Share

ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen
ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen
Penulis: Pilar Waisakha

Yang Menantang Kesepakatan

Penulis: Pilar Waisakha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-09 00:33:15

Jerman pasca-perang tak lagi berteriak dengan peluru, melainkan dengan keputusan-keputusan sunyi yang diam-diam membentuk hidup—dan menghancurkannya.

Di sebuah rumah tua di Prenzlauerberg, suara seorang gadis menggema keras:

“Aku bilang TIDAK, Ayah!”

Gadis itu, sekitar lima belas tahun, berdiri tegak dengan tangan bersilang. Rambut pirangnya dikepang rapi. Matanya menyala—bukan oleh benci, tapi oleh semangat menolak takdir yang telah disiapkan baginya.

Ernst Vogel, berdiri di dekat jendela. Punggungnya tegap tapi mata tuanya lelah. Pandangannya kosong menembus hujan yang mengguyur halaman.

“Adelheid…” katanya pelan. “Kau pernah berjanji. Saat kau tujuh tahun—”

“Itu waktu aku masih anak-anak!” potong Adelheid cepat, suaranya meninggi, tangannya terlipat makin erat.

“Aku bahkan belum bisa membedakan cinta dan kue apel!”

Ernst menelan napas yang terasa berat di tenggorokannya.

“Pria itu anak rekan seperjuanganku. Keluarga terhormat. Masa depan jelas. Ini… kesepakatan lama.”

Nada suaranya terdengar seperti orang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Kesepakatan zaman batu,” gumam Adelheid, menoleh ke arah lain. “Dan aku sudah punya pacar.” Bohong, tentu. Tapi itu bukan intinya.

Di ambang pintu, Margarethe berdiri dalam diam. Ia datang tanpa suara, seperti bayangan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi—namun mata birunya menyimpan lelah yang tak terucap—seolah ini bukan pertama kalinya.

“Sudah kubilang,” ucap Margarethe akhirnya. Suaranya tenang, tapi menggigit. “Kau tidak bisa memaksa Adelheid. Biarkan dia memilih. Jangan bentuk dia dari ketakutanmu sendiri.”

Ernst memijit pelipisnya. Napasnya menggantung di tenggorokan.

“Aku hanya ingin dia terlindungi. Dunia ini kejam.”

Margarethe menatapnya, nada suaranya berubah tajam.

“Dan menjualnya lewat perjodohan adalah bentuk perlindungan?”

Ada sesuatu yang lama terkubur ikut mencuat. Bersama dengan kemarahan itu.

“Setidaknya dia bukan pria sembarangan,” desah Ernst.

“Dia—Leonhardt. Dia...”

“Kau bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya!”

Margarethe membentak, Emosi yang dikunci bertahun-tahun akhirnya pecah.

Ernst membalas tatapan itu. Tajam. Mata pria itu seperti ingin menembus dinding dadanya.

“Dan kau?” katanya pelan tapi menghantam seperti peluru.

“Apa kau tahu siapa dirimu sendiri, Margarethe?”

Sekejap, dunia seakan hening. Bahkan hujan pun tak terdengar di telinga Margarethe. Tatapan matanya kosong sesaat.

Lalu perlahan ia menegakkan bahu. Sorotnya membeku.

“Tak perlu korbankan Adelheid demi kesepakatan tua.”

“Jika harus ada yang maju. biarkan aku yang menggantikannya.”

Suara itu tidak menawarkan. Itu ultimatum.

Ernst mengembuskan napas dalam-dalam.

“Kau tak tahu siapa Friedrich. Dia bukan sekadar jenderal... dia kekuasaan yang tak bisa dinegosiasikan.”

“Ini bukan negosiasi,” balas Margarethe dingin.

“Ini syarat. Aku akan bicara langsung dengan keluarga Von Richter.”

Ernst terdiam. Lama. Matanya berkedip perlahan, seolah menyimpan beban yang terlalu tua untuk diangkat—antara perhitungan, rasa bersalah, dan keberanian terakhir… yang mulai pudar.

Saat hendak pergi, ia menoleh pelan, suaranya nyaris seperti bayangan:

“Kau bicara seolah tahu kebenaran, tapi kau bahkan belum tahu siapa dirimu sendiri.”

Ia tersenyum tipis, getir.

“Kau akan mengerti… ketika semua nama tak lagi berarti.”

Hening. Tak ada lagi yang menjawab.

Margarethe berdiri di tempatnya, menatap punggung Ernst yang perlahan menjauh ke balik pintu. Hujan di luar menetes pelan, seolah ikut menutup percakapan yang tak seharusnya terjadi.

Adelheid memandang kakaknya dengan mata lebar—antara terkejut, kagum, dan takut. Bibirnya sempat bergerak, ingin memanggil, “Grethe—” namun suaranya tak jadi keluar.

Margarethe menunduk sejenak, tatapannya kosong ke lantai, seolah mencari sisa ketenangan yang hilang bersama kata-kata ayah mereka tadi. Lalu ia berbalik tanpa suara, mantel panjangnya menyapu lantai kayu dingin, meninggalkan Adelheid sendirian di ruangan yang kini terasa terlalu besar.

Adelheid menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Untuk pertama kalinya, ia sadar: kakaknya bukan hanya melawannya... atau ayah mereka.

Margarethe sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar—dan mungkin, bahkan dirinya sendiri.

*****

Sore itu, cahaya matahari yang pucat menyelinap lewat tirai kamar di lantai dua. Debu menari pelan di udara, dan di antara keheningan yang berat, suara pena menoreh di atas kertas.

Margarethe duduk di meja kayu tua, tubuhnya tegak, matanya menatap satu titik kosong di depan surat yang belum selesai. Jemarinya bergerak mantap—tinta hitam menulis kalimat-kalimat pendek yang terasa seperti keputusan, bukan sekadar pesan.

Di belakangnya, Adelheid duduk di tepi ranjang, lututnya tertekuk, matanya menatap punggung sang kakak dengan campuran bingung dan takut.

“Kau sedang menulis surat untuk siapa?” tanyanya pelan.

Margarethe tak menoleh. Hanya jemarinya yang berhenti sesaat sebelum kembali bergerak.

“Von Richter,” bisiknya nyaris tanpa suara.

Adelheid terdiam, lalu berseru lirih, “Kau tak perlu lakukan itu demi aku.”

Margarethe menutup matanya sejenak, menahan sesuatu di dada. Lalu suaranya keluar perlahan, datar tapi getir,

“Bukan demi kau, Adelheid. Ini demi pilihan yang seharusnya kita miliki. Jika seseorang harus menebus kesalahan ayah, biarlah aku.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rostock

    Jam dinding berdetak. Satu. Dua. Tiga. Di dalam suite VIP 404, udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Koper logam di meja sudah tertutup. Dokumen Edellicht masih berserakan seperti luka lama yang baru saja dibuka. Tak ada yang bicara. Hanya suara laut jauh di balik kaca. Lalu— klik. Lampu di langit-langit berkedip sekali. Edelheid mengangkat kepala. “...itu bukan generator normal.” Lampu mati. Ruangan tenggelam dalam gelap total. Sepersekian detik kemudian—sirene pendek meraung dari lorong. Leonhardt sudah bergerak sebelum suara kedua muncul. Tangannya menarik pistol dari dalam jas, tubuhnya berpindah ke sisi jendela dengan refleks latihan bertahun-tahun. “Lampu cadangan sepuluh detik,” gumamnya. Margarethe berdiri dari kursinya. Gaun merahnya berdesir ringan saat ia mundur satu langkah dari meja. Keller menegang di kursinya. “Apa—” Kalimatnya terpotong. Lampu darurat menyala. Merah. Koridor di luar suite berubah menjadi bayangan

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Ordo Api Kedua

    Udara malam di dek Nordlicht tajam dan asin. Angin Baltik menyapu geladak dengan dingin yang menembus kain jas. Dari dalam kapal, musik waltz masih terdengar samar—gema jauh dari dunia yang tampak elegan dan aman. Di sini, hanya ada laut. Dan bayangan. Berthold Keller berhenti di dekat pagar logam dek layanan. Bahunya menegang sedikit—gerakan kecil, tapi cukup bagi seseorang yang terbiasa membaca bahaya. Ia tidak langsung menoleh. Seorang pria yang hidup lama di dunia gelap tahu satu hal: ketika insting berbunyi, berarti seseorang sudah terlalu dekat. Langkah sepatu terdengar di belakangnya. Leonhardt muncul lebih dulu dari pintu servis. Tuxedo putihnya tetap rapi, kontras dengan dinginnya sorot mata biru yang menilai jarak, sudut tembak, dan jalur mundur hanya dalam satu pandangan singkat. Ia berhenti beberapa langkah dari Keller. Tenang. Presisi. Seolah kapal pesiar ini hanyalah ruang pertemuan pribadi. Dari sisi lain dek, langkah lain muncul dari bay

