Chapter: Bab 34Sugiono membuka mata. Pandangannya gelap tertutup tanah dan batu. Ia bernapas berat. Sisa energi dari cincin yang hancur masih melekat di darahnya. Energi gaib itu membentuk lapisan pelindung di sekitar kulitnya, menahan beban batu raksasa agar tidak menghimpit tubuhnya."Ugh..," suara Sugiono keluar serak. Ia mencoba menggerakkan kaki. Tangan kanannya mendorong bongkahan batu besar. Batu bergeser. Ia terus mendorong hingga sebuah celah terbuka.Cahaya matahari masuk ke dalam celah. Sugiono merayap keluar dari timbunan reruntuhan gua. Tubuhnya kotor penuh lumpur dan darah kering. Ia berdiri tegak. Anehnya, ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Tulang-tulangnya terasa utuh, ototnya justru terasa lebih kuat. Lapisan energi tipis masih berpendar di balik kulitnya.Sugiono menatap sisa gua yang runtuh. Ia tidak bisa diam di sana. Ia berjalan turun gunung menuju lokasi gubuknya. Langkahnya mantap, tanpa kelelahan.Setibanya di lokasi, Sugiono terdiam. Gubuk bambunya rata dengan tanah. Tid
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 33Ranto dan Gendis sampai di batas desa saat matahari hampir tenggelam. Pakaian mereka kotor penuh tanah dan luka gores. Warga desa berkumpul di depan balai desa, menatap mereka dengan wajah cemas."Gendis? Ranto? Ke mana Sugiono?" tanya Pak Kades sambil mendekat.Ranto menghela napas panjang. Ia menatap tanah. "Sugiono sudah tiada, Pak. Gua di kaki gunung runtuh saat kami terjebak di dalam. Dia mendorong kami keluar sebelum batu-batu besar menimpa tubuhnya."Warga desa berbisik-bisik. "Jadi dia benar-benar mati?""Saya melihat sendiri tubuhnya tertimbun reruntuhan," jawab Ranto datar.Gendis hanya diam. Tangannya gemetar saat memegang ujung baju Ranto. Ia menolak menatap mata orang-orang desa.Di sisi lain desa, Bu Tejo duduk di depan cermin. Ia memperhatikan wajahnya yang mulai keriput kembali. Kulitnya tidak lagi kencang seperti saat ritual. Ia menyentuh area dadanya. Bagian puting susunya terasa berdenyut nyeri, seolah ada aliran listrik yang enggan pergi sepenuhnya dari sana."Kena
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 32Sugiono berhenti di depan mulut gua yang tertutup semak duri. Udara dingin keluar dari lubang gelap, membuat napas mereka berembun. Gendis dan Bu Tejo gemetar di belakang, menatap kegelapan."Sampai," ucap Sugiono. Cincin di jarinya bercahaya redup."Tempat apa?" tanya Bu Tejo."Asal kekuatanku. Masuk," perintah Sugiono.Gendis melangkah lebih dulu. Pintu gua tertutup dengan suara keras. Mereka terjebak dalam kegelapan. Ukiran dinding menyala saat Sugiono mendekat."Siapa berani membawa manusia ke sini?" suara berat menggema.Sosok tinggi bersisik muncul dari balik batu besar. Baunya busuk. Sugiono maju menantang sosok tersebut."Aku membawa mereka. Cincin ini butuh tumbal untuk membuka segel terakhir," jawab Sugiono.Sosok itu tertawa. "Tumbal? Kamu sanggup memberi apa yang diinginkan cincin? Dia haus jiwa, bukan daging.""Ambil kalau bisa," tantang Sugiono.Mbah Karto muncul dari balik semak di luar gua. Ia memegang tongkat kayu melengkung. "Bagus. Biarkan makhluk menghabisimu, lal
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 31Matahari terbit, namun udara hutan terasa lembap dan dingin. Ranto meludah ke tanah memastikan gubukny kosong. Ia meremas parangnya hingga buku jarinya memutih. Di belakangnya.Pak Kades berdiri dengan wajah pucat, menyeka keringat dingin di dahinya."Kosong. Semuanya hilang, Ranto," gumam Pak Kades dengan suara bergetar.Ranto mendekat ke bekas lincak bambu yang sudah hancur. Ia menemukan secarik kain daster milik Gendis yang terselip di celah papan. "Istriku diculik, Pak Kades. Sugiono membawa mereka ke hutan. Kita harus mengejar sekarang sebelum mereka jauh.""Jangan gila, Ranto! Lihat bekas-bekas aneh di lantai tanah ini. Ini bukan pekerjaan manusia biasa. Aku tidak mau mati konyol," balas Pak Kades sambil menunjuk jejak kaki yang berhenti tiba-tiba di tengah ruangan."Terserah Bapak. Saya akan cari istri saya sendiri!" Ranto melangkah keluar gubuk tanpa menoleh. Ia masuk ke semak-semak hutan, mengikuti jejak ranting yang patah.Sementara itu, di kedalaman hutan jati, Sugiono ber
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 30Warga desa berdiri diam di dalam gubuk yang kosong. Ranto menyisir setiap sudut ruangan, namun hanya mendapati lantai tanah yang rata. Tidak ada jejak kaki, tidak ada bekas darah ayam, dan tidak ada peralatan pijat.Pak Kades mengarahkan obor ke sudut ruangan. "Ranto, apa kamu yakin mendengar jeritan dari sini?""Sangat yakin, Pak Kades. Bu Tejo masuk ke sini membawa ayam hitam. Saya melihatnya sendiri," jawab Ranto dengan nada frustrasi. Ia mengayunkan parang ke dinding bambu, tapi hanya mengenai udara kosong.Suasana menjadi sunyi. Tidak ada suara serangga malam atau gesekan daun jati di luar gubuk. Warga yang berdiri di depan pintu mundur perlahan. Mereka merasakan hawa dingin menusuk kulit.Dari arah belakang, terdengar suara tawa pelan. Suara itu terdengar dari segala arah. Ranto berbalik, menatap tajam ke arah kegelapan hutan."Keluar kamu, Pakde! Jangan jadi pengecut!" teriak Ranto.Warga desa melihat bayangan hitam bergerak di antara pohon jati. Bayangan itu menyerupai sosok m
