LOGINSaat berkemas untuk perjalanan bulan madu kami, Kian mengubah tujuannya menjadi Pulau Balia, tempat yang selalu ingin dikunjungi oleh adikku. Aku langsung terpaku, melihat ayah dan anak itu saling bertukar pandangan penuh arti. "Kalau Ibu keberatan, kita lakukan pemungutan suara saja." Setiap kali aku dan Wina berbeda keinginan, mereka akan selalu mengadakan pemungutan suara untuk bersikap netral. Saat ulang tahun, aku ingin makan makanan Barat, namun mereka memilih untuk mendukung pilihan Weni yang ingin makan salad dengan alasan lebih sehat. Ketika aku merasa tidak stabil secara mental dan ingin menemui dokter, mereka memilih untuk mendukung klaim Wina bahwa aku hanya sedang stres. Dan kali ini, pemungutan suara masih dua banding satu, aku kalah lagi. Tenggorokanku terasa sakit, aku lalu bicara dengan lembut. "Kian, Danau Erana adalah tempat kita mengikat janji." Dia tidak mendongak, hanya sibuk membeli tiket grup ke Pulau Balia. "Bukannya di sana juga ada laut? Sama saja." Kian pun memesan tiket grup untuk tiga orang. "Hanya ada paket wisata untuk tiga orang. Kau beli tiket terpisah saja, ya." Dia memasukkan dirinya, putranya, dan adik iparnya ke dalam satu kelompok, tidak termasuk aku. Aku melepas cincin kawin dan memesan tiket ke Danau Erana. Tempat yang selalu ingin kukunjungi, kini bisa kudatangi sendiri.
View MoreKian masih saja tidak mau pergi. Dia tetap berjaga di depan pintu kamarku tanpa bergeming sedikit pun.Aku mengunduh foto-fotoku dan mengirimkan karya untuk kompetisi.Selama setengah bulan menunggu hasil kompetisi, Gavin mengirimkan sebuket bunga setiap hari.Sedangkan Kian, dia menghabiskan banyak uang untuk menyalakan kembang api selama setengah bulan.Kembang api yang gemerlap menerangi separuh langit, namun tak lagi mampu menerangi masa depan aku dan Kian.Setiap kali pertunjukan kembang api berakhir, ada kata yang akan muncul di langit."Maafkan aku."Pemilik penginapan itu menyesap minumannya sambil mendorong sepiring kacang ke arahku."Aksi sebesar ini bahkan lebih meriah daripada saat dia mengejarmu dulu. Apa kau benar-benar nggak tergerak sedikit pun?"Aku melirik pria di luar jendela yang terus menanti dengan penuh harap, lalu mengambil kamera di sampingku."Nggak sama sekali. Sekarang, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.""Aku nggak mau lagi terjebak di dapur, terjebak
Penata rias itu sangat terampil, dia mengoleskan riasan dengan lembut di wajahku.Sambil menatap wajahku yang perlahan tampak semakin cantik di cermin, tanpa sadar aku teringat pada diriku sepuluh tahun lalu, ketika masih polos tanpa riasan dan meringkuk dalam pelukan Kian.Dia mencium bibirku dan berjanji akan tetap mencintaiku apa pun perubahan yang terjadi pada diriku.Namun, seiring berjalannya waktu, Kian mulai mencela penampilanku yang berantakan. Sebaliknya, dia memuji Wina yang pandai berdandan, masih muda, dan cantik.Demi pemotretan gaun pengantin di Danau Erana, setiap minggu aku menyempatkan diri pergi ke klinik kecantikan dan mengikuti sesi privat Pilates, berharap bisa menjadi sedikit lebih cantik demi mempertahankan hati Kian.Aku mengambil kamera dan memotret momen ketika penata rias mengenakan kerudung pengantin di kepalaku.Entah dari mana mereka mendapat kabar, Kian dan Gavin menyusulku sampai ke butik pengantin.Saat mereka masuk, aku sedang berdiri di bawah sorotan
Dengan mata memerah, Kian berjalan menghampiriku, lalu memelukku erat-erat.Beberapa tetes air mata dingin mengalir ke lekukan leherku. Dia menggesekkan wajahnya ke leherku dengan menyedihkan."Sayang, kita jangan bercerai, ya?"Gavin mendekat dan menggenggam tanganku. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon kepadaku."Ibu, jangan tinggalkan aku dan Ayah."Selama penerbangan menuju Erana, aku sempat membayangkan bagaimana reaksi Kian dan Gavin setelah menyadari kepergianku.Mereka pasti mengira aku hanya sedang merajuk, berusaha menarik perhatian mereka.Aku benci sikap acuh tak acuh mereka, membenci ketidakpahaman mereka terhadap diriku, dan membenci keberpihakan mereka kepada Wina.Awalnya aku mengira, saat bertemu kembali dengan Kian dan Gavin, aku akan memaki mereka habis-habisan dan menyuruh mereka keluar dari kehidupanku.Tetapi sekarang, hatiku tak bergelora sama sekali, seolah-olah mereka hanyalah orang asing bagiku.Air mata Kian membasahi kerah bajuku. Dengan kesal, aku mendoro
Setibanya di Danau Erana, aku langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.Pemiliknya adalah penggemar beratku, dia bahkan sudah datang ke bandara untuk menjemputku.Dia melirik ke arah belakangku, lalu bertanya dengan heran."Kenapa suami dan anakmu nggak ikut datang?""Bukannya kalian sudah berjanji untuk pemotretan foto pernikahan di Danau Erana untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang kesepuluh?"Aku tersenyum tipis sambil menjelaskan dengan suara pelan."Kami berencana bercerai."Pemilik penginapan itu berseru, "Hah!" dengan tidak percaya, lalu kembali bertanya."Dulu, Kian rela menghamburkan banyak uang untuk mengejarmu. Pada bulan ketika kau menerima pernyataan cintanya, setiap malam ada pertunjukan dron di Danau Erana yang menaburkan kelopak mawar.""Dia bahkan pernah berlutut di depan gunung bersalju dan bersumpah nggak akan pernah mengecewakanmu seumur hidupnya. Bagaimana bisa kalian sampai di titik perceraian seperti ini?"Cinta kami dulu memang begitu mengge






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.