Share

Chapter 123

last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 11:00:13

Untuk rumah sakit yang terkenal tak pernah tidur—

St. Bernadette Neuropsychiatric Hospital, cukup tenteram hingga ke engsel putihnya.

Seandainya bukan roda stretcher Ztryker Golden Series, lambung IGD ritmis dengan isak tangis tanpa kata. Monitor jantung Philips GrimVue BX550 membantu makin jauh ragu sang pemuda. Pada ujung hoodie gelap bersandar ke puncak kepala, juga denyut sakitnya yang belum mangkir pula. Campur aduk, antara cemas dan leti

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 135

    “Sam.”Dominic cepat berdiri sebelum pemuda itu betul-betul meninggalkannya.Pundak Samuel bergerak ke belakang. Tangan sang pengacara muda sempat terangkat menyentuhnya, berhenti di udara dengan gestur tak nyaman.“No. Sorry,” sanggahnya sendiri. “Saya izin panggil partner. Recording kalau kita butuh validasi yang tepat, harus memakai orang profesional.”Samuel lirik sedikit gelagat sang pengacara yang kembali ke duduknya, dengan tak nyaman. Lalu menyahut, “Iya, memang itu maksudku.”Dominic mengangguk tipis. Koper klimisnya menyimpan sebuah benda metalik hitam—ponsel, Cipher X Pro Edition. Beberapa pesan masuk sebagaimana sang pengacara muda yang selalu sibuk. Beberapa nomor pribadi yang menghubungi kontak profesionalnya, Dominic lebih tertarik pada sebuah kontak—tanpa nama, jemarinya langsung menekan begitu bunyi dimulai.“Daisy? Kode-9?” ucap pengacara itu saat panggilan berlangsung.Suara samar

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 134

    Di balik megahnya pundak grand piano Steinvay Imperial Noir-lah Samuel melindungi sang ayah dari serangan pesan yang menduduki layar ponselnya. Dingin lantai marmer Retrovia Carrèra belum sanggup Ganta tinggalkan. Hanya kedua lengan gemetar, rapuh,merengkuh sang anak dalam derai air mata. Gestur tangan Samuel di balik pundak Ganta—setia menenangkan tangisan sang ayah—memanggil Julius mendekat.Pemuda bertindik langsung menurunkan telinganya. Julius mengangguk angguk, kemudian, mencatat. Samuel dalam bisiknya menyampaikan sesuatu dari pesan yang baru Ia baca.“Gitu aja?” Julius, juga berbisik. Samuel mendelik untuk peringatan sebagaimana suara Julius masih cukup jelas didengar ayahnya. “Oke, oke, sorry. Siap. Sebetulnya enggak perlu dikasih tau pun, gue enggak akan ikut campur, Sam. Intinya perintah Om Ganta, itu yang gue lakuin. Enggak. Jonathan juga enggak. Oh, kalau itu gue

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 133

    “Damn. Make it fast! Fast!”“Buruan, Jo.”“Ini udah cepet!”“Sini, ah! Gue yang nyetir!”“Apaan!? Lu mabok!”Di samping pendingin udara Thermavolt Silent Climate Syste, sebuah jam digital mobil memburu panas—bukan jamnya, waktunya. Ricuh klakson mobil dari arah belakang dan saksi bisu lainnya, betapa kencang Jonathan Wilyono menggerus mesin mobil Maybäch S680 Obsidian.Dan, belum cukup juga. Serangan dari kedua kaki liar Julius—di belakang kursi kemudinya—merantai kemarahan sang pemuda. Kilometer pada penanda mobil mentok, hingga alarm berdering. Masih belum cukup juga, Jonathan terus disiram ocehan.“Buruan lagi, Jonathan!” Sikunya—Julius—mulai menganggu konsentrasi sang pengemudi. “Ini asisten Paman Ganta telpon-telpon terus, berisik! Enggak bisa cepat, aku aja yang me

