Share

Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu
Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu
Author: L.S

Bab 1

Author: L.S
Saat pertama kali menerima bunga itu hari ini, aku sungguh gembira. Kupikir, Regina akhirnya sudah sadar dan menyiapkan kejutan ulang tahun pernikahan untukku. Namun, saat membuka kartu ucapan yang terselip di dalamnya, senyumku seketika membeku.

[ Kak Regina, terima kasih. Kamu sudah terbang jauh-jauh khusus untuk mengoperasi bibiku. Kami sekeluarga merasa sangat berterima kasih. Aku pilih bunga ini khusus untuk Kak Regina. Aku rasa, bunga ini sangat cocok untuk gambarkan 'kita'. Semoga kamu suka. Kevin. ]

Tanganku gemetar dan seluruh buket bunga itu jatuh ke lantai.

Tiga tahun lalu, ayahku sakit parah. Dokter mengatakan dia harus segera dioperasi. Namun, fasilitas medis di kota kecil itu tidak memadai, sedangkan kondisi ayahku terlalu lemah untuk menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit yang lebih baik.

Aku sempat memohon pada Regina untuk datang ke kampung halamanku dan melakukan operasi itu sendiri. Apa jawabannya?

"Pihak rumah sakit melarang dokter-dokternya untuk melakukan tindakan medis di rumah sakit lain. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Aturan nggak boleh dilanggar cuma karena hubungan pribadi."

Pada akhirnya, ayahku meninggal di dalam ambulans saat sedang dipindahkan. Hal itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku.

Di pemakaman ayah, aku secara khusus memilih bunga datura hitam. Bunga itu memiliki makna yang sesuai dengan sosoknya, yaitu kematian dan cinta yang tak terduga.

Namun, sebenarnya, tidak ada satu pun hal yang benar-benar tak terduga ....

Di tengah malam ketika terbangun dari mimpi, aku sering teringat rambut ayahku yang memutih di saat-saat terakhir hidupnya, lalu diam-diam meneteskan air mata. Aku terus meyakinkan diri untuk tidak menyalahkan Regina. Setiap orang memiliki prinsip yang mereka junjung tinggi.

Sekarang, aku baru menyadari bahwa aturan bisa dilanggar dan prinsip bisa dikesampingkan. Hanya saja, aku, Louis Rikardi, tidak pantas mendapatkannya.

Setelah mengakhiri panggilan dengan Thomas, aku membuang semua pita dan balon yang telah kupasang sebagai dekorasi ke tong sampah. Kemudian, aku membuka halaman web dan mengetik beberapa kata.

[ Panduan perjalanan darat Jalur Aruna-Sagara. ]

Pegunungan bersalju, padang rumput, danau, dan jalan raya yang membentang hingga ke cakrawala.

Aku pernah berjanji pada ayahku bahwa suatu saat nanti, aku akan menyusuri Jalur Aruna-Sagara bersama kameraku. Setelah ayahku tiada, Regina mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa dia akan menemaniku untuk memenuhi janji yang belum sempat terwujud itu.

Namun, tahun itu, Regina baru saja dipromosikan menjadi dokter spesialis. Dia sangat sibuk hingga hampir tak punya waktu untuk makan. Melihatnya yang sering lupa makan hingga sakit maag, tetapi masih memeriksa rekam medis dan menulis makalah, hatiku terasa perih.

Oleh karena itu, aku menutup studio fotografiku dan beralih peran dari seorang fotografer menjadi "suami Dokter Regina". Tahun itu, aku memenangkan penghargaan fotografi nasional dan mendapat tawaran dari beberapa perusahaan ternama. Masa depanku sangatlah cerah. Namun, aku melepaskan semuanya tanpa keraguan sedikit pun.

Regina akhirnya menjadi Kepala Bedah Jantung termuda dan sosok yang disegani di bidangnya.

Selama ini, aku yakin pengorbanan dan usahaku itu sepadan. Setelah memikirkannya lagi sekarang, semua itu terasa sangat ironis ....

Suara pintu yang dibuka menyadarkanku dari lamunan. Regina sudah pulang. Dia melepas mantelnya, melirik meja makan yang kosong, lalu mengernyitkan dahi. "Mana makan malamnya?"

Aku menatap layar komputer tanpa mendongak. "Lagi malas masak. Capek."

Keningnya berkerut makin dalam. "Capek? Lebih capek daripada aku yang kerja?"

