مشاركة

Bab 06

مؤلف: Just Mommy
last update تاريخ النشر: 2026-09-29 17:19:19

POV Clove

Entah mengapa pria itu begitu mudah mengucapkan kata pernikahan. Apa baginya itu bukan hal penting?

Aku menghela napas panjang dan dalam. Berusaha menguatkan hati. "Baik, Pak. Saya mengerti."

"Bagus."

"Kalau begitu, saya permisi turun di sini," ucapku pelan. Aku tidak sanggup berlama-lama berada dalam atmosfer yang menghimpit ini.

Pak Dewa hanya memberi anggukan kecil tanpa bersuara. Aku segera membuka pintu mobil, melangkah keluar ke tepi jalan dekat danau, dan menutup pintunya kembali.

Tanpa menunggu sepatah kata pun, mobil mewah bernomor polisi tunggal itu langsung melaju kencang. Meninggalkan debu dan diriku yang berdiri membisu di tepi jalan.

Aku memandangi kepergian mobil itu dengan dada bergemuruh. "Dia meninggalkanku begitu saja?" gumamku lirih.

Rasa hina perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Pria yang meminta rahimku itu bahkan tak sudi membawaku sampai ke area yang lebih ramai.

Aku meremas jemari yang gemetar. Tempat ini sepi, entah di mana aku bisa mendapatkan taksi.

Dengan langkah berat, aku berjalan menyusuri trotoar. Benakku melayang, meratapi nasibku yang menyedihkan.

Tiba-tiba, deru mesin mobil memecah kesunyian. Mobil itu berhenti tepat di sampingku.

"Perlu tumpangan?" tanya seorang wanita dari dalam mobil.

Aku terkejut dan refleks mundur. Namun, melihat pengemudinya seorang wanita berpenampilan rapi, rasa takutku berkurang.

"Di kawasan ini gak ada taksi," ujarnya ramah.

Aku menelan saliva, sadar tidak punya pilihan. "Benar gak apa-apa? Aku takut merepotkan."

"Gak repot, kok," sahutnya manis. "Ayo masuk, mumpung searah!"

Aku lega karena merasa aman menumpang sesama wanita. Aku segera duduk di kursi penumpang.

"Terima kasih banyak, ya," ucapku tulus.

"Sama-sama. Aku Clara," balasnya lembut, sambil menginjak gas.

"Aku Clove," jawabku.

Saat hendak membuang pandangan ke luar jendela, mataku menangkap logo kecil di sudut atas kaca depan. Logo emas bernuansa elegan yang sangat khas.

Itu logo Clinton Group!

Jantungku berdesir agak cepat. Hatiku bertanya-tanya, apakah ini kebetulan atau Pak Dewa yang menyuruhnya menjemputku?

Namun aku menepis pikiran itu. Mana mungkin pria sekelas Dewa Clinton sepeduli itu padaku? Memangnya aku siapa?

"Kamu kerja di Clinton Group, ya?" tanyaku memecah keheningan.

Clara tampak agak terkejut. Namun dengan cepat ekspresinya berubah tenang. "Ah, iya. Kok kamu bisa tau?"

Siapa yang tidak tahu perusahaan nomor satu seperti Clinton? Namanya ada di mana-mana dan menguasai hampir semua lini bisnis.

Gaji pegawainya juga paling besar dibanding perusahaan lain. Termasuk gaji yang ditawarkan padaku. Lebih dari 100 juta per bulan.

"Aku lihat logo di kaca mobil itu," jawabku jujur. "Kenapa kamu bisa ada di daerah sepi begini?"

"Habis meeting dengan klien di lapangan golf area sini," sahutnya lancar.

Clara kemudian melirikku sekilas. Kami pun berbincang santai selama perjalanan.

Tak lama, aku melihat sebuah halte bus, di depan. "Maaf, tolong turunkan aku di dekat halte itu aja, ya," pintaku.

Dia sempat memaksa ingin mengantar sampai rumah. Namun aku menolak.

Clara akhirnya menghentikan mobilnya. Aku pun turun setelah mengucapkan terima kasih.

Aku memperhatikan mobil itu melaju pergi. Namun, sebuah keraguan mendadak menyenggol benakku.

Apa ini benar-benar hanya kebetulan? Rasanya masih sangat janggal.

#

POV Author

Clara kembali melajukan mobilnya. Belum jauh melintas dari area halte tempat ia menurunkan Clove, dering ponsel memecah keheningan kabin.

Ia melirik layar dasbor, lalu segera menekan tombol terima.

"Kamu lupa instruksi saya?” Suara bariton Dewa terdengar dingin dan menekan dari seberang sambungan.

Clara terkesiap sedikit melirik spion tengah. Ternyata mobil sedan hitam milik bosnya itu mengawasi dari kejauhan.

"Maaf, Pak," sahut Clara mantap tetapi tetap sopan.

