MasukSuara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t
“Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor
Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m
Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.Pintunya terbuka dengan gerakan mekanis, tanpa suara. Aku masuk dan duduk kaku, punggungku menempel pada jok kulit yang dingin. Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah teredam. Hanya ada aku, napasku yang masih belum stabil, dan bayangan lubang peluru yang terus menyelinap ke pikiranku.Aku menarik napas panjang. Ancaman Matteo masih terasa begitu nyata, seolah ia duduk di hadapanku, mengulang kalimat itu dengan suara datar: Sekali saja ada rahasia yang keluar dari bibirmu…Aku mengepalkan tangan di pangkuan.Aku
Dominic akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet. Gerakan itu lambat, nyaris malas, namun efeknya seketika membuat udara di ruang makan berubah. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia memutuskan untuk ikut campur.Tatapannya mengarah lurus ke Matteo tajam, dingin, dan penuh otoritas yang tidak perlu diteriakkan. “Kau terlalu ceroboh, Matteo.” Suaranya rendah. Tidak keras. Tidak marah. Tapi setiap kata meluncur seperti bilah es yang menyusup ke pori-pori kulit, lalu membeku di tulang."Jika musuh mulai mencium aromamu di dermaga utara, itu berarti kau meninggalkan jejak yang kotor semalam." Matteo mendongak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum—lebih seperti ejekan yang malas. “Ceroboh?” ia terkekeh pelan, suara tawanya kering, tanpa humor. “Aku tidak meninggalkan jejak apa pun, Kak. Aku hanya memberikan… sedikit pelajaran.” Ia memutar bahunya, santai. “Masalah penyusup itu,” lanjutnya, “mereka hanya kecoak. Kecoak tidak perlu dipikirkan terlalu serius.” D







