LOGINSiera tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu. Ia juga tidak membahas perkataan Yelian setelah mereka kembali ke kastil. Namun keesokan harinya, setelah sarapan, Siera justru meminta Mia menemaninya keluar.Ia tidak ingin pergi ke istana ataupun menemui siapa pun. Ia hanya ingin berjalan-jalan sebentar di pusat kota, seperti yang biasa dilakukan para bangsawan ketika ingin mencari udara segar. Dengan pakaian sederhana dan tanpa rombongan besar, Siera keluar dari Kastil Elvorn dan menuju kawasan perdagangan yang biasanya selalu ramai.Namun baru beberapa jalan memasuki pusat kota, Siera mulai menyadari bahwa suasananya berbeda.Jalanan memang masih dipenuhi orang, tetapi wajah-wajah mereka tidak seperti biasanya. Para pedagang berdiri di depan toko dengan ekspresi gelisah. Beberapa orang berkumpul di pinggir jalan sambil membicarakan sesuatu dengan suara rendah. Bahkan para penjaga kota tampak lebih banyak daripada biasanya, berdiri di beberapa persimpangan dan mengawasi kerumunan.Sie
Yelian tidak menjawab."Sejak kapan, Kak?"Nada suara Siera mulai bergetar. Beberapa orang di sekitar mereka mulai melirik, tetapi Siera tidak peduli, ia benar-benar tidak mampu memikirkan bagaimana orang lain memandang dirinya.Ia hanya ingin tahu tentang Dior. Tentang lelaki yang sekarang berada di tengah perang. Tentang lelaki yang bahkan sebelum pergi sudah diperingatkan mengenai pengkhianat di dalam pasukan. Tentang lelaki yang berpisah dari Dregory karena perang sengaja membuat mereka berada di tempat berbeda.Dan sekarang Dior menghilang."Kau sudah tahu sejak kapan?" tanyanya lagi.Yelian akhirnya menundukkan pandangan."Cukup lama."Siera terdiam. Jawaban itu justru lebih menyakitkan daripada jika Yelian berbohong."Cukup lama?"Yelian mengangguk kecil, membuat Siera tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan di dalamnya."Jadi selama ini kau tahu?"Yelian tidak menjawab."Aku bertanya kepadamu setiap hari apakah ada kabar dari Ayah. Aku bertanya tentang keadaan
Tangan Siera yang sedang memegang gelas berhenti, ia bahkan lupa bernapas. Dior langsung muncul di dalam pikirannya. Ia menatap Roseth dengan sorot mata yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya.“Apa maksudmu menghilang?”Roseth yang menyadari perubahan wajah Siera justru tersenyum kecil. “Bukankah kau mendengarnya?”Siera tidak menjawab. Ia menatap Roseth, lalu beralih kepada Clarisse yang berdiri di sampingnya. Keduanya tampak terlalu santai untuk seseorang yang baru saja membicarakan hilangnya seorang Grand Duke di tengah perang.“Bagaimana kalian bisa tahu?” tanya Siera akhirnya. Nada suaranya tetap rendah, tetapi jelas terdengar lebih mendesak.Clarisse mengangkat alis. “Ada orang yang mengirimkan kabar.”“Dari utara?”“Ya.”“Siapa?”Pertanyaan Siera membuat Roseth dan Clarisse saling berpandangan. Kemudian Roseth terkekeh pelan, seolah menemukan sesuatu yang lucu dari sikap Siera.“Kenapa kau tiba-tiba tertarik sekali?”Siera mengabaikan sindiran itu. “Kapan kabar itu datang?”