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Di Bawah Lampu Kristal

    Lorong menuju suite 313 sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Hanya deru halus mesin kapal yang bergetar di balik dinding baja. Cahaya lampu koridor jatuh hangat dan menipu—seolah tak ada bahaya di balik pintu-pintu tertutup. Adelheid berhenti di depan pintu. Troli linen di depannya, wajahnya setengah bosan seperti staf hotel yang sudah lelah shift malam. Tiga ketukan ringan. “Layanan kamar.” Kunci berputar. Pintu terbuka setengah. Seorang pria berkumis tipis, berkacamata, menatap bingung. “Maaf, Fräulein, saya tidak—” Leonhardt bergerak sebelum kalimatnya selesai. Satu langkah masuk. Satu dorongan halus ke dalam. Moncong pistol tersembunyi menempel di sisi tubuh pria itu, tepat di bawah tulang rusuk. “Masuk,” ucapnya tenang. “Pelan. Jangan berteriak.” Nada suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya lebih mengancam. Pria itu mundur. Pintu tertutup tanpa suara. Adelheid masuk terakhir, mengunci dari dalam. Leonhardt memutar pria itu ke di

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Tamu atau Mangsa

    Dek atas lebih sunyi dari yang terlihat dari bawah. Lampu-lampu pesta terkumpul di sisi barat kapal, tempat waltz dan tawa mengalir seperti sampanye yang tak pernah habis. Sisi timur—dekat pagar baja dan tangga darurat—lebih gelap. Hanya pantulan laut Baltik yang hitam berkilau, naik turun perlahan seperti napas raksasa yang sabar. Leonhardt muncul lebih dulu. Nampan kosong di tangannya, langkahnya ringan seperti pelayan yang tersesat arah. Ia tidak terlihat tergesa. Tidak terlihat waspada. Hanya… bekerja. Beberapa detik kemudian, pintu kaca terbuka pelan. Margarethe keluar. Anggun. Tenang. Seolah hanya mencari udara segar dari ruangan yang terlalu penuh. Gaunnya tertiup angin laut, siluetnya memotong cahaya redup. Terakhir, Adelheid muncul dari koridor servis, mendorong troli linen sebelum memarkirkannya di sudut gelap. Mereka tidak berdiri berdekatan. Hanya cukup dekat untuk berbicara tanpa terlihat berbicara. “Suite VIP 404,” bisik Adelheid, nadanya nyaris

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Pesta Dua Lapis

    Dek Utama Margarethe melangkah melewati pintu utama Nordlicht dengan keanggunan yang terukur. Gaun malam biru tuanya jatuh presisi di sepanjang tubuhnya. Rambut tersanggul rapi, bahu terbuka secukupnya untuk memancing perhatian—tanpa terlihat mencarinya. Ia menyerahkan kartu undangan. Petugas bersarung tangan putih memeriksa sekilas. “Fräulein Marianne von Lichtenfels.” Margarethe tersenyum tipis. “Herr.” Langkahnya ringan. Matanya bekerja. Satu sapuan pandang memetakan ruangan: — Tangga spiral menuju dek privat. — Balkon sempit menghadap laut. — Kamera tersembunyi di sudut lampu kristal. — Dua pria tanpa pasangan berdiri terlalu diam di sisi timur. Pengawal. Ia mengambil segelas sampanye dari baki pelayan. Tidak diminum. Hanya properti. “Fräulein von Lichtenfels, bukan?” suara pria tua bermonokel menghentikannya. Margarethe menoleh perlahan. Senyumnya tetap, matanya tidak. “Perjalanan panjang, Herr Doktor. Akan sia-sia jika malam seindah ini di

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Infiltrasi Nordlicht

    Hening menelan kamar penginapan tua itu. Langit di luar jendela sempit telah menghitam. Lampu jalan yang redup menembus tirai tipis, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu yang retak. Bau kayu lapuk bercampur dengan sisa mesiu yang masih melekat di mantel mereka. Tak ada yang langsung berbicara. Leonhardt duduk di kursi kayu reyot dekat meja kecil. Map Marienlied terbuka di depannya. Lembar-lembar dokumen yang mereka selamatkan dari bunker berserakan tak beraturan. Jemarinya berhenti pada satu halaman. Tanda tangan itu masih sama. F. v. R. Ia tidak marah. Dan itu justru yang paling berbahaya. Di sudut ruangan, Margarethe berdiri di dekat wastafel kecil, membersihkan sisa darah kering di pergelangan tangannya. Air keran mengalir tipis, sempat berwarna kemerahan sebelum kembali jernih. “Aku tidak merasa hancur,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Aku merasa… dijelaskan.” Adelheid yang duduk bersila di ranjang dengan laptop tua berstiker retak berhenti men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status