مشاركة

Bab 08

مؤلف: Just Mommy
last update تاريخ النشر: 2026-09-29 18:00:30

POV Author

Reno terkesiap. Wajahnya menegang mendengar sindiran menohok dari istrinya.

"Sayang, kamu kok tega banget ngomong begitu?" Reno langsung memasang raut sedih, kembali memainkan peran sebagai korban.

"Aku ini suamimu. Harusnya kamu dukung aku, bukan malah mempermalukanku di depan orang lain!" protes pria itu, lembut.

‘Cih, sok lembut, padahal belakangan ini dia sering ketus kalau lagi kesel sama aku,’ batin Clove.

Maya mengembuskan napas kasar. "Aduh, gak usah drama deh, Mas! Gak mempan!"

Ia lalu menoleh ke arah Aldo dengan dahi berkerut. "Eh, Do, kamu kok bisa sih ngundang orang ini? Kamu emang kenal sama dia?"

"Enggak sama sekali," jawab Aldo tegas tanpa ragu.

"Aku cuma ngundang Clove. Tapi seingatku, asistenku emang ngirim kartu undangannya atas nama Restoran Aroma Senja."

Aldo terkekeh sinis, menatap Reno dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ternyata ada orang yang gak tau malu. Datang pakai undangan punya istrinya, tapi malah gandeng cewek lain."

"Sorry, gue gak ngundang orang gak tau diri kayak lu," cibir Aldo tajam. Ia lalu menoleh pada Clove dengan senyum hangat.

"Yuk, Clo, May. Kita ke area lounge VIP sebelah sana aja. Udara di sini mendadak pengap, ada polusi toxic."

Clove mengangguk pelan, melangkah pergi mengikuti Aldo dan Maya tanpa sudi menoleh lagi. Ia mengabaikan suaminya begitu saja.

Reno mematung, tak sanggup membela diri. Lidahnya benar-benar kelu.

Rasa malu yang luar biasa menghantam dadanya saat menyadari bahwa undangan itu sebenarnya ditujukan untuk istrinya. Ia sama sekali tidak menyangka Clove memiliki sahabat sekaya dan berpengaruh seperti Aldo.

Penyesalan mendalam mulai menyusup di benaknya. Mengagungkan Fara dan membawanya ke sini benar-benar keputusan yang salah.

Namun, sifat manipulatif Reno tak berhenti berputar. Ia harus mencari cara agar bisa memamerkan keharmonisannya dengan Clove di hadapan Dewa.

Hanya dengan begitu, citranya di mata sang konglomerat bisa pulih. Harapannya, peluang investasi untuk restorannya tetap terbuka.

Ia tidak sadar bahwa istrinya sebentar lagi akan direbut oleh konglomerat itu.

Reno pun tidak sadar bahwa Fara, yang berdiri tak jauh dari sana, sedang mengamati dengan mata menyipit penuh dendam.

Fara meremas kamera mininya. Ia sangat kesal karena Reno meninggalkannya begitu saja demi menghampiri Clove.

“Sialan! Dia ninggalin aku cuma demi nyamperin istrinya,” gumamnya, kesal.

Bagi wanita itu, Clove adalah penghalang terbesarnya untuk menguasai Reno, pria yang ia anggap sebagai ladang emas.

Apalagi belakangan ini, tawaran endorse di media sosialnya mulai menurun drastis. Menikahi pemilik restoran sukses seperti Reno adalah tiket emas untuk masa depannya.

Dengan jaringan media sosial yang ia miliki, Fara yakin bisa terus mendongkrak popularitas resto itu. Namun syarat utamanya, Clove harus tersingkir.

Saat Clove, Maya, dan Aldo melangkah menuju meja di area VIP, Clove pamit sebentar ke toilet. Dia menaruh gelasnya di meja begitu saja.

Melihat kesempatan emas itu, Fara mengendap-endap mendekati meja VIP yang baru saja ditinggalkan Clove.

Mumpung Aldo dan Maya sedang asyik berbincang membelakangi gelas, ia dengan cepat mengeluarkan botol kecil dari tasnya. Kebetulan saat itu Dewa sedang menyapa Aldo.

Fara meneteskan obat perangsang dosis tinggi ke dalam gelas minuman Clove, lalu buru-buru pergi dari sana.

Tak lama kemudian, Clove kembali dari toilet. Tanpa rasa curiga, ia meraih gelasnya yang masih berada di posisi semula lalu meminumnya hingga tersisa separuh.

Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga efek obat itu bekerja. Kepalanya mendadak pusing.

Hawa panas yang membakar mulai merayap dari dada hingga ke seluruh tubuhnya. Clove memegang kepalanya yang berat, menatap Aldo ragu.

"Do! Aku boleh istirahat di kamar aja, gak? Aku mendadak gak enak badan, nih."

