LOGINKini, Damar mendekat, membelai wajah Diana penuh kasih. Lalu, ia bertanya, "Ya, Yang? Ada apa?"
Diana berbisik di telinga suaminya, dan seketika itu juga, Damar syok."Apa?" bisik Damar, suaranya tercekat, kaget karena mengira ada berita buruk. Tapi ternyata, ini berita lebih buruk lagiDiana mengulangi, matanya sedikit memelas karena mual. Ia masih memencet hidung dan menggeleng lemah, "Mas, tidur di kamar sebelah aja. Mas bau! Sumpah, Mas. Aku mual loh deketan sama Mas.”“Ya ampun, Yang!” Damar terdiam. Syoknya berubah menjadi rasa tidak percaya yang mendalam. "Kamu suruh Mas tidur di luar? Setelah semua yang Mas lakuin hari ini?""Ya iya lah, 'kan bau! Aku gak tahan banget! Bau yang menusuk, Mas! Aku gak bisa tidur sambil menahan mual begini, Mas. Mas mau aku kesiksa semalaman, ya?!"Meski kesal, tapi Damar tetap memelankan suaranya. Ia tahu, Diana sedang emosional dan juga labil. "Yang, kok gitu sih! Ini kamar kita!" protesBatinnya merutuk kesal karena telah membayangkan kenikmatan yang diberikan Sagara saat itu.“Ih, apaan sih gue! Kok jadi mesum kek gini? Sadar, Ra, sadar! Gak usah pengen lagi! Meski enak, tapi yang lo hadepin ini jin mesum!”Saat Ara masih sibuk dengan isi kepalanya, Sagara sendiri merasa kesal. Pasalnya, ucapannya tadi tak ditanggapi sama sekali oleh calon istrinya ini.Saat suapan terakhir hampir habis, Sagara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Ara, menghentikan gerakan gadis itu. Ia menatap Ara dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan tenang.“Nanti malam lo bobok sini, ya? Temenin gue. Bunda dan Ayah nggak pernah nginep di sini, tau. Capek gue ditemenin bodyguard Mulu,” kata Sagara dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Padahal, semalam saja Damar dan Diana berebut siapa yang mau jaga, tapi demi modus, Sagara tidak segan-segan menjual nama orang tuanya.“Gak, ah. Bau karbol, gak suka,” tolak Ara mentah-mentah sambil meletakkan kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas. Ia
Membahas Ayahnya—Damar, Sagara sendiri juga tidak tahu. Sejak siang tadi, Ayahnya bahkan tak menghubungi akan ke sini atau tidak. Hanya bilang bunda-nya yang ke sini. Tapi, rasa-rasanya tidak masalah ayahnya tidak ke sini. Toh kalau Damar ke sini, yang ada ia dipaksa belajar dengan setumpuk buku yang menyebalkan. Kini, Sagara melirik Ara dari sudut mata, melihat wajah lesu calon istrinya itu. “Kenapa tanya-tanya? Butuh sangu, ya? Atau … butuh belaian?” “Ish!” “Kalau butuh duit, bilang. Nanti gue TF, Cintaaaa!” kekeh Sagara. Pikirnya, Arnold sudah di tangan, dan Ara semakin mudah didapatkan. Right? “Gak lah! Gue nggak se-kere itu ya sampai malak pasien. Lagian, gak usah sok mau TF segala! Uang lo aja punya bokap lo semua. Kalo uang hasil kerja keras Lo sendiri, gue sih oke mau Lo TF berapa pun,” sahut Ara sambil melempar bantal kecil ke arah Sagara. Sagara menangkap
Setelah melewati hari yang melelahkan di kampus dengan suasana hati yang berantakan, Ara akhirnya melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Sagara memang belum diperbolehkan pulang, tapi kondisi pria itu sudah jauh lebih bugar—bahkan energi ‘tengilnya’ sudah kembali ke level maksimal. Begitu pintu kamar terbuka dan sosok Ara muncul, Sagara yang sedang bersandar di ranjang langsung menyeringai lebar. “Eh, calon makmum sudah datang!” sapanya dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin. Namun, senyum Sagara perlahan memudar saat melihat wajah Ara yang ditekuk bak cucian kotor dan tangan gadis itu yang kosong. “Nganggur aja, nih? Nggak bawa buah atau makanan apa pun kayak kemarin? Tega bener! Jenguk orang sakit nganggur!” protes Sagara sambil mencebikkan bibir, pura-pura tersakiti. “Nggak usah mancing gue deh, Gar! Hari ini gue lagi bad mood banget,” sahut Ara ketus. Ia meletakkan tasnya di sofa dengan kasar, l
