Share

25. Ikut Membantu Revisi

Penulis: Blue Ice
last update Tanggal publikasi: 2026-09-18 08:30:22

Leo menarik napas berat yang terhembus halus dari hidungnya.

'Sudah kuduga Kakak akan memberikan kejutan tidak terduga seperti ini,' batin Leo gusar.

Ia lalu menoleh ke arah Kinara yang duduk tertegun dengan raut wajah serba salah dan panik. Leo merasa tidak enak hati karena tuntutan revisi dari Sutedja Group itu mendadak membebani Kinara dengan beban kerja ekstra yang sangat berat dan melelahkan.

"Bu Kirana, mari kita keluar."

Leo mengulurkan tangan u
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    83. Tamu Tak Diundang

    Atmosfer di dalam kamar perawatan privat itu seketika membeku. Binar mata Subrata yang dingin menatap Kinara tanpa berkedip, menunggu reaksi dari wanita yang dianggap sebagai ancaman bagi silsilah Sutedja tersebut. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan matanya rapat-rapat. Mata hitamnya memancarkan ancaman membunuh yang begitu pekat. Tanpa memedulikan rasa nyeri yang menjambak kepalanya yang terperban, Leo menggerakkan tangan tegapnya, meremas amplop hitam berlogo emas di atas meja hingga remuk. "Bawa kembali kertas sampah ini pada Nenek Kusuma, Subrata," desis Leo dengan suara bariton rendah nan mematikan. Subrata tetap berdiri tegap, raut wajahnya kaku tanpa ekspresi. "Tuan Muda Valentino, ini adalah perintah langsung dari Nyonya Besar." "Aku katakan ... keluar!" bentak Leo tegap. Subrata menahan napasnya sejenak, merasakan tekanan aura membahayakan dari pewaris Sutedja tersebut. Dengan helaan napas kaku, Subrata membungkuk sedikit. "Pesan Anda akan saya sampaikan,

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    82. Bukan 'Wanita Lain'

    Suasana di dalam kamar perawatan privat itu mendadak menjadi begitu hening. Suara hembusan pendingin udara dan bunyi ritmis alat pemantau detak jantung seolah tertahan oleh aura dingin yang memancar dari sudut mata Kinara. Leo yang terbaring lemah di atas ranjang mengerutkan alisnya. Jemari tegapnya yang masih terpasang jarum infus mempererat genggamannya pada liontin perak di dadanya. Tatapan mata hitamnya yang redup menatap wajah Kinara yang terlipat kaku. "Wanita lain?" ulang Leo dengan suara bariton serak, matanya berkedip heran. "Tentu saja," sahut Kinara ketus seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap Leo langsung. "Kamu baru saja sadar dari koma, dan hal pertama yang kamu khawatirkan setengah mati adalah liontin berisi foto wanita cantik itu. Siapa dia? Mantan kekasihmu yang terasing? Atau cinta pertamamu yang sengaja kamu sembunyikan dariku?" Leo terdiam sejenak. Namun, perlahan-lahan, sudut bibirnya yang pucat terangkat tipis. Sebuah senyuman halus nan g

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    81. Jangan Gegabah

    Preman yang memukul ketakutan setengah mati melihat efek hantamannya. Ia melempar besi itu sembarangan lalu berlari terbirit-birit masuk ke dalam mobil bersama teman-temannya yang tersisa, melesat kabur meninggalkan area parkir yang sepi. Brak! Lutut tegap Valentino Sutedja mendadak kehilangan tumpuan. Tubuh tingginya ambruk sepenuhnya, terkulai lemas dan jatuh tepat ke dalam pelukan Kinara. "Leo! Leo!" jerit Kinara histeris seraya menahan beban tubuh pria itu, ikut terduduk kaku di atas aspal yang dingin. Cairan hangat berwarna merah pekat mengalir deras dari sela-sela rambut hitam Leo, membasahi lehernya hingga merembes luas membasahi blazer krem yang dikenakan Kinara. Bau amis darah seketika memenuhi indra penciuman Kinara. Kinara merengkuh kepala Leo di pangkuannya. Tangannya yang gemetaran hebat menangkup rahang tegas pria itu, berusaha menahan aliran darah yang terus mengalir membasahi pakaian mewahnya. "Leo, bangun! Tolong jangan seperti ini! Buka matamu, Leo!" tang

