分享

Bab 18

作者: NamNamjoo
last update publish date: 2026-07-08 23:30:43

Sugiono segera berpamitan setelah memastikan napas Gendis kembali normal. Sebelum menuju parkiran motor, ia mampir membeli sebungkus kacang rebus di warung depan.

Ranto masih penasaran langsung mencecar pertanyaan saat mereka berada di atas motor. "Pakde, sebenarnya pengobatan apa yang dipakai sampai Gendis langsung terlelap begitu?"

"Sudah, Ranto. Jangan banyak tanya. Antarkan aku pulang sekarang sebelum keponakan istriku gelisah sendirian di gubuk," potong Sugiono tegas.

Motor bebek Ranto mel
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 65

    Sugiono menarik napas panjang, mencoba menepis bayangan-bayangan liar yang sempat mengusik konsentrasinya selepas percakapan singkat dengan Asep di pos jaga. Ia kembali membungkukkan badan, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda membersihkan hamparan daun bunga jambu yang berguguran di atas tanah basah akibat sisa hujan kemarin sore.Di tengah kesibukannya mengumpulkan dedaunan kering ke dalam sebuah keranjang bambu, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari arah pintu dapur belakang."Walah, Pakde... minum kopi dulu atuh, biar tidak terlalu lelah kerjanya," sapa suara ramah Siti sambil membawa sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam mengepul.Sugiono mendongak, tersenyum kikuk seraya mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. "Eh, Mbak Siti... terlalu baik sekali. Saya bisa ambil sendiri ke belakang nanti kalau lagi pengen, malah merepotkan Mbak."Siti terkekeh kecil, menyodorkan cangkir tersebut ke tangan Sugiono. "Hehe, iya tidak apa-apa, Pakde. Biar badan tidak mas

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 64

    Dita dalam wujud kucing siluman melompat ringan dari pagar pembatas balkon, mendarat tanpa suara di lantai atas. Ekornya bergoyang-goyang geli saat matanya menangkap siluet Bu Rita yang masih berdiri merem melek sambil mencengkeram daster tipisnya dengan napas tersengal."Bagus... sepertinya daya pemikat dari cincin gaib Sugiono mulai bekerja dengan sangat sempurna," cibir siluman kucing itu dalam hati, menyeringai licik lewat telepati. "Dengan begini, energiku akan segera pulih, dan aku bisa lebih mudah berubah wujud menjadi manusia seutuhnya!"Di balkon, Rita tiba-tiba tersentak hebat. Ia buru-buru melepaskan jari tangannya dari area lembah kewanitaannya, menarik napas panjang dengan mata terbelalak lebar."Ah... apa yang sudah aku lakukan?!" jerit Rita dalam hati, wajahnya langsung merona merah padam karena rasa malu yang luar biasa. "Mengapa aku bisa mendesah keenakan sambil menyebut-nyebut nama tukang kebun itu? Ya Tuhan... Rita, sadar dirimu! Kamu nyonya di rumah ini!"Dengan la

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 63

    Sugiono menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan akal sehatnya yang hampir runtuh di atas lantai kamar mandi yang basah. Dengan gerakan cepat namun kaku, ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan sang nyonya rumah. Ia segera memalingkan wajahnya ke sisi lain, menunduk untuk mengambil handuk putih Rita yang tergeletak di dekat genangan air."Bu Rita... ini handuknya. Saya keluar dulu," ucap Sugiono terbata-bata, menyodorkan handuk tersebut tanpa sedikit pun berani mengangkat kepalanya menatap tubuh setengah telanjang wanita di depannya.Rita terperanjat pelan, buru-buru menyambar handuk tersebut dari tangan Sugiono dan melilitkannya kembali dengan cepat ke dada untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos."Yono... kamu..." panggil Rita dengan suara berbisik parau. Wanita itu reflek menahan pergelangan tangan Sugiono sebelum pria paruh baya itu sempat melangkah pergi.Saat kulit tangan mereka bersentuhan langsung, sebuah keanehan mendadak terjadi. Cincin gai

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    BAB 62

    "Bu, jangan katakan itu, Bu. Nanti orang di luar bisa salah paham," ucap Sugiono setengah berbisik, mencoba meredam suara desahan dan obrolan mereka agar tidak terdengar sampai ke koridor luar kamar.Bu Rita hanya menyeringai lebar, menampakkan guratan usia di sudut matanya yang justru menambah daya tarik tersendiri. "Habisnya, pijatan tanganmu itu sangat enak sekali, Yono. Kenapa aku baru tahu ya, kalau ternyata kamu pandai memijat? Apakah sebelumnya di desamu kamu itu tukang urut?" tanya Bu Rita penasaran, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap wajah sang buruh kebun lebih dekat."Ya begitulah, Bu. Hanya mengurut biasa-biasa saja. Kalau ada warga yang kakinya terkilir, ya saya urut. Kalau tidak, ya saya cari makan, nyangkul sawah, sembarang saya kerja, Bu, serabutan apa saja," jawab Sugiono di sela-sela pijatannya yang kembali teratur menekan otot-otot bahu wanita di depannya.Mendengar kejujuran sederhana dari pria paruh baya itu, Bu Rita perlahan membalikkan posisi duduknya m

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    BAB 61

    "Ah, Yono! Kebetulan sekali kamu ada di sini. Begini, saya mau luluran sekalian minta dipijat," kata Mama Dita, atau yang akrab disapa nyonya rumah oleh para pekerja, sambil tersenyum manis ke arah pria paruh baya di depannya.Wanita matang itu duduk merapatkan belahan dadanya di atas kursi empuk. Handuk putih yang membalut tubuhnya agak sedikit melorot ke bawah, memperlihatkan tonjolan kecil serta seluk-beluk bukit kembarnya yang masih tampak padat. Sugiono mengangguk kecil, menelan ludah dengan susah payah meredakan tenggorokan yang mendadak kering.Di dalam benaknya, sebuah pikiran liar melintas cepat. Apa Dita juga memberitahukan perihal siang panas saat kami saling berbagi lendir di atas tumpukan semen? Tapi tidak mungkin... mana ada orang waras yang mau mengakui hal gila semacam itu, batin Sugiono berperang dengan kecemasannya sendiri.Mama Dita melangkah maju, melambaikan tangannya tepat di depan mata Yono. Jari-jemari lentik wanita itu bergoyang-goyang lincah di hadapan wajah

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 60

    Sugiono melangkah cepat memasuki kamarnya dengan napas yang masih memburu. Sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya belum juga reda setelah pemandangan terlarang tadi malam. Ia meraba area bawah celananya, mendapati alat vitalnya menegang keras di balik balutan kain akibat bayangan tubuh putih Dita yang bergerak liar."Sial... kenapa aku jadi tegang begini..." umpat Sugiono tertahan, mengusap wajahnya dengan kasar untuk melunturkan sisa-sisa rangsangan yang menguasai pikirannya.Suara tawa kecil yang terdengar mengejek tiba-tiba menggema langsung di dalam kepalanya. Siluman kucing itu mendengus tajam lewat telepati, seolah bisa melihat apa yang sedang dialami buruh paruh baya tersebut.Yono... Yono... Kamu pasti habis mengintip suami istri yang sedang berduaan, kan? Mengakulah! Terong di balik celanamu itu tidak bisa berbohong, sedang berdiri tegak menantang langit, ya? ledek siluman kucing dengan nada geli.Sugiono mendengus sebal, balas membatin, "Heh, Dita, diamlah! Jangan i

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status