
Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Nadine tak mengira, sepeninggal ayahnya ibunya menikah lagi dengan pria tua kaya raya bernama Sebastian Moretti. Namun dibalik keluarga barunya, Nadine terseret masuk ke dunia keluarga elite yang dingin dan penuh darah.
Dominic Moretti—dingin, tenang, penuh misteri dan memandang Nadine seolah ia tak pernah ada, namun dibalik sikapnya ada sesuatu yang berbahaya.
Dan Matteo Moretti—liar, berbahaya, penuh gairah, dengan tatapan yang membuat kulit Nadine meremang bahkan sebelum ia bicara.
***
"Nghh..."
“Jika kau berbicara sesuka hatimu lagi,” desis Dominic tepat di telinga Nadine, “aku sendiri yang akan melibas dan melalap habis mulut tipismu. Mematikan suaramu, menghabiskan setiap sisa napas yang kau punya… hingga kau tidak bisa lagi mengeluarkan satu kata pun selain erangan."
***
“Apa kesalahanmu?” desis Matteo.
“Kesalahanmu adalah datang ke rumahku… dan membiarkan ibumu merangkak naik ke ranjang ayahku.”
"Lepaskan! Kau gila!" Nadine meronta.
"Kau ingin tahu seberapa gila aku?" Matteo mendekatkan wajahnya. "Aku benci barang asing di rumahku. Dan cara terbaik untuk merusak barang asing... adalah dengan menandainya."
Read
Chapter: Bab 274 — Wanitaku seumur hidupkuNadine terengah, kedua tangan mungilnya refleks memukul dada bidang Dominic yang sekeras batu. "Lepaskan kak! Kita sedang dimobil!"Namun, sebelum ia sempat mendorong lebih jauh, jemari besar Dominic telah mengunci kuat rahangnya, memaksa wajah pucat itu mendongak. Detik berikutnya, wajah Dominic menggelap saat ia menundukkan kepala dan membungkam bibir ranum Nadine secara brutal. "Kak... mmph!" Ucapan Nadine terputus total. Ciuman itu yang awalnya terasa begitu gragas, kasar, dan dipenuhi tuntutan absolut. Dominic melumat habis belah bibir Nadine tanpa ampun, seolah ingin menghukum mati kepolosan wanita itu yang berani memuji pria lain di hadapannya.Namun, saat lidah Dominic berhasil menerobos masuk, mengobrak-abrik seluruh isi rongga mulut Nadine dan mereguk habis napasnya, ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan yang teramat dalam, lembut, dan memabukkan. Dominic bergerak laksana pria yang kelaparan, menghisap dan mengecap setiap jengkal kemanisan di dalam mulut Nadine hin
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 273 — Dominic cemburuNadine sedikit mengernyit. Ia menangkap riak permusuhan dari sindiran itu, namun memilih menyahut dengan ketenangan yang terjaga."Tuan William dan Nyonya Elena memperlakukanku dengan sangat baik." Nadine kembali memalingkan wajah, menatap jajaran lampu kota yang berkelebat di balik kaca. "Rumah mereka... memiliki atmosfer yang sangat hangat." Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Dominic, kata hangat justru terasa seperti duri yang menancap tepat di dadanya. Kehangatan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia berikan dalam dunianya yang kelam. Ia memalingkan wajah sesaat lalu kembali menatap Nadine. "Atmosfer yang hangat?" Dominic terkekeh pelan. "Jangan terlalu naif. Sikap ramah mereka juga bagian dari etiket keluarga besar."Pria itu menjeda kalimatnya. Tatapan abu-abunya menajam, seolah hendak menguliti isi kepala adik tirinya. "Lalu bagaimana dengan Lukas? Dia tampaknya tahu banyak tentang seleramu malam ini."Nadine tidak segera menjawab. Ingatannya otomati
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 272 — Akhir acara di keluarga vanceMalam di Kota Nasan semakin larut. Langit hitam membentang pekat tanpa rembulan, menyisakan embusan angin musim semi yang sejuk di halaman luas kediaman keluarga Vance. Jamuan formal dan diskusi bisnis antar kedua keluarga penguasa itu akhirnya resmi berakhir. Di pelataran depan, iring-iringan kendaraan keluarga Moretti telah bersiap. Dua sedan mewah berwarna hitam berdiri di bagian tengah konvoi, dikelilingi beberapa SUV pengawal dengan mesin yang sudah menderu halus. Para pria berpakaian serba hitam berdiri siaga di posisi masing-masing, mengawasi setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi. William dan Elena berdiri berdampingan. Sebagai tuan rumah, keduanya mengantar para tamu hingga ke pelataran depan. Sebastian melangkah lebih dulu. Pria yang disegani seluruh kota Nasan itu menyambut uluran tangan sahabat lamanya dengan senyum tipis yang jarang terlihat. "Terima kasih atas jamuan malam yang sangat luar biasa ini, William." William menjabat tangannya era
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: Bab 271 — Tidak fokusSementara itu.. di lantai dua Mansion keluarga Vance. Di balik pintu ruang kerja William Kaiser Vance, atmosfer diplomasi bisnis terasa begitu pekat. Ruangan klasik beraroma cedar dan kopi hitam itu menjadi saksi bisu bagaimana berkas kerja sama Pelabuhan West Argen dijabarkan poin demi poin. "Jalur distribusi akan jauh lebih efisien jika kita menggunakan armada gabungan, Sebastian. Biaya logistik bisa kita tekan hingga dua belas persen," urai William. Sebastian mengangguk pelan. "Itu masuk akal." "Aku juga berpikir demikian. Dengan begitu, kendali operasional di sektor barat akan sepenuhnya stabil," tambah William sembari menggeser selembar peta topografi pelabuhan. Di antara interaksi yang berjalan profesional itu, hanya Dominic yang jiwanya tidak berada di sana. Sebagai pewaris utama yang memegang kendali penuh atas operasional riil di lapangan, ia duduk tegak dengan topeng ketenangan mutlak. Namun, sepasang mata abu-abu badainya secara konstan tersita oleh jendela ka
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: Bab 270 — Jika pria itu adalah akuNadine menundukkan kepalanya perlahan. Jemarinya kembali meremas sapu tangan hitam yang masih berada di genggamannya. Suaranya terdengar sangat pelan ketika akhirnya ia berbicara. "Maafkan aku, Lukas..." Nada suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Aku... benar-benar menghargai semua kebaikanmu. Keluargamu juga menerimaku dengan sangat baik." Ia mengangkat kepalanya perlahan. Namun kali ini, kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Tapi... aku benar-benar tidak bisa memenuhi keinginan dan ambisi orang tua kita saat ini. Kepalaku terlalu penuh. Hidupku juga... terlalu berantakan. Aku tidak ingin menyeretmu semakin jauh ke dalam semua kekacauan ini." Keheningan kembali turun. Hanya suara gemericik air mancur yang mengisi ruang di antara mereka. Lukas mengembuskan napas pelan. Lalu ia melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat. Masih menjaga jarak yang sopan agar Nadine tidak merasa tertekan. "Aku tahu, Nadine."
