Share

Bab 09

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-10-09 13:38:39

POV Author

Clove gelagapan. Penglihatannya yang buram akibat pengaruh obat mendadak dipaksa menyaksikan pemandangan yang begitu vulgar.

Pria di hadapannya adalah Dewa. Dia berdiri kokoh dengan otot dada yang tegap dan perut bidang dengan abs bertotol uap air.

“Berani sekali kamu masuk ke kamar saya tanpa pakaian. Apa kamu ingin membangkitkan naga yang sedang hibernasi?” sindir pria itu.

Clove refleks menyilangkan kedua tangan untuk menutupi dadanya yang hanya terbalut pakaian dalam.

Matanya bergerak liar kebingungan, diselimuti kepanikan luar biasa. Ia berbalik cepat dan meraba gagang pintu kamar mandi yang berbentuk bulat itu, berusaha keras membukanya.

Namun, entah mengapa gagang pintu itu begitu licin, sehingga ia kesulitan untuk memutarnya.

"Ma-maaf, Pak Dewa! Anda jangan salah paham.” Rasa gugup membuat suara wanita itu bergetar parah.

Melihat kepanikan wanita di depannya, Dewa melangkah perlahan dari belakang. Ia mengikis jarak hingga tubuh tingginya berada tepat di belakang Clove.

Tanpa ragu, pria itu mengulurkan tangannya. Menggenggam jemari Clove yang masih menempel kaku pada gagang pintu.

Ia membantunya memutar gagang tersebut. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Entah sengaja atau tidak, dada pria itu menempel pada punggung Clove.

"Bagaimana ini?" bisik Dewa, nakal. Suara baritonnya bergema rendah tepat di atas kepala Clove.

Wanita itu semakin gemetar. Sentuhan tangan Dewa yang hangat dan aroma woody maskulin dari tubuh pria itu makin membakar gairah liar yang sedang dipicu oleh obat.

Ia bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Merasa malu setengah mati dengan posisinya yang minim busana.

Dewa sengaja mendekatkan bibirnya hingga menyentuh daun telinga wanita itu. "Apa kamu sengaja ke sini, untuk mempercepat kerja sama kita?"

Clove menggeleng cepat. Napasnya terengah-engah dan memburu.

"Bukan! Saya yakin ini kamar saya, Pak."

"Faktanya, saya sudah di sini lebih dulu," sahut Dewa datar.

"Pasti ada yang salah. Harus ada yang buka pintu ini, supaya kita bisa cek nomor kuncinya!" Clove mulai frustrasi.

Ia mengangkat tangannya lalu menggedor pintu kamar mandi dengan lemah. "Tolong! Siapa pun di luar, tolong!"

Dewa terkekeh sinis. Sama sekali tidak berniat menghentikannya.

"Silakan berteriak lebih keras. Kalau kamu mau besok pagi kita masuk headline news!”

Gerakan tangan Clove terhenti seketika. Ia membeku. Kalimat Dewa menampar kesadarannya.

Jika ada media atau staf hotel yang memergoki mereka dalam kondisi terkurung di kamar mandi dengan pakaian seminim ini, karier, reputasi, dan hidupnya akan hancur seketika.

Reno pasti akan merasa menang, karena dia yang akan menjadi korban di mata publik.

"Terus kita harus bagaimana?" tanya wanita itu, polos. Ia refleks menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Dewa.

Namun, Clove yang panik tidak memperhitungkan jarak mereka yang terlalu dekat. Saat wajahnya berputar, bibir ranumnya mendarat tepat di bibir tebal milik Dewa.

Keheningan tercipta selama beberapa detik. Aliran darah di tubuh wanita itu semakin deras. Ia merasa seperti ada gelombang yang siap meledak di dadanya.

"Ternyata, kamu memang mau menggoda saya?" sindir pria itu, tanpa memisahkan bibir mereka. Sehingga bibirnya terasa seperti sedang melahap lawan bicaranya.

