FAZER LOGINGerak-gerik bersumber signal booster Gamma-IV Network terkirim satu-persatu dengan tujuan portable router terenkripsi Nighthawk M6 Pro. Tak ubah di seberang, toolkit elektronik iVixit Pro Tech dengan ratusan kabel menyala di dalamnya.
Tabung cairan bening Land Rover Defender 130 bergelembung terus menerus, sebagaimana uap panas laptop berlayar Lazer-Blade mengepul tanpa habis. Jika Thermal Scanner kedua berbunyi, J
“Sam.”Dominic cepat berdiri sebelum pemuda itu betul-betul meninggalkannya.Pundak Samuel bergerak ke belakang. Tangan sang pengacara muda sempat terangkat menyentuhnya, berhenti di udara dengan gestur tak nyaman.“No. Sorry,” sanggahnya sendiri. “Saya izin panggil partner. Recording kalau kita butuh validasi yang tepat, harus memakai orang profesional.”Samuel lirik sedikit gelagat sang pengacara yang kembali ke duduknya, dengan tak nyaman. Lalu menyahut, “Iya, memang itu maksudku.”Dominic mengangguk tipis. Koper klimisnya menyimpan sebuah benda metalik hitam—ponsel, Cipher X Pro Edition. Beberapa pesan masuk sebagaimana sang pengacara muda yang selalu sibuk. Beberapa nomor pribadi yang menghubungi kontak profesionalnya, Dominic lebih tertarik pada sebuah kontak—tanpa nama, jemarinya langsung menekan begitu bunyi dimulai.“Daisy? Kode-9?” ucap pengacara itu saat panggilan berlangsung.Suara samar
Di balik megahnya pundak grand piano Steinvay Imperial Noir-lah Samuel melindungi sang ayah dari serangan pesan yang menduduki layar ponselnya. Dingin lantai marmer Retrovia Carrèra belum sanggup Ganta tinggalkan. Hanya kedua lengan gemetar, rapuh,merengkuh sang anak dalam derai air mata. Gestur tangan Samuel di balik pundak Ganta—setia menenangkan tangisan sang ayah—memanggil Julius mendekat.Pemuda bertindik langsung menurunkan telinganya. Julius mengangguk angguk, kemudian, mencatat. Samuel dalam bisiknya menyampaikan sesuatu dari pesan yang baru Ia baca.“Gitu aja?” Julius, juga berbisik. Samuel mendelik untuk peringatan sebagaimana suara Julius masih cukup jelas didengar ayahnya. “Oke, oke, sorry. Siap. Sebetulnya enggak perlu dikasih tau pun, gue enggak akan ikut campur, Sam. Intinya perintah Om Ganta, itu yang gue lakuin. Enggak. Jonathan juga enggak. Oh, kalau itu gue
“Damn. Make it fast! Fast!”“Buruan, Jo.”“Ini udah cepet!”“Sini, ah! Gue yang nyetir!”“Apaan!? Lu mabok!”Di samping pendingin udara Thermavolt Silent Climate Syste, sebuah jam digital mobil memburu panas—bukan jamnya, waktunya. Ricuh klakson mobil dari arah belakang dan saksi bisu lainnya, betapa kencang Jonathan Wilyono menggerus mesin mobil Maybäch S680 Obsidian.Dan, belum cukup juga. Serangan dari kedua kaki liar Julius—di belakang kursi kemudinya—merantai kemarahan sang pemuda. Kilometer pada penanda mobil mentok, hingga alarm berdering. Masih belum cukup juga, Jonathan terus disiram ocehan.“Buruan lagi, Jonathan!” Sikunya—Julius—mulai menganggu konsentrasi sang pengemudi. “Ini asisten Paman Ganta telpon-telpon terus, berisik! Enggak bisa cepat, aku aja yang me
“Guys!”Kain splint fiber OrthoFlex Carbon-X Support terkoyak dramatis dari jarak kejauhan. Dua menit berlalu Ganta lenyap dari rumah sakit, Dokter Kishibe baru sanggup mengumpulkan keberanian. Gemetaran di kakinya berpindah ke panik wajahnya. Sigap tangannya mendorong sebuah monitor jantung Philivon CardioWatch MX—baru, sebelumnya dirusak Ganta—masuki. Cepat-cepat bertangan dingin, Dokter Kishibe nyalakan sambungan listriknya.“Sam!”Tepi ranjang logam Yillrom AdvantaCare ICU Bed-X tertimpa tubuh Samuel yang ambruk secara tiba-tiba. Beruntung dua pemuda di sampingnya setia menopang. Berbondong-bodong petugas medis datang, seluruhnya sigap memberikan Samuel pertolongan pertama.Beep. Beep. Beep.“Fuck. Pressure drop.” Kishibe bertetes keringat dingin. “Jo, angkat kepalanya. Julius, ambil—yap, itu, alat pompa. Bantu aku angkat lehernya s
“Oh my—““Jangan dekat-dekat!”“Itu... beneran? Betulan ada orang tua yang bertengkar sama anaknya? Bukannya si anak baru selesai operasi?”“Masalah apa, sih?”“Ssshhh! Let’s not get involved!”“Aku mau periksa pasien itu, tadinya, tapi—ah, enggak jadi. Horor.”“Hey! Aku lihat ada darah tadi! Apa baiknya kita panggil polisi saja? Kalau sampai ada yang meninggal—hiii!”Tabloid baru turun pada lantai VIP VVIP St. Aurelius Medivine Hospital. Tercatat, Main Headline: Seorang Anak dan Orang Tua Bertengkar Tengah Malam. Rumah Sakit lebih berisik daripada gedung baru orkestra.Semua saling berbisik. Saling bergosip. Tanpa ada yang berani langsung menyaksikan.Selayaknya, hanya ada koridor putih berbau obat sana-sini. Kali ini? Jauh lebih sepi. Sebab keributan tuntas di
“Ma! Ma!”“Lihat! Ada orang gila!”Warna-warni gaun Amber McCartney Kids setiap anak berlarian mengitari taman. Paving penuh jatuhan bunga, balon Helium PartyHovse Floating Star Series berterbangan di angkasa. Keributan hangat, cerah, penuh tawa, salah satu di antaranya berhenti tak sengaja pada kesialan.‘Ada orang gila sejak kemarin duduk di taman.’ Para orang tua mulai membisikkan.Seorang diri, tubuh basah kuyup for-God-knows dari air hujan, keringat, atau air matanya. Penghuni setia beberapa hari kursi Victorian Garden Cast-Iron Bench, tanpa ada yang berani menegur.Anak-anak bergaun manis kerap melempar batu pada sosok diam itu. Terkadang, lututnya hingga berdarah. Tak ada yang mencegah. Kecuali para orang tua yang takut anaknya terkena bad influence——Sienna, tak berbentuk lagi sebagai manusia.“Sssshhh!” S
Samuel Yudhistira POVBahkan ajal pun, tak pernah mengemudi secepat ini.Setir mobil bergetar di tanganku—atau, tanganku yang bergetar.Jantungku sesempit diseret, seperti pada kecepatan tak manusiawi kendaraan ini. Terikat pada bumper, terseret pada aspal, kubayangkan diriku sendiri berkali-kali,
Timur pucat arunika berlenggak-lenggok dalam selembaran yang terurai pawana. Keduanya dinaungi atap bahtera langit sepi, senyap, kekurangan saksi mata kepanikan yang membendung.Seandainya sang dokter dapat menghentikan angin, Ia turut berprihatin meskipun semua bukan terjadi dalam kehendaknya. Si
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya.
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi