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: Bab 269 — Lukas memberinya pilihanSetelah jamuan makan malam berakhir, para pelayan bergerak cepat membereskan meja makan yang panjang itu. Denting halus peralatan makan berbahan perak berpadu dengan langkah kaki para pelayan yang terlatih, menciptakan irama yang tenang di tengah suasana hangat kediaman keluarga Vance. William Kaiser Vance meletakkan serbet makannya dengan rapi di atas meja, lalu menoleh kepada Sebastian Moretti. "Sebastian, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan mengenai proyek pelabuhan itu di ruang kerja?" tawarnya dengan senyum bersahabat. Sebastian mengangguk pelan. "Tentu. Masih ada beberapa poin yang ingin kubahas mengenai distribusi jalur logistik." Dominic yang duduk tidak jauh dari Sebastian ikut berdiri. Sebagai pewaris utama Moretti, seluruh operasional bisnis keluarga memang berada di bawah kendalinya. Sebastian tetap menjadi pemimpin tertinggi, tetapi urusan perusahaan, pelabuhan, hingga ekspansi bisnis lebih banyak berada di tangan Dominic. William te
Last Updated: 2026-07-01
Pak Ceo, Aku Ingin Anak
Mature (21+)
“Pak... bukannya tadi sudah kita lakuin di sofa?” bisik Amara dengan wajah memerah saat Darian kembali melucuti pakaiannya.
“Kau tahu, Amara, untuk satu anak... kita butuh lebih dari sekali untuk bercinta,” jawabnya berat, sebelum membaringkannya di atas ranjang.
Amara Aurelia hidup sebatang kara dan tak pernah memikirkan pernikahan, sampai sebuah kecelakaan membuatnya kehilangan segalanya. Di ambang kematian, hanya satu penyesalan yang tersisa: ia belum merasakan menjadi seorang ibu.
Darian Lancaster, CEO dingin dan kejam, tanpa sengaja terlibat dalam insiden itu yang dihantui rasa bersalah dan siap membayar ganti rugi apapun. Hingga sebuah kontrak gila pun lahir; pernikahan rahasia tanpa cinta.
Amara harus menjadi istri tersembunyi, tinggal dibawah atap Darian dan dibawah pengawasan ketatnya. Namun, bagaimana jika hubungan yang dimulai hanya demi sebuah janin ini diam-diam mengubah segalanya?
Read
Chapter: Bab 180: Happy ending.Marco, asisten setia Darian, tampak menggandeng tangan Maya dengan sangat protektif. "Tuan, Nyonya, selamat atas kesehatan Nona dan Tuan Muda yang baru saja lahir," ucap Marco dengan anggukan hormat, namun kali ini senyumnya terlihat lebih lepas. Amara menatap sahabatnya, Maya, yang tampak sedikit lebih berisi dan wajahnya yang glowing. "Maya! Akhirnya kalian datang juga. Kapan kalian akan menyusul kami? Pernikahan kalian sudah setahun, kan?" goda Amara. Maya melirik Marco dengan wajah memerah, lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga Amara yang membuat mata Amara membelalak sempurna. "Sayangku Amara, jangan khawatir. Aku sudah 'isi'. Dan setelah kucocokkan dengan ramuanku kemarin... ternyata ramuanku berhasil. Aku sedang mengandung tiga bayi sekaligus," bisik Maya penuh kemenangan. "Apa?! Kembar tiga?!" pekik Amara. Darian yang mendengar itu langsung menatap Marco dengan alis terangkat. "Benarkah itu, Marco?" Marco menggaruk tengkuknya y
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 179: Kehangatan keluarga Lancaster.Enam tahun kemudian. Matahari sore Solterra menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan rona oranye keemasan yang membasahi kebun luas di Mansion utama Lancaster. Kebun ini bukan lagi sekadar taman formal yang kaku dengan tanaman simetris; kini, tempat ini telah berubah menjadi surga kecil bagi anak-anak. Ada sebuah rumah pohon megah, area memanah kecil, dan berbagai wahana permainan berkualitas tinggi yang sengaja dibangun khusus untuk sang penerus. "Ma! Pa! Lihatlah, aku bisa berlari sangat cepat! Aku seperti kilat!" Suara cempreng dan penuh semangat itu milik Andrew. Bocah berusia enam tahun itu berlari memutari air mancur marmer dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Rambut gelapnya yang mirip dengan Darian tampak berantakan karena keringat, namun tawanya begitu lepas, mengguncang keheningan sore itu. Tidak jauh dari sana, di sebuah sofa outdoor yang empuk dan teduh, Amara duduk berdampingan dengan Darian. Pemandangan di sana sungguh menyejukkan
