Share

Bab 6 : Jalur Barat

Author: SthenosWhy
last update Last Updated: 2026-02-26 11:01:13

Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."

Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.

Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin.

"Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo.

"Aku juga ngerasa."

Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu.

"Kasian banget. Kayak patung."

"Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."

Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini.

"...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua."

"Katanya ada laporan dari desa-desa di jalur Rowanthar. Nggak kirim kabar."

"Halfwolf?"

"Apa lagi kalau bukan itu."

Geminio mendadak tidak bersuara. Rahang Orin sedikit mengeras.

"Orin," kata Geminia pelan, nada bercandanya sudah menghilang.

"Aku dengar."

Klien mereka bernama Harven, pedagang kain setengah baya dengan mata yang jauh lebih cemas dari orang yang biasa kenyang. Pertemuan di ruang belakang penginapan kecil, bau lilin murah dan debu kayu tua.

"Tujuannya Rowanthar. Empat kereta. Normalnya tiga hari lewat jalur barat."

"Jalur yang sama dengan yang katanya sepi kabar," kata Leo.

"Iya. Makanya aku minta orang yang bukan sembarangan."

Harven menyebut angka. Jauh di atas harga wajar.

Geminio dan Geminia saling melirik, alis sedikit naik.

"Kapan berangkat?"

"Besok subuh."

"Oke."

Di luar, Geminio tidak tahan. "Tadi waktu dia nyebut angkanya... aku hampir nangis haru."

"Mau beli snack satu karung," sambung Geminia.

"Fokus," kata Orin datar.

Malam itu mereka habiskan di bar kecil di ujung gang. Di meja sebelah, empat prajurit berbicara setengah dipelankan.

"Eryndel sudah dua minggu nggak ada kabarnya."

"Yang mana?"

"Antara sini dan Rowanthar. Sekitar dua ratus jiwa."

"Ada yang dikirim?"

"Regu kecil. Tiga hari lalu. Belum balik."

Orin menatap gelasnya tanpa mengangkatnya.

"Desa dua ratus jiwa. Dua minggu tanpa kabar," kata Leo nyaris tidak terdengar.

"Jalur kita lewat sana."

"Aku tahu."

Leo minum pelan.

Subuh belum terang ketika konvoi bergerak. Dua jam pertama tanpa masalah. Lalu hutan di sisi kanan mulai lebih rapat dan suara burung menghilang.

"Geminio. Masuk ke hutan. Seratus meter ke kanan."

Beberapa menit kemudian Geminio kembali, wajahnya sudah berbeda.

"Jejak. Banyak. Baru. Dan ada bau halfwolf."

Di atas garis hutan, kepulan tipis keabuan mengambang di langit.

"Eryndel," kata Leo.

Orin berbalik ke Harven yang sudah menyibak tirai. "Berhenti di sini. Jangan bergerak sampai kami kembali."

Tim sudah bergerak sebelum ia selesai bicara. Mereka masuk ke hutan.

Eryndel terlihat dari balik pepohonan terakhir. Dua rumah terbakar setengahnya. Pagar roboh. Dan halfwolf, lebih dari dua puluh yang bisa Orin hitung, dengan suara dari sisi lain desa menunjukkan masih ada lebih banyak.

Warga berlari panik. Suara jeritan anak kecil dari arah sumur.

"Lebih dari tiga puluh. Mungkin empat puluh," kata Piscessa.

"Kita cuma berlima," kata Leo.

Orin menatap timnya satu per satu. Geminio dan Geminia sudah berdiri tegap. Leo mengangguk. Piscessa sudah menyiapkan posisi.

"Kita masuk."

Halfwolf pertama tidak sempat mengaum. Belati Geminio sudah menancap di lehernya.

Enam detik sebelum yang lain sadar.

Piscessa naik ke atap. Leo memotong jalur halfwolf yang mengejar warga. Geminia menarik dua anak kecil ke dalam rumah kosong dan mengunci pintunya dari luar.

Lalu kekacauan benar-benar pecah.

Orin menembus tengah, pedangnya berputar cepat, tidak berhenti bergerak. Geminio seperti percikan api, menusuk dari sudut tak terduga lalu menghilang. Geminia menutup celah dari satu sisi ke sisi lain, satu kali bergerak terlalu cepat dan tulang rusuknya memprotes tajam. Leo menghantam dua halfwolf sekaligus dengan perisai, