Se connecterDerap kuku kuda yang beradu dengan tanah berbatu menjadi satu-satunya irama yang membelah kesunyian di lembah terdalam Valen. Udara di sini terasa lebih tipis dan tajam, membawa sisa-sisa aroma lumut basah dan dingin yang seolah terjebak di antara tebing-tebing tinggi.Alaric berkuda sedikit di depan Aurelia, posisi tubuhnya tegak dengan mata yang terus menyapu lereng bukit, seolah-olah musuh lama bisa muncul kapan saja dari balik kabut.“Kau terlalu tegang, suamiku,” suara Aurelia memecah keheningan, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan getaran di jemarinya saat memegang kendali kuda.“Peganganmu pada tali kekang itu sangat kuat hingga buku jarimu memutih.”Alaric tidak menoleh segera. Ia hanya sedikit melonggarkan cengkeramannya, namun sorot matanya tetap tajam.“Tempat ini tidak pernah memberikan kenangan manis, Aurel. Terakhir kali aku berdiri di sini, bau mesiu dan teriakan klanmu masih memenuhi udara. Aku tidak ingin ada satu pun celah bagi bahaya untuk mendekatimu hari in
Langkah bot Alaric yang biasanya menghentak keras di atas lantai marmer, kini terdengar lebih tenang saat ia berjalan bersisian dengan Aurelia.Mereka sengaja meninggalkan keriuhan peresmian di aula besar, memilih untuk menyelinap ke lorong-lorong samping tanpa pengawalan satu pun prajurit.Cahaya dari jendela-jendela besar yang baru dipasang membiaskan bayangan mereka di atas dinding yang kini bersih dari noda jelaga obor.“Kau tahu, Ric? Lorong ini dulu adalah tempat paling menyeramkan bagiku,” ujar Aurelia sembari menyentuh dinding batu yang kini dihiasi lukisan pemandangan musim semi.“Setiap kali aku lewat, aku merasa bayang-bayang di sudut itu akan menangkapku dan melemparkanku kembali ke sel.”Alaric terkekeh, suara baritonnya bergema lembut di lorong yang sunyi. “Dan aku adalah orang yang paling sering berdiri di sudut gelap itu, memastikan kau tidak mencoba melarikan diri ke hutan perbatasan.”“Kau memang menyebalkan saat itu,” Aurelia menoleh, menatap wajah suaminya dengan b
Pintu raksasa itu berayun terbuka dengan suara engsel yang halus, hampir tak terdengar, menyingkap sebuah transformasi yang melampaui imajinasi terliar siapapun yang pernah mengenal Kastil Valen sebagai “Sarang Algojo”.Cahaya matahari musim semi tumpah melalui jendela-jendela tinggi yang kini tak lagi berjeruji besi, menyinari aula yang dulu suram dan penuh noda jelaga.Aurelia melangkah masuk dan seketika tertahan di ambang pintu. Matanya membelalak, menyapu seisi ruangan yang kini telah berganti kulit.Dinding batu yang kasar telah ditutup dengan permadani sutra dan deretan lukisan megah yang menggambarkan sejarah Utara, bukan sejarah penaklukan, melainkan sejarah panen, festival musim dingin, dan keindahan alam Lembah Valen.“Ric... ini luar biasa,” bisik Aurelia, suaranya bergetar karena haru. “Kau benar-benar melakukannya.”Alaric berdiri di sampingnya, kedua tangannya tertaut di belakang punggung. “Aku hanya mengikuti instruksimu, Aurel. Kau bilang tempat ini butuh cahaya. Maka
Roda kereta kuda berderit pelan di atas jalanan setapak yang kini telah rata dengan batu-batu sungai yang kokoh.Angin musim semi bertiup lembut, membawa aroma pinus dan bunga liar, sangat kontras dengan ingatan dingin yang membeku di benak Alaric.Ia menatap keluar jendela kereta, memperhatikan siluet Kastil Valen yang berdiri megah di puncak bukit, seolah-olah bangunan itu sendiri baru saja terbangun dari tidur panjang yang kelam.“Kau melamun, Ric?” suara Aurelia memecah keheningan. Ia duduk di hadapan Alaric, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang senada dengan jernihnya langit Utara hari ini.Alaric menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Aku hanya sedang berpikir. Terakhir kali kita melewati gerbang ini bersama, langit sangat gelap sehingga aku hampir tidak bisa melihat wajahmu di balik cadar itu. Badai salju waktu itu seolah ingin mengubur kita hidup-hidup.”“Dan aku adalah tawananmu,” sahut Aurelia dengan nada menggoda, meski ada kilatan kenangan pahit di matanya
Sisa-sisa kabut malam mulai terangkat dari lembah Oksana, tersapu oleh sinar matahari pagi yang kekuningan.Aroma tanah basah dan sisa pembakaran malam tadi masih menggantung di udara, namun suasana di halaman sekolah terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi bau ketakutan.Alaric berdiri di depan beranda, mengawasi beberapa penduduk desa yang kini secara sukarela membantu membersihkan sisa-sisa pertempuran di pelataran.“Kau melihat mereka, Ric?” Aurelia melangkah ke samping suaminya, membawa dua cangkir kayu berisi kopi panas. “Mereka tidak lagi menunduk saat kau lewat. Mereka bekerja bersamamu.”Alaric menerima cangkir itu, menyesap isinya sambil menatap bangunan kayu di belakang mereka yang tetap berdiri tegak tanpa satu pun goresan api.“Aku baru menyadari sesuatu semalam, Aurel. Saat aku berdiri di pintu itu, aku tidak merasa sedang menjaga tumpukan kayu dan batu.”“Lalu apa yang kau jaga?” tanya Aurelia lembut.“Senjata,” jawab Alaric pendek. Ia menoleh ke arah istrinya dengan sorot
Denting baja yang beradu dengan baja menciptakan simfoni kematian di pelataran sekolah yang gelap. Alaric tidak lagi bergerak sebagai seorang instruktur; ia telah kembali menjadi sang Algojo dari Utara, sebuah mesin pembunuh yang efisien dan tanpa ampun.Setiap tebasan pedang besarnya meninggalkan jejak perak di udara malam, membelah zirah dan daging seolah itu hanya perkamen rapuh.“Mundur atau mati!” raung salah satu bandit, mencoba menusukkan tombaknya dari sisi kiri.Alaric hanya bergeser satu inci, membiarkan mata tombak itu menyapu angin, sebelum ia memutar tubuhnya dan menghantamkan hulu pedangnya ke rahang pria itu. Suara tulang retak terdengar mengerikan.“Kau yang memilih jalur ini,” desis Alaric. Dengan satu gerakan fluid, ia mengayunkan pedang besarnya dalam busur horizontal yang sempurna, memutus nyawa tiga orang sekaligus yang mencoba merangsek maju.Di dalam ruangan yang gelap gulita, Aurelia bisa merasakan getaran di lantai kayu setiap kali tubuh berat jatuh atau pedan
Hutan perbatasan itu masih sama seperti dalam fragmen memori Aurelia: gelap, lembap, dan beraroma tanah busuk yang tidak pernah benar-benar tersapu hujan.Mereka berdiri di sebuah tebing kecil. Di bawah sana, sebuah sungai mengalir deras menuju jurang yang dalam, sementara tak jauh dari bibir tebin
Pondok kayu itu kini sunyi, hanya menyisakan suara kayu bakar yang telah menjadi abu dan desau angin pegunungan yang merayap di sela jendela.Di tengah tidur lelapnya setelah malam yang panjang, kesadaran Aurelia mendadak terseret ke dalam jurang kegelapan yang pekat. Dimensi itu tidak memiliki bat
Pintu kayu pondok itu tertutup dengan bantingan pelan yang mengunci dunia luar di balik punggung mereka. Di dalam ruangan, hanya ada cahaya jingga dari perapian yang menari-nari di dinding, menciptakan atmosfer yang pengap oleh antisipasi.Alaric tidak membuang waktu; ia menyudutkan Aurelia ke pint
Gerbang besi Ibukota yang raksasa berderit terbuka, menyambut kereta kuda Valen yang kini tak lagi tampak megah.Kereta itu penuh dengan goresan kapak, noda lumpur kering, dan jejak anak panah yang masih tertancap di kayu pintu. Alaric melangkah keluar terlebih dahulu.Pipinya yang tergores masih m







