Share

188. Failed

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-10-23 20:24:18
Begitu tiba di rumah, Shanum langsung lari ke kamarnya tanpa menyapa Diana yang baru saja turun dari lantai atas.

Diana berbalik saat menatap punggung Shanum yang menjauh. Ia lalu menyorot iris gelap suaminya, mengamati wajah tegang dan lelah Damar.

"Ada apa, Mas? Kenapa Shanum langsung lari begitu? Kalian bertengkar, ya?” ucapnya penuh kecurigaan.

Selama ini, Diana tahu betul kalau hubungan Shanum dan Damar tidak ada masalah, mereka baik baik saja. Dan kalau Shanum marah pada Damar, pasti karena Damar melakukan kesalahan fatal.

"Tidak ada apa-apa," sahut Damar cepat, terdengar canggung. Ia tidak enak menjelaskan sebab ini bisa jadi masalah berkelanjutan untuk dirinya. "Hanya saja ... ada masalah kecil. Kami tidak sepakat saja, Sayang."

Sayangnya, ekspresi kebohongan Damar mudah dibaca oleh Diana. Diana memangkas jarak ke arah Damar dan menuntut kejelasan.

"Mas, tidak usah bohong sama aku," tuntut Diana dengan suara yang mengandung nada peringatan. "Ada apa? Katakan sama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
OTHOR CENTIL
Halo, Kak. Ceritanya tidak boleh bersambung ke season 2, Kak. Mohon maaf ya, Kak.
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
kok cerita nya berubah kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   490. Thallium Sulfate

    “Kenapa kamu membiarkan perawat tidak jelas masuk ke sini, Nak? Sadarkah apa yang kamu lakukan ini salah? Membiarkan sembarang orang masuk, itu tindak kelalaian,” cecar Damar dengan tatapan yang menghujam jantung Ara. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan. Tapi, ia hanya kecewa karena Ara yang secerdas itu bisa-bisanya lalai. Terlebih lagi anak buahnya yang tidak becus membuatnya makin emosi. Entahlah, Damar merasa kepalanya ingin meledak sekarang!Sedangkan Ara sendiri tersentak mendengar ucapan Damar. Tatapan Damar seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang nyaris merenggut nyawa putranya.Lirih cicitan keluar dari bibirnya, “M–maaf, Om. Aku … aku gak tahu kalau ini bakalan terjadi. Aku sempat curiga, Om. Tapi kupikir karena dia melakukan hal yang wajar sebagai seorang tenaga medis—seperti mengecek tekanan darah, menanyakan makanannya habis atau tidak, dan ada keluhan apa, kurasa itu wajar, ‘kan? Makanya aku

  • ENAK, PAK DOSEN!   489. Meragukan Kredibilitas

    Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk

  • ENAK, PAK DOSEN!   488. Please, Jangan Pergi

    “Ya Tuhan! Garaaaa!”Laptop di pangkuannya jatuh begitu saja ke lantai. Ara berlari kalap, menekan tombol darurat berkali-kali sambil berusaha menahan tubuh Sagara yang berguncang hebat di atas ranjang. Matanya membelalak ngeri melihat kondisi pria itu. Ia baru sadar bahwa tidur tenang Sagara sebelumnya adalah awal dari reaksi maut yang disuntikkan suster tadi.“Gara, bangun, Gar! Garaaa! Bangun!” teriaknya parau, namun tak ada satu pun tenaga medis yang muncul dalam kurun waktu setengah menit.Kehabisan waktu, Ara berlari keluar ruangan. Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu tersentak melihat Ara yang pucat pasi.“Nona, ada apa?”“Apakah terjadi sesuatu?”“Ya! Gara ... dia ….” Ara megap-megap mencoba mengatur napas. Jujur, Ara panik dan takut. Ia takut disalahkan oleh keluarga Sagara mengingat dia lah yang mempersilahkan suster itu masuk tanpa diperiksa terlebih dahulu. Demi Tuha