Clove membelalakkan mata saat merasakan kelembutan itu bergerak. Ia pun buru-buru menarik wajahnya dengan panik.

"Bukan! Demi Tuhan, bukan begitu!" Wanita itu bergerak mundur.

Namun punggungnya langsung membentur pintu dengan keras. Ia terjepit di antara pintu dan tubuh kekar Dewa. Pria itu bukannya mundur, malah semakin mendesak maju.

Dewa menyunggingkan senyum iblis. Ia menatap wanita di hadapannya dengan pandangan menilai. “Jangan munafik,” cibirnya.

Napas wanita itu semakin tersenggal. Ia menatap pria itu dengan tatapan memohon, takut setengah mati jika pria paling berpengaruh itu berpikir ia adalah wanita murahan.

Ia tahu betul dari rumor yang beredar, Dewa sangat membenci wanita penggoda.

"Pak Dewa, tolong jangan salah paham. Saya mohon," cicit wanita itu dengan suara serak.

Dewa menatapnya tajam tanpa ekspresi. "Kalau butuh bantuan saya, katakan!"

Clove menelan salivanya yang terasa kering. Tenggorokannya seperti terbakar dan suhu tubuhnya makin tidak terkendali.

Namun, sisa akal sehatnya melarang keras untuk berbuat hal terlarang dengan pria yang bukan suaminya itu.

Ia menggelengkan kepala. "Tidak, Pak. Saya mau berendam air dingin saja. Tolong izinkan saya pakai bath tub."

"Kenapa?"

"S-saya dijebak orang jahat dengan obat perangsang," aku wanita itu blak-blakan, tak sanggup lagi menyembunyikan kondisinya. "Tubuh saya panas ...."

Sebelum Clove sempat menyelesaikan ucapannya, jemari Dewa terulur. Menjepit dan mengangkat dagunya agar wanita itu menatap matanya secara langsung.

"Kamu pikir air dingin bisa meredakan gairah?" tanya pria itu, frontal.

Lutut Clove terasa lemas mendadak. Tatapan sang Konglomerat begitu intimidatif dan mengunci pergerakannya.

"S-setidaknya, bisa mengurangi panas di tubuh saya, Pak."

Dewa menggeleng tipis. "Tidak akan mempan. Obat itu cuma bisa netral dengan bercinta."

Napas Clove makin memburu mendengar kata 'bercinta' keluar dari bibir Dewa.

Pandangannya tanpa sengaja bergulir turun. Menatap leher dan dada bidang yang basah oleh sisa uap panas shower. Pria itu terlihat luar biasa seksi dan dominan.

Di bawah pengaruh racun obat yang menguasai otaknya, bisikan liar mendadak melintas di pikiran Clove.

Alangkah nikmatnya jika ia bisa menyerahkan diri. Melampiaskan seluruh rasa panas ini pada pria sempurna di hadapannya sekarang juga.

Ia membayangkan, keperkasaan pria itu pasti jauh lebih hebat daripada suaminya. Teringat bagaimana suaminya menggauli wanita lain. Dia jadi tergoda untuk membalasnya.

Menyadari perubahan tatapan Clove yang mulai liar dan lapar menyapu tubuhnya, Dewa menyunggingkan senyum licik "Tatapanmu, seolah ingin menerkam saya."

Clove terperanjat. Ia langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan pipi yang kian merona. Ia malu karena pria itu bisa menebak isi kepalanya.

"Ma-maaf, Pak. Pikiran saya sedang kacau karena efek obat itu," cicitnya terbata-bata. Ia berusaha keras menguasai kesadarannya yang kian terkikis.

Dewa menatap wanita di depannya tanpa mengendurkan tekanan intuisinya. "Berhubung saya sedang berbaik hati, saya tidak keberatan membantumu."

Dewa merapatkan jarak. Membuat napas hangatnya berembus di ceruk leher wanita itu.

