แชร์

Bab 6 - Nona Moretti

ผู้เขียน: Za_dibah
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-05 13:36:00

​Restoran L'Eclat de Nasan adalah puncak dari segala kemewahan kuliner di kota ini. Bangunannya bergaya kolonial dengan jendela-jendela kristal yang menjulang tinggi. Biasanya, aku masuk melalui pintu belakang, mengenakan seragam pelayan yang kaku, dan mulai membersihkan meja-meja yang ditinggalkan para bangsawan.

​Namun hari ini...

Segalanya berbeda.

​Begitu aku melangkah masuk melalui pintu utama, dua orang doorman membungkuk dalam-dalam.

"Selamat siang, Nona Moretti," ucap mereka serempak.

​Langkahku terhenti.

Nama itu... terdengar sangat asing dan berat di telingaku.

​Di dalam foyer, Pak Wijaya, sang manajer restoran yang biasanya sangat ketat dan tak segan menegurku jika aku terlambat semenit saja, kini berdiri dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar. Di sampingnya, semua staf berjajar rapi.

​"N-nona Nadine, selamat datang," Pak Wijaya membungkuk hampir sembilan puluh derajat. "Kami sudah menyiapkan ruang kerja Anda di lantai atas. Kami... kami mohon maaf atas segala ketidaknyamanan selama ini. Kami tidak tahu jika Anda adalah bagian dari keluarga Moretti."

​Aku merasa muak dengan kepalsuan ini. "Berdirilah, Pak Wijaya. Tidak perlu seperti ini. Kita masih bekerja bersama. Aku masih Nadine yang sama yang membersihkan tumpahan wine di meja empat kemarin."

​"Tentu tidak, Nona. Sekarang Anda adalah pemilik tunggal tempat ini," sahutnya dengan nada ketakutan yang nyata.

Pemilik.

Kata itu terasa asing, seperti pakaian yang tidak pas di tubuhku.

​Di tengah kerumunan itu, aku melihat satu wajah yang sangat kukenal.

Julian.

Sahabat masa kecilku. Orang yang menolongku saat aku hampir terpuruk. Pria yang membawaku bekerja di restoran ini ketika hidupku nyaris runtuh. Ia berdiri dengan seragam kokinya, menatapku dengan mata berbinar, bangga, namun terselip kecanggungan.

​"Julian," panggilku, memberikan senyum tulus pertamaku hari ini.

​"Nadine... atau harus kupanggil Nona Bos sekarang?" canda Julian, meskipun ia tetap memberikan anggukan hormat.

​“Jangan berani-berani memanggilku begitu,” kataku sambil menarik lengannya menjauh dari kerumunan.

“Ayo ikut aku ke atas. Aku butuh teman bicara yang nyata.”

Ruang kerjaku berada di lantai atas.

Ruangan itu luas, dindingnya dari kaca yang menghadap langsung ke dermaga kota Nasan. Kapal-kapal besar tampak seperti bayangan bergerak di kejauhan. Aku duduk di kursi kulit besar di balik meja kerja, merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri.

Julian duduk di depanku, membawa dua gelas kopi hangat.

“Selamat, Nadine,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali santai seperti dulu.

“Pernikahan ibumu dengan Tuan Moretti… itu berita besar di seluruh kota.”

Aku menghela napas, menatap cairan hitam di gelasku.

“Ini bukan seperti yang kau bayangkan, Julian,” lirihku.

“Ini bukan dongeng Cinderella. Ini lebih seperti… terjebak di tengah kawanan singa.”

Julian menatapku dengan raut prihatin.

“Aku tahu kau kuat,” katanya pelan.

“Kau sudah bertahan melewati masa paling sulit setelah ayahmu tiada. Kalau kau butuh bantuan mengurus operasional restoran ini, aku di pihakmu. Seratus persen.”

Ia tersenyum kecil.

“Aku tetap temanmu, Nadine. Apa pun statusmu sekarang.”

“Terima kasih,” jawabku lirih.

“Aku sangat butuh itu.”

Kami tenggelam dalam pembicaraan. Tentang sistem kerja restoran. Tentang dapur. Tentang bagaimana aku ingin tetap memperlakukan semua orang dengan adil, tanpa rasa takut.

Empat puluh menit berlalu.

Empat puluh menit yang membuatku hampir lupa bahwa aku sedang berdiri di dalam sangkar emas keluarga Moretti.

Namun...

Yang tidak kuketahui adalah, di sudut ruangan, tersembunyi di balik ornamen dinding yang tampak mewah, sebuah kamera kecil merekam setiap gerak-gerik kami.

