LOGINPOV AuthorTak lama kemudian, seorang pria berjas sangat rapi dengan kacamata berbingkai tipis melangkah mendekati meja mereka. Pria itu adalah Satria. Pengacara papan atas sekaligus kepala tim hukum pribadi Dewa yang kebetulan juga hadir sebagai tamu undangan VIP.Dengan gayanya yang dingin dan tanpa basa-basi, Dewa mengarahkan pandangannya pada Satria. "Ini Nona Clove. Mulai detik ini, kamu tangani kasus perceraiannya. Pastikan prosesnya selesai secepat mungkin."Clove terkesiap. Ia menatap Dewa dan Satria bergantian, tak menyangka pembahasan sepenting dan sesensitif ini disajikan di tengah acara pesta besar.Dewa lalu mengalihkan tatapan tajamnya pada wanita itu. "Sampaikan semua tuntutanmu terhadap pria itu, pada Satria. Apa saja yang mau kamu ambil dari pria itu."Clove mendadak salah tingkah, meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Ia merasa sangat tidak nyaman dan risih.
POV AuthorClove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining. "Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak berubah.Setelah puas menelanjangi dan menyerahkan kekalahan telak pada Reno di luar tadi, aura angkuh dan dominannya kembali menyelimuti wajah tampan itu. Pria itu kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh."Makanlah," ucap Dewa datar. Ia meraih pisau dan garpu untuk mulai menyantap hidangan steak wagyu di piringnya.Clove membeku. Ia menatap piring di hadapannya tanpa menyentuh alat makan sedikit pun. Keraguan dan ketakutan masih menggelayuti piki
POV AuthorTanpa membuang waktu lagi Dewa melangkah maju. Ia tidak memedulikan respons atau raut frustrasi di wajah Reno.Dengan gerakan yang sangat alami, pria itu mengulurkan lengannya ke arah Clove."Mari, Nona Love!"Clove memandang lengan Dewa sejenak. Ada keraguan yang melintas di benaknya. Ia tahu berjalan bersama pria itu akan memancing perhatian seluruh isi ruangan. Namun, teringat betapa jahat dan liciknya Reno yang telah mengkhianatinya dengan Fara, ia memantapkan hatinya. Lagipula, cara Dewa mengambil alih situasi ini sangat halus dan elegan. Di mata publik, pria itu hanya bersikap sopan menawarkan makan malam pada tamu yang terabaikan. Ia merasa dirinya tidak bisa disalahkan dalam posisi ini.Dengan perlahan, ia mendaratkan jemarinya di lengan berbalut jas mewah milik Dewa. Sentuhan itu hangat, mengirimkan desiran aneh yang membakar ingatan Clove pada pergulatan panas yang baru sa
POV AuthorSindiran tajam dan tawaran gila dari Dewa meluncur begitu tenang, membuat Clove membelalakkan mata.Reno tidak kalah terkejut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Punggungnya mendadak kaku. Dadanya bergemuruh menahan gejolak panas yang membakar hingga ke ubun-ubun. Kalimat Dewa yang dilontarkan di depan umum itu jelas-jelas sebuah penghinaan telak terhadap harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, melihat Dewa berdiri tegak di hadapannya, nyali Reno menciut hingga tak berbekas. ‘Bangsat! Mentang-mentang berkuasa, dia ngomong seenaknya!’ makinya dalam hati.Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Menelan saliva yang terasa sepahit empedu. Dengan susah payah, Reno memaksakan sebuah tawa garing yang terdengar sangat memprihatinkan."A-ah, Pak Dewa ini bisa saja bercandanya," tawanya sumbang, berusaha keras menjaga kesopanannya meski wajahnya sudah sepucat kertas. "Mana mungkin saya membiarkan istri saya mendampingi pria lain, Pak."Dewa tidak ikut tertawa. Pria
POV AuthorKeringat dingin membasahi telapak tangan Clove. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. ‘Sial! Kenapa harus dia?!’ batinnya.Kakinya yang masih lemas akibat pergulatan intim beberapa saat lalu serasa hendak luluh ketika menyadari siapa sosok 'pengusaha nomor satu' yang dimaksud Reno. Pria jangkung di hadapannya ini baru saja menindihnya, menggagahinya di atas ranjang presidential suite, dan menandai tubuhnya tanpa belas kasihan.Dewa berdiri tegak, memegang gelas champagne dengan tenang. Tatapan matanya yang pekat merayapi wajah Clove, melirik sekilas ke arah gaun burgundy yang melekat sempurna di tubuh wanita itu.Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Senyum yang hanya dipahami oleh mereka berdua.Clove salah tingkah setengah mati. Bayangan erangan, bisikan vulgar, dan hentakan tanpa pengaman di kamar atas mendadak berputar liar di otaknya.Sementara itu, Reno yang sama sekali tidak menyadari “badai” di depan matany
POV AuthorClove menggigit bibirnya. Rasa penasaran itu membuat dadanya sesak.Namun ia sadar, ia tidak memiliki cukup keberanian untuk mempertanyakan hal itu pada sosok dominan seperti Dewa.Clove masih mengumpulkan kesadarannya yang tersisa. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Meski begitu, berada di kamar itu lebih lama membuatnya semakin tidak nyaman. Bayangan pergulatan panas yang baru saja terjadi di atas ranjang dan di depan cermin besar itu terus berputar di kepalanya.“Sial! Kenapa aku harus inget itu terus, sih?!” keluh wanita itu. Wajahnya sampai panas karena malu.Ia memaksakan diri turun dari tempat tidur. Namun, begitu kedua kakinya menapak lantai, rasa perih yang tajam di area sensitifnya langsung menjalar, membuat langkahnya terhenti seketika.‘Ck! Buas banget, sih,’ maki Clove dalam hati.Padahal ia bukan lagi seorang perawan. Namun hentakan dan dominasi Dewa tadi terasa jauh lebih menyiksa sekaligus intens daripada malam







