Share

Chapter 110

last update publish date: 2026-05-12 10:00:38

“Aku izin ngerokok—“ Davindoff & Dughill dalam  saku diambil. Sebatang rokok tampak, Julius kembalikan lagi tak lama kemudian. Lelaki itu garuk-garuk tengkuk tak nyaman dihadapkan dengan perut besar Sienna. “Enggak jadi. Pinjam tablet-mu saja, dong.”

“Whoa—keren. Dah lama banget pengen coba tab-nya Sam.” Suara dari game Last & Furious menggemakan sekujur ruang tamu itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 111

    [Ambulance - St. Edenbridge Medical Center]“Penurunan. Test. Test. Pasien nomor 001. Drop pulse. 90, 79, 70, 60. Test! Test! Drop pressure!’“Test. Dari depan, naikkan flow IV. Stabilizer, please.”Philips EntelliVue MP5 Monitor bekerja keras menampilkan lonjakan garis-garis EKG. Semuanya tak stabil. Kacau. Perawat di paling depan terdiam di depan monitor, dengan angka denyut jantung terus menurun.“Vena! Di vena!” Seorang perawat senior maju dari bangku depan. Ibu jarinya cekatan memompa pergelangan tangan pucat, dingin, mencari pulse sebelum jarum infus terpasang. Gaxter 0.9% Sodium Chloride IV Solution menetes deras di atas wajah penuh dengan selang-selang. Sayap kanan sibuk membetulkan jalur infus, perawat senior terpucat melihat state di monitor yang begitu mengerikan.Terguncang halus, tubuh dingin Sienna di hamparan

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 110

    “Aku izin ngerokok—“ Davindoff & Dughill dalam saku diambil. Sebatang rokok tampak, Julius kembalikan lagi tak lama kemudian. Lelaki itu garuk-garuk tengkuk tak nyaman dihadapkan dengan perut besar Sienna. “Enggak jadi. Pinjam tablet-mu saja, dong.”“Whoa—keren. Dah lama banget pengen coba tab-nya Sam.” Suara dari game Last & Furious menggemakan sekujur ruang tamu itu. Tablet terbaru Orvantis Slate Pro dipangku Julius yang sudah nyaman dengan posisinya. “Sie, ayo main. Kau punya tab satu lagi, kan?” Julius bertanya. Bantal sebelah pinggang Sienna disentuh-sentuh oleh telapak kakinya. Sesekali, lirik Sienna yang sibuk menyeruput sup kentang.“Oi, dicuekin,” kesal, Julius. “Sini, main. Don’t even think buat kabur. Samuel bayar banyak buat aku jaga kau hari ini. Te

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 109

    “Hal pertama harus dipahami; newborn baby masih sangat fragile—““—Tulang dan otot belum terbentuk semua. Kontrol mereka belum stabil. Untuk itu, para new parents harus memiliki ketelitian. Alat ini juga, Bu, Pak, bisa membantu Bapak Ibu dalam menggendong bayi nanti, ya.”Satu lembar dibuka.Panduan, salah satunya dari Aurelia Maternity Line, sebuah brand berafiliasi dengan Yayasan Budi Abdi Medika—yang Ganta sewa sebulan penuh secara pribadi. Sebuah replika bayi dilengkapi suara, di bawahnya, diletakkan kain katun. Peragaan keempat untuk sesi hari ini dimulai.Satu dokter memegangi kepala boneka yang di-setting menangis. Perawan lain, membantu dari depan. Dr. Elara Voss bergerak terlatih, lembut, perlahan, mengangkat replika boneka bayi menangis dari cradle.“Ibu Sienna mau bantu?” Dr. Elara Voss mengarahkan sang bayi ke depan, ters

