LOGINPOV Author
Acara grand opening hotel yang disebut Liam pun tiba. Clove datang bersama Maya karena suaminya tidak bisa dihubungi sejak sore. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru navy yang anggun. Mereka berdua masuk sebagai tamu VIP karena merupakan sahabat dari pemilik acara tersebut. "Suamimu masih belum bisa dihubungi, Clo?" tanya Maya sambil memegang segelas jus jeruk. Clove mengembuskan napas pelan. "Gak bisa, May. Udahlah, biarin aja. Lagian kalau bukan karena Aldo yang minta, aku juga ogah ngajak dia." "Dasar suami gak tau diri!" gumam Maya sinis. "Kamu yang berdarah-darah ngembangin resep resto, dia yang sibuk pencitraan." Seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam mendekati mereka. Pria itu adalah Aldo, sang pemilik hotel yang baru saja diresmikan malam ini. "Akhirnya datang juga dua ratu kampusku!" sapa Aldo ramah. Ia memeluk Clove dan Maya bergantian. Dia belum lama ini baru pulang dari luar negeri setelah tiga tahun menghabiskan waktu di sana. "Selamat atas grand opening-nya, Do," puji Clove tulus. "Aku ikut senang impian besarmu akhirnya terwujud." "Terima kasih banyak, ya," sahut Aldo ceria. "Eh, Clo, suami kamu mana? Dia gak ikut? Katanya mau ngenalin ke aku?" Belum sempat Clove menjawab, perhatian para tamu di dekat pintu masuk mendadak teralih. Reno melangkah masuk penuh percaya diri, tetapi tidak sendirian. Tangan kirinya digandeng mesra oleh Fara yang mengenakan gaun merah mencolok. Selebgram itu tersenyum manja sambil terus menempel pada lengannya. Mata Aldo melotot. "Tunggu! Itu suami kamu, kan? Kenapa dia malah gandeng cewek lain di acara resmi begini?" Dia mengenali Reno karena pernah melihat fotonya. Maya mengepalkan tangan erat-erat. "Lihat kan, Do? Itu manusia gak punya otak yang selama ini nyakitin sahabat kita!" Clove membeku. Rasanya sangat menyakitkan menyaksikan Reno mempermalukan pernikahan mereka di hadapan umum. Reno belum menyadari keberadaan Clove. Langkahnya terhenti karena matanya menangkap sosok penguasa yang baru saja melangkah masuk melalui pintu VIP. Sosok itulah yang sebenernya sejak tadi menjadi pusat perhatian. Siapa lagi kalau bukan Dewangga Clinton Davidson. Auranya begitu dominan dan intimidatif hingga membuat orang-orang di sekitarnya refleks memberi jalan. Mata Reno langsung berbinar. Tanpa membuang waktu, ia melepaskan pegangan Fara lalu melangkah percaya diri memotong jalur jalan Dewa. "Selamat malam, Pak Dewa!" sapa Reno sambil membungkuk hormat. Dia mengulurkan tangan, ingin bersalaman dengan Dewa. "Saya Reno, CEO dari Restoran Aroma Senja yang baru meraih bintang Michelin." Dewa menghentikan langkahnya. Pria berkharisma itu menatap Reno dari atas ke bawah dengan tatapan dingin dan tanpa emosi. Manik mata Dewa bergulir tipis ke arah Fara yang berdiri di belakang Reno. Dia sama sekali tidak menjabat tangan yang sudah terulur itu. "Aroma Senja?" suara bariton Dewa terdengar datar. "Iya, Pak! Benar sekali, saya Reno, pemilik sekaligus CEO-nya!" sahut Reno penuh semangat. Dewa menyunggingkan senyum sinis. “Bodoh!” Wajah Reno langsung pucat pasi seketika. Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup menyusun patahan kata. Tanpa sudi menunggu respon, Dewa melangkah maju melewati pria itu begitu saja. Liam yang berjalan di belakangnya ikut menahan langkah sejenak. "Pak Dewangga sangat membenci pria yang tidak tahu cara menghargai istrinya," ujar Liam datar. Dia pun segera menyusul bosnya. "T-tunggu, Pak! Ini salah paham!" kilah Reno panik. "Saya tidak berselingkuh, ini Fara partner kerja saya!" jelasnya. Liam sama sekali tidak menoleh. Reno berdiri mematung di tengah kerumunan dengan wajah merah padam. ‘Kenapa dia bisa tau kalau Fara bukan istriku? Apa dia kenal Clo?’ batinnya. Dengan kasar, Reno menepis tangan Fara yang hendak kembali merangkulnya. "Bisa diam gak, Far?! Ngapain ngerekam terus, sih!" Reno mengepalkan tangannya erat. Ia menyesal setengah mati kenapa tidak mengajak Clove saja, tadi. Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh area ruangan. Langkahnya mendadak terhenti saat melihat istrinya sedang berdiri di area VIP bersama Aldo. "Clove? Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam pria itu tak percaya. Sebenarnya Reno bisa datang karena restorannya mendapat undangan. Namun ia tidak sadar, bahwa undangan itu ditujukan untuk istrinya sebagai formalitas. Beruntung Clove memiliki akses khusus. Sehingga ia tidak membutuhkan undangan tersebut untuk masuk ke acara itu. Melihat istrinya akrab dengan pemilik hotel itu, otak manipulatif Reno berputar cepat. Tanpa membuang waktu, ia langsung menghampiri Clove. Meninggalkan Fara yang masih asik merekam. "Sayang!" panggil Reno dengan suara yang dibuat sehalus mungkin. Tanpa dosa, pria itu hendak merangkul pinggang istrinya dari samping. Namun, Clove dengan sigap langsung menggeser tubuhnya menjauh, pura-pura tidak menyadarinya. Aldo dan Maya menatap Reno dengan pandangan jijik. Aldo bahkan terang-terangan membelakanginya seolah pria itu tak layak disapa. "Sayang, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Reno sok romantis. "Kenapa gak cerita kalau mau datang? Kan kita bisa berangkat bareng dari rumah." Clove menatap wajah suaminya dengan pandangan muak. "Emangnya kenapa, Mas? Apa kamu pikir cuma kamu yang boleh datang ke acara ini?" Wajah Reno agak tegang, tetapi ia berusaha mengendalikan diri. "Bukan begitu, Sayang. Maksudku, kita kan suami istri, gak enak dilihat orang kalau datang sendiri-sendiri." "Oh, ya? Kamu baru ingat kalau kita suami istri?" tembak Clove telak. "Bukannya tadi kamu bangga digandeng Fara di depan semua orang?" Reno terperanjat mendengar ucapan istrinya. "Clo, kamu jangan salah paham! Aku datang sama Fara murni karena urusan bisnis. Dia kan brand ambassador resto kita!" Maya tertawa mengejek. "Partner kerja model apa yang pegangan tangan mesra sampai nempel-nempel begitu?!" “Lagian ya, ini bukan pameran bisnis. Acara begini itu harusnya datang sama pasangan! Gitu aja gak ngerti,” cibir Maya. "Kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" tegur Reno pelan. Dia gusar dengan sikap sinis Maya. "Cukup!" potong Aldo tegas dengan aura yang mengintimidasi. Aldo balik badan dan menatap Reno dengan pandangan penuh hinaan. "Saya yang mengundang Clove secara pribadi ke sini sebagai tamu kehormatan paling penting!" Ia menyindir Reno habis-habisan. "Sangat menggelikan melihat pria yang hidup dari resep istrinya, tapi malah membawa wanita murahan ke pesta untuk bergaya sok sukses." Tubuh Reno gemetar menahan malu dan amarah. Kata-kata Aldo benar-benar meremukkan harga dirinya sebagai seorang pria. "Jika kamu ke sini hanya untuk membuat sahabat saya tidak nyaman, pintu keluar hotel ini terbuka sangat lebar untukmu dan partnermu itu," lanjut Aldo dingin. Wajah Reno merah padam. Namun, Clove hanya berdiri membisu menatapnya dengan pandangan dingin yang kosong. “Sayang, kamu kok diem aja, suamimu diginiin?” Reno berharap Clove akan membelanya. Di matanya, wanita itu selalu menjadi budak cintanya. “Emang aku harus gimana, Mas? Apa aku harus pasang badan buat suami yang datang sama perempuan lain? Kenapa kamu gak minta tolong ke BA kesayanganmu aja?” sindir Clove.POV AuthorTak lama kemudian, seorang pria berjas sangat rapi dengan kacamata berbingkai tipis melangkah mendekati meja mereka. Pria itu adalah Satria. Pengacara papan atas sekaligus kepala tim hukum pribadi Dewa yang kebetulan juga hadir sebagai tamu undangan VIP.Dengan gayanya yang dingin dan tanpa basa-basi, Dewa mengarahkan pandangannya pada Satria. "Ini Nona Clove. Mulai detik ini, kamu tangani kasus perceraiannya. Pastikan prosesnya selesai secepat mungkin."Clove terkesiap. Ia menatap Dewa dan Satria bergantian, tak menyangka pembahasan sepenting dan sesensitif ini disajikan di tengah acara pesta besar.Dewa lalu mengalihkan tatapan tajamnya pada wanita itu. "Sampaikan semua tuntutanmu terhadap pria itu, pada Satria. Apa saja yang mau kamu ambil dari pria itu."Clove mendadak salah tingkah, meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Ia merasa sangat tidak nyaman dan risih.
POV AuthorClove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining. "Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak berubah.Setelah puas menelanjangi dan menyerahkan kekalahan telak pada Reno di luar tadi, aura angkuh dan dominannya kembali menyelimuti wajah tampan itu. Pria itu kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh."Makanlah," ucap Dewa datar. Ia meraih pisau dan garpu untuk mulai menyantap hidangan steak wagyu di piringnya.Clove membeku. Ia menatap piring di hadapannya tanpa menyentuh alat makan sedikit pun. Keraguan dan ketakutan masih menggelayuti piki
POV AuthorTanpa membuang waktu lagi Dewa melangkah maju. Ia tidak memedulikan respons atau raut frustrasi di wajah Reno.Dengan gerakan yang sangat alami, pria itu mengulurkan lengannya ke arah Clove."Mari, Nona Love!"Clove memandang lengan Dewa sejenak. Ada keraguan yang melintas di benaknya. Ia tahu berjalan bersama pria itu akan memancing perhatian seluruh isi ruangan. Namun, teringat betapa jahat dan liciknya Reno yang telah mengkhianatinya dengan Fara, ia memantapkan hatinya. Lagipula, cara Dewa mengambil alih situasi ini sangat halus dan elegan. Di mata publik, pria itu hanya bersikap sopan menawarkan makan malam pada tamu yang terabaikan. Ia merasa dirinya tidak bisa disalahkan dalam posisi ini.Dengan perlahan, ia mendaratkan jemarinya di lengan berbalut jas mewah milik Dewa. Sentuhan itu hangat, mengirimkan desiran aneh yang membakar ingatan Clove pada pergulatan panas yang baru sa
POV AuthorSindiran tajam dan tawaran gila dari Dewa meluncur begitu tenang, membuat Clove membelalakkan mata.Reno tidak kalah terkejut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Punggungnya mendadak kaku. Dadanya bergemuruh menahan gejolak panas yang membakar hingga ke ubun-ubun. Kalimat Dewa yang dilontarkan di depan umum itu jelas-jelas sebuah penghinaan telak terhadap harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, melihat Dewa berdiri tegak di hadapannya, nyali Reno menciut hingga tak berbekas. ‘Bangsat! Mentang-mentang berkuasa, dia ngomong seenaknya!’ makinya dalam hati.Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Menelan saliva yang terasa sepahit empedu. Dengan susah payah, Reno memaksakan sebuah tawa garing yang terdengar sangat memprihatinkan."A-ah, Pak Dewa ini bisa saja bercandanya," tawanya sumbang, berusaha keras menjaga kesopanannya meski wajahnya sudah sepucat kertas. "Mana mungkin saya membiarkan istri saya mendampingi pria lain, Pak."Dewa tidak ikut tertawa. Pria
POV AuthorKeringat dingin membasahi telapak tangan Clove. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. ‘Sial! Kenapa harus dia?!’ batinnya.Kakinya yang masih lemas akibat pergulatan intim beberapa saat lalu serasa hendak luluh ketika menyadari siapa sosok 'pengusaha nomor satu' yang dimaksud Reno. Pria jangkung di hadapannya ini baru saja menindihnya, menggagahinya di atas ranjang presidential suite, dan menandai tubuhnya tanpa belas kasihan.Dewa berdiri tegak, memegang gelas champagne dengan tenang. Tatapan matanya yang pekat merayapi wajah Clove, melirik sekilas ke arah gaun burgundy yang melekat sempurna di tubuh wanita itu.Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Senyum yang hanya dipahami oleh mereka berdua.Clove salah tingkah setengah mati. Bayangan erangan, bisikan vulgar, dan hentakan tanpa pengaman di kamar atas mendadak berputar liar di otaknya.Sementara itu, Reno yang sama sekali tidak menyadari “badai” di depan matany
POV AuthorClove menggigit bibirnya. Rasa penasaran itu membuat dadanya sesak.Namun ia sadar, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk mempertanyakan hal itu pada sosok dominan seperti Dewa.Clove masih mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Meski begitu, berada di kamar itu lebih lama membuatnya semakin tidak nyaman. Bayangan pergulatan panas yang baru saja terjadi di atas ranjang dan di depan cermin besar itu terus berputar di kepalanya.“Sial! Kenapa aku harus inget itu terus, sih?!” keluh wanita itu. Wajahnya sampai panas karena malu.Ia memaksakan diri turun dari tempat tidur. Namun, begitu kedua kakinya menapak lantai, rasa perih yang tajam di area sensitifnya langsung menjalar, membuat langkahnya terhenti seketika.‘Ck! Buas banget, sih,’ maki Clove dalam hati.Padahal ia bukan lagi seorang perawan. Namun hentakan dan dominasi Dewa tadi terasa jauh lebih menyiksa sekaligus intens daripada malam







