MasukRuang sidang tertutup istana terasa mencekam dan sarat akan intrik politik. Di atas singgasana kayu jati bertatahkan ukiran naga emas, Raja Hao Ran duduk dengan posisi angkuh. Jubah kebesarannya yang berwarna merah tua memancarkan kemewahan, tetapi matanya yang cekung menyiratkan rasa curiga yang tak pernah padam. Di samping kirinya, Penasihat Mo Yan berdiri menunduk dengan senyum tipis yang penuh kepalsuan. Sementara di sisi kanan, lima jenderal senior dari Dewan Mi
Lampu tabung di langit-langit ruang interogasi Kejaksaan Distrik Kota berpendar dingin, memantulkan bayangan kaku ke atas meja besi yang tergores. Udara di dalam ruangan itu terasa berbau kertas basah dan pendingin udara yang bekerja terlalu keras. Di balik meja, Ming Na duduk membungkuk dengan kedua tangan terikat borgol baja. Gaun bermerek yang biasanya ia banggakan kini kusut dan ternoda debu, sementara riasan wajahnya telah luntur oleh air mata dan keringat dingin yang mengalir tanpa henti.Di seberang meja, Jaksa Han menggeser sebuah dokumen tebal berisi hasil audit forensik keuangan dan rekaman CCTV pelabuhan. Di sampingnya, Tuan Li berdiri menyandarkan bahunya pada dinding kaca satu arah, menatap dingin wanita muda yang dulu pernah dianggapnya seperti keluarga sendiri."Ming Na," Jaksa Han membuka pembicaraan dengan suara datar yang tenang namun memotong sunyi. "Penyelidikan atas hilangnya Jia Li di Tebing Wanghai telah ditingkatkan menjadi kasus percobaan pembunuhan dan kejaha
Malam berikutnya, hujan deras mengguyur ibu kota kekaisaran, menenggelamkan gemuruh kota di balik gemuruh guruh yang bersahut-sahutan. Air hujan turun bagai tirai raksasa, mengikis noda darah di halaman istana yang belum sempat mengering.Di sudut lorong pelayan yang sepi dan remang, Yi Fang sedang mengeringkan pakaian kerja rami milik para pelayan peraduan. Tempat penyucian ini tersembunyi di balik bangunan dapur basah, hanya diterangi oleh satu lentira minyak yang bergoyang ditiup angin malam.Langkah kaki tertatih-tatih mendekat. Yu Shun muncul dari balik tumpukan kayu bakar dengan membawa sekeranjang pakaian kotor yang baru diangkut dari gerbang belakang. Wajahnya tampak tegang, matanya melirik ke kiri dan ke kanan sebelum menghampiri meja tempat Yi Fang bekerja."Tuan P
Di ruangan raksasa tempat ribuan gulungan kitab Kuno tersusun hingga ke langit-langit, bau kertas lapuk dan aroma kayu cendana mendominasi udara. Tempat ini adalah sudut tersisa di istana yang tidak tersentuh oleh aura darah peraduan Hao Ran.Yi Fang menggeser tangga kayu beroda pelan, memindahkan beberapa gulungan sejarah wilayah selatan ke rak paling atas. Sebagai pelayan pribadi peraduan raja, ia kini mendapat akses terbatas untuk membersihkan area perpustakaan pribadi kekaisaran saat Hao Ran sedang diuji oleh tabib istana.Langkah kaki yang hampir tak terdengar mendekatinya dari lorong antar-rak. Pangeran Xiu Wei muncul di balik deretan kitab hukum tua, mengenakan jubah abu-abu tanpa tanda kepangkatan. Di tempat ini, ia tak lagi berakting sebagai pria lemah yang mengasingkan diri. Matanya tajam, mengamati setiap celah pintu perpu
Angin dingin bertiup perlahan menembus celah-celah lorong belakang istana, membawa aroma tanah basah dan daun kering yang gugur dari pepohonan benteng. Koridor ini jarang dilalui oleh prajurit patroli biasa karena hanya menghubungkan perpustakaan tua kekaisaran dengan area penyimpanan barang-barang bekas yang terlupakan.Yi Fang menghentikan langkahnya tepat di bawah naungan atap kayu berukir yang sudah agak mengelupas. Suara langkah kaki di belakangnya ikut terhenti, berjarak sekitar sepuluh tombak di belokan dinding batu."Jika kau dikirim oleh Hao Ran untuk mencabut nyawaku di tempat sepi ini, kau merugi," kata Yi Fang dingin tanpa berbalik badan. Suaranya datar, menggantung tenang di antara dinding koridor yang sempit. "Bicara pada mayat tidak akan memberimu hadiah kenaikan pangkat dari raja gila itu."
Bau amis darah bercampur aroma dupa cendana yang membakar hidung menyambut pagi di aula sidang utama Kekaisaran Canglan. Di atas panggung kehormatan, pilar-pilar kayu jati tampak dipenuhi torehan mata pedang—sisa kemarahan liar Hao Ran saat fajar menyingsing. Sang raja tidak tidur sekejap pun. Matanya merah padam, dikelilingi kantung mata hitam yang amat pekat, bagaikan sesosok mayat hidup yang mengenakan jubah kebesaran emas bermotif naga.Di bawah tangga singgasana, puluhan pejabat dan lima jenderal Dewan Militer berdiri mematung. Keheningan di aula itu terasa begitu mencekam, sampai-sampai detik napas setiap orang terdengar menakutkan. Di samping kanan tangga, Yi Fang berdiri menunduk rapat bersama deretan pelayan istana lainnya. Tangannya menggenggam nampan kayu tempat mengelap sisa ampas teh malam sang tiran."Yang Mulia," ujar Jenderal Meng Tian melangkah maju, memecah kesunyian dengan suara berat yang dipaksakan tenang. "Mengenai dokumen teknis pencelupan kain zirah dari penjah
Lilin-lilin minyak di sudut kamar peraduan memancarkan pendar kuning yang samar, menembus kabut asap yang merayap lambat dari tungku tembikar emas. Suasana malam di kediaman sang tiran selalu terasa menekan, seolah dinding-dinding marmer di sana ikut menahan napas menyaksikan perang dingin yang tak kasat mata.Yi Fang berdiri menyandarkan punggungnya di sudut remang-remang, jemarinya tersembunyi rapat di balik lipatan lengan baju pelayannya. Di sana, di balik kain rami kotor yang melapisi bagian dalam bajunya, tersimpan sekeping rahasia kecil—serbuk halus dari akar tanaman liar yang dikeringkan.Resep racikan ini datang dari gulungan sutra tua yang diselipkan oleh Yu Shun di sel bawah tanah tempo hari lalu. Yu Shun, sang juru masak tua yang pernah melayani Jenderal Besar Feng Shan di Wilayah Barat, telah membisikkan rahasianya sebelum Yi Fang dipindahkan. Tanaman itu adalah herbal penenang khusus yang kerap dipakai prajurit perbatasan untuk meredakan nyeri luka tebas. Jika diseduh men
Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu
Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i
Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s
Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d







