LOGINMenjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.
Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.
Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali.
"Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka."
"Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."
Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.
Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.
Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.
Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepat tapi terkendali.
Di balik kabut yang lebih tebal di dekat tikungan, kereta pertama miring di atas parit dangkal. Kuda-kudanya meronta, salah satunya sudah putus tali kekangnya dan lari entah ke mana. Orang-orang dari konvoi berpencar dalam kepanikan.
Dan di sana, berdiri sesuatu di samping kereta yang miring.
Halfwolf itu tinggi, gelap, dan tenang. Tidak mengaum. Tidak memperlihatkan taring. Hanya berdiri dan mengamati kepanikan yang sudah terjadi dengan cara yang terasa seperti kepuasan yang tidak menampakkan diri.
Itu yang paling mengganggu. Bukan ukurannya, bukan cakarnya. Tapi ketenangannya.
"Piscessa," gumam Orin.
Dentuman senapan dari atas memecah malam. Peluru perak menghantam lengan halfwolf itu. Geraman pendek terdengar, bukan auman panjang yang biasanya, hanya respons singkat dan dingin. Darah menetes ke lumpur tapi kaki makhluk itu tidak bergerak.
Kemudian ia mengangkat kepalanya, membaca arah angin, perubahan kecil di udara, getaran tanah. Lambat dan metodis seperti seseorang yang sedang memecahkan teka-teki, bukan seseorang yang baru saja ditembak.
"Kita kecolongan," bisik Leo.
"Ya. Tapi di mana dia sembunyi selama ini."
Halfwolf itu mundur dua langkah lalu menghilang ke kabut tanpa suara.
"Dia tahu kita di sini," gumam Orin. "Mungkin sudah dari tadi."
"Peluru pertama tidak menghambatnya," kata Piscessa.
"Veilborn tidak merespons rasa sakit seperti halfwolf biasa."
Geminio berdiri di sisi kiri jalur, belati di kedua tangan. "Aku tidak suka halfwolf yang tidak mau berteriak waktu ditembak. Itu tidak wajar."
"Setuju," bisik Geminia dari sisi yang lain.
Mereka mengikuti jejak ke arah kabut yang lebih padat. Ranting patah ke arah yang tidak searah angin. Lumpur sedikit tertekan di tempat yang tidak ada alasan untuk tertekan.
Orin berhenti, menyentuh tanah dengan dua jari. "Jejaknya masih segar. Dia masih di sekitar sini."
Kemudian suara ranting patah membekukan mereka semua.
Dari arah yang tidak ada satupun dari mereka yang perhatikan.
Dari belakang.
"AHHH!!"
Halfwolf itu sudah di belakang Piscessa, tangan besarnya mencengkeram leher Piscessa dari belakang. Piscessa meronta, tapi makhluk itu tidak tergoyahkan.
"GEMINIA! GEMINIO!"
Si kembar sudah bergerak bahkan sebelum nama mereka selesai dipanggil. Geminio melesat dari kanan, belatinya menancap di pundak halfwolf. Geminia dari kiri, belatinya menembus paha makhluk itu di sudut yang memaksimalkan kerusakan. Darah muncrat ke tanah basah.
Halfwolf itu menggeram. Terhuyung. Tapi genggamannya tidak melemah.
Orin melompat maju, pedangnya menyambar tangan yang menahan Piscessa, cukup untuk memotong otot dan membuat genggaman itu kehilangan kekuatannya. Piscessa menendang keras ke perut halfwolf dan membebaskan diri.
"Serang terus!"
Hutan Karven terlalu sempit, terlalu gelap, terlalu penuh akar dan lumpur untuk taktik yang indah. Yang ada hanya reaksi. Keputusan sepersekian detik. Dan kepercayaan buta bahwa orang di sampingmu tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika kamu sendiri belum tahu.
Leo mendorong halfwolf ke area yang lebih terbuka dengan perisai. Geminio menusuk dari celah di antara tulang rusuk. Geminia bergerak di jalur berlawanan, menjaga agar halfwolf tidak bisa fokus pada satu ancaman. Piscessa menembak bukan untuk membunuh tapi untuk menggeser, memaksa halfwolf bergerak ke arah yang diinginkan.
Halfwolf itu kuat. Luka-lukanya menumpuk tapi ia tidak panik. Ia menendang Geminia hingga terlempar beberapa meter. Melempar Piscessa dengan satu pukulan terkontrol. Menahan tebasan Orin seolah rasa sakit hanya informasi yang perlu diproses.
Geminia bangkit dari lumpur dan langsung masuk lagi.
Leo yang menemukan celah itu. Halfwolf ini selalu mencari ketinggian ketika terdesak. Ketika makhluk itu melompat ke akar besar di samping jalur, Leo sudah bergerak, satu langkah ke samping, mendorongnya ke arah yang berbeda. Setengah tubuh halfwolf menabrak batang pohon. Keseimbangan yang sudah ia bangun sepanjang pertarungan patah dalam satu detik.
"Sekarang!" teriak Orin.
Mereka bergerak bersamaan. Leo menahan dari kanan. Geminio dari belakang. Geminia menekan paha yang sudah terluka. Piscessa menembak ke leher. Orin menembus dari depan.
Halfwolf itu terhuyung. Matanya masih dingin. Tapi tubuhnya sudah tidak mau menurut.
Satu tebasan. Cepat. Presisi. Selesai.
Hutan Karven hening kembali. Angin. Air yang menetes dari daun. Sesuatu yang bergerak jauh di kedalaman pohon.
Geminio berdiri dengan napas berat. "Selesai."
Tidak ada yang menimpali. Mereka berdiri di lumpur dengan luka masing-masing, pakaian kotor hingga ke paha, napas tersengal di udara dingin. Piscessa memeriksa cakaran di pergelangan tangannya. Geminia duduk di akar pohon, menekan sisi tulang rusuknya.
"Patah?" tanya Geminio.
"Tidak. Hanya sakit."
"Syukurlah."
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam yang tidak canggung. Geminio dan Geminia berjalan berdampingan, pundak mereka sesekali bersentuhan. Sesekali Geminia menekan sisi tulang rusuknya dan Geminio pura-pura tidak melihat.
Hutan Karven melepas mereka satu per satu. Pepohonan menjadi lebih jarang, kabut menipis, dan langit mulai memperlihatkan warna pertama fajar, abu-abu yang belum memutuskan mau jadi apa.
Mereka masuk ke markas satu per satu. Bau logam dan air lembap menyambut, sama persis seperti setiap kali mereka pulang. Lampu minyak yang ditinggalkan tadi malam masih menyala redup di sudut.
Geminio menjatuhkan dirinya ke kursi. "Aku lapar."
"Kita semua lapar," jawab Geminia. "Tapi kau yang paling berisik soal itu."
"Karena aku paling jujur soal itu."
Orin berdiri sebentar di tengah ruangan, menatap mereka satu per satu. Luka-luka kecil yang akan terasa lebih sakit besok pagi. Wajah-wajah yang lelah tapi masih ada di sini dan bernapas.
Ia menarik kursi, duduk, dan mulai membersihkan pedangnya.
Lampu minyak berderik pelan. Air menetes ke lantai beton dengan irama yang tidak pernah berubah.
Mereka istirahat.
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya
Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis
Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa
Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me
Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg