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 178: Kelahiran Andrew Karl Lancaster.Delapan bulan berlalu bagaikan hembusan angin yang membawa perubahan besar di Mansion Lancaster. Perut Amara yang semula rata kini telah membuncit sempurna, membawa beban cinta yang semakin hari semakin terasa gerakannya. Pagi itu, ketenangan di penthouse pecah ketika rintihan kesakitan Amara menggema di sela heningnya fajar. Persalinan yang dinanti-nantikan itu tiba lebih awal dari perkiraan, memicu alarm kesiagaan tertinggi bagi seluruh punggawa Lancaster. Lorong rumah sakit premier di pusat kota Solterra yang eksklusif itu kini steril. Tak ada langkah kaki lain selain para dokter ahli dan perawat yang berlari kecil. Di tengah pusaran kepanikan itu, Darian Lancaster berdiri tegak, meski buku-buku jarinya memutih karena cengkeraman rasa cemas yang luar biasa. Ia menolak untuk menunggu di luar. Baginya, melihat Amara berjuang sendirian adalah siksaan yang lebih berat daripada kehilangan seluruh aset perusahaannya. Di dalam ruang bersalin yang dingin, suasana te
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 177: Bukan sekedar 'pabrik anak', justru sangat berharga.Kabar itu menyebar seperti api yang ditiup angin kencang di musim kemarau. Hanya butuh beberapa jam setelah Darian dan Amara meninggalkan rumah sakit, seluruh jaringan komunikasi keluarga besar Lancaster seolah meledak oleh euforia. Di Penthouse, suasana yang biasanya tenang dan eksklusif kini berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa.Darian benar-benar membuktikan ucapannya. Ia membatalkan seluruh agenda bisnisnya, membiarkan Marco menangani urusan di kantor, sementara ia sendiri berubah menjadi pengawal paling posesif bagi istrinya. Amara dilarang menuruni tangga, dilarang mengambil minum sendiri, bahkan dilarang berjalan terlalu cepat menuju balkon."Mas, aku hanya ingin turun minum. Aku tidak sedang sakit," keluh Amara dengan nada manja saat melihat Darian masuk membawa segelas susu kehamilan hangat.Darian duduk di tepi ranjang, mengusap pipi Amara dengan ibu jarinya. "Dengarkan aku, Sayang. Kau sedang membawa masa depan Lancaster. Biarkan aku yang melayani setiap langka
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 176: Amara hamil.Lorong Rumah Sakit Pusat Solterra yang biasanya terasa dingin dan kaku, pagi ini seolah dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Darian Lancaster tidak bisa duduk diam di ruang tunggu VIP yang eksklusif. Pria yang biasanya mampu mengendalikan pergerakan pasar saham dunia dengan satu jentikan jari itu, kini tampak sangat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang periksa, langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer, mencerminkan kecemasan yang berkecamuk di dalam hatinya. Darian terus mengepalkan tangannya, sesekali menyisir rambutnya dengan kasar. Pikirannya melayang pada diagnosa medis beberapa bulan lalu yang menyatakan bahwa peluang Amara untuk hamil sangatlah kecil karena kondisi rahimnya yang lemah. Ia sudah mengirim pesan singkat kepada Marco agar asistennya itu mengambil alih seluruh rapat direksi di Arcus Capital. Saat ini, dunia bisnis tidak ada artinya dibandingkan wanita yang sedang berada di balik pintu kayu ek itu. 'Tuhan, tolong jan
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 175: Kekhawatiran Darian.Sinar matahari pagi Solterra menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama penthouse, menciptakan garis-garis emas yang jatuh tepat di atas ranjang kasmir yang berantakan. Udara pagi itu terasa sejuk, membawa aroma embun yang samar dari taman gantung di balkon. Hampir dua bulan telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Maladewa, namun sisa-sisa romansa di pulau tropis itu seolah enggan memudar, tetap melekat dalam setiap interaksi antara Darian dan Amara. Amara menggeliat pelan di balik selimut tebalnya. Matanya masih terpejam, menikmati kehangatan yang melingkupinya. Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Kepalanya terasa sedikit berat, dan perutnya memberikan sensasi aneh yang sulit ia jelaskan, seperti ada ombak kecil yang bergejolak di dalam sana. Di sampingnya, Darian sudah lebih dulu terjaga. Pria itu bersandar pada kepala ranjang dengan tablet di tangan kirinya, sementara tangan kanannya tak henti mengusap bahu polos Amara yang menyembul dari balik selimu
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: BAB 117 – EPILOG: DI BALIK TINTA YANG BERCAHAYA (TAMAT)"Waktu hanyalah deretan angka bagi mereka yang tak mengerti arti menunggu, namun bagi dua jiwa yang pernah terpisah dimensi, waktu adalah sebuah kanvas yang kini mereka warnai dengan kebebasan. Di antara baris-baris kalimat yang pernah memenjarakan mereka sebagai figuran, kini tumbuh sebuah narasi baru—sebuah kisah yang tak lagi butuh pena penulis untuk bergerak, karena cinta telah menjadi tinta yang takkan pernah mengering hingga akhir zaman." ***Beberapa tahun kemudian... Matahari sore di atas ladang anggur Vaelhardt tampak lebih hangat dari biasanya, memberikan rona kemerahan pada bangunan mansion yang kini berdiri kokoh seperti istana kecil di tengah hamparan hijau. Di kejauhan, bagian depan area mansion yang telah diubah menjadi museum botani dan perpustakaan kuno tampak ramai oleh beberapa pengunjung yang mengagumi koleksi bunga-bunga langka milik Nyonya Vaelhardt. Di tengah ketenangan itu, seorang gadis kecil dengan rambut perak yang berkilau seperti rembulan berlari mel
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: BAB 116 – GEMA KEABADIAN DALAM NAMA VAELHARDT"Cinta adalah sebuah perjalanan yang melintasi ribuan bahasa, ribuan dunia, dan ribuan kemungkinan, hanya untuk berhenti pada satu titik yang disebut rumah. Di sela tangis pertama seorang bayi dan tawa seorang kakak, takdir tak lagi ditulis dengan tinta yang dingin, melainkan dengan hangatnya napas kehidupan. Kesempurnaan bukanlah tentang ketiadaan celah, melainkan tentang bagaimana kepingan-kepingan yang pernah retak menyatu kembali dalam balutan kasih yang tanpa syarat." *** Mansion Vaelhardt belum pernah terlihat seindah ini. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca setinggi langit-langit, memantulkan cahaya pada ribuan kuntum mawar putih yang didatangkan khusus dari toko Gardenia. Aroma persalinan yang steril telah berganti dengan wangi bayi yang lembut dan bedak lavender. Elias berdiri di depan lobi, tangannya dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Eliana. Ia menggendong bayi perempuan mereka, Aura, yang terbungkus selimut kasmir merah muda yang sangat halus. Elian
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: BAB 115 – DETIK-DETIK MENUJU KEHIDUPAN BARU"Waktu meluncur seperti arus sungai yang tak terbendung, membawa perubahan pada raga namun memperkuat akar pada jiwa. Perut yang dulu hanya berupa tonjolan kecil kini telah menjadi rahim yang megah, menyimpan janji tentang tangis pertama yang akan mengubah dunia. Di ambang penantian yang mendebarkan, cinta bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan sebuah kesiapan untuk menyambut fajar yang baru." *** Beberapa bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang indah itu. Musim telah berganti, dan kini Mansion Vaelhardt diselimuti udara yang lebih sejuk. Perut Eliana kini sudah sangat besar, menandakan bahwa waktu melahirkan sudah sangat dekat. Ia duduk di kursi goyang di balkon kamar, menatap dedaunan anggur yang mulai menguning. Setiap gerakannya kini terasa berat, namun ada rasa bahagia yang tak terlukiskan setiap kali ia merasakan tendangan dari dalam rahimnya. "Lagi-lagi kau duduk di luar saat udara dingin, Sayang," suara Elias terdengar penuh kekhawatiran yang lembut. Elia