Damar berkunjung pagi ini ke ruang perawatan Sagara setelah semalam pulang. Ia menatap putranya itu yang sepertinya jauhenih baik setelah mendapatkan mood booster setiap hari dari Ara.“Kayaknya kamu udah enakan.”“Ayah?” Sagara nyengir kuda pagi ini. Ia terlihat sangat fresh. “Iya. Habisnya, tiap hari dapat mood booster, jadi pulih lebih cepet. Nanti tanyain ke dokter ya, Yah. Kapan aku bisa pulang. Capek di sini terus, kek penjara.”“Nanti ayah tanyain. Btw, Ara tumben gak ke sini sebelum pergi ke kampus. Ke mana dia?”“Gak tahu, Yah.”Sementara itu di tempat lain ....“Mau apa sih orang itu ke sini?”Seminggu berlalu sejak drama di rumah sakit, dan hari ini Ara kembali menginjakkan kaki di kampus. Namun, suasana hatinya tidak benar-benar membaik. Begitu ia memarkirkan mobilnya, pemandangan yang paling tidak ia inginkan muncul begitu saja. Di sana, tepat di depan jalur jalannya, Louis sudah berdiri menunggu.Mengin
Setelah berpamitan dengan keluarga Damar, Ara akhirnya dibawa pulang oleh papinya. Di dalam mobil mewah yang melaju kencang dengan kesunyian yang mencekam, Ara sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menoleh tajam ke arah samping, menatap papinya yang justru terlihat sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sebelumnya ingin membunuh calon besannya.“Oh, jadi Papi mempan disogok, nih?” protes Ara meledak. Ia bersedekap, matanya memicing kuat menatap Papinya yang terlihat santai sekali. “Apa sih yang Tuan Setyawan kasih sampai Papi langsung luluh? Papi setuju-setuju aja gitu, padahal aku belum tentu hamil, Pi! Di mana harga diri Harven yang Papi banggakan itu?”“Sekarang, kita tidak perlu bicara harga diri lagi, Sayangku.” Arnold menghela napas panjang, ia melepas kacamata hitamnya dan menatap Ara dengan tatapan yang sangat realistis. “Begini, siapa yang tidak mau satu pulau pribadi di Bahamas dengan beberapa resort yang menghasilkan jutaan dollar per bula
Tak hanya Ara dan Diana yang terperanjat, Sagara pun ikut tertegun di atas ranjangnya. Namun, saat perhatian semua orang terpusat pada Arnold, Sagara justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.“Sogokan maut Ayah ke Tuan Harven berhasil,” batin Sagara penuh kepuasan. “Tinggal sogokanku ke Ara nih. Apakah membuahkan hasil?”“Ya, calon mantu. Ada yang salah, Sayang?” Arnold bertanya balik dengan nada sangat santai, seolah-olah semalam ia tidak baru saja mengamuk ingin menghancurkan dunia.“Eng—enggak, gak ada, Pi.” Ara langsung membuang muka, pipinya memanas karena malu yang luar biasa. Ia merasa harga dirinya ikut terseret jatuh. Papinya yang awalnya menggebu-gebu ingin meruntuhkan kerajaan bisnis Damar, ingin membunuh Damar, dan segala sumpah serapah lainnya, kini justru termakan omongannya sendiri. Dan lihat sekarang? Pria itu bahkan tidak tahu malu, bersikap seolah mereka adalah sahabat karib yang tak terpisahkan!Saat Ara sedang merutuki kegengsian papinya yang runtuh sek







