แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: L.S
Tepat saat aku menutup telepon, terdengar suara manajer restoran di dekat pintu masuk. "Dok Regina, meja pesanan Anda sudah disiapkan. Silakan lewat sini."

Aku sangat peka terhadap sebutan "Dok Regina". Jadi, aku secara refleks mendongak.

Benar saja, itu memang Regina. Kevin berada di sisinya. Mereka berdua berjalan masuk berdampingan.

Regina sudah melepas jas dokternya dan lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku. Ada guratan kelelahan di matanya.

Kevin berjalan di sampingnya dan menoleh ke arahnya untuk mengatakan sesuatu. Entah apa yang dikatakannya, Regina tersenyum.

Melihat pemandangan itu, dadaku terasa sesak. Dulu, setiap kali dia pulang kerja, aku selalu berusaha mengajaknya mengobrol dan sangat ingin berbagi hal-hal kecil menarik yang kulihat hari itu. Namun, dia selalu terlihat tidak tertarik. Jangankan tersenyum, sekadar menggumamkan "emm" saja sudah termasuk bentuk penghargaan terhadapku.

Dulu, aku selalu mencari alasan untuk membelanya. Aku berpikir bahwa dia terlalu lelah bekerja dan tidak memiliki energi untuk menanggapi ucapanku. Sekarang, aku baru sadar bahwa bahkan saat lelah pun, dia bisa tersenyum. Dia hanya tidak tersenyum padaku.

"Kak Louis?" Kevin melihatku lebih dulu dan segera berjalan mendekat. Dia memasang senyum yang sangat sopan. "Kok kamu sendirian?"

Aku tidak menjawab.

Kemudian, Kevin menjelaskan tanpa diminta, "Hari ini, ada kecelakaan lalu lintas yang besar. Korbannya banyak banget. Aku dan Kak Regina sibuk sejak sore tadi. Kami baru saja selesaikan operasi terakhir dan benar-benar kelaparan."

"Kak Regina tiba-tiba teringat kamu suka makan ikan kod panggang restoran ini. Jadi, dia bersikeras ajak aku kemari. Habis makan, dia juga bilang mau bungkuskan seporsi untukmu."

Seusai berbicara, dia menoleh ke arah Regina sambil tersenyum manis dan polos. "Kak Regina benar-benar mencintaimu. Apa pun yang dia lakukan, dia selalu memikirkanmu. Aku iri banget. Andai saja aku juga punya wanita yang begitu mencintaiku."

Benar-benar mencintaiku? Apakah seseorang yang benar-benar mencintaiku akan lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami? Apakah seseorang yang benar-benar mencintaiku akan pergi makan bersama pria lain di restoran yang suasananya romantis pada larut malam?

Apakah seseorang yang benar-benar mencintaiku akan menempuh jarak 500 kilometer untuk melakukan operasi bagi bibi orang lain, tetapi menolak memperjuangkan secercah harapan untuk kelangsungan hidup ayahku?

Aku menatap Kevin dan menyahut dengan suara rendah, "Apa urusanmu dia mencintaiku atau nggak?"

Senyum di wajah Kevin memudar perlahan. Dia terlihat gelisah. "Maaf ... apa aku salah bicara? Niatku sebenarnya baik ...."

Suaranya melemah dan matanya mulai memerah.

Aku jelas-jelas tidak mengucapkan kata-kata kasar. Namun, Regina melangkah ke depan Kevin dan melindunginya dariku. Gestur protektif itu sangat menyayat hati.

"Louis, kamu tahu dia nggak bermaksud buruk. Kenapa kamu harus bicara padanya seperti itu?" Suara Regina terdengar tegang karena menahan amarah. "Hari ini, ada begitu banyak korban. Semua orang bekerja keras sampai kelelahan. Sebagai kepala perawat, dia bahkan nggak sempat makan seharian. Jangan buat keributan tanpa alasan."

Orang-orang di sekitar kami juga ikut berkomentar.

"Dokter dan perawat benar-benar bekerja sangat keras ...."

"Dia bahkan kepikiran untuk bawa pulang makanan bagi suaminya setelah operasi. Itu sudah cukup baik."

"Kadang, memang ada pria yang terlalu suka mengatur. Sikap patriarkal seperti itu benar-benar menakutkan."

Baiklah. Mereka adalah orang suci. Hanya aku yang jahat.

Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Jadi, aku berbalik untuk pergi. Saat aku berjalan melewati Regina, dia mencengkeram pergelangan tanganku. Kehangatan yang familier itu membuatku ragu sejenak. Namun, pada detik berikutnya, aku mendengarnya berkata, "Minta maaf dulu pada Kevin."

Kupikir aku salah dengar. "Apa?"

"Ucapanmu tadi sudah buat dia malu. Minta maaf."

Aku menatap Kevin. Dia berdiri di belakang Regina dengan mata memerah, terlihat persis seperti anak rusa yang ketakutan. Sementara itu, Regina berdiri di hadapannya dan menatapku, seolah-olah aku adalah binatang buas.

Aku pun tertawa. "Regina, kalau begitu, coba kamu ngomong. Apa sebenarnya yang salah dengan ucapanku? Memangnya urusan rumah tangga kita ada hubungannya dengan seorang rekan kerja seperti dia?"

Aku sengaja menekankan kata "rekan kerja".

Regina terdiam sesaat. Dia benar-benar tidak bisa memberikan jawaban. Aku menepis tangannya, lalu melangkah keluar dari pintu restoran tanpa menoleh lagi.

Angin malam yang sejuk menerpa wajahku dan menyapu bersih seluruh rasa kesal di hatiku. Tiba-tiba, aku menyadari satu hal. Begitu aku mengambil langkah ini, tak ada lagi yang bisa menahanku.

Sesampainya di rumah, aku mencetak surat kesepakatan cerai itu. Semuanya akan berakhir pada hari Sabtu depan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status