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 29Bu Tejo berlari kecil menyusuri jalan setapak menuju pasar desa tetangga. Di tangan kanannya, ia memegang erat keranjang bambu berisi seekor ayam cemani hitam legam. Bulu, paruh, hingga matanya berwarna hitam pekat. Ia menghabiskan banyak uang mendapatkan ayam ini, namun pikirannya hanya tertuju pada janji Sugiono. Ia ingin tubuhnya kembali kencang seperti Lisa dan Gendis.Sementara itu, Ranto berdiri di depan rumah Pak Kades. Wajahnya tegang. Ia melihat Bu Tejo melintas dengan keranjang mencurigakan ke arah gubuk Sugiono."Pak Kades, lihat sendiri. Bu Tejo saja sudah terjebak ilmu sesat Pakde. Kalau dibiarkan, gubuk itu akan menghancurkan desa kita," ujar Ranto dengan napas memburu.Pak Kades Suryo mengangguk setuju. Ia sudah gerah dengan kabar miring mengenai gubuk di pinggir hutan tersebut. "Kumpulkan warga sekarang. Kita gerebek gubuk itu malam ini juga. Pastikan semua membawa obor dan senjata untuk jaga-jaga."Di dalam gubuk, Sugiono sibuk mempersiapkan ruangan. Ia menyalakan du
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 21Praja akhirnya meninggalkan tenda. Langkah kakinya pelan, menuju rumah sederhana tempat Sekar dan Riri tinggal sementara. Dari kejauhan, ia melihat Sekar duduk sendirian di beranda. Riri tampaknya sudah masuk, meninggalkan Sekar yang menatap langit penuh bintang.“Sekar,” suara itu pelan, tapi cukup untuk membuat Sekar menoleh.Sekar terkejut, tapi cepat-cepat menunduk. “Komandan, malam-malam begini seharusnya istirahat. Ada apa?”Praja berhenti beberapa langkah darinya, seakan ragu untuk lebih dekat. Namun akhirnya ia menarik napas dan melangkah maju. “Aku tidak bisa tidur kalau kita masih dalam keadaan seperti ini.”Sekar menelan ludah. “Keadaan seperti apa?”Praja menatapnya dalam-dalam. “Keadaan di mana kamu menjauh dariku, padahal aku ingin lebih dekat. Keadaan di mana kamu menutup hatimu, padahal aku sudah membukanya lebar-lebar untukmu.”Sekar menghela napas berat, jemarinya meremas ujung kain selendangnya. “Komandan, jangan mempersulit. Kita sudah berbeda sejak awal. Kamu seor
Last Updated: 2025-10-24
Chapter: Bab 20Sekar berjalan cepat meninggalkan tenda, langkahnya terburu-buru, nyaris berlari. Dadanya bergemuruh hebat, entah marah, kecewa, atau terluka—ia tak tahu. Hanya satu hal yang jelas: melihat Praja begitu dekat dengan Kirana membuatnya merasa hampa.“Sekar!” suara Praja memecah keheningan senja, terdengar di belakangnya.Sekar tak menggubris, malah mempercepat langkah. Namun suara langkah sepatu Praja makin mendekat, hingga akhirnya tangan kokoh itu meraih lengannya.“Sekar, tunggu sebentar!”Sekar berbalik dengan mata berkaca-kaca, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. “Lepaskan aku, Komandan! Saya tidak ingin ikut campur urusan pribadi Komandan dengan Dokter Kirana.”Praja terdiam sesaat, terkejut oleh nada suaranya. “Sekar, kamu salah paham.”“Tidak ada yang salah paham!” Sekar memotong cepat, suaranya bergetar. “Saya jelas melihatnya sendiri, Komandan berbicara berdua, begitu dekat, seakan ... seakan ...” suaranya tercekat, “seakan kalian memang berjodoh.”Praja menghela napas
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 19Pagi itu, suasana desa terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Praja berdiri di depan pos penjagaan, menatap ke arah hamparan sawah yang diselimuti kabut tipis.Dari jauh, Sekar datang membawa keranjang berisi sayuran segar untuk para prajurit. Praja melihat langkahnya yang anggun, sederhana, namun entah mengapa membuat dadanya bergetar. Ia menoleh sekilas, seolah tidak peduli, tetapi mata dan pikirannya tetap menuntunnya untuk memperhatikan Sekar.“Pagi, Komandan,” sapa Sekar sambil tersenyum tipis.“Pagi,” jawab Praja singkat. Suaranya dalam, tapi ada nada lembut yang jarang sekali ia keluarkan.Sekar menunduk, meletakkan keranjang di meja kayu. “Ini sayuran dari ladang. Untuk persediaan makan siang kalian. Aku titip sama prajurit yang lain saja.”Praja mengangguk, tapi sebelum Sekar beranjak pergi, ia memberanikan diri. “Sekar, tunggu.”Sekar berhenti, menoleh pelan. “Ada apa?”Praja menelan ludah. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi lidahnya terasa kelu. “Aku ..
