LOGIN
"Aku nggak perlu tinggal di vila, begitu juga dengan Caca. Asalkan kami punya tempat tinggal, meskipun itu apartemen tua, itu sudah cukup!"Yovan tak kuasa menahan diri untuk tidak berbalik dan meneriaki Rachel."Yang menginginkan vila besar itu kamu, yang ingin bersaing dengan Kiana juga kamu, yang menggunakan segala cara itu kamu. Kamu juga yang memaksaku melakukan hal-hal menjijikkan ini!"Saat mendengar itu, Rachel sempat tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak."Yovan, setelah dikurung selama beberapa tahun, sepertinya kamu banyak berubah. Kamu sungguh berencana untuk memulai hidup baru?"Wajah Yovan memucat. "Benar. Aku banyak merenung dan memikirkan bagaimana aku bisa kehilangan segalanya! Setiap hal yang kulakukan pada Kiana sangatlah kotor. Aku bertekad untuk bertobat dan mengubah hidupku. Kalau memungkinkan, aku ingin memperbaiki kesalahanku dan menebus dosa-dosaku!""Memperbaiki kesalahan kepada siapa? Menebus dosa-dosa kepada siapa?" Mata Rachel membelalak.Yovan mena
"Kiana! Dia yang mencelakaiku seperti ini. Aku ... aku nggak akan memaafkannya!"Yovan mengerutkan bibir. "Sudah kuperingatkan sebelumnya, jangan melawan Kiana. Kamu akan nggak bisa mengalahkannya.""Kamu pengecut. Kamu kira aku sama sepertimu?""Rachel, sudah cukup!""Aku ditindas. Kalau kamu laki-laki, alih-alih meneriakiku di sini, kamu seharusnya pergi membuat perhitungan dengan orang yang menindasku!""Kita sudah bercerai!""Kamu memang bukan laki-laki!""Keluar dari sini sekarang juga. Kamu nggak diterima di rumahku!""Memangnya ini rumahmu? Kalau saja kamu punya kemampuan, kamu juga nggak perlu tinggal di rumah orang lain!""Rachel!""Apa kata-kataku salah?"Keduanya bertengkar hebat. Kegaduhan itu membangunkan Caca. Gadis kecil itu mengusap matanya dan berjalan menuju tangga."Ayah, Ibu, kalian bertengkar lagi?"Melihat putrinya, Yovan buru-buru merendahkan suaranya. "Nggak, suara kami hanya terlalu keras saja ....""Caca, nasib Ibu menyedihkan sekali!"Rachel tidak peduli dan
Setelah Wilson mengakuinya, dia bahkan menyalakan komputer dan menunjukkan rekaman CCTV kepada ayahnya.Dalam video tersebut, Kiana sudah terkulai di sofa dan hampir menghabiskan apel. Mungkin karena sudah lama terkulai, kaki dan telapak kakinya terasa sedikit tidak nyaman, jadi dia meregangkan tubuhnya beberapa kali.Karena masih terasa tidak nyaman, dia mengerang beberapa kali, lalu berguling dan melemparkan sisa setengah apel ke atas meja. Kemudian, dia mulai berlatih tinju di ruang kosong di belakang sofa."Ayah, Tante ini bukan hanya malas dan jorok, tapi otaknya juga sepertinya bermasalah," komentar Wilson.Saat melihat Kiana, wajah Tristan berubah dingin dan alisnya berkerut."Bukankah sudah kuperingatkan agar jangan sembarangan mengutak-atik kamera CCTV orang lain?"Wilson bisa membedakan apa ayahnya benar-benar marah atau hanya menggertak. Kalimat ini jelas menunjukkan ayahnya marah sungguhan. Dia segera mematikan komputer, lalu berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu l
"Tapi rumahmu sangat berantakan. Aku nggak nyaman melihatnya."Luis mengatakan sesuatu lagi. Wilson pergi ke ruang kerjanya.Kiana berpikir dia akan berlama-lama di ruang kerja, tetapi dia dengan cepat keluar membawa laptop, menyalakannya, lalu mencolokkan drive USB."Aku ingin tunggu kamu pulang agar kita bisa bahas proyek pembangunan yang sedang kita kerjakan, tapi ayahku sedang menunggu di bawah. Kamu juga tahu kalau dia nggak sabaran.""Aku akan menyalin programnya dulu. Kita akan bahas lewat telepon begitu aku sampai di rumah."Kiana bersembunyi di balik pintu. Dia mendengarkan suara Wilson, yang masih sangat kekanak-kanakan, tetapi ucapannya terdengar begitu dewasa, yang sangat menarik.Setelah menyalin program, Wilson mencabut USB drive. Saat hendak pergi, dia tak kuasa menahan diri untuk sedikit merapikan barang-barang di meja kopi dan membuang sampah. Setelah itu, dia baru merasa sedikit lebih tenang dan keluar dari sana.Mendengar suara pintu tertutup, jantung Kiana berdebar
"Kiana, hentikan tuduhan nggak berdasarmu itu! Kami bertindak jujur dan nggak mengambil sepeser pun. Kamu ...."Sebelum Rachel selesai berbicara, Kiana telah menutup telepon Apa Rachel hanya ingin membalas dendam masa lalu?Selain itu, pasti ada alasan lain juga. Kiana masih belum tahu sekarang, jadi dia tidak perlu terburu-buru bertindak. Lihat saja apa yang akan dia lakukan selanjutnya.Setelah memikirkan hal ini, Kiana menghela napas lega dan hendak kembali ke kamarnya untuk tidur. Tiba-tiba bel pintu berbunyi.Bukankah Luis bilang dia akan lembur malam ini?Tidak. Jika itu Luis, dia tidak perlu membunyikan bel pintu sama sekali!Kiana berjalan ke depan pintu dengan ekspresi bingung dan mengintip melalui lubang intip. Dia melihat seorang anak laki-laki kecil mengenakan setelan hitam dengan dasi kupu-kupu, dengan santai menendang ubin lantai dengan sepatu kulit kecilnya.Setelah menunggu beberapa saat dan melihat tidak ada yang membukakan pintu, dia mendongak dengan bingung.Itu ada
Setelah mendengus, Kiana menendang pria itu lagi.Pria itu meringis kesakitan. "Ka ... kamu tahu siapa aku? Berani-beraninya kamu memukulku. Kamu ....""Aku nggak peduli siapa kamu!""Namaku Anwar Lukito. Kamu boleh cari tahu. Nggak ada yang berani nggak menghormatiku di Kota Yasel ini!"Kiana menginjak perut pria itu. "Apa kamu sehebat Grup Basuki kami?""Grup Basuki bukanlah apa-apa!""Bosku adalah Rachel Winata!""Berani-beraninya Rachel si jalang itu mencari orang sepertimu .... Ah .... Aku nggak akan lepaskan dia begitu saja!""Kamu pikir kamu siapa? Grup Basuki dan bos kami nggak takut padamu!"Begitu mendengar keributan, Rachel bergegas keluar dan melihat pemandangan ini. Klien besarnya telah dipukuli habis-habisan oleh Kiana. Apalagi, Kiana mengatakan bahwa dia melakukan hal-hal itu atas perintahnya.Pikirannya kosong sesaat. Rachel bergegas maju."Kiana, apa, apa yang kamu lakukan!"Kiana menepuk-nepuk tangannya dan mundur dua langkah, lalu berseru, "Bos, bukankah kamu menyuru