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    80. Melindungi Mu

    Sinar matahari pagi menerobos tipis lewat celah tirai kamar utama. Kinara perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya yang dibalut piyama bersih beraroma vanila nan lembut. Sisa-sisa rasa hangat dari pergulatan gairah di ruang tengah dini hari tadi masih membakar kulitnya. Kinara tersentak kaku saat menyadari ia terbangun di atas tempat tidurnya, padahal seingatnya ia tertidur lemas di sofa dalam kungkungan Leo. Di atas meja samping tempat tidur, tergeletak sebuah cangkir teh chamomile hangat yang masih mengepul halus, bersanding dengan piring berisi croissant panggang dan secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan tegap yang sangat rapi. 'Aku sudah membersihkan tubuhmu dan merapikan ruang tengah. Makan sarapanmu, Bu Manajer. Sampai jumpa di kantor.' Pipi Kinara seketika memerah panas. Pikirannya melayang membayangkan Leo yang dengan telaten memandikan dan memindahkannya ke kamar tanpa membangunkan dirinya. Ada rasa hangat yang begitu dalam membuncah di dadanya, namun juga r

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    79. Jangan Keluar di dalam

    Jarum jam sudah melewati angka dua dini hari saat Kinara akhirnya bisa melepaskan diri dari laptop dan tumpukan berkas pekerjaan. Dengan tubuh yang teramat lelah, ia mengempaskan diri ke sofa ruang tengah, membiarkan keheningan unit apartemennya dan sisa dingin hujan di luar meredakan kepalanya yang penat.Tok. Tok.Suara ketukan pelan namun konstan dari arah belakang membuat kantuk Kinara menguap instan. Ia menoleh cepat ke arah balkon. Di balik pintu kaca geser yang membatasi ruang tengahnya, sesosok tubuh tinggi berdiri tegak di bawah temaramnya langit malam. Jantung Kinara mencelos.Melalui kaca transparan yang masih menyisakan aliran air sisa hujan, Kinara bisa melihat kondisi pria itu dengan jelas. Kemeja putih yang biasanya melekat rapi di tubuh Leo kini basah kuyup, menempel ketat pada kulitnya akibat guyuran hujan beberapa saat lalu. Napas pria itu tampak memburu. Namun, bukan air hujan yang membuat Kinara mematung di atas sofanya.Tepat di bagian perut kirinya, warna putih k

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    78. Memblokir Penguntit

    Sore itu di sudut ruang tengah apartemen Kinara, tawa renyah Arkana memenuhi udara. Bocah mungil itu duduk di atas karpet bersama Leo yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Mobil mainan baru pemberian Leo meluncur melintasi lintasan plastik yang baru mereka rakit bersama. "Om, mobil yang ini kencang banget! Seperti mobil Om Leo yang di bawah, ya?" tanya Arkana riang, matanya berbinar menatap Leo. Leo menyunggingkan senyum tipis. Tangan tegapnya dengan penuh kasih mengacak pelan rambut halus Arkana. "Kalau Arka suka, nanti Om ajari cara menyetir kalau Arka sudah besar." Kinara yang baru selesai membuatkan teh hangat di dapur hanya bisa terdiam memperhatikan dari jauh. Ada rasa hangat sekaligus sesak melihat betapa alaminya kebersamaan mereka berdua. Lama-kelamaan, usai lelah bermain dan perutnya kenyang, kelopak mata Arkana mulai terasa berat. Bocah itu menyandarkan kepalanya yang terkantuk-kantuk tepat di atas paha tega

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status