"Lagipula, cepat atau lambat kita memang harus melakukannya. Tidak ada salahnya dimulai lebih awal."

Clove menggeleng cepat. Rasa panik mendadak menyeruak di antara gelombang panas yang membakar tubuhnya.

"T-tidak, Pak! Saya tidak bisa!"

Ia mengepalkan tangan. Berusaha menahan dorongan liar dari dalam dadanya.

"Status saya masih istri orang. Saya tidak mau jadi pengkhianat, meski suami saya sudah berkhianat."

Dewa terkekeh sinis, menyunggingkan senyum yang meremehkan. Tatapannya menelusuri Clove dari ujung kepala sampai tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

"Istri orang?" cibirnya dengan nada dingin penuh penghinaan. Dia memprovokasi wanita itu.

"Untuk apa kamu menjaga kesucian demi suami yang sibuk memamerkan wanita lain di depan umum?”

“Sudah berapa kali suamimu mengerang kenikmatan di atas tubuh slingkuhannya, hem?”

Kalimat tajam itu menghantam telak. Meremukkan sisa harga diri Clove hingga tak berbekas.

“Jangan lupa, bagaimana bibirnya melumat wanita itu dengan penuh nafsu. Jemarinya menjamah setiap inci tubuh selingkuhannya, dan ....”

Dewa mendekatkan bibirnya ke telinga Clove, lalu berbisik, “... miliknya sudah berulang kali dinikmati oleh wanita lain. Kamu pasti ingat bagaimana dia memompa tubuh jalang itu, kan?”

Bayangan pengkhianatan Reno bersatu dengan gelombang gairah dari efek obat, meruntuhkan seluruh pertahanan terakhirnya.

Akal sehat Clove mulai melayang. Dengan mata sayu yang dipenuhi gelora, kemampuannya untuk mengelak semakin menipis.

“Yakin, tidak mau membalas sakit hatimu?” tanya Dewa, nakal.

Dengan napas yang semakin memburu, Clove memejamkan mata. Hasratnya semakin bergejolak, tetapi ia ragu untuk ‘melewati batas’.

‘Tidak! Aku gak boleh tergoda. Ini salah.

Mas Reno emang berengsek. Tapi bukan berarti aku harus jadi jalang yang menyerahkan diri pada pria lain!’ batin wanita itu, berusaha mempertahankan harga dirinya.

Akan tetapi, obat itu membuat imajinasinya semakin liar. Dia kembali membayangkan bagaimana rasanya melakukan sesuatu dengan pria segagah Dewa di kamar mandi yang penuh uap itu.

Imajinasinya terlalu liar sampai ia tidak sadar Dewa sudah menghisap lehernya. Ia kira itu hanyalah khayalan karena dirinya berada di bawah pengaruh obat.

Sambil menahan napas, dia merasakan jari kekar menelusuri segitiga pengamannya.

Membelai kelembutan yang tersembunyi di bawah sana, memijatnya perlahan hingga lututnya terasa lemas.

Ia semakin mendongak kala jemari kekar itu menelusup masuk dan menggali intinya yang mulai berkedut manja.

Hingga kemudian, dia tersentak saat jemari itu ditarik cepat hingga menimbulkan suara yang membuat kesadarannya kembali. Clove langsung membuka mata.

Dia terkejut saat melihat dewa memamerkan jemarinya yang sudah dipenuhi oleh cairannya.

Clove menelan saliva sambil menahan napas. Dia malu setengah mati saat menyadari bahwa itu bukan khayalan.

“Ternyata tubuhmu tidak bisa berbohong, Nona Love,” desis pria itu dengan tatapan yang berbahaya.

“Kamu tahu? Barusan tubuhmu memeluk jari saya dan menghisapnya agar masuk lebih dalam,” bisik Dewa, dengan nada yang nakal.

“Artinya apa? Artinya kamu memang menginginkan saya. Masih mau mengelak, hem?” sindir sang Konglomerat, sambil menyeringai.