Aldo yang melihat wajah Clove mulai memerah dan berkeringat dingin langsung cemas. Dia mengira sahabatnya seperti itu karena kesal pada suaminya.

"Oh, jelas bolehlah! Kamu istirahat aja. Ayo, aku ambilin kunci kamarnya!" Aldo segera mengantar Clove ke meja resepsionis VIP.

Kondisinya yang sedang tidak fit, membuat Clove tidak sadar, bahwa dia berpapasan dengan Liam. Pria itu baru saja selesai bicara dengan resepsionis tersebut.

“Tunggu sebentar, ya,” ucap Aldo. Ia meminta satu kunci kamar terbaik di lantai lima untuk sahabatnya itu.

"Ini kuncinya, Clo. Kamarmu di lantai lima, nomornya ada di cover kartunya," ucap Aldo sambil menyerahkan kartu kunci tersebut.

"Terima kasih banyak ya, Do," sahut Clove dengan suara yang mulai serak.

Maya memegang bahu sahabatnya itu, khawatir. "Clo, aku antar ke atas, ya? Muka kamu merah banget." Dia menyentuh kening wanita itu, khawatir jika demam tinggi.

Clove menggeleng pelan, berusaha tersenyum. "Gak usah, May. Kamu di sini aja temenin Aldo. Jangan sampai acara sahabat kita rusak gara-gara aku. Aku masih kuat jalan, kok."

Melihat keyakinan Clove, Maya akhirnya mengalah. "Ya udah, tapi kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, ya!"

Clove mengangguk lalu melangkah perlahan menuju lift. Di dalam kabin lift yang tertutup, rasa panas di dalam tubuhnya semakin tak tertahankan.

Jantungnya berdebar kencang tak beraturan. Rasanya seluruh pakaiannya mendadak seperti membakarnya.

"Brengsek! Ini pasti pengaruh obat perangsang!" umpat Clove lirih, sambil meremas gaunnya.

Dadanya bergemuruh marah. Siapa orang jahat yang tega meracuninya di pesta ini?

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai lima. Clove melangkah keluar dengan kesadaran yang semakin terkikis.

"Ini dia," gumamnya lirih saat berdiri di depan sebuah pintu kamar.

Setelah memastikan nomornya cocok, Clove menempelkan kartu itu pada sensor hingga terdengar bunyi klik dan lampu hijau menyala. Pintu pun terbuka.

Ia segera memasuki kamar itu. "Aku harus langsung berendam air dingin," gumam Clove lemas.

Ia masuk dan menutup pintu kamar dari dalam. Lampu kamar rupanya sudah menyala remang-remang, jadi ia tidak perlu repot mencari sakelar.

Clove meletakkan kartu kunci di atas meja konsol yang berada di area foyer.

Tanpa rasa curiga sedikit pun, jemarinya yang gemetar mulai menurunkan ritsleting gaun malamnya. Ia ingin buru-buru berendam untuk meredakan rasa panas yang bergelora dari dalam tubuhnya itu.

Gaun biru navy itu meluncur jatuh ke lantai. Menyisakan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam di tengah hawa panas yang menyiksa.

Dengan langkah terhuyung, Clove melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mencari bath tub. Ia pun menutup pintu kamar mandi, lalu menoleh.

Deg!

Langkahnya membeku seketika. Jantungnya hampir melompat saat melihat seorang pria bertubuh kekar sedang berdiri di dalam kamar mandi yang sudah penuh oleh uap air hangat itu.

Pria itu bahkan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.

“Kenapa kamu masuk kamar saya, Nona Love?” tanya pria itu, sambil mengangkat sebelah alisnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 17

    POV AuthorClove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining. "Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak berubah.Setelah puas menelanjangi dan menyerahkan kekalahan telak pada Reno di luar tadi, aura angkuh dan dominannya kembali menyelimuti wajah tampan itu. Pria itu kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh."Makanlah," ucap Dewa datar. Ia meraih pisau dan garpu untuk mulai menyantap hidangan steak wagyu di piringnya.Clove membeku. Ia menatap piring di hadapannya tanpa menyentuh alat makan sedikit pun. Keraguan dan ketakutan masih menggelayuti piki

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 16

    POV AuthorTanpa membuang waktu lagi Dewa melangkah maju. Ia tidak memedulikan respons atau raut frustrasi di wajah Reno.Dengan gerakan yang sangat alami, pria itu mengulurkan lengannya ke arah Clove."Mari, Nona Love!"Clove memandang lengan Dewa sejenak. Ada keraguan yang melintas di benaknya. Ia tahu berjalan bersama pria itu akan memancing perhatian seluruh isi ruangan. Namun, teringat betapa jahat dan liciknya Reno yang telah mengkhianatinya dengan Fara, ia memantapkan hatinya. Lagipula, cara Dewa mengambil alih situasi ini sangat halus dan elegan. Di mata publik, pria itu hanya bersikap sopan menawarkan makan malam pada tamu yang terabaikan. Ia merasa dirinya tidak bisa disalahkan dalam posisi ini.Dengan perlahan, ia mendaratkan jemarinya di lengan berbalut jas mewah milik Dewa. Sentuhan itu hangat, mengirimkan desiran aneh yang membakar ingatan Clove pada pergulatan panas yang baru sa