Sebelum aku sempat menjawab, ponselnya berdering. Dia melirik layar ponsel dan langsung mengangkatnya. "Ada apa?"

Suara pria yang lembut terdengar dari ujung telepon.

Ekspresi tegang Regina perlahan melunak. Sudut bibirnya bahkan membentuk senyum tipis. "Tenang saja, aku akan segera ke sana."

Aku bisa mendengar suara rekan-rekan kerjanya di rumah sakit yang sedang menggodanya.

"Wah, Pak Kevin minta bantuan lagi, nih."

"Dok Regina, cepat datang! Kepala perawat kami sudah kewalahan menanganinya."

Terdengar gelak tawa dari ujung telepon. Suasananya begitu santai, seperti sekelompok orang yang sedang menggoda pasangan favorit mereka.

Aku, suaminya yang sah, malah terasa seperti orang asing.

Setelah menutup telepon, Regina mengenakan kembali mantel yang baru saja dilepasnya.

Aku pun bersuara, "Kevin?"

Gerakan Regina terdiam sejenak. "Ada masalah dengan pasien. Dia cuma bisa hubungi aku. Ini masalah hidup dan mati, jangan berpikiran macam-macam."

Seusai berbicara, dia berbalik dan pergi.

Aku menatap punggungnya yang menjauh dan teringat bagaimana dia bergegas pergi seperti ini minggu lalu, dengan alasan akan melakukan perjalanan dinas selama tiga hari. Sekarang, aku mengerti itu bukan perjalanan dinas, melainkan menempuh perjalanan 500 kilometer demi mengoperasi bibi Kevin.

"Regina," panggilku.

Dia menoleh kembali. "Ada apa?"

Aku menatap matanya dan bertanya pelan, "Apa kamu ingat ini hari apa?"

Dia menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Hari Anak?"

Aku tersenyum. Dia benar-benar lupa. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Untungnya, ini juga yang terakhir.

"Nggak apa-apa." Aku memalingkan wajah. "Pergilah bekerja."

Regina menatapku, lalu sepertinya teringat sesuatu. Setelah hening sejenak, dia berkata dengan nada kaku, "Aku akan kembali begitu urusannya selesai. Kamu mau aku bawakan camilan malam?"

Aku menggeleng. "Nggak perlu."

Aku tidak membutuhkannya lagi.

Setelah Regina pergi, aku pergi ke restoran yang sudah kupesan seminggu sebelumnya. Kembang api terlihat memukau di langit, setiap meja dipenuhi pasangan. Namun, aku hanya seorang diri.

Pelayan bertanya, "Tuan, kapan tamu satu lagi akan tiba?"

Aku tersenyum dan menjawab, "Orangnya nggak jadi datang."

Mulai sekarang, dia juga tidak akan datang lagi.

Usai makan, aku menelepon dealer mobil.

"Saya ingin pesan sebuah kendaraan off-road. Mobilnya harus cukup tangguh untuk melewati Jalur Aruna-Sagara. Anggaran saya sekitar 1,6 miliar."

Manajer toko berkata mereka memiliki mobil yang sesuai kriteria. Namun, karena permintaan terhadap mobil itu sangat tinggi, stoknya sedang kosong dan butuh waktu seminggu untuk mendatangkannya.

Tujuh hari sudah cukup bagiku untuk melepaskan masa lalu dan membereskan kekacauan dalam pernikahan ini.

"Saya akan mengambilnya seminggu lagi."

Setelah menutup telepon, aku membuka halaman web untuk lanjut membaca panduan perjalanan darat Jalur Aruna-Sagara. Saat menelusuri foto-foto itu, sebuah impian yang telah kusimpan rapat-rapat selama lima tahun seolah hidup kembali.

Tak lama kemudian, Thomas menelepon untuk mengabarkan bahwa surat kesepakatan cerainya sudah dibuat dan dikirim ke e-mailku.

Aku bergumam pelan, "Emm."

Dia terdiam sejenak, lalu tak bisa menahan diri dan bertanya, "Louis, kamu begitu mencintainya. Kamu benar-benar sanggup melepaskannya?"

Aku balik bertanya, "Kamu pernah lihat Regina abaikan prinsipnya dan curahkan seluruh perhatiannya demi orang lain?"

"Nggak," jawabnya jujur.

"Aku pernah." Aku menatap pemandangan malam yang luas dan temaram. Senyum getir tersungging di bibirku. "Tapi, itu bukan demi aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status