MasukMereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.
Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.
Rowanthar lebih besar dari Sagehold.
Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.
Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.
Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya bergerak dengan ritme orang yang tidak tahu apa yang terjadi dua hari perjalanan dari sini.
Konvoi masuk ke gerbang tanpa masalah. Prajurit penjaga memeriksa dokumen Harven sebentar, melirik sekilas ke arah Eclipse Blood, lalu memberi isyarat untuk lewat. Di dalam kota, bau rempah dan kayu bakar bercampur di udara sore.
Harven turun dari kereta begitu konvoi berhenti di depan sebuah gudang dekat pasar. Ia merapikan jasnya, menepuk debu dari bahunya, lalu berjalan ke arah Orin.
"Sesuai perjanjian," katanya, menyerahkan kantong yang terdengar berat saat berpindah tangan.
Orin menerimanya tanpa menghitung. "Iya."
Harven berdiri sebentar. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup lagi. Matanya bergerak ke Leo, ke Geminio dan Geminia, ke Piscessa, sebelum kembali ke Orin.
"Eryndel," katanya akhirnya. "Berapa yang selamat?"
Orin menatapnya. "Kami tidak tahu."
Harven mengangguk pelan, lalu balik badan dan masuk ke gudangnya.
Eclipse Blood berdiri di jalan itu sebentar, di antara hiruk pikuk Rowanthar yang tidak peduli dengan kedatangan mereka.
"Kita cari penginapan," kata Orin.
Penginapan yang mereka pilih bukan yang terbaik di Rowanthar, tapi bukan yang terburuk juga. Lantainya tidak terlalu berderit, kasurnya tidak terlalu tipis, dan pemiliknya tidak banyak tanya.
Geminio melempar dirinya ke kasur begitu pintu kamar terbuka. Suara pegas yang protes keras membuatnya tertawa pendek.
"Lumayan," katanya, menatap langit-langit. "Lebih baik dari lantai markas."
Geminia duduk di tepi kasur sebelahnya, melepas tali belatinya. "Lantai markas lebih hangat."
"Kau ini selalu ada sanggahannya."
"Bukan sanggahan. Fakta."
Leo masuk ke kamarnya tanpa bicara. Pintu tertutup.
Piscessa berdiri di koridor sebentar, menatap pintu kamar Leo, lalu menoleh ke Orin yang berdiri di ujung koridor.
"Dia baik-baik saja?" tanyanya pelan.
"Leo selalu baik-baik saja," jawab Orin.
Piscessa tidak terlihat sepenuhnya yakin, tapi tidak mengejarnya. Ia masuk ke kamarnya sendiri.
Orin berdiri di sana beberapa detik lagi, lalu turun ke kedai di lantai bawah.
Kedai setengah penuh. Orin memesan sesuatu yang hangat, duduk di sudut dengan punggung ke dinding.
Tidak lama kemudian kursi di seberangnya ditarik.
Leo duduk, memesan minuman keras tanpa melihat daftar menu.
"Kukira kau istirahat," kata Orin.
"Kukira kau juga."
Mereka diam sebentar. Suara percakapan di sekitar mereka mengisi kekosongan, harga gandum, cuaca, pertandingan gulat minggu depan.
"Rowanthar tidak tahu apa-apa," kata Leo akhirnya.
"Iya."
"Dua hari dari Eryndel, dan tidak tahu apa-apa."
Orin memutar cangkirnya pelan di atas meja.
Leo menatapnya. "Menurutmu berapa lama berita ini sampai ke sini?"
"Cepat atau lambat."
"Dan waktu itu terjadi?"
Orin mengangkat cangkirnya. "Bukan urusan kita."
Leo mendengus tapi tidak membantah. Mereka minum dalam diam.
Di tengah keheningan itu, Leo meletakkan gelasnya.
"Aku pernah ke Rowanthar sebelumnya," katanya.
Orin menatapnya.
"Lama sekali." Leo mengelus janggutnya. "Waktu itu aku masih yakin bahwa dunia ini bisa diatur kalau cukup keras berusaha."
"Dan sekarang?"
Leo tertawa pendek, lebih ke hembusan napas. "Sekarang aku tua dan akhirnya kembali ke sini lagi."
Orin menatapnya sebentar, lalu menoleh ke arah lain. Ada sesuatu di kalimat Leo yang tidak ia kejar, bukan karena tidak penasaran, tapi karena Leo akan cerita kalau memang mau cerita.
Malam di Rowanthar terus berjalan di luar jendela.
Orin keluar dari kedai menjelang tengah malam.
Kota belum sepenuhnya tidur. Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas sampai menemukan dirinya di tepi jembatan batu kecil yang memotong sungai sempit di sisi timur kota. Air mengalir pelan di bawahnya, hitam di bawah cahaya bulan.
Ia bersandar di pagar jembatan.
Eryndel masih ada di kepalanya. Suara jeritan anak kecil dari arah sumur. Suara auman di antara tembok kayu. Dan di balik itu, lebih jauh dan lebih lama, suara-suara yang lain.