Siera melihat sekeliling. Pesta berlangsung meriah tanpa ada yang membicarakan perang. Tatapannya kemudian jatuh pada Clarisse dan beberapa lady lainnya. Biasanya ia menghindari mereka, tetapi kali ini Siera memutuskan untuk mendekat dan mencari informasi."Sepertinya aku harus bergabung dengan mereka."Yelian yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. Tatapannya mengikuti arah pandangan Siera, kemudian kembali kepadanya dengan ekspresi tidak percaya."Bukankah kau membenci mereka?"Siera mengangkat bahu kecil. "Aku tidak bilang aku menyukai mereka.""Lalu apa yang kau harapkan dari mereka?" Yelian melirik ke arah kelompok itu. "Mereka hanya akan mencari masalah denganmu."Siera terdiam sejenak. Matanya masih mengamati para lady yang sedang tertawa dan berbicara satu sama lain. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis."Entahlah. Aku hanya berpikir mereka mungkin sumber informasi terbaik."Yelian mengerutkan kening.Siera akhirnya menoleh kepadanya. "Mereka sering membicarakan banyak
Hari-hari berlalu tanpa kabar yang menenangkan dari utara. Keadaan Dregory dan Dior masih belum jelas, sementara keputusan Kaisar menghentikan sebagian bantuan perang membuat suasana ibu kota semakin tegang. Siera mulai sadar bahwa bahaya tidak hanya datang dari medan perang, tetapi juga dari ibu kota.Siera sudah selesai bersiap dan berdiri di depan meja kamarnya. Di sana terletak sebuah undangan dengan lambang kerajaan. Malam ini, Ratu akan mengadakan pesta dan keluarga Elvorn termasuk yang diundang.Siera menatap undangan itu dengan perasaan tidak nyaman. Di belakangnya, Yelian juga sudah siap dengan pakaian formal yang sederhana. Mereka memang akan menghadiri pesta, tetapi suasana di antara keduanya terasa jauh dari santai."Seharusnya kita tidak melakukan ini," ujar Siera akhirnya.Yelian yang sedang merapikan sarung tangannya berhenti sejenak. Ia menoleh kepada adiknya dan melihat wajah Siera yang tampak jauh lebih serius dibandingkan beberapa bulan lalu."Informasi mengenai per
Tidak ada jawaban.Siera menarik napas dalam-dalam, tetapi kemarahannya tidak mereda."Orang-orang itu dikirim ke medan perang untuk melindungi kekaisaran. Mereka bertarung, terluka, kehilangan keluarga, bahkan mati. Lalu ketika perang berlangsung terlalu lama, mereka hanya dianggap sebagai beban karena menghabiskan terlalu banyak uang?"Suaranya bergetar menahan amarah."Kalau Kaisar ingin menghentikan perang, seharusnya dia mengirimkan jalan untuk menyelamatkan mereka. Bukan memutus bantuan dan menunggu mereka menyerah."Yelian tetap diam dan Siera menatapnya tajam."Ayah dan Dior..." Namanya keluar lebih pelan. "Mereka masih di sana."Yelian mengatupkan bibir.Tidak ada kabar dari Dior. Tidak ada kepastian apakah ia masih mampu bertahan, apakah pasukannya masih memiliki persediaan, atau apakah ia bahkan masih hidup. Hal yang sama berlaku bagi Dregory dan semua orang yang berada di garis depan.Siera kembali menggeleng."Kalau mereka menyerah sekarang, itu bukan karena mereka kalah.
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Ucapan Dior membuat Siera kehilangan kata-kata untuk sesaat.Bukan hanya dirinya. Mia yang berdiri di sampingnya pun tampak sama terkejutnya. Pelayan itu sampai membulatkan mata sebelum buru-buru menundukkan kepala, seolah berharap tidak dianggap berada di sana. Mia terlihat seperti baru saja mende
Siera langsung membeku, ia bahkan tidak yakin bahwa dirinya mendengar dengan benar. Ia menatap Dior beberapa kali, berharap pria itu sedang bercanda, namun wajah Dior tetap datar seperti biasanya."Apa?""Cemburu."Jawaban itu keluar begitu saja. Seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang sama sek







