Beranda / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 203. Sekutu Baru

Share

203. Sekutu Baru

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-28 17:01:27

"Du-dua garis? Kamu ... positif, Yang? Ya ampun! Positif! Ini beneran, ‘kan? Aku gak salah lihat, ‘kan?" Damar mengucap terbata, meskipun jauh di lubuk hatinya ia tidak terkejut dengan hasil itu, mengingat semua yang terjadi.

Sedangkan Diana mengangguk, ia bersedekap, gesture tubuhnya menunjukkan penolakan dan rasa lelah. Ia menatap Damar dengan sinis.

"Kenapa? Kaget? Itu 'kan perbuatanmu, Mas. Tanggung jawab pokoknya kamu!"

Alih-alih melanjutkan kepanikan yang sia-sia, Damar segera menetralkan rasa gugupnya. Ia tahu, sekarang yang dibutuhkan Diana bukan ketakutan, melainkan dukungan mutlak.

Damar segera mendekati Diana dan memeluknya dari depan, memegangi pinggang Diana dan menyatukan wajah mereka.

"Gak kaget, sih, Yang. Kan aku yang pengen kamu hamil," bisik Damar, memaksakan nada ceria untuk menghilangkan ketegangan. "Alhamdulillah, aku akan jadi ayah 3 anak. Aku bersyukur banget, Yang. Artinya benihku masih bagus, 'kan?”

Damar tiba-tiba mellow. Ia menangis mengingat kisah masa la
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Happy Supriyanto
ya Allah kok malah ada lagi yang ngajak kolaborasi sih kak kan kasihan tuh damar dan istrinya
goodnovel comment avatar
Chili Ruhenk
ya ampun ada aja mush
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
Aldo jahat nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • ENAK, PAK DOSEN!   473. Tawaran Gila

    Sagara akhirnya melunak, ia meminta Ara duduk, lalu mengajaknya bicara dari hati ke hati, “Hm. Maka dari itu, lo ikut gue. Beres kan?”“Gue ngerasa nggak pantes buat belajar hal-hal suci kalau status gue aja udah sehancur ini.”Sagara tertegun. Candaan di kepalanya seketika hilang saat melihat gurat kesedihan dan rasa rendah diri di wajah Ara. Ia meraih dagu Ara, memaksa gadis itu menatap matanya.“Denger ya,” suara Sagara berubah berat dan serius. “Tuhan gue itu Maha Pengampun, sama aja sih sama Tuhan Lo. Di agama gue, nggak ada kata terlambat buat memperbaiki diri. Dan soal ‘kotor’ seperti yang lo bilang ….”Sagara mengusap ibu jarinya di pipi Ara. “Lo nggak kotor, kok. Gue yang salah karena nggak bisa nahan diri, tapi gue bakal perbaiki itu dengan halalin lo. Jadi ….”“Apa?” Ara memandang Sagara dengan ragu.“Kita mulai dari nol bareng-bareng. Gue juga bukan cowok alim, gue juga masih berantakan. Jadi, kita belajar bareng supaya jadi pasangan yang bisa menebus dosa dengan benar. Gi

  • ENAK, PAK DOSEN!   472. Unfaedah

    Jenuh melihat perdebatan ‘unfaedah’ antara Sagara dan Ara yang nggak kunjung usai, Diana menyenggol lengan suaminya.“Mas, ayo cari makan. Laper tahu,” bisik Diana sambil menggoyangkan lengan suaminya dengan manja.Sambil mengusap kepala Diana yang dibalut hijab pashmina, Damar menyahut santai, “Anak-anak gimana, Yang? Aku nggak yakin mereka bakal nemu titik temu kalau kita tinggal. Ada baiknya kita tunggu aja keputusan mereka dulu.”Diana cemberut. Ia memajukan bibirnya hingga nyaris bisa dikuncir. “Tapi apa iya kita harus nungguin mereka debat kusir terus? Ayolah, Mas. Kita kasih mereka waktu berdua. Aku yakin Ara bisa mikir dewasa, dan Saga ... yah, dia cuma kecil di umur doang, otaknya mah udah jauh. Dia bakalan bisa nakhlukkin Ara. Secara, dia udah dapat tubuhnya Ara. Gampang mah kalau soal hati,” bujuk Diana.Kini, Damar menghela napas, melirik Sagara darj celah pintu—yang masih sibuk memandangi Ara dengan tatapan ‘lapar’. “Ya sudah, ayo. Kita beliin makanan juga buat mereka. N

