Chapter: 119 NitaSugiono baru saja melangkah masuk dan kembali ke gubuknya..Namun, baru beberapa menit ia mendaratkan pantatnya di kursi kayu, suara ketukan dari arah pintu depan terdengar pelan namun ragu-ragu.Tok... tok... tok.Sugiono menoleh. "Iya! Silakan masuk! Pintunya tidak dikunci!"Pintu kayu berderit terbuka perlahan. Sosok seorang wanita muda muncul di ambang pintu, tampak kelelahan sambil menggendong seorang bayi yang terbungkus selimut kain tipis.Itu Nila, tetangga Sugiono yang sehari-hari menjadi pemilik warung campuran di depan gang Desa Konoha. Wajahnya terlihat pucat dan menahan sakit."Pakde.... Maaf ganggu tidur siangnya," sapa Nila dengan suara pelan, takut-takut.Sugiono langsung bangkit dari kursinya. "Tidak ganggu, Nduk. Pakde juga baru sampai belum sempat merem. Ada apa siang-siang ke sini? Warung depan gang siapa yang jaga?""Bapaknya anak-anak yang jaga, Pakde," jawab Nila sambil berjalan masuk. Ia meringis pelan saat memperbaiki posisi gendongannya. "Maaf, Pakde... apa b
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: 118 Rumusan mandraguna Sugiono melangkah keluar dari pekarangan rumah Gendis. Ia menutup pintu gerbang bambu itu perlahan. Diambilnya sebatang rokok kretek dari saku kemejanya, lalu dinyalakan. Asap putih mengepul di udara sore yang mulai mendingin.Baru beberapa puluh langkah berjalan menyusuri jalan setapak desa, telinganya menangkap suara perdebatan sengit."Bukan angka empat, Mat! Semalam itu aku mimpi dipatok ular kobra hitam, bukan ular sawah! Ular kobra itu hitungannya kepala sembilan!""Halah, ular ya ular, To! Angka dua! Dari zaman bapakku masih hidup, ular itu angkanya dua!"Sugiono menoleh. Di bawah rimbunnya pohon mangga besar di pertigaan jalan desa, sekumpulan bapak-bapak sedang duduk melingkar di atas gardu ronda. Asap rokok mengepul tebal menutupi wajah mereka. Di tengah-tengah gardu, berserakan gelas kopi, buku lecek tafsir mimpi seribu abjad, dan kertas-kertas penuh coretan angka.Salah seorang pria yang memakai seragam hansip pudar menoleh ke arah jalan. Matanya berbinar melihat Sugiono.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: 117 Tawaran Gendis"Satu, dua, tiga... pas sepuluh lembar. Seratus ribuan," cengir preman itu sambil memasukkan uang tersebut ke saku jaketnya. Ia menatap Sugiono dengan nada sinis. "Nah, begini dong kalau ditagih itu langsung bayar! Jangan bilang nanti-nanti, ngeles mulu kayak bajaj. Kan enak kalau begini, kita sama-sama nagih nggak perlu pakai kekerasan fisik segala."Temannya mengangguk-angguk setuju sambil melirik tajam ke arah Gendis yang masih berdiri ketakutan di sudut ruangan."Kalau begitu, berhubung urusan hari ini sudah beres, kami pulang dulu. Satu minggu lagi kami datang lagi menagih sisa utangnya!" ucap preman itu dengan nada mengancam.Tanpa membuang waktu, keduanya berbalik badan dan melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor bebek Supra tua terdengar meraung-raung di halaman, meninggalkan kepulan asap tipis saat mereka tancap gas meninggalkan perkampungan.Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Gendis yang sedari tadi menahan napas dan gemetar hebat langsung terdud
Terakhir Diperbarui: 2026-09-22
Chapter: 116 Tagihan hutangGendis menatap lekat lembar uang di telapak tangannya. Suaranya bergetar pelan."Pakde... aku sangat malu nerima uang ini," ucap Gendis tertunduk, air matanya kembali meleleh di pipi.Sugiono langsung berdiri dari duduknya. Tanpa membuang waktu, ia dengan sigap menyuruh Gendis menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat."Tutup pintunya, Nduk," perintah Sugiono tegas.Namun, sebelum Sugiono sempat melangkah keluar melewati ambang pintu, suara dobrakan keras terdengar dari luar.Brak!Pintu kayu tipis itu terbuka paksa. Dua orang preman bertubuh gempal dengan tato ular melingkar di leher langsung nyelonong masuk ke dalam rumah."Heh, Gendis! Di mana suami sialanmu itu, hah?!" bentak preman pertama berbadan penuh tato sambil melotot tajam.Gendis terperanjat kaget, mundur sampai menubruk dinding. "B-bang Sobir belum pulang...""Halah, alasan saja! Bilang saja kalau kamu sengaja menyembunyikan suami buronan itu!" timpal preman kedua dengan suara parau. "Ini sudah minggu ketiga, lho!
