Share

Bab 3

Author: L.S
Tanpa tidur semalaman, aku sibuk mengemasi barang-barangku. Hanya dengan terus menyibukkan diri, aku bisa mengabaikan rasa nyeri yang hampa di dadaku.

Menjelang fajar, aku mengeluarkan peralatan fotografi yang sudah bertahun-tahun berdebu di gudang. Aku menekan tombol daya dan layarnya menyala. Seketika itu juga, gelombang emosi membuat hidungku terasa perih. Syukurlah, kamera itu tidak rusak. Semuanya masih sempat.

Saat aku membawa kamera itu kembali ke ruang tamu, ponselku berdering. Itu panggilan dari agen properti.

"Pak Louis, saya sudah bicara dengan pemilik rumah yang Anda dan istri Anda lihat minggu lalu. Kalau tidak ada masalah lainnya, kita bisa menandatangani kontrak di akhir pekan depan."

Gerakanku terhenti sejenak. Aku hampir melupakan hal itu.

Beberapa waktu lalu, Regina baru saja mendapat promosi dan kenaikan gaji. Dia mengatakan bahwa tempat tinggal kami saat ini terlalu kecil dan ingin pindah ke rumah yang lebih besar.

Itu adalah idenya. Namun, dari awal hingga akhir, mulai dari melihat-lihat rumah, menentukan pilihan, menghubungi agen, membandingkan denah, hingga menghitung cicilan KPR, aku yang mengurus semuanya sendirian.

Regina hanya pernah pergi melihat-lihat rumah bersamaku sekali. Hari itu, aku dengan penuh semangat mengajaknya melihat calon kamar tidur kami dan bertanya gaya dekorasi apa yang dia sukai. Namun, dia melirik ponselnya dan menjawab dengan acuh tak acuh, "Semuanya lumayan bagus. Kamu saja yang tentukan."

Aku bisa melihat dengan jelas bahwa layar obrolan WhatsApp-nya sedang menampilkan percakapan dengan Kevin. Sebelum kami selesai melihat-lihat rumah, Kevin menelepon dan dia pun pergi.

Mengingat hal itu, aku dengan tenang berkata kepada agen properti, "Kami nggak jadi beli rumah itu."

"Hah? Kenapa? Bukankah istri Anda cukup menyukainya?"

Aku menatap kamera di tanganku, lalu tertawa getir. "Karena kami akan bercerai."

Orang di ujung telepon pun terdiam.

Aku langsung menutup telepon. Saat aku selesai mengemasi barang-barang, hari sudah menjelang siang. Aku membawa surat kesepakatan cerai dan berkendara menuju rumah sakit.

Hanya beberapa lembar kertas tipis sudah cukup untuk mengakhiri lima tahun pernikahan kami. Saat dipegang, kertas-kertas itu terasa sangat ringan. Saking ringannya, aku merasa semuanya sangat konyol.

Ini adalah jam makan siang. Aku menebak Regina ada di ruang kerjanya. Jadi, aku langsung pergi ke sana dan mengetuk pintu. Namun, yang membukakan pintu adalah Kevin. Dia terlihat terkejut. "Louis?"

Aku melirik ke dalam ruangan dan mencoba mencari Regina. Namun, Kevin segera menghalangi pandanganku dan merendahkan suaranya. "Semalam, Kak Regina kelelahan. Setelah periksa pasien sepanjang pagi, dia akhirnya baru tidur. Ada perlu apa?"

Aku mengamati Kevin. Rambutnya agak berantakan dan pakaiannya sedikit kusut. Di belakangnya adalah ruang kerja Regina. Rasa mual tiba-tiba bergejolak di perutku. Aku mencengkeram map dokumen itu erat-erat dan memaksakan diri untuk memalingkan wajah.

"Aku mau dia tandatangani sesuatu."

Kevin melirik dokumen di tanganku dan tersenyum. "Kak Regina kecapekan dan akhirnya punya waktu tidur sebentar. Nggak baik kalau membangunkannya. Berikan saja padaku. Nanti, aku akan berikan padanya setelah dia bangun."

Aku ingin menolak. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, aku tidak ingin melihat Regina lagi walau hanya sedetik saja. Jadi, aku menyerahkan dokumen itu kepada Kevin. "Terima kasih."

Kemudian, aku berbalik dan melangkah pergi. Kejadian itu terus berputar di benakku. Kevin berada di kantor Regina untuk beristirahat bersama. Interaksi mereka terasa begitu alami dan akrab, seolah-olah keadaannya memang seharusnya begitu.

Rasa mual di perutku makin menjadi-jadi. Aku bergegas masuk ke kamar mandi, lalu membungkuk di depan wastafel dan berusaha memuntahkan isi perutku. Namun, tidak ada yang keluar.

Aku membasuh wajah dengan air dingin. Hanya saja, begitu melangkah keluar dari kamar mandi, rasa sakit yang luar biasa menghantam perutku. Pandanganku seketika menggelap dan aku ambruk ke lantai.

Saat tersadar kembali, aku mencium bau disinfektan yang pekat. Melihatku membuka mata, seorang perawat mengembuskan napas lega. "Tuan, akhirnya kamu sadar juga."

Aku berusaha bangkit untuk duduk, tetapi kepalaku masih terasa pusing. "Apa yang terjadi?"

Perawat itu menyerahkan laporan hasil pemeriksaan kepadaku dengan raut wajah serius. "Tuan, hasil pemeriksaannya sudah keluar. Kamu mengalami infeksi pasca vasektomi. Kamu masih begitu muda, kenapa malah menjalani vasektomi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status