  • ENAK, PAK DOSEN!   487. Kejang

    Di rumah, Diana dan Damar sedang bersiap-siap. Waktu menunjuk ke angka 6.40 petang. “Yang ….”“Ya, Mas?” Diana yang baru saja selesai sholat, langsung melipat mukena dan sajadahnya. Meletakkannya ke atas meja khusus kemudian menghampiri sang suami. “Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak?”“Kita ke rumah sakit sekarang, Yang. Aku ganti baju dulu. Tunggu di bawah, suruh Alex siapkan mobil.” Damar mengajak tiba-tiba, membuat Diana curiga. Ia menyentuh lengan suaminya dan bertanya, “Kok buru-buru banget sih, Mas? Ada apa? Apa ada kepentingan sampai harus ke sana sebelum jadwalnya? Bukannya di sana udah ada Ara, ya, Mas?”Damar mengangguk, “Iya, Yang. Tapi ….” Menggeleng, entah kenapa perasaannya tidak enak. Lalu, ia katakan pada Diana sejujurnya, “Tapi, kok aku ngerasa ada yang mengganjal gitu, Yang. Aku pengen lihat Sagara segera.”“Mungkin karena Mas gak ketemu Sagara seharian, makanya Mas khawatir.”“Bisa jadi sih, Yang.”“Ya udah. Ayo kalau gitu. Aku tinggal pakai hijab. Mas siap-siap aja

  • ENAK, PAK DOSEN!   486. Rasa Kantuk Yang Aneh

    Batinnya merutuk kesal karena telah membayangkan kenikmatan yang diberikan Sagara saat itu.“Ih, apaan sih gue! Kok jadi mesum kek gini? Sadar, Ra, sadar! Gak usah pengen lagi! Meski enak, tapi yang lo hadepin ini jin mesum!”Saat Ara masih sibuk dengan isi kepalanya, Sagara sendiri merasa kesal. Pasalnya, ucapannya tadi tak ditanggapi sama sekali oleh calon istrinya ini.Saat suapan terakhir hampir habis, Sagara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Ara, menghentikan gerakan gadis itu. Ia menatap Ara dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan tenang.“Nanti malam lo bobok sini, ya? Temenin gue. Bunda dan Ayah nggak pernah nginep di sini, tau. Capek gue ditemenin bodyguard Mulu,” kata Sagara dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Padahal, semalam saja Damar dan Diana berebut siapa yang mau jaga, tapi demi modus, Sagara tidak segan-segan menjual nama orang tuanya.“Gak, ah. Bau karbol, gak suka,” tolak Ara mentah-mentah sambil meletakkan kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas. Ia

  • ENAK, PAK DOSEN!   485. Jin Mesum

    Membahas Ayahnya—Damar, Sagara sendiri juga tidak tahu. Sejak siang tadi, Ayahnya bahkan tak menghubungi akan ke sini atau tidak. Hanya bilang bunda-nya yang ke sini. Tapi, rasa-rasanya tidak masalah ayahnya tidak ke sini. Toh kalau Damar ke sini, yang ada ia dipaksa belajar dengan setumpuk buku yang menyebalkan. Kini, Sagara melirik Ara dari sudut mata, melihat wajah lesu calon istrinya itu. “Kenapa tanya-tanya? Butuh sangu, ya? Atau … butuh belaian?” “Ish!” “Kalau butuh duit, bilang. Nanti gue TF, Cintaaaa!” kekeh Sagara. Pikirnya, Arnold sudah di tangan, dan Ara semakin mudah didapatkan. Right? “Gak lah! Gue nggak se-kere itu ya sampai malak pasien. Lagian, gak usah sok mau TF segala! Uang lo aja punya bokap lo semua. Kalo uang hasil kerja keras Lo sendiri, gue sih oke mau Lo TF berapa pun,” sahut Ara sambil melempar bantal kecil ke arah Sagara. Sagara menangkap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status