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Pelan, ringan.
Piscessa berdiri di sampingnya, menatap sungai yang sama.
"Tidak bisa tidur?" tanyanya.
"Belum mau tidur."
Piscessa bersandar di pagar, rambutnya sedikit berantakan karena angin malam. Mereka diam cukup lama.
"Waktu kita masuk ke Eryndel," kata Piscessa akhirnya. "Aku sempat mikir... ini bukan pekerjaan kita."
Orin tidak menoleh. "Tapi kita tetap masuk."
"Iya. Dan itu yang bikin aku mikir lebih jauh."
"Mikir apa?"
Piscessa memilih kata-katanya. "Sampai kapan kita melakukan ini karena memang mau, bukan karena tidak bisa tidak melakukannya."
Orin tidak menjawab langsung.
"Bedanya apa?" katanya akhirnya.
Piscessa menatapnya. "Banyak."
Mereka diam lagi. Air mengalir di bawah.
"Anak itu di sumur," kata Orin pelan. "Waktu aku lihat dia..."
Ia berhenti.
Piscessa menunggu.
"Tidak ada apa-apa yang berlebihan. Aku hanya tahu harus ada di sana. Harus masuk. Harus selesaikan."
"Itu bukan tidak merasakan apa-apa," kata Piscessa.
Orin tidak merespons. Tapi tidak membantah juga.
Piscessa mendorong tubuhnya dari pagar. "Aku duluan. Jangan terlalu lama di luar."
Ia pergi. Orin menatap air sungai beberapa menit lagi, lalu membalik badan.
Pagi di Rowanthar datang dengan suara pasar yang mulai hidup.
Eclipse Blood berkumpul di ruang makan bawah penginapan. Geminio memesan roti dan telur. Geminia duduk di sampingnya, mengomel soal porsi. Leo menyesap kopi, wajahnya lebih segar dari semalam meski lingkaran di bawah matanya masih ada. Piscessa makan di ujung meja. Orin datang paling akhir.
Geminio mencolek Geminia. "Tadi malam kau ngorok."
"Bohong."
"Keras banget, kayak gergaji kayu."
"Itu suara angin dari jendela."
"Jendela kita tidak dibuka."
Geminia melempar potongan roti ke arah Geminio. Geminio menangkapnya dan langsung memasukkannya ke mulut. Leo menggeleng pelan.
Orin menatap mereka sebentar, lalu kembali ke makanannya.
Setelah makan, Piscessa keluar lebih dulu, mencari amunisi tambahan sebelum mereka kembali ke Sagehold. Tidak ada yang mempertanyakannya.
Dua puluh menit kemudian ia kembali. Tanpa amunisi.
Leo yang pertama memperhatikan. "Tidak jadi beli?"
Piscessa duduk dan meletakkan sesuatu di atas meja. Selembar kertas kecil, lusuh di pinggirnya, dicopot dari dinding.
"Ini tempel di beberapa titik di pasar. Tiga tempat berbeda yang aku lewati."
Orin mengambil kertas itu. Tulisan tangan yang tidak terlalu rapi, dan di pojok kanan bawah sebuah simbol. Lingkaran yang memotong dirinya sendiri, dengan garis lurus membelah tepat di tengah.
"Ini apa?" tanya Geminio.
"Tidak tahu," jawab Piscessa. "Tapi aku juga lihat simbol yang sama di Eryndel. Di dinding salah satu rumah yang terbakar."
Hening turun di meja itu.
Orin menatap simbol itu. Garis-garisnya sederhana, tapi ada sesuatu di susunannya yang terasa disengaja.
"Simpan," katanya, menyerahkan kertas itu kembali ke Piscessa.
Leo menatap Orin. Orin menatap balik sebentar, lalu menoleh ke jendela. "Kita berangkat siang ini. Siapkan perbekalan."
Kursi-kursi ditarik. Eclipse Blood memencar ke berbagai arah kota.
Mereka meninggalkan Rowanthar ketika matahari sudah condong ke barat.
Orin memimpin di depan. Leo di sisinya. Geminio dan Geminia sedikit di belakang. Piscessa menutup barisan.
Beberapa menit berjalan, Geminio membuka mulut.
"Simbol itu," bisiknya ke Geminia. "Kau pernah lihat sebelumnya?"
Geminia menggeleng. "Tidak."
"Aku juga tidak." Ia menatap punggung Orin di depan. "Tapi rasanya penting."
Geminia tidak menjawab. Ia hanya melirik saku Piscessa sebentar, lalu kembali menatap jalan.
Leo berjalan sejajar dengan Orin tanpa bicara. Beberapa menit berlalu, lalu ia menoleh sebentar.
"Simbol itu," katanya pelan.
"Kau kenal?" jawab Orin.
Leo tidak melanjutkan. Orin juga tidak.
Rowanthar mengecil di belakang mereka dan akhirnya menghilang di balik tikungan. Di depan, jalan kembali ke Sagehold masih panjang.
Eclipse Blood terus berjalan.
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya
Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis
Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa
Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me
Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg