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: BAB 114 – SINAR MENTARI DI MEJA PERJAMUAN VAELHARDT"Cahaya pagi bukan sekadar tanda berakhirnya malam, melainkan saksi bisu atas dimulainya sebuah babak yang baru. Di bawah atap yang kini tak lagi terasa dingin, aroma kopi dan tawa seorang anak menyatu menjadi harmoni yang menenangkan jiwa. Takhta telah berganti menjadi kursi kayu di meja makan, dan perintah kaku telah melunak menjadi percakapan hangat yang mengeja makna sebuah rumah." *** Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap melalui celah gorden sutra, membelai wajah Eliana yang masih terlelap. Ia mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di pinggangnya. Elias masih di sana, memeluknya dari belakang dengan napas yang teratur dan tenang. Eliana tersenyum, menyentuh tangan besar suaminya yang melingkar protektif di perutnya. "Sayang... bangun, ini sudah pagi," bisiknya lembut sambil mencoba berbalik. Elias bergumam rendah, bukannya melepaskan, ia justru mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Eliana. "Lima menit lagi, Sayang. Ini adalah tidur pali
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: BAB 113 – MALAM YANG MELURUHKAN SELURUH RINDU"Ketika dunia di luar sana mulai meredup dan kebisingan kota tenggelam dalam pelukan malam, hanya ada satu detak jantung yang terdengar di dalam sunyi. Cinta yang telah menempuh perjalanan ribuan mil, melintasi batas logika dan ruang, akhirnya tiba di titik peristirahatan terakhirnya. Di bawah naungan atap yang sama, sebuah janji kini bukan lagi sekadar kata, melainkan hembusan napas yang saling berbagi di balik selimut keheningan." *** Pesta kecil di kebun anggur telah berakhir beberapa jam yang lalu. Mansion Vaelhardt kini diselimuti oleh ketenangan yang mewah, hanya menyisakan kerlip lampu taman di kejauhan. Renier telah memastikan Carlo tertidur lelap di kamarnya, kelelahan setelah seharian menjadi "ksatria penjaga cincin" yang sangat sibuk. Elias berdiri di balkon kamar utama, masih mengenakan kemeja putihnya yang kancing atasnya sudah terbuka. Ia menatap langit malam, membiarkan angin sejuk menerpa wajahnya. "Kau sedang memikirkan apa, Sayang?" Suara lembut Eliana terden
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: BAB 112 – FAJAR DI ATAS ALTAR MAWAR"Ketika fajar menyapa dengan jemari emasnya, ia tak hanya membawa hari yang baru, tetapi juga menggenapi janji yang pernah terucap di antara dimensi yang berbeda. Di atas tanah yang harum oleh aroma anggur dan mawar, waktu seolah berhenti berdetak untuk memberi penghormatan pada sebuah kesetiaan. Hari ini, bukan tentang siapa yang menjadi raja atau ratu, melainkan tentang dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhir mereka di dunia yang nyata."***Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar utama Mansion Vaelhardt. Eliana terbangun dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di sampingnya, sisi tempat tidur Elias sudah kosong, namun ia meninggalkan selembar nota kecil di atas bantal: "Aku menunggumu di ujung altar, Sayang."Pintu kamar terbuka pelan, dan tim penata rias serta Helena masuk dengan langkah teratur. Mereka membawa gaun pengantin sutra yang kini tampak berkilau terkena cahaya pagi."Selamat pagi, Nyonya. Mari kita mulai k
Last Updated: 2025-12-23