Di tempat lain.

Matteo berdiri di ruang latihan pribadinya.

Buku jarinya berlumur darah.

Bukan darahnya sendiri.

Ia baru saja menyelesaikan sesi “latihan”, melampiaskan amarahnya dengan tinju brutal ke tubuh musuhnya yang dijadikan samsak hidup. Napasnya berat saat ia mengelap noda darah di buku jarinya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah notifikasi masuk.

​Video langsung.

Layar menampilkan Nadine duduk di ruang kerja restoran.

Tersenyum.

Tertawa kecil.

Bersama seorang pria.

​Seorang pria bersetelan jas, anak buah Matteo yang ditempatkan di restoran sebagai mata-mata, berbicara melalui sambungan telepon terenkripsi.

​"Tuan Matteo," lapor pria itu dengan suara rendah. "Nona muda bekerja dengan sangat baik. Namun, saat ini ia sedang berada di ruang kerjanya dengan seorang pria, salah satu koki bernama Julian."

Matteo berhenti bergerak.

“Mereka menutup pintu,” lanjut pria itu.

“Dan belum keluar selama lebih dari empat puluh menit.”

​Matteo menatap layar. Matanya menyipit, rahangnya mengeras, dan aura di ruangan itu seketika menjadi sangat mencekam.

​Matteo menyentuh layar ponselnya, mengusap wajah Nadine di sana dengan gerakan posesif yang berbahaya.

​"Julian, ya?" Matteo bergumam, suaranya serak dan penuh ancaman yang mematikan. "Berani sekali dia menyentuh barang yang belum selesai kumainkan."

​Matteo mulai bangkit.

Tangannya meraih rokok, menyulutnya, lalu menyesapnya perlahan. Asap tebal membumbung tinggi ke udara, nampak seringai tipis disudut wajahnya.

"Sepertinya adikku butuh diingatkan siapa yang memberinya mahkota itu."

​"Ah... berani bermain-main dia," gumam Mateo pelan. "Mari kita lihat seberapa lama tawa itu bertahan."

​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
haduh.. kasihan si Nadine..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 341 — Will you marry me!

    ​Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Dominic dan Nadine dalam keheningan yang intim dan hangat.​Nadine menunduk kaku, berusaha keras menutupi debar kencang di dadanya. Tangan mungilnya yang gemetar meraih kembali mangkuk bubur yang sempat terabaikan di atas meja. Ia menyendokkan sedikit bubur hangat, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Dominic.​"Makan lagi... biar cepat sembuh," bisik Nadine lirih, sengaja menghindari kontak mata langsung karena malu.​Dominic tersenyum tipis. Ia memajukan wajahnya sedikit, menerima suapan itu dengan patuh. Namun, alih-alih mengalihkan pandangannya, binar mata abu-abunya yang teduh terus mengunci paras ayu Nadine yang berada begitu dekat darinya.​"Nadine," panggil Dominic pelan usai menelan buburnya.​"I-iya, Kak...?"​"Soal pertunangan itu..." Dominic menjeda kalimatnya. Jemarinya yang bebas terangkat perlahan, mengusap lembut helai rambut Nadine yang terurai di bahunya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "...ja

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 340 — Kepergian Lukas

    ​Ruangan VIP itu diliputi ketegangan. Lukas berdiri kaku, tidak bergeming sedikit pun dari posisinya meski Dominic menyuruhnya pergi secara terang-terangan. Binar mata tajam calon penguasa keluarga Vance itu memancarkan keberanian mutlak. Lukas menarik napas panjang, menatap lurus sepasang mata abu-abu Dominic yang dipenuhi aura ancaman. ​"Kau pikir ucapanmu bisa menyuruhku pergi begitu saja, Dominic?" sahut Lukas, suaranya mengalun rendah namun amat tegas, memotong hening kamar perawatan. "Aku datang ke sini untuk menemui Nadine, bukan untuk meminta izin darimu." ​Dominic menyandarkan kepalanya di bantal, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat cemoohan. "Nadine sedang merawatku. Kehadiranmu hanya mengganggu ketenangannya." ​"Mengganggu?" Lukas terkekeh sinis, melangkah satu pijakan lebih dekat ke sisi ranjang tanpa takut pada ancaman Dominic. "Aku sudah mengenal Nadine jauh sebelum kau terdampar di pantai itu, Dominic. Delapan belas tahun lalu... satu tahun sebelum