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 108

    “J-Jo—“Lengan ditarik.“K—kkghhh.”Leher ditekan.“Fucking dammit...”Lidah digigit.Bantal silk milk diletakkan di bawah lekuk punggung Christine—di sana, Jonathan, menghujam lagi. Pose vagina down arrow membuat gerak panggul Jonathan makin cepat, makin licin, tak tersisa celah pun dari kelamin mereka.“Ugh—ughk!” christine terbatuk-batuk. Sakit tadi mulai mereda dari pinggangnya. Tersisa hanyalah sesak, panas, dari gerak maju-mundur, dorong-masuk, penis hard rock Jonathan. Beberapa detik—mungkin merasa pegal—gerak panggul Jonathan perlahan berhenti. Christine pakai untuk meraih bantal-bantal di sekitarnya.Ronde pertama selesai, Jonathan menyerbu lagi. Kuat cengkeraman tangan Christine sebagai ganti mulut mengerang, terbenam pada lapisan kain sprai dan bantal. Pinggangnya ditekan habis ole

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 107

    Dada telanjang, naik turun berat—Jonathan.Sprai Éthera Silk Reserve, di atasnya, napas naik turun berat—Christine.Tulang selangka berkilauan keringat satu hujan dengan Terik Celestra Warm Halo Lamp. Panas, pengap, lembab. Dua tokoh saling berebut udara, masing-masing lenyap dalam tatapannya.“C-Christ...” —Jonathan, suaranya paling banyak hilang.‘Oh, Christine pasti merasa puas.’ Otaknya bersuara. Separuh dari sex toys koleksi sang gadis berhasil debut di tubuhnya. Bekas memar, gigitan, sumbatan, jepitan. Hanya wajah Jonathan yang bebas dari bekas-bekas cinta.Jonathan terlentang dengan pandangan berkabut. Kunang-kunang menari di kepalanya. Panas di tubuh pemuda itu anehnya belum hilang juga. Pada sisi ranjang, Christine mulai masuk-memasuk, susun-susun sex toys kembali ke tempat. Permainan selesai, sang wasit mulai cuci tangan.Harusnya

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 106

    —gggrrrr.“Ha—ahhhnnn!”—ddrrrttt.“Ugh.”“Nghhh.”“Huu.”—zzztttttt.“Argh! C-Christ—““Ggrrrhhhh.”—bbzzztt.“Hmpp—AGGHHH.”“Hm.”Buka, tutup, kunci sebelah meja Orlencia Lacquer Console. Sebelah tangan memangku dagu, ekspresi tak puas. Lapisan beludru gelap Noirvelvet Lining di dalamnya—rapi, bagai rak-rak perhiasan kecil. Sang pemilik mendaratkan tatap analisis di sana.“Hm.” Christine bergumam lagi. Latar belakang suara getara, desahan, sentakan, jeritan, erangan, tak dipedulikan. Fokusnya menyerap pada deretan sex toys dalam etalase berlogo Christine’s Intimates Collection. Memilih, menghitung.Sex toys mana lagi yang harus Ia coba ke tubuh J

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 63

    Debu angin peninggalan Porsche Taycan dari laju kencangnya menerpa rok pleated hitam Christine. Tangannya belum ingin mangkir dari posisi melambai, jari jemarinya mengendur hanya untuk meluapkan kekosongan yang Jonathan tinggalkan.“Ha...” Christine melenguhkan napas tanpa udara. Sepatu

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 62

    Jonathan Wilyono POV Toile de Jouy corak gagal melengkung sempurna. Bentangan abu-abu tirai blackout hanya memudarkan panasnya, bukan cahayanya. Marmer cream di bawah kami memantulkan terik pagi bertumpuk-tumpuk. Bagai ingin menginterogasi niat kaburku yang gagal selama dua pagi ini.

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 61

    “Senpai enggak bermaksud buat aku mengurus persalinan anak ini, kan? Enggak mau. Nyebelin. Cari dokter lain aja. Aku memang punya lisensi kedokteran, tapi mengurus persalinan itu nyebelin! Aku benci suara bayi!” Kishibe terus mendumal dengan bahasa ibunya. Bukti, Ia mulai jengah berada di Indones

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 59

    First fact: kedatanganku hanya untuk menghentikan sesuatu.Second fact: seorang dokter, hadir menghalangi, membunuh bayiku.Third fact: pembunuh. Itu yang Sienna panggilkan untukku.Menyaingi Polka Dot Stingray. Tenggelam, akuarium kering, tersengal-sengal napas. Kebebasanku direnggut usai Sienna m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status