"Nona Clove sendiri yang ingin turun di halte. Saya khawatir beliau justru curiga jika saya terlalu memaksa mengantarnya sampai ke rumah."

Diseberang sana, Dewa menghela napas tipis penuh ketidakpuasan. "Lain kali kamu harus lebih pintar cari alasan!"

Sambungan telepon diputus sepihak tanpa menunggu balasan Clara.

Di dalam mobil mewahnya yang terparkir tak jauh di belakang, Dewa melempar ponselnya ke atas jok. Matanya menatap tajam ke arah halte tempat Clove kini sedang menunggu taksi.

Liam yang duduk di kursi kemudi mengamati raut wajah atasannya melalui spion tengah. Karena tidak tahan melihat keheningan yang membeku, ia memberanikan diri bersuara.

"Jika Anda sekhawatir itu, kenapa tadi tidak Anda antar langsung sampai rumahnya saja, Pak?" tanya pria itu.

Dewa menatap Liam dari spion tengah dengan tatapan mematikan. "Bukan urusanmu!" protesnya singkat.

Dalam hatinya, Dewa bergumam gusar. ‘Jika aku memaksa mengantarnya, dia pasti makin curiga.’

Clara merupakan salah satu staf kepercayaannya. Ia menyuruhnya membuntuti di belakang sebagai langkah untuk berjaga-jaga.

Dugaannya tepat, wanita berhati keras seperti Clove pasti memilih turun dari mobilnya daripada harus terus merasa terintimidasi.

"Maaf, Pak. Saya bukan bermaksud untuk mengatur," ucap Liam lagi setelah keheningan kembali tercipta.

"Tapi, jika Anda memang peduli pada Nona Clove, apa tidak sebaiknya Anda terus terang saja? Barangkali beliau akan senang jika mengetahui hal itu."

"Pakai otakmu!" bentak Dewa, memotong cepat dengan nada tajam. "Dia masih punya suami!"

Liam mendadak bungkam. Bentakan itu mematikan keberaniannya seketika.

Pria itu mengangguk paham. Ia sangat mengenal seberapa tingginya tembok gengsi yang dimiliki bosnya.

‘Sudah tau masih punya suami, kenapa Anda incar?’ batin Liam menyindir tajam.

Namun tentu saja, kalimat gila itu hanya berani berputar di dalam kepalanya. Liam menghela napas prihatin dalam hati. Perjuangan bosnya ini jelas tidak akan mudah.

Dengan sikap Dewa yang sedingin es dan searogan ini, mana mungkin wanita selembut Clove bisa luluh? Yang ada, wanita itu justru bisa kabur ketakutan sebelum rencana mereka berjalan.

Demi menyelamatkan nyawanya dari amukan sang konglomerat, Liam segera mengalihkan pembicaraan.

"Ehm, Pak. Besok malam ada undangan acara peresmian hotel di kawasan Kuningan," ujar pria itu, profesional. “Mereka meminta Anda—”

"Tolak. Saya sibuk!" potong Dewa cepat, tanpa minat.

Liam menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh Dewa.

"Tapi, Pak, Nona Clove juga diundang ke acara itu. Kemungkinan besar beliau akan hadir karena pemilik hotel tersebut adalah teman dekatnya."

Detik itu juga, gerakan tangan Dewa yang hendak meraih tabletnya terhenti. Manik matanya bergulir tajam menatap belakang kepala Liam.

"Jam berapa?" tanya Dewa pendek.

"Jam 7 malam, Pak."

Dewa menyandarkan punggungnya kembali ke jok mobil. Ia sedikit salah tingkah. Menatap lurus ke depan dengan raut yang tak terbaca. "Atur jadwal saya!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 17

    POV AuthorClove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining. "Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak berubah.Setelah puas menelanjangi dan menyerahkan kekalahan telak pada Reno di luar tadi, aura angkuh dan dominannya kembali menyelimuti wajah tampan itu. Pria itu kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh."Makanlah," ucap Dewa datar. Ia meraih pisau dan garpu untuk mulai menyantap hidangan steak wagyu di piringnya.Clove membeku. Ia menatap piring di hadapannya tanpa menyentuh alat makan sedikit pun. Keraguan dan ketakutan masih menggelayuti piki

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 16

    POV AuthorTanpa membuang waktu lagi Dewa melangkah maju. Ia tidak memedulikan respons atau raut frustrasi di wajah Reno.Dengan gerakan yang sangat alami, pria itu mengulurkan lengannya ke arah Clove."Mari, Nona Love!"Clove memandang lengan Dewa sejenak. Ada keraguan yang melintas di benaknya. Ia tahu berjalan bersama pria itu akan memancing perhatian seluruh isi ruangan. Namun, teringat betapa jahat dan liciknya Reno yang telah mengkhianatinya dengan Fara, ia memantapkan hatinya. Lagipula, cara Dewa mengambil alih situasi ini sangat halus dan elegan. Di mata publik, pria itu hanya bersikap sopan menawarkan makan malam pada tamu yang terabaikan. Ia merasa dirinya tidak bisa disalahkan dalam posisi ini.Dengan perlahan, ia mendaratkan jemarinya di lengan berbalut jas mewah milik Dewa. Sentuhan itu hangat, mengirimkan desiran aneh yang membakar ingatan Clove pada pergulatan panas yang baru sa