Last Updated: 2025-10-23
Chapter: Bab 18Suasana pos berubah hening saat iring-iringan kendaraan militer berhenti di depan. Para prajurit langsung berdiri tegak, memberi hormat. Dari mobil utama, seorang pria paruh baya turun dengan wibawa penuhJenderal Sudirman.“Siap grak!” suara lantang komandan jaga menggema.Praja melangkah ke depan, memberi hormat dengan sikap sempurna. “Selamat datang, Jenderal!”Sudirman menepuk bahu Praja dengan bangga. “Kerja bagus, Komandan. Desa ini mulai pulih, rakyat merasa terlindungi. Aku bangga padamu.”Senyum tipis itu lalu berubah serius. Ia menatap Praja dalam-dalam.“Praja, setelah misi ini selesai, aku ingin kau mempertimbangkan sesuatu.”“Perintah, Jenderal?”“Bukan sekadar perintah. Aku hanya percaya padamu. Karena itu, apakah kau bersedia menikah dengan putriku, Kirana?”Seketika dada Praja sesak. Ia menunduk, wajahnya tegang. Kata-kata itu berat, jauh lebih berat daripada memimpin pertempuran.“Jenderal, saya.” suaranya tertahan.Tak jauh dari sana, Sekar yang tengah membawa kain un
Last Updated: 2025-10-22
Chapter: Chapter 17Malam itu markas terasa sunyi setelah hiruk-pikuk penyelamatan Arga. Hanya suara jangkrik dan sesekali langkah prajurit yang berkeliling membuat suasana tidak sepenuhnya hening.Sekar berdiri ragu di depan ruang komando. Cahaya lampu minyak dari dalam membuat bayangan tubuhnya jatuh panjang di tanah. Setelah menarik napas dalam, ia memberanikan diri mengetuk pelan.“Masuk,” suara berat itu terdengar.Praja duduk di balik meja, map laporan berserakan. Tatapannya langsung terarah pada sosok Sekar yang melangkah masuk dengan hati-hati. Wanita itu menunduk sebentar, lalu berkata lirih, “Komandan aku ingin minta maaf. Waktu itu, aku pernah menuduhmu dan aku menyesal. Terima kasih karena sudah menyelamatkan putraku. Kalau bukan karena keberanianmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arga.”Ruangan seketika hening. Praja hanya menatapnya lama, seakan sedang mencari jawaban dari wajah Sekar. Ada sesuatu yang berputar di kepalanya kenangan lama, malam kelam yang selama ini ia kubur rapa
Last Updated: 2025-10-18
Chapter: Chapter 16Suasana pos militer pagi itu riuh. Para prajurit sudah berkumpul di halaman, sebagian sibuk membersihkan senjata, sebagian lagi mendengarkan pengarahan. Namun di balik semua itu, wajah Praja terlihat lebih tegang dari biasanya.Doni, Yudha, Seno, dan Tama sempat saling pandang. Mereka tahu, ada sesuatu yang mengganjal di hati komandannya.“Komandan, laporan dari markas baru masuk,” ujar Doni sambil menyerahkan map. “Ada indikasi bandit yang semalam lolos, bergerak ke arah utara. Mereka kemungkinan menyusun kekuatan kembali.”Praja menerima map itu, matanya sekilas menatap dokumen, tapi pikirannya melayang. Yang ia lihat bukanlah peta pergerakan musuh, melainkan wajah Sekar semalam—murung, penuh luka, lalu pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasannya.Praja menghela napas, menutup map dengan cepat. “Kita tidak boleh lengah. Siapkan regu patroli. Jangan beri kesempatan mereka menyakiti warga desa lagi.”Para prajurit serentak mengangguk. Namun Doni memperhatikan mata Praja yang sayu.
Last Updated: 2025-10-18