Terakhir Diperbarui: 2026-09-22
Chapter: 115. GendisSugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme
Terakhir Diperbarui: 2026-09-21
Chapter: 114. 100 JutaMobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah
Terakhir Diperbarui: 2026-09-21
Chapter: Bab 21Praja akhirnya meninggalkan tenda. Langkah kakinya pelan, menuju rumah sederhana tempat Sekar dan Riri tinggal sementara. Dari kejauhan, ia melihat Sekar duduk sendirian di beranda. Riri tampaknya sudah masuk, meninggalkan Sekar yang menatap langit penuh bintang.“Sekar,” suara itu pelan, tapi cukup untuk membuat Sekar menoleh.Sekar terkejut, tapi cepat-cepat menunduk. “Komandan, malam-malam begini seharusnya istirahat. Ada apa?”Praja berhenti beberapa langkah darinya, seakan ragu untuk lebih dekat. Namun akhirnya ia menarik napas dan melangkah maju. “Aku tidak bisa tidur kalau kita masih dalam keadaan seperti ini.”Sekar menelan ludah. “Keadaan seperti apa?”Praja menatapnya dalam-dalam. “Keadaan di mana kamu menjauh dariku, padahal aku ingin lebih dekat. Keadaan di mana kamu menutup hatimu, padahal aku sudah membukanya lebar-lebar untukmu.”Sekar menghela napas berat, jemarinya meremas ujung kain selendangnya. “Komandan, jangan mempersulit. Kita sudah berbeda sejak awal. Kamu seor
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 20Sekar berjalan cepat meninggalkan tenda, langkahnya terburu-buru, nyaris berlari. Dadanya bergemuruh hebat, entah marah, kecewa, atau terluka—ia tak tahu. Hanya satu hal yang jelas: melihat Praja begitu dekat dengan Kirana membuatnya merasa hampa.“Sekar!” suara Praja memecah keheningan senja, terdengar di belakangnya.Sekar tak menggubris, malah mempercepat langkah. Namun suara langkah sepatu Praja makin mendekat, hingga akhirnya tangan kokoh itu meraih lengannya.“Sekar, tunggu sebentar!”Sekar berbalik dengan mata berkaca-kaca, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. “Lepaskan aku, Komandan! Saya tidak ingin ikut campur urusan pribadi Komandan dengan Dokter Kirana.”Praja terdiam sesaat, terkejut oleh nada suaranya. “Sekar, kamu salah paham.”“Tidak ada yang salah paham!” Sekar memotong cepat, suaranya bergetar. “Saya jelas melihatnya sendiri, Komandan berbicara berdua, begitu dekat, seakan ... seakan ...” suaranya tercekat, “seakan kalian memang berjodoh.”Praja menghela napas
Terakhir Diperbarui: 2025-10-23
Chapter: Bab 19Pagi itu, suasana desa terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Praja berdiri di depan pos penjagaan, menatap ke arah hamparan sawah yang diselimuti kabut tipis.Dari jauh, Sekar datang membawa keranjang berisi sayuran segar untuk para prajurit. Praja melihat langkahnya yang anggun, sederhana, namun entah mengapa membuat dadanya bergetar. Ia menoleh sekilas, seolah tidak peduli, tetapi mata dan pikirannya tetap menuntunnya untuk memperhatikan Sekar.“Pagi, Komandan,” sapa Sekar sambil tersenyum tipis.“Pagi,” jawab Praja singkat. Suaranya dalam, tapi ada nada lembut yang jarang sekali ia keluarkan.Sekar menunduk, meletakkan keranjang di meja kayu. “Ini sayuran dari ladang. Untuk persediaan makan siang kalian. Aku titip sama prajurit yang lain saja.”Praja mengangguk, tapi sebelum Sekar beranjak pergi, ia memberanikan diri. “Sekar, tunggu.”Sekar berhenti, menoleh pelan. “Ada apa?”Praja menelan ludah. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi lidahnya terasa kelu. “Aku ..