Wanita itu gelagapan. “Saya dibawah pengaruh obat, Pak! Saya harap Anda mengerti,” jawabnya, gugup setengah mati. Namun pikirannya semakin kacau.

“L-lagipula, saya wanita normal. Kenapa Anda tidak sopan, melakukan hal itu tanpa izin saya?!” protesnya.

“Kamu membahas izin? Apa kamu sudah minta izin untuk masuk ke kamar saya, hem?” sambung pria itu, sambil menaikkan sebelah alisnya.

Clove kembali memalingkan wajah. Dia tidak sanggup untuk menatapnya lagi.

“Bagaimana ini? Kamu harus bertanggungjawab karena sudah membangkitkan naga yang sedang hibernasi!” bisik pria itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 63

    Clove kaget bukan main. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat merasakan lingkaran lengan kekar itu mengunci pinggangnya.Ia berusaha menghindar dan memutar tubuhnya. Namun Dewa justru mempererat pelukannya tanpa ampun. Dada tegap pria itu menempel sempurna di punggung Clove."Pak Dewa, lepas!" protes wanita itu dengan suara sepelan mungkin, takut terdengar hingga ke luar. "Saya cuma tidak mau merepotkan Bapak. Saya pikir Anda juga tidak berminat melihat saya memakai gaun ini!"Dewa mendesis halus tepat di dekat telinga wanita itu, tidak peduli dengan alasan yang baru saja ia dengar."Kamu ini selalu saja punya seribu alasan untuk menentang saya," bisiknya dingin, sarat akan kekesalan yang menumpuk. "Kenapa sih kamu tidak pernah mau patuh sekali saja?"Clove meringis menahan sesak di dadanya, berusaha menyiku lengan Dewa meski sia-sia."Bagian mana dari diri saya yang tidak patuh, Pak?!" protesnya lagi dengan nada geram. "Sejak awal pun Bapak tidak pernah memberi saya kesem

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 62

    Clove mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ucapan Dewa barusan benar-benar menusuk ulu hatinya.Pria ini bertindak seolah-olah mereka akan menggelar pernikahan sungguhan yang dilandasi rasa cinta. Padahal, segalanya tak lebih dari sekadar transaksi bisnis penuh paksaan.Clove melangkah enggan, mengitari deretan gaun pengantin yang terpajang di manekin kaca. Hatinya mencibir.‘Nikah sama laki-laki arogan kayak dia aja udah musibah, buat apa pakai gaun mewah?’ batin Clove getir.Trauma atas kegagalan rumah tangganya bersama Reno masih berbekas sangat dalam. Jangankan pesta mewah, membayangkan berdiri di pelaminan saja sudah membuat dadanya sesak.Akhirnya, Clove memilih gaun bersiluet A-line paling sederhana tanpa banyak payet atau renda. Potongannya polos, tetapi tampak elegan. Ia hanya ingin urusan konyol ini cepat selesai."Kalau begitu saya mau yang ini saja, Pak," ujarnya seraya menunjuk gaun pilihannya.Dewa yang sedang bersedekap di sofa VIP langsung menoleh. Dahinya berkerut dalam

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 61

    Clove terkejut setengah mati. Ia menatap kertas di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka Dewa akan berbuat sejauh itu hanya karena ucapan kekesalannya semalam.Padahal semalam ia bicara asal menembak hanya karena emosi yang membuncah. Suasana di meja makan mendadak berubah menjadi sangat canggung.Dengan jemari bergetar gugup, Clove memasukkan kembali lembaran hasil tes kesehatan itu ke dalam map. Ia menaruhnya pelan-pelan di atas meja, seolah takut merusak kertas tersebut."Saya percaya Bapak sehat," ucap wanita itu pelan seraya menundukkan kepala. "Sebenarnya Bapak tidak perlu sampai melakukan hal semacam ini."Dewa menatapnya dengan raut wajah sangat sinis. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi dengan gaya dominan."Lain kali hati-hati kalau bicara di depan saya," tegas Dewa dingin dan tajam. "Karena saya selalu punya cara untuk memberikan bukti."Clove hanya bisa mengangguk patuh tanpa berani memprotes lagi. Ia menganggap ucapan pria di h

