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk. Video langsung. Layar menampilkan Nadine duduk di ruang kerja restoran. Tersenyum. Tertawa kecil. Bersama seorang pria. Seorang pria bersetelan jas, anak buah Matteo yang ditempatkan di restoran sebagai mata-mata, berbicara melalui sambungan telepon terenkripsi. "Tuan Matteo," lapor pria itu dengan suara rendah. "Nona muda bekerja dengan sangat baik. Namun, saat ini ia sedang berada di ruang kerjanya dengan seorang pria, salah satu koki bernama Julian." Matteo berhenti bergerak. “Mereka menutup pintu,” lanjut pria itu. “Dan belum keluar selama lebih dari empat puluh menit.” Matteo menatap layar. Matanya menyipit, rahangnya mengeras, dan aura di ruangan itu seketika menjadi sangat mencekam. Matteo menyentuh layar ponselnya, mengusap wajah Nadine di sana dengan gerakan posesif yang berbahaya. "Julian, ya?" Matteo bergumam, suaranya serak dan penuh ancaman yang mematikan. "Berani sekali dia menyentuh barang yang belum selesai kumainkan." Matteo mulai bangkit. Tangannya meraih rokok, menyulutnya, lalu menyesapnya perlahan. Asap tebal membumbung tinggi ke udara, nampak seringai tipis disudut wajahnya. "Sepertinya adikku butuh diingatkan siapa yang memberinya mahkota itu." "Ah... berani bermain-main dia," gumam Mateo pelan. "Mari kita lihat seberapa lama tawa itu bertahan." “Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor
Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m
Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.Pintunya terbuka dengan gerakan mekanis, tanpa suara. Aku masuk dan duduk kaku, punggungku menempel pada jok kulit yang dingin. Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah teredam. Hanya ada aku, napasku yang masih belum stabil, dan bayangan lubang peluru yang terus menyelinap ke pikiranku.Aku menarik napas panjang. Ancaman Matteo masih terasa begitu nyata, seolah ia duduk di hadapanku, mengulang kalimat itu dengan suara datar: Sekali saja ada rahasia yang keluar dari bibirmu…Aku mengepalkan tangan di pangkuan.Aku
Dominic akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet. Gerakan itu lambat, nyaris malas, namun efeknya seketika membuat udara di ruang makan berubah. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia memutuskan untuk ikut campur.Tatapannya mengarah lurus ke Matteo tajam, dingin, dan penuh otoritas yang tidak perlu diteriakkan. “Kau terlalu ceroboh, Matteo.” Suaranya rendah. Tidak keras. Tidak marah. Tapi setiap kata meluncur seperti bilah es yang menyusup ke pori-pori kulit, lalu membeku di tulang."Jika musuh mulai mencium aromamu di dermaga utara, itu berarti kau meninggalkan jejak yang kotor semalam." Matteo mendongak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum—lebih seperti ejekan yang malas. “Ceroboh?” ia terkekeh pelan, suara tawanya kering, tanpa humor. “Aku tidak meninggalkan jejak apa pun, Kak. Aku hanya memberikan… sedikit pelajaran.” Ia memutar bahunya, santai. “Masalah penyusup itu,” lanjutnya, “mereka hanya kecoak. Kecoak tidak perlu dipikirkan terlalu serius.” D
Matahari pagi di kota Nasan seharusnya menjadi simbol awal yang baru. Namun bagiku, cahaya pucat yang menyusup melalui celah gorden kamar hanyalah bukti lain bahwa aku masih hidup di dalam neraka, dan neraka ini tidak berniat melepaskanku. Aku tidak benar-benar tidur semalam. Tubuhku memang terbaring di ranjang besar berseprai sutra, tapi pikiranku terperangkap di paviliun tua Saint-Noire. Setiap kali kelopak mataku terpejam, bayangan itu kembali lebih jelas, lebih brutal, seolah ingin memastikan aku tidak akan pernah lupa. Kilatan moncong pistol. Bunyi tulang yang retak. Jeritan yang tercekik di tenggorokan. Dan bau itu. Bau anyir darah. Aku mencium baunya bahkan sekarang, meski aku tahu itu mustahil. Seolah aroma besi dan kematian itu menempel di kulitku, meresap ke pori-pori, lalu mengikuti aku sampai ke ranjang. Aku terbangun dengan napas tercekik, dada terasa sempit, tenggorokanku kering seperti baru saja menelan debu. Jantungku berdegup liar, terlalu cepat, t