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 15

    POV AuthorSindiran tajam dan tawaran gila dari Dewa meluncur begitu tenang, membuat Clove membelalakkan mata.Reno tidak kalah terkejut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Punggungnya mendadak kaku. Dadanya bergemuruh menahan gejolak panas yang membakar hingga ke ubun-ubun. Kalimat Dewa yang dilontarkan di depan umum itu jelas-jelas sebuah penghinaan telak terhadap harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, melihat Dewa berdiri tegak di hadapannya, nyali Reno menciut hingga tak berbekas. ‘Bangsat! Mentang-mentang berkuasa, dia ngomong seenaknya!’ makinya dalam hati.Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Menelan saliva yang terasa sepahit empedu. Dengan susah payah, Reno memaksakan sebuah tawa garing yang terdengar sangat memprihatinkan."A-ah, Pak Dewa ini bisa saja bercandanya," tawanya sumbang, berusaha keras menjaga kesopanannya meski wajahnya sudah sepucat kertas. "Mana mungkin saya membiarkan istri saya mendampingi pria lain, Pak."Dewa tidak ikut tertawa. Pria

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 14

    POV AuthorKeringat dingin membasahi telapak tangan Clove. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. ‘Sial! Kenapa harus dia?!’ batinnya.Kakinya yang masih lemas akibat pergulatan intim beberapa saat lalu serasa hendak luluh ketika menyadari siapa sosok 'pengusaha nomor satu' yang dimaksud Reno. Pria jangkung di hadapannya ini baru saja menindihnya, menggagahinya di atas ranjang presidential suite, dan menandai tubuhnya tanpa belas kasihan.Dewa berdiri tegak, memegang gelas champagne dengan tenang. Tatapan matanya yang pekat merayapi wajah Clove, melirik sekilas ke arah gaun burgundy yang melekat sempurna di tubuh wanita itu.Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Senyum yang hanya dipahami oleh mereka berdua.Clove salah tingkah setengah mati. Bayangan erangan, bisikan vulgar, dan hentakan tanpa pengaman di kamar atas mendadak berputar liar di otaknya.Sementara itu, Reno yang sama sekali tidak menyadari “badai” di depan matany

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 13

    POV AuthorClove menggigit bibirnya. Rasa penasaran itu membuat dadanya sesak.Namun ia sadar, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk mempertanyakan hal itu pada sosok dominan seperti Dewa.Clove masih mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Meski begitu, berada di kamar itu lebih lama membuatnya semakin tidak nyaman. Bayangan pergulatan panas yang baru saja terjadi di atas ranjang dan di depan cermin besar itu terus berputar di kepalanya.“Sial! Kenapa aku harus inget itu terus, sih?!” keluh wanita itu. Wajahnya sampai panas karena malu.Ia memaksakan diri turun dari tempat tidur. Namun, begitu kedua kakinya menapak lantai, rasa perih yang tajam di area sensitifnya langsung menjalar, membuat langkahnya terhenti seketika.‘Ck! Buas banget, sih,’ maki Clove dalam hati.Padahal ia bukan lagi seorang perawan. Namun hentakan dan dominasi Dewa tadi terasa jauh lebih menyiksa sekaligus intens daripada malam

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 12

    POV AuthorClove membeku. Pintu kamar mandi yang tertutup menyisakan gema kalimat terakhir Dewa yang masih memantul di kepalanya.“Setiap hari?” gumam wanita itu sambil mengerutkan keningnya.Clove menelan saliva dengan susah payah. Pernyataan itu meluncur dari bibir Dewa begitu santai.Pria itu seolah baru saja mengajaknya bermain tenis atau membahas jadwal rapat mingguan. Bukan membicarakan hubungan intim.Berbagai pertanyaan langsung berjejalan di otaknya. Kenapa konglomerat nomor satu yang dikelilingi ribuan wanita cantik dan berstatus sosial tinggi justru memilih dirinya? Wanita yang saat ini masih berstatus istri orang lain, baru saja dipermalukan di depan umum, dan sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.Selain itu, keberadaan Dewa di kamar ini sejak awal sangat membingungkan. Aldo adalah sahabat dekatnya sejak kuliah. Aldo tidak mungkin begitu ceroboh hingga memberikan akses kamar yang sudah dihuni oleh tamu VIP sekelas Dewa.Garis wajah tegas pria itu, sorot mata in

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status