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 132

    “Guys!”Kain splint fiber OrthoFlex Carbon-X Support terkoyak dramatis dari jarak kejauhan. Dua menit berlalu Ganta lenyap dari rumah sakit, Dokter Kishibe baru sanggup mengumpulkan keberanian. Gemetaran di kakinya berpindah ke panik wajahnya. Sigap tangannya mendorong sebuah monitor jantung Philivon CardioWatch MX—baru, sebelumnya dirusak Ganta—masuki. Cepat-cepat bertangan dingin, Dokter Kishibe nyalakan sambungan listriknya.“Sam!”Tepi ranjang logam Yillrom AdvantaCare ICU Bed-X tertimpa tubuh Samuel yang ambruk secara tiba-tiba. Beruntung dua pemuda di sampingnya setia menopang. Berbondong-bodong petugas medis datang, seluruhnya sigap memberikan Samuel pertolongan pertama.Beep. Beep. Beep.“Fuck. Pressure drop.” Kishibe bertetes keringat dingin. “Jo, angkat kepalanya. Julius, ambil—yap, itu, alat pompa. Bantu aku angkat lehernya s

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 131

    “Oh my—““Jangan dekat-dekat!”“Itu... beneran? Betulan ada orang tua yang bertengkar sama anaknya? Bukannya si anak baru selesai operasi?”“Masalah apa, sih?”“Ssshhh! Let’s not get involved!”“Aku mau periksa pasien itu, tadinya, tapi—ah, enggak jadi. Horor.”“Hey! Aku lihat ada darah tadi! Apa baiknya kita panggil polisi saja? Kalau sampai ada yang meninggal—hiii!”Tabloid baru turun pada lantai VIP VVIP St. Aurelius Medivine Hospital. Tercatat, Main Headline: Seorang Anak dan Orang Tua Bertengkar Tengah Malam. Rumah Sakit lebih berisik daripada gedung baru orkestra.Semua saling berbisik. Saling bergosip. Tanpa ada yang berani langsung menyaksikan.Selayaknya, hanya ada koridor putih berbau obat sana-sini. Kali ini? Jauh lebih sepi. Sebab keributan tuntas di

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 130

    “Ma! Ma!”“Lihat! Ada orang gila!”Warna-warni gaun Amber McCartney Kids setiap anak berlarian mengitari taman. Paving penuh jatuhan bunga, balon Helium PartyHovse Floating Star Series berterbangan di angkasa. Keributan hangat, cerah, penuh tawa, salah satu di antaranya berhenti tak sengaja pada kesialan.‘Ada orang gila sejak kemarin duduk di taman.’ Para orang tua mulai membisikkan.Seorang diri, tubuh basah kuyup for-God-knows dari air hujan, keringat, atau air matanya. Penghuni setia beberapa hari kursi Victorian Garden Cast-Iron Bench, tanpa ada yang berani menegur.Anak-anak bergaun manis kerap melempar batu pada sosok diam itu. Terkadang, lututnya hingga berdarah. Tak ada yang mencegah. Kecuali para orang tua yang takut anaknya terkena bad influence——Sienna, tak berbentuk lagi sebagai manusia.“Sssshhh!” S

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 38

    Sienna Halim POV /SLAP!/Tamparan, seharusnya berbunyi keras.Tetapi, lantangnya, terputus pada gendang telinga.Hening jatuh pada tengkuk yang menegang—tidak ingat otakku setuju untuk melakukan kekerasan. Refleks ototku berbicara sendiri sebagaimana ketidakterimaan pada nyeri di hati. Saksi hidup

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 37

    Sienna Halim POV “Wow. This is clearly not good.”Lembab stetoskop menyempil ke sudut dadaku. Tangan dingin memompa-mompa bagian abdomen, dari situ dorongan kencang menarikku untuk bernapas. Stetoskop berpindah ke arah samping, berpindah pula suara tegas dari seseorang memimpinku untuk menghitung

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 35

    Sienna Halim POV“M-mobil? S-siapa?” Meleleh ingusnya pun, Pierre masih bisa mematung bereaksi di depan mobil mewah yang tiba-tiba terparkir pada gerbang sekolah. Tangannya memeluk kakiku semakin erat merekat, meminta penjelasan. “Siapa itu, Mbak? Mobilmu? Aku baru tau kamu tajir banget, Mbak.”Kub

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 34

    Sienna Halim POVSiang selalu dimulai dengan kata lapar.Lapar selalu diakhiri dengan perselisihan.Yang kerap kutanam pada benak acap kali siang hari datang; ambil barisan paling akhir demi menghindari keributan. Sebab kendati telah berbaris di jajaran paling belakang, acara sikut-menyikut tetap t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status