Terakhir Diperbarui: 2025-10-23
Chapter: Bab 18Suasana pos berubah hening saat iring-iringan kendaraan militer berhenti di depan. Para prajurit langsung berdiri tegak, memberi hormat. Dari mobil utama, seorang pria paruh baya turun dengan wibawa penuhJenderal Sudirman.“Siap grak!” suara lantang komandan jaga menggema.Praja melangkah ke depan, memberi hormat dengan sikap sempurna. “Selamat datang, Jenderal!”Sudirman menepuk bahu Praja dengan bangga. “Kerja bagus, Komandan. Desa ini mulai pulih, rakyat merasa terlindungi. Aku bangga padamu.”Senyum tipis itu lalu berubah serius. Ia menatap Praja dalam-dalam.“Praja, setelah misi ini selesai, aku ingin kau mempertimbangkan sesuatu.”“Perintah, Jenderal?”“Bukan sekadar perintah. Aku hanya percaya padamu. Karena itu, apakah kau bersedia menikah dengan putriku, Kirana?”Seketika dada Praja sesak. Ia menunduk, wajahnya tegang. Kata-kata itu berat, jauh lebih berat daripada memimpin pertempuran.“Jenderal, saya.” suaranya tertahan.Tak jauh dari sana, Sekar yang tengah membawa kain un
Terakhir Diperbarui: 2025-10-22
Chapter: Chapter 17Malam itu markas terasa sunyi setelah hiruk-pikuk penyelamatan Arga. Hanya suara jangkrik dan sesekali langkah prajurit yang berkeliling membuat suasana tidak sepenuhnya hening.Sekar berdiri ragu di depan ruang komando. Cahaya lampu minyak dari dalam membuat bayangan tubuhnya jatuh panjang di tanah. Setelah menarik napas dalam, ia memberanikan diri mengetuk pelan.“Masuk,” suara berat itu terdengar.Praja duduk di balik meja, map laporan berserakan. Tatapannya langsung terarah pada sosok Sekar yang melangkah masuk dengan hati-hati. Wanita itu menunduk sebentar, lalu berkata lirih, “Komandan aku ingin minta maaf. Waktu itu, aku pernah menuduhmu dan aku menyesal. Terima kasih karena sudah menyelamatkan putraku. Kalau bukan karena keberanianmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arga.”Ruangan seketika hening. Praja hanya menatapnya lama, seakan sedang mencari jawaban dari wajah Sekar. Ada sesuatu yang berputar di kepalanya kenangan lama, malam kelam yang selama ini ia kubur rapa
Terakhir Diperbarui: 2025-10-18
Chapter: Chapter 16Suasana pos militer pagi itu riuh. Para prajurit sudah berkumpul di halaman, sebagian sibuk membersihkan senjata, sebagian lagi mendengarkan pengarahan. Namun di balik semua itu, wajah Praja terlihat lebih tegang dari biasanya.Doni, Yudha, Seno, dan Tama sempat saling pandang. Mereka tahu, ada sesuatu yang mengganjal di hati komandannya.“Komandan, laporan dari markas baru masuk,” ujar Doni sambil menyerahkan map. “Ada indikasi bandit yang semalam lolos, bergerak ke arah utara. Mereka kemungkinan menyusun kekuatan kembali.”Praja menerima map itu, matanya sekilas menatap dokumen, tapi pikirannya melayang. Yang ia lihat bukanlah peta pergerakan musuh, melainkan wajah Sekar semalam—murung, penuh luka, lalu pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya.Praja menghela napas, menutup map dengan cepat. “Kita tidak boleh lengah. Siapkan regu patroli. Jangan beri kesempatan mereka menyakiti warga desa lagi.”Para prajurit serentak mengangguk. Namun Doni memperhatikan mata Praja yang sayu.
Terakhir Diperbarui: 2025-10-18