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 339 — Drama manipulatif

    ​Atmosfer di dalam Suite Room VIP seketika membeku.​Aroma bunga segar yang dibawa Lukas menguap oleh ketegangan samar yang mendadak pekat. Dominic yang baru saja menerima suapan bubur dari Nadine masih mengunyah pelan, namun sepasang mata abu-abunya yang dingin menatap lurus ke arah Lukas Vance tanpa berkedip sedikit pun.​Lukas menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan ranjang. Tatapannya berselisih sengit dengan Dominic sebelum beralih lembut pada Nadine.​"Selamat pagi, Nadine," sapa Lukas dengan suara rendah dan tenang. Ia menyodorkan buket mawar merah muda yang bawanya. "Aku membawakan ini untukmu agar kau tidak terlalu muram."​Nadine tersentak canggung. Ia hendak berdiri dari kursinya untuk menerima bunga tersebut. "Lukas... terima kasih banyak, kau tidak perlu..."​"Aww... sakit sekali!"​Dominic meringis pelan, ia mendadak memegangi dada kirinya dengan raut wajah yang mendadak menegang kesakitan. Tubuhnya agak condong ke depan, menarik napas

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 338 — Kedatangan Lukas

    Dua hari berlalu sejak ketegangan mencekam di ruang ICU terisolasi.Dominic kini telah dipindahkan ke Suite Room VIP lantai paling atas St. Jude Private Hospital, sebuah kamar perawatan mewah bernuansa hangat yang dilengkapi pengamanan ketat tingkat tinggi dari pasukan elite Moretti.Proses pemulihan Dominic dipastikan memakan waktu yang cukup lama. Selain luka tembak baru yang menembus dada kirinya usai melindungi Nadine dari tembakan Maximillian Miller, luka gores tembakan lama di rusuk kanannya yang sempat jahitan-nya renggang juga membutuhkan perhatian medis ekstra. Tubuh tegap si sulung Moretti itu kini dipenuhi balutan perban ketat di dua sisi torso-nya.Namun, di balik kondisinya yang bertaruh nyawa, sifat dominan dan posesif seorang Dominic Moretti justru meningkat ke tahap yang tak masuk akal."Tidak mau."Suara berat dan datar milik Dominic memotong keheningan kamar. Pria itu bersandar di ranjang pasien dengan beberapa bantal menyangga punggungnya. Waja

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 337 — Cepat pulih

    ​Suara monitor electrocardiogram berbunyi makin cepat, menggema di seluruh sudut ruangan steril.​"Tekanan darah berangsur naik! Saturasi oksigen meningkat pesat!" pangkas dokter bedah utama penuh rasa lega seraya mencatat refleks pupil mata Dominic. "Tuan Muda, bisakah Anda mendengar suara saya? Angkat sedikit jemari tangan Anda jika mendengar."Dominic tidak mengindahkan pertanyaan dokter itu. Rasa terbakar yang menusuk-nusuk di dada kirinya seolah tak berdaya menghentikan pandangannya. Di balik masker oksigen yang membingkai bibirnya yang pucat, sepasang mata abu-abu yang tajam itu hanya terkunci lurus pada sosok Nadine yang berdiri di balik dinding kaca steril.Di luar ruangan, udara terasa mendadak membeku.Nadine menyapukan telapak tangannya ke cermin kaca yang dingin, air mata leganya menetes kian deras. Binar mata abu-abu Dominic yang menatapnya penuh kepemilikan seolah mencabut seluruh beban teror yang menghimpit dadanya sejak semalam. Pria itu hidup. Domin

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 336 — Dia milikku

    ​BYUR!Dingin yang merajam tulang langsung menghantam seluruh kesadarannya. Air laut yang pekat dan bergelombang tinggi menggulung tubuh Dominic tanpa ampun.Sensasi itu terasa begitu nyata. Pria itu terombang-ambing di tengah lautan lepas yang kelam. Pasokan udara di dadanya terkuras habis, paru-parunya serasa terbakar, dan napasnya tersengal-sengal menahan asinnya air yang terhitung masuk ke tenggorokannya. Dari kejauhan, di atas geladak kapal yang bergerak menjauh, Arthur Miller berdiri bersama Christian dan Maximillian Miller, menyunggingkan senyum miring penuh cemoohan. '​Apakah aku harus menyerah di sini...?' ​Rasa lelah yang luar biasa perlahan menenggelamkan jiwanya. Kegelapan merayap cepat, menarik tubuh tegapnya kian dalam ke dasar samudra yang dingin. ​Namun tepat di saat kesadarannya nyaris padam total, sebuah kehangatan nan lembut menyentuh bibirnya. Sebuah sentuhan singkat yang menyalurkan hembusan napas kehidupan yang amat berharga. ​"Terny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status