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 15

    POV AuthorSindiran tajam dan tawaran gila dari Dewa meluncur begitu tenang, membuat Clove membelalakkan mata.Reno tidak kalah terkejut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Punggungnya mendadak kaku. Dadanya bergemuruh menahan gejolak panas yang membakar hingga ke ubun-ubun. Kalimat Dewa yang dilontarkan di depan umum itu jelas-jelas sebuah penghinaan telak terhadap harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, melihat Dewa berdiri tegak di hadapannya, nyali Reno menciut hingga tak berbekas. ‘Bangsat! Mentang-mentang berkuasa, dia ngomong seenaknya!’ makinya dalam hati.Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Menelan saliva yang terasa sepahit empedu. Dengan susah payah, Reno memaksakan sebuah tawa garing yang terdengar sangat memprihatinkan."A-ah, Pak Dewa ini bisa saja bercandanya," tawanya sumbang, berusaha keras menjaga kesopanannya meski wajahnya sudah sepucat kertas. "Mana mungkin saya membiarkan istri saya mendampingi pria lain, Pak."Dewa tidak ikut tertawa. Pria

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 14

    POV AuthorKeringat dingin membasahi telapak tangan Clove. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. ‘Sial! Kenapa harus dia?!’ batinnya.Kakinya yang masih lemas akibat pergulatan intim beberapa saat lalu serasa hendak luluh ketika menyadari siapa sosok 'pengusaha nomor satu' yang dimaksud Reno. Pria jangkung di hadapannya ini baru saja menindihnya, menggagahinya di atas ranjang presidential suite, dan menandai tubuhnya tanpa belas kasihan.Dewa berdiri tegak, memegang gelas champagne dengan tenang. Tatapan matanya yang pekat merayapi wajah Clove, melirik sekilas ke arah gaun burgundy yang melekat sempurna di tubuh wanita itu.Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Senyum yang hanya dipahami oleh mereka berdua.Clove salah tingkah setengah mati. Bayangan erangan, bisikan vulgar, dan hentakan tanpa pengaman di kamar atas mendadak berputar liar di otaknya.Sementara itu, Reno yang sama sekali tidak menyadari “badai” di depan matany

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 13

    POV AuthorClove menggigit bibirnya. Rasa penasaran itu membuat dadanya sesak.Namun ia sadar, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk mempertanyakan hal itu pada sosok dominan seperti Dewa.Clove masih mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Meski begitu, berada di kamar itu lebih lama membuatnya semakin tidak nyaman. Bayangan pergulatan panas yang baru saja terjadi di atas ranjang dan di depan cermin besar itu terus berputar di kepalanya.“Sial! Kenapa aku harus inget itu terus, sih?!” keluh wanita itu. Wajahnya sampai panas karena malu.Ia memaksakan diri turun dari tempat tidur. Namun, begitu kedua kakinya menapak lantai, rasa perih yang tajam di area sensitifnya langsung menjalar, membuat langkahnya terhenti seketika.‘Ck! Buas banget, sih,’ maki Clove dalam hati.Padahal ia bukan lagi seorang perawan. Namun hentakan dan dominasi Dewa tadi terasa jauh lebih menyiksa sekaligus intens daripada malam

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 12

    POV AuthorClove membeku. Pintu kamar mandi yang tertutup menyisakan gema kalimat terakhir Dewa yang masih memantul di kepalanya.“Setiap hari?” gumam wanita itu sambil mengerutkan keningnya.Clove menelan saliva dengan susah payah. Pernyataan itu meluncur dari bibir Dewa begitu santai.Pria itu seolah baru saja mengajaknya bermain tenis atau membahas jadwal rapat mingguan. Bukan membicarakan hubungan intim.Berbagai pertanyaan langsung berjejalan di otaknya. Kenapa konglomerat nomor satu yang dikelilingi ribuan wanita cantik dan berstatus sosial tinggi justru memilih dirinya? Wanita yang saat ini masih berstatus istri orang lain, baru saja dipermalukan di depan umum, dan sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.Selain itu, keberadaan Dewa di kamar ini sejak awal sangat membingungkan. Aldo adalah sahabat dekatnya sejak kuliah. Aldo tidak mungkin begitu ceroboh hingga memberikan akses kamar yang sudah dihuni oleh tamu VIP sekelas Dewa.Garis wajah tegas pria itu, sorot mata in

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status