登入Senyum licik di wajah pengacara istana belum sempat memudar ketika Lucien berdiri dari kursi penggugat. Postur tubuhnya yang tegap dengan balutan seragam militer klan Von Drachen seketika menarik atensi seluruh ruang sidang.
Alih-alih menunjukkan kepanikan atas argumen "tanpa saksi hidup" yang dilontarkan pihak mahkota, bibir Lucien justru menyunggingkan segaris senyuman dingin yang sarat akan kemenangan taktis.
"Hukum Kesaksian Sipil Kekaisaran Bab IV Pasal 9 secara eksplisit m
Beberapa minggu telah berlalu sejak malam persalinan yang menegangkan itu. Kini, suasana Kastil Blackwood telah kembali tenang, dilingkupi oleh kebahagiaan yang lengkap dan murni.Sisa-sisa perancah kayu di sayap timur telah dibongkar sepenuhnya, menampilkan detail arsitektur lanskap Utara yang damai dengan dinding-dinding batu granit yang kokoh, kini bertengger megah di bawah hamparan salju putih yang berkilauan bagai jutaan berlian diterpa cahaya fajar.Di dalam ruangan yang hangat oleh kertak kayu ek di perapian itu, Sienna sedang duduk dengan anggun di atas sofa kulit besar. Jubah sutra bepergiannya yang kaku telah digantikan oleh gaun rumah berbahan wol lembut sewarna madu.Dengan dekapan yang teramat mendekap penuh naluri keibuan, ia sedang menyusui Sophia kecil yang perlahan-lahan mulai tertidur lelap, menyisakan suara hisapan kecil yang teramat damai.Di atas lantai karpet beruang kutub yang tebal di dekat kaki sofa, Edward duduk bersila. Tangan mungilnya memegang sebuah maina
OEKKK… OEKKK… OEKKK…Tangisan bayi perempuan yang begitu bersih, nyaring, dan sehat itu terus menggema indah di bawah kubah menara barat. Suara itu bertindak bagai hembusan angin suci yang menyapu bersih seluruh residu ketegangan, bau obat bius, dan ketakutan ekstrem yang sempat menjajah seisi Kastil Blackwood selama berjam-jam.Badai hujan musim gugur di luar jendela seolah mereda, menyisakan desau angin malam yang tenang untuk menyambut sang pewaris baru.Dokter utama klan Blackwood bergerak dengan cekatan yang terlatih. Mengikuti praktik medis modern awal abad ke-20, ia memotong tali pusat menggunakan gunting perak steril, membersihkan sisa cairan ketuban dari tubuh mungil itu dengan kain linen hangat, lalu membungkusnya ke dalam selimut wol halus berbordir lambang elang ganda klan."Ini dia, Yang Mulia Duchess. Putri kecil Anda," ucap dokter dengan suara baritonnya yang bergetar haru.Dengan gerakan yang teramat lembut, dokter meletakkan bayi merah itu di atas dada Sienna. Sang Du
Hujan badai di luar menara barat kian menggila, menghantam kaca-kaca jendela yang bergetar hebat. Di dalam kamar bersalin, suasananya tak kalah mencekam. Udara pekat dipenuhi oleh aroma tajam uap antiseptik karbol dan uap air panas yang membubung dari baskom-baskom tembaga.Proses persalinan itu telah berjalan selama berjam-jam, berubah menjadi drama psikologis dan fisik yang teramat melelahkan bagi semua orang yang berada di dalam ruangan.Sienna terbaring di tengah ranjang besar, gaun tidurnya telah basah kuyup oleh keringat dingin. Setiap beberapa menit sekali, gelombang kontraksi yang mengerikan datang menggulung rahimnya, memaksanya berjuang di antara hidup dan mati. Rambut hitamnya menempel kusut di dahi, dan wajah cantiknya pias menahan rasa sakit yang teramat primitif.SREEEKKK!Sienna meremas seprai katun Mesir hingga kain mahal itu koyak di beberapa bagian. Tangan kanannya mencengkeram jemari tangan Lucien yang berdiri setia di sisi kepala ranjang.Cengkeraman Sienna begitu
