تسجيل الدخول“—yah,”
“—kapan, ya, terakhir—aku lupa. Yudhistira itu banyak, banyak banget mixed blood. Sam, Victoria, walau mereka cousins, basically mereka hampir enggak ada ‘darah’. Dulu, Tante Diana sama Paman Ganta juga dijodohkan. Cuma, karena ada Tante Carla, so, enggak jadi.”
“Tapi, gara-gara itu juga Tante Diana ngebet banget buat jodohin anak semata wayangnya, Victoria—dan,
“Please, satu jam—bukan, setengah jam. Aku minta setengah jam break. Nanti susul Louis lagi.” Lengan ramping terangkat, jarum panjang arloji Vertaine Lumière Rose Edition tampak. Christine geser digital alarm jam tangannya turun beberapa milisenti. Sisi lain dari dirinya, masih menghadapi sang Papa dengan sejuta kemauan.Matanya ikut terpejam sebentar. Napasnya berkali-kali turun dan tak satupun kecemasan selesai. ‘Louis sialan,’ dalam pikir gadis itu. Ia sambar ponsel satunya untuk menginformasi sekretaris—Cleo—kelabakan. Andai tadi Christine buru-buru bawa Jonathan pergi, Louis tidak perlu melihat, dan dirinya tak perlu disemprot kedua orang tua.Pria lima tahun beda dari dirinya tadi—Louis Xiang, teman masa kecil yang dulu sempat jadi kakak kelasnya. Di antara semua lelaki orang tuanya jodohkan, Louis satu-satunya yang bisa Christine toleransi.Bukan berarti ga
Dua tangan refleks mencari pegangan pada sisi Valmere Gold Crest Chair, tegang napas patah menjadi potongan pendek. Usaha keras Jonathan agar tak terjerembab ke dada gadis di depannya—Christine, menarik leher dasi Jonathan sekuat tenaga. Pemuda itu telah menunjukkan tanda-tanda hilang napas—tercekik, pun, Christine tak mempedulikan belas kasihan.“Coba ngomong,” suara Christine berubah rendah. “Kamu tadi telpon, terus dimatiin. Apa? Ada apa? Cepat ngomong.”“Enggak. Sorry, Christ. Tadi salah pencet,” gemetaran, Jonathan akhirnya bisa jawab. Sebisa mungkin pemuda itu alihkan wajah ke samping. Gestur perintah Christine untuk menatapnya benar-benar di abaikan.“Hah?” Tarikan pada leher dasi Jonathan terlepas, sang gadis mundur sedikit. Belahan samping sanggulnya Ia remas—kencang—sebagai ledakan emosi. Jonathan dilihatnya dari atas; mungkin jika ini adalah hari-hari
Hujan cahaya menuruni siku-siku ballroom. Porselen Montclaire Porcelaine seterang gading-gading pada pilar—prok, prok, prok, berisik penghuninya. Tepuk tangan meriah disambut pagelaran terakhir sebagai main dishes. Melamun namun juga mengikuti, sendok perak Vandôme Sterling Set bertengger di atas piring Jonathan yang setia penuh. Sienna sudah wanti-wanti untuk Jonathan habiskan lunch sekaligus breakfast-nya hari ini, mengingat sang pemuda hilang berat badan terlampau banyak.Tanyakan pada perut Jonathan yang selalu mual setiap di meja makan. Apalagi, partner duduknya sudah pergi sedari tadi.Detak tepuk tangannya cemas sendiri. Pernikahan telah meluncur dari acara puncak, Jonathan duduk sendirian di tengah lautan berisiknya manusia. Kursi Rivelle Banquet Goldback, genggaman bertumpu pada paha, siku-siku tak nyaman di tempatnya. Formal attire Jonathan pakai mendadak ter
Ganta Yudhistira POVDenting pianissimo dari tuts ivory—tempo, satu ketukan, naik dua per empat, enam, delapan—sang maestra mulai menguasai luas podium. Irama strings, one, two, three. Bagai berhitung. Ketukan ritme pinggul sang gadis terus berirama.Turun menyentak, deep, masuk ke dalam, memenuhi rongga. Ditarik kasar, desahan, lalu, menyentak. Sang pria di bawahnya dijadikan bahan mainan, bahan percobaan. Tubuh ganta bagai grand piano berbagai tuts. Tiap sentuhan sang gadis berikan, Ganta mendesah dengan cara berbeda.Naik turun, sang gadis memompa kelamin pria di bawahnya. Suasana jatuh bagai andante con moto. Sang pria pasrah mendesah, tenaganya tak kuat lagi hanya sekadar mendorong ‘rival’ yang menungganginya.Maju mundur, tergesa, namun juga tidak. Lutut sang gadis menekan sisi bantalan sofa, bahunya condong ke depan, sebelah paha mengangkang ke
Ganta Yudhistira POVFerris wheel—oh, salah. Yang tengah berputar-putar dramatis di atas matanya, adalah kepalanya sendiri.Tak satupun bagian dari ruangan mewah itu stay pada tempatnya. Temaram lampu kristai Lunaris Halo Drop bergeser perlahan. Begitu pula tanganya, yang terasa tak bisa diam di suatu tempat.Ganta asing merasakan isi kepalanya sendiri. Gelas terakhir liquor membuat tenggorokan tersayat-sayat. Ia mabuk, kah? Jarang sekali, seorang Ganta bisa kehilangan control kendali diri. Saraf tubuhnya lambat menerima perintah. Ibarat tubuh dan pikirannya terpisah dalam dua ruangan.Raba-raba tangannya mencari sesuatu yang bisa dihubungi. Di bawah telapak, sesuatu berkedut—hangat, lembut, kenyal. Samar, namun bergerak napas. Pria itu masih berada pada badan sofa Meridien Cuir Prestige—seingatnya—dan tak ada seseorang selain dirinya.Kain upholstery mahal berke
“Ahh—“Pegangannya pada gagang food cart jatuh. Sosok tunggal penghuni Darmont Élite Sovereign Series di tengah ruangan mendadak pingsan, atau mabuk—hidung Angelina nyeri mencium pekatnya aroma liquor dari tubuh pria itu. Tak bermaksud untuk ‘salah sentuh’, Angelina luruskan kedua lengannya ke udara. Gagang telepon di samping meja Noirvante Silk Line Ia raih susah payah.Satu dial tersambung—Ludwig. Sambil mencoba mendorong tubuh berat Ganta kembali bersandar, Angelina panggil cepat sang atasan itu.“Maaf, Pak Ludwig. Ah—ini Angelina. Benar. Maaf, saya rasa ada yang salah dengan penempatan nomor—apa? Tapi, Pak, pemula seperti saya belum diajarkan cara entertaining tamu exclusive. Bukankah seharusnya Madame Emma—““Layani saja, Angel. Lelaki itu sama, beda pekerjaan, pun. Aku dan Pak Ganta itu sama. Pleasure, hm? pleasure. Kamu kerja di sini, paham dengan itu, kan? Enggak perlu didikte lagi
Sienna Halim POV Pada punggung bayangannya, memagar para pembersih taman ditemani cangkul dan gunting rumput, gemetaran. Barisan pelayan bertumpuk membelakangi patung bunga dengan air mancur di tengahnya. Dari lembaran ekspresi kikuk tergambar di wajah seluruhnya, normalnya seseorang akan berpikir
Author's POV- SMA Internasional Mouran -"Jo! Satu shoot lagi! Kita kurang tiga point dari Dilan!" Kevin, Point Guard milik tim basket A—regu yang Jonathan pimpin, memberikan aba-aba di menit terakhir babak pertandingan basket mereka.Sudut lapangan paling pinggir, Jonathan menjaga ring timnya sen
Sienna Halim POV "M-mustahil." Bola mataku kehilangan cahaya. Kupandangi kosong bilah ponsel itu, yang disita lembut oleh Samuel, dalam senyumannya. Tepukan ringan menyentuh pundakku; Samuel seperti memberikan dukungan moral. Masih tatkala aku terbengong kebingungan, lelaki itu mendudukkanku ke me
Sienna Halim POV"Apa Sienna merepotkan, Nak Samuel? Duh, Tante jadi cemas. Anak gadis Tante enggak nakal di sana, kan? Beri tau Tante, ya, kalau Sienna—""Haha. Aman, Tante. Keluarga di sana bagaimana? Om sudah agak mendingan? Maaf, Samuel jarang berkunjung belakangan. Nanti setelah ujian praktek







