Masuk
Jerman pasca-perang tak lagi berteriak dengan peluru, melainkan dengan keputusan-keputusan sunyi yang diam-diam membentuk hidup—dan menghancurkannya.
Di sebuah rumah tua di Prenzlauerberg, suara seorang gadis menggema keras: “Aku bilang TIDAK, Ayah!” Gadis itu, sekitar lima belas tahun, berdiri tegak dengan tangan bersilang. Rambut pirangnya dikepang rapi. Matanya menyala—bukan oleh benci, tapi oleh semangat menolak takdir yang telah disiapkan baginya. Ernst Vogel, berdiri di dekat jendela. Punggungnya tegap tapi mata tuanya lelah. Pandangannya kosong menembus hujan yang mengguyur halaman. “Adelheid…” katanya pelan. “Kau pernah berjanji. Saat kau tujuh tahun—” “Itu waktu aku masih anak-anak!” potong Adelheid cepat, suaranya meninggi, tangannya terlipat makin erat. “Aku bahkan belum bisa membedakan cinta dan kue apel!” Ernst menelan napas yang terasa berat di tenggorokannya. “Pria itu anak rekan seperjuanganku. Keluarga terhormat. Masa depan jelas. Ini… kesepakatan lama.” Nada suaranya terdengar seperti orang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Kesepakatan zaman batu,” gumam Adelheid, menoleh ke arah lain. “Dan aku sudah punya pacar.” Bohong, tentu. Tapi itu bukan intinya. Di ambang pintu, Margarethe berdiri dalam diam. Ia datang tanpa suara, seperti bayangan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi—namun mata birunya menyimpan lelah yang tak terucap—seolah ini bukan pertama kalinya. “Sudah kubilang,” ucap Margarethe akhirnya. Suaranya tenang, tapi menggigit. “Kau tidak bisa memaksa Adelheid. Biarkan dia memilih. Jangan bentuk dia dari ketakutanmu sendiri.” Ernst memijit pelipisnya. Napasnya menggantung di tenggorokan. “Aku hanya ingin dia terlindungi. Dunia ini kejam.” Margarethe menatapnya, nada suaranya berubah tajam. “Dan menjualnya lewat perjodohan adalah bentuk perlindungan?” Ada sesuatu yang lama terkubur ikut mencuat. Bersama dengan kemarahan itu. “Setidaknya dia bukan pria sembarangan,” desah Ernst. “Dia—Leonhardt. Dia...” “Kau bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya!” Margarethe membentak, Emosi yang dikunci bertahun-tahun akhirnya pecah. Ernst membalas tatapan itu. Tajam. Mata pria itu seperti ingin menembus dinding dadanya. “Dan kau?” katanya pelan tapi menghantam seperti peluru. “Apa kau tahu siapa dirimu sendiri, Margarethe?” Sekejap, dunia seakan hening. Bahkan hujan pun tak terdengar di telinga Margarethe. Tatapan matanya kosong sesaat. Lalu perlahan ia menegakkan bahu. Sorotnya membeku. “Tak perlu korbankan Adelheid demi kesepakatan tua.” “Jika harus ada yang maju. biarkan aku yang menggantikannya.” Suara itu tidak menawarkan. Itu ultimatum. Ernst mengembuskan napas dalam-dalam. “Kau tak tahu siapa Friedrich. Dia bukan sekadar jenderal... dia kekuasaan yang tak bisa dinegosiasikan.” “Ini bukan negosiasi,” balas Margarethe dingin. “Ini syarat. Aku akan bicara langsung dengan keluarga Von Richter.” Ernst terdiam. Lama. Matanya berkedip perlahan, seolah menyimpan beban yang terlalu tua untuk diangkat—antara perhitungan, rasa bersalah, dan keberanian terakhir… yang mulai pudar. Saat hendak pergi, ia menoleh pelan, suaranya nyaris seperti bayangan: “Kau bicara seolah tahu kebenaran, tapi kau bahkan belum tahu siapa dirimu sendiri.” Ia tersenyum tipis, getir. “Kau akan mengerti… ketika semua nama tak lagi berarti.” Hening. Tak ada lagi yang menjawab. Margarethe berdiri di tempatnya, menatap punggung Ernst yang perlahan menjauh ke balik pintu. Hujan di luar menetes pelan, seolah ikut menutup percakapan yang tak seharusnya terjadi. Adelheid memandang kakaknya dengan mata lebar—antara terkejut, kagum, dan takut. Bibirnya sempat bergerak, ingin memanggil, “Grethe—” namun suaranya tak jadi keluar. Margarethe menunduk sejenak, tatapannya kosong ke lantai, seolah mencari sisa ketenangan yang hilang bersama kata-kata ayah mereka tadi. Lalu ia berbalik tanpa suara, mantel panjangnya menyapu lantai kayu dingin, meninggalkan Adelheid sendirian di ruangan yang kini terasa terlalu besar. Adelheid menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup. Untuk pertama kalinya, ia sadar: kakaknya bukan hanya melawannya... atau ayah mereka. Margarethe sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar—dan mungkin, bahkan dirinya sendiri. ***** Sore itu, cahaya matahari yang pucat menyelinap lewat tirai kamar di lantai dua. Debu menari pelan di udara, dan di antara keheningan yang berat, suara pena menoreh di atas kertas. Margarethe duduk di meja kayu tua, tubuhnya tegak, matanya menatap satu titik kosong di depan surat yang belum selesai. Jemarinya bergerak mantap—tinta hitam menulis kalimat-kalimat pendek yang terasa seperti keputusan, bukan sekadar pesan. Di belakangnya, Adelheid duduk di tepi ranjang, lututnya tertekuk, matanya menatap punggung sang kakak dengan campuran bingung dan takut. “Kau sedang menulis surat untuk siapa?” tanyanya pelan. Margarethe tak menoleh. Hanya jemarinya yang berhenti sesaat sebelum kembali bergerak. “Von Richter,” bisiknya nyaris tanpa suara. Adelheid terdiam, lalu berseru lirih, “Kau tak perlu lakukan itu demi aku.” Margarethe menutup matanya sejenak, menahan sesuatu di dada. Lalu suaranya keluar perlahan, datar tapi getir, “Bukan demi kau, Adelheid. Ini demi pilihan yang seharusnya kita miliki. Jika seseorang harus menebus kesalahan ayah, biarlah aku.”Asap rokok melayang tipis, menggantung malas di udara pengap. Bau logam tua, kabel terbakar, dan ozon dari mesin-mesin yang dipaksa hidup kembali bercampur—aroma yang hanya dikenal oleh mereka yang terlalu lama tinggal di sisi gelap sejarah. Friedrich von Richter duduk diam di kursi kulit tua. Punggungnya tegak, meski usia mulai menagih nyeri yang tak pernah ia akui. Tongkat kayu hitam berukir bersandar di sisi meja—bukan sebagai penopang, melainkan simbol kendali yang belum ia lepaskan. Di hadapannya, layar-layar monitor CRT menyala redup. Hitam-putih. Sedikit bergoyang. Kamera statis menampilkan lorong bawah tanah museum: Leonhardt berjalan paling depan, Margarethe menyusul dengan kewaspadaan dingin, dan Adelheid—terlalu santai untuk situasi yang seharusnya mematikan. Friedrich tidak berkedip. Langkah pelan terdengar di belakangnya. Seorang wanita tua melangkah keluar dari bayangan. Rambut peraknya disanggul rapi, wajahnya pucat seperti kertas arsip yang terl
Leonhardt berhenti di depan pintu besi tua yang nyaris menyatu dengan dinding. Karat memakan engselnya, namun di tengahnya terpasang panel kecil yang jelas bukan teknologi lama. Ia mengeluarkan salinan peta—dokumen buatan tangan Friedrich. Coretan pensilnya masih terlihat jelas. “Di balik ini,” katanya pelan, “ruang penyimpanan inti. Arsip dan jalur komunikasi lama.” Ia memutar knop perlahan. Tik. Tik. Tik. Bunyi alarm kecil terdengar—nyaris seperti jam rusak. Tapi cukup untuk membuat mereka bertiga membeku. “Itu apa?” Margarethe menoleh cepat. Leonhardt menatap alat di tangannya. Wajahnya mengeras. “Sensor gerak. Dimodifikasi. Bukan sistem museum.” CLANG. Pintu di belakang mereka menutup otomatis. Kunci elektromagnetik menggeram berat. Adelheid menjatuhkan diri duduk di atas peti amunisi tua, menepuk debu dengan santai. “Jebakan klasik. Aku berharap setidaknya ada sentuhan artistik.” Leonhardt mencoba sistem override manual. Tak bereaksi. Margarethe meny
Ia berhenti di depan sebuah patung besar: ksatria bersayap, satu kakinya menginjak kepala naga batu. Tulisan Latin di bawahnya telah terkelupas oleh waktu. Margarethe menatap patung itu. Lalu peta di tangannya. Lalu ke kanan. Lalu ke kiri. “…Tunggu,” gumamnya pelan. “Aku tadi lewat sini juga, kan?” Beberapa menit kemudian— Ia kembali berdiri di depan patung yang sama. Margarethe berhenti total. Senter di tangannya menyorot wajah batu itu. Bayangannya jatuh aneh, membuat ekspresi ksatria tersebut tampak nyaris… mencela. Ia memicingkan mata. “Jangan menilai,” bisiknya. “Aku tahu ini salah jalur.” Ia menghela napas, lalu mengaktifkan alat komunikasi kecil di sakunya. “Herr von Richter,” katanya datar. “Kau mendengarku?” Suara Leonhardt muncul cepat. “Dengar. Kau di mana?” “Dekat patung ksatria besar bersayap.” Diam sepersekian detik. “Ada tiga patung bersayap di sana,” jawab Leonhardt. “Detail.” “Yang menginjak kepala naga.” Hen
Udara dingin menyelusup dari celah-celah mobil tua yang terparkir di balik bayang-bayang bangunan museum. Cat dindingnya mengelupas, batu-batu tuanya menyerap cahaya lampu jalan seperti sejarah yang enggan memantul kembali. Leonhardt berdiri di luar kendaraan, mantel panjangnya tergerai pelan diterpa angin. Tangannya terselip di saku, namun langkahnya mondar-mandir kecil—tidak jauh, tidak cepat—seperti jarum jam yang kehilangan pusat putaran. Tatapannya berkali-kali melirik ujung jalan yang kosong. Ia memeriksa jam tangannya. Terlambat. Lebih dari satu jam dari waktu yang disepakati. Ia menghela napas panjang. Uap putih keluar dari mulutnya, memudar cepat di udara malam—seperti penyesalan yang datang terlalu lambat untuk diperbaiki. Apa mereka benar-benar masih marah…? Mungkin caraku bicara terlalu tajam. “Tidak normal sejak hari pertama.” Leonhardt mengernyit. Itu… terlalu jujur. Ia berhenti berjalan, bersandar sebentar pada bodi mobil, menundukkan kepala. Unt
“Jadi,” ucapnya akhirnya, datar. “Eksperimen itu nyata.” Leonhardt mengangguk perlahan. “Dan aku pikir kau salah satu yang selamat.” Ia berhenti sejenak. “Tapi bukan cuma itu. Ada data tentang—” “Mengenai aku?” Margarethe memotong lembut, tanpa memberi ruang. Leonhardt menatapnya lama. Ada luka di sana—bukan yang baru, hanya yang akhirnya tak bisa lagi disembunyikan. “Bukan hanya kau,” katanya pelan. “Mereka menciptakan prototipe. Anak-anak yang dibentuk sejak kecil—dengan propaganda, disiplin, kesiapan. Untuk perang yang tak pernah datang.” Napas Margarethe tertahan. Jemarinya mengepal. “Dan kau pikir aku salah satunya?” “Awalnya,” jawab Leonhardt. “Sekarang aku bahkan tak yakin siapa sebenarnya dirimu.” Ia menelan napas. “Dan itu yang paling menakutkanku.” Ia membuka map kembali. Sebuah peta tua dikeluarkan—lusuh, penuh lipatan. Jalur-jalur samar menghubungkan Berlin dengan kawasan Alpen, tinta merahnya memudar. “Ini jalur pengiriman informasi lama,” katanya. “
Malam itu, langit Berlin tampak lebih kelam dari biasanya. Awan menggumpal rendah—berat, pekat—seperti rahasia yang enggan pecah. Tak ada angin. Tak ada bintang. Hanya diam yang menggantung, menekan, seolah kota itu sendiri menahan napas. Sebuah mobil hitam melaju perlahan menuju Prenzlauerburg. Ke rumah tua milik Ernst Vogel. Dari luar, bangunan itu tampak biasa. Dinding kusam. Jendela-jendela yang tak mencolok. Halaman kecil yang nyaris tenggelam dalam bayangan. Dulu, tempat itu terasa netral—bahkan hangat. Kini, ia berdiri sebagai saksi bisu: diam, namun mengetahui terlalu banyak. Mobil berhenti. Leonhardt tidak langsung turun. Ia duduk di dalam, punggung menyandar, bahu tetap tegang. Di pangkuannya, sebuah map tua terlipat rapi. Secara fisik ringan—hanya kertas dan debu sejarah. Namun bobotnya lebih berat dari senjata apa pun yang pernah ia bawa. Tangannya menggenggam map itu erat. Buku-buku jarinya memucat—bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya telah lupa