  • ENAK, PAK DOSEN!   471. Gak Fair

    Diana dan Damar di depan ruang perawatan Sagara mendadak cemas. Mereka berdua sibuk mondar mandir. Sesekali, mereka melirik ke dalam sana, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh dua anak muda tersebut. Namun, mereka tidak bisa mendengarkan apapun, hanya saling menduga-duga saja. “Yang, kira-kira, apa ya yang membuat Ara datang nemuin Sagara? Apa karena rasa peduli atau memang dorongan dari orang lain?” tanya Damar dengan serius. Matanya masih mengamati pintu ruang perawatan putranya yang tertutup rapat. “Aku sih mikirnya karena Ara merasa bersalah, Mas. Clayton kan udah nyuruh anak buahnya untuk mukulin Sagara. Jadi, dari situ mungkin Ara simpati. Secara gak langsung, Clayton hampir membunuh Sagara, ‘kan. Ya gak sih, Mas?” timpal Diana. “Menurutku, itu adalah alasan logisnya mengapa Ara datang ke sini.” “Iya juga ya, Yang. Rasa simpati, dan rasa bersalah.” Damar mengangguk. Kemudian, ia tersenyum miring, “Tapi, ini

  • ENAK, PAK DOSEN!   470. Dikasih Hati Minta Jantung

    “Anak ini emang gak bisa dikasih hati! Ada kesempatan dikit, langsung godain! Dasar! Tengilnya kelewatan!” Damar merutuk pada putranya yang tidak tahu aturan itu. Setelahnya, Damar menatap Diana. Ia memberi kode agar segera menjauh. Sayangnya, Diana tidak paham. Maka, ia hanya mengangguk canggung saat Sedangkan Ara dalam hati tengah merutuk kesal, “Hm, kayaknya bocah sialan ini udah baikan. Duh, ngapain juga gue ke sini kalau cuma buat dengerin gombalan recehnya? Buang-buang waktu aja! Tahu gini gak ke sini!” “Sagara! Jaga bicaranya,” tegur Damar pada akhirnya. Meskipun nadanya tegas, tapi ia tak bisa menyembunyikan binar lega di matanya melihat Sagara kembali memiliki energi untuk menjahili orang. Diana ikut menimpali dengan senyum tak enak hati, “Ara, maafkan Sagara, ya. Dia memang agak lain daripada yang lain. Otaknya kadang suka ketinggalan di rumah kalau sudah ketemu kamu.” “Gak apa-apa, Tante,” jawab Ara singkat, meralat ucapannya menyebut Diana ‘Nyonya’ tadi. Meski ha

  • ENAK, PAK DOSEN!   469. Panggil Dia “Bunda Mertua”

    Damar terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada daun pintu yang baru saja tertutup rapat. Meski batinnya sama curiganya dengan sang putra, ia mencoba tetap berpijak pada logika. Memindahkan pasien pasca operasi besar bukanlah perkara sepele.Kini, ia beralih menatap putranya dengan serius. “Kamu yakin mau pindah ke rumah sakit kita? Pindah itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, Saga. Ada prosedurnya, ada risiko medis yang harus dihitung matang-matang. Jangan gegabah deh karena ini. Justru dengan tetap di sini, kita bisa tahu kalau ada yang ingin celakain kamu. Kita bisa ringkus dia. Gimana sih!”Diana yang sejak tadi diam dan menyimak, ikut menyela, “Ada apa sih, Mas? Kenapa ini? Kok jadi bahas ada yang nyelakain segala? Siapa?” Secara singkat, Damar segera menjelaskan semuanya. Dugaannya, dan semua analisisnya.Lalu, Diana mengangguk. “Oh, gitu ya, Mas. Iya juga sih, kita wajib curiga mengingat Louis udah disinggung Sagara dan gak menutup kemungkinan Louis akan balas denda

  • ENAK, PAK DOSEN!   468. Bau Aneh

    “Biarin! Biar sekalian Ayah iriskan telinga gajah buat gantiin telinga kamu itu! Salah sendiri nakalnya gak ketulungan! Dan siapa suruh mulut kamu ini ngoceh gak tahu berhenti, hah? Siapa suruh?” geram Damar sambil terus memutar telinga Sagara, mengabaikan rintihan manja putranya yang sebenarnya sudah kembali bertenaga untuk menjahili orang lain.Candaan mereka seketika terhenti saat pintu kamar rawat diketuk dari luar. Seorang pria berseragam medis masuk dengan langkah tenang, menyatakan niatnya untuk memeriksa Sagara.Baik Diana, Damar, dan Sagara menoleh ke ambang pintu yang terbuka. “Dokter?”“Selamat siang, Tuan dan Nyonya Setyawan. Saya Dokter Tommy, saya ingin memeriksa kondisi Tuan Muda Sagara,” ucapnya sopan.Damar beranjak dari duduknya, seketika bersikap waspada. Matanya memicing, memperhatikan dokter itu yang datang sendirian tanpa ditemani perawat, bahkan tanpa membawa map laporan medis di tangannya. Sebagai orang yang sangat teliti, Damar tahu Sagara ditangani oleh tim

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status