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 60

    Liam yang berdiri tidak jauh dari sana, terbelalak kaget setengah mati. Wajah asisten itu memerah menahan malu yang luar biasa atas permintaan absurd bosnya.Namun, dokter spesialis itu tetap menjalankan tugasnya dengan profesional meski sempat terperangah. Seluruh sampel darah pun diambil dan diproses secara kilat di laboratorium.Hingga akhirnya, menjelang pukul tiga dini hari, seluruh rangkaian pemeriksaan medis itu selesai dilakukan dengan hasil yang sempurna.“Kapan hasilnya selesai?” tanya Dewa, sambil berjalan ke arah lobby.Dokter Mulyono yang berjalan di sampingnya itu menjawab, “Paling cepat tiga hari, Pak.”“Terlalu lama! Saya mau pagi ini hasil tes itu dikirim ke rumah saya! Semuanya, tanpa terkecuali!” tegas pria tersebut. Dia pun langsung berlalu begitu saja.Sang dokter sampai oleng dibuatnya. Baginya itu sangat mustahil. Namun, jika Dewa yang meminta, mana mungkin ia bisa menolak.Saat Dewa dan Liam melangkah keluar menuju mobil, suasana kasak-kusuk penuh rasa kagum me

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 59

    Petugas wanita di balik meja tersenyum sopan. "Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"Liam memijat pelipisnya seraya berbisik pelan. "Begini, atasan saya ingin melakukan tes kesehatan menyeluruh malam ini."Resepsionis itu tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh halus. "Maaf, Pak. Untuk tes kesehatan menyeluruh pendaftarannya hanya sampai jam dua siang."Petugas itu menambahkan penjelasan dengan sangat ramah. "Prosedurnya cukup panjang dan laboratorium untuk pemeriksaan rutin sudah tutup. Jika berkenan, saya bisa daftarkan untuk besok pagi jam delapan."Liam mengangguk paham dan berbalik hendak memberi tahu bosnya. "Tuh kan," gumamnya.Namun belum sempat ia melangkah, Dewa yang mendengar percakapan itu dari kursi tunggu sudah berdiri. Pria itu menghampiri meja pendaftaran dengan langkah santai tetapi mengintimidasi."Liam," panggilnya dengan suara datar yang berat.Asistennya menjawab cepat. "Iya, Pak?""Hubungi Direktur Rumah Sakit ini sekarang juga!" perintah Dewa tanpa memedulika

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 58

    Dewa menarik kembali ponselnya, menatap foto kiriman Clove itu sekali lagi dengan senyum tipis yang berusaha ia sembunyikan.Liam yang berdiri di sampingnya seketika memutar bola matanya dan menggerutu di dalam hati.‘Astaga, tingkat percaya dirinya benar-benar sudah tidak tertolong!’ maki Liam dalam batinnya dengan gemas luar biasa. ‘Orang jelas-jelas sindiran karena marah, malah dikira cemburu! Dasar bos bucin yang gengsinya setinggi langit!’‘Pantas saja julukan “level Dewa” itu paling maksimal. Ternyata memang benar adanya.”Sementara itu, Clove yang berada di dalam mobil Aldo bersama Maya tampak duduk bersandar seraya melamun menatap jalanan malam.Ia merasa jalan hidupnya benar-benar terasa rumit dan penuh tekanan.Di satu sisi, ia sangat lega karena bisa segera lepas dari Reno. Meskipun hatinya hancur karena telah dikhianati, melepaskan pria brengsek itu lebih cepat jelas merupakan pilihan terbaik.Namun di sisi lain, ia justru harus terperosok masuk ke dalam perangkap Dewa. P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status