Petir menyambar hebat membelah langit Utara yang kelabu, disusul deru badai hujan musim gugur yang menghantam kaca-kaca jendela tinggi Kastil Blackwood dengan bising yang konstan. Sore itu, bulan kesembilan kehamilan Sienna akhirnya digenapi.Di dalam ruang duduk menara barat yang hangat, Sienna sedang mencoba memfokuskan pikirannya dengan menyulam saputangan linen di dekat perapian. Jari-jarinya yang lentik bergerak ritmis di antara benang sutra emas, mencoba mengabaikan pegal ringan yang menggelayuti pinggangnya sejak pagi.Namun, ketenangan domestik itu hancur berantakan dalam hitungan detik.JLEB!Sebuah gelombang kontraksi asli yang teramat hebat dan mendadak menghantam dinding rahim Sienna tanpa ampun. Rasanya bagai sebilah belati panas yang diputar paksa di dalam perut bawahnya. Sentakan rasa sakit yang luar biasa itu membuat cengkeraman tangannya lepas seketika; pemidang dan benang sulamnya jatuh tergelincir ke atas karpet wol.Sienna terkesiap, tubuhnya melengkung menahan per
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar utama klan Blackwood, hanya diinterupsi oleh kertak kayu pinus yang terbakar di dalam perapian. Di bawah temaram pendar lampu minyak karbida yang bergoyang pelan, atmosfer kamar terasa begitu sarat akan beban emosional yang pekat.Kemarahan Sienna yang semula berkobar bagai api perang, mendadak membeku, lalu mencair sepenuhnya melihat sang Serigala Utara berlutut pasrah dengan tubuh yang bergetar di pangkuannya.Sienna perlahan menurunkan jemarinya, menyusup di antara helaian rambut perak Lucien yang biasanya tertata rapi namun kini berantakan. Ia bisa merasakan kehangatan napas Lucien yang memburu di balik lipatan sutra jubah tidurnya."Lucien... tatap aku," bisik Sienna, suaranya melunak, kehilangan seluruh ketajaman hukumnya.Dengan perlahan, Lucien mengangkat kepalanya. Sepasang mata kelabu yang biasanya memancarkan kilat intimidasi militer yang mematikan, kini tampak begitu rapuh, diselimuti oleh kabut luka lama yang teramat kelam.Topen
CEKLEK!Pintu jati besar kamar utama bergaya Edwardian itu bergetar pelan saat Lucien memutar kunci cadangan kuningan dari luar. Drama proteksi yang berlebihan ini akhirnya mencapai titik puncaknya malam ini.Setelah Lucien bertindak teramat diktator dengan membatalkan kunjungan sosial Sienna ke toko buku Emma di distrik bawah, serta melarangnya membaca katalog fiksi terlalu lama dengan dalih medis kuno bahwa aktivitas mental yang intens dapat "membebani pikiran" dan merusak temperamen sang jabang bayi, Sienna memilih jalannya sendiri.Sang Duchess mengunci diri, menolak turun untuk makan malam, dan melancarkan aksi mogok bicara yang sukses membuat seisi kastil dilingkupi atmosfer horor yang mencekam.Aksi mogok bicara Sienna terbukti jauh lebih mematikan bagi Lucien ketimbang kepungan artileri faksi kerajaan di Ibu Kota. Sang Duke yang biasanya berwibawa mutlak itu kini melangkah masuk dengan guratan kepanikan domestik yang nyata di wajah tampannya.Di dalam kamar yang temaram, Sienn
Aula utama Blackwood pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski perapian besar di kedua sisi ruangan telah dinyalakan sejak subuh.Ratusan orang berdiri berbaris dengan kaku. Para prajurit mengenakan seragam wol abu-abu gelap dengan kancing kuningan yang berkilat di bawah lampu gantung krist
Lantai kayu ek di koridor kastil Blackwood seolah ikut meratap di bawah langkah kaki Sienna yang tak henti mondar-mandir. Sejak keberangkatan Lucien ke Ibu Kota, waktu terasa membeku, hanya menyisakan detak jam besar di aula yang terdengar seperti ketukan palu hakim.Di atas meja makan, sup daging
“Bawa dia! Aku tidak butuh saksi yang lidahnya bercabang karena emas judi!” seru Raja Louis, telunjuknya menunjuk tajam ke arah pintu besar yang terbuka. “Cari tahu siapa yang menyuap tikus ini. Aku ingin nama, bukan sekadar asumsi!”Lucien berdiri tegak, membiarkan keheningan menyelimuti aula saat
“Katakan padaku, Pelayan,” Raja Louis memulai, suaranya rendah namun tajam, “jam berapa biasanya putra sang Duke terbangun? Dan apa yang pertama kali ia cari saat membuka mata? Seorang anak kecil sering kali jujur dalam kebiasaannya, bukan?”Martha merasakan keringat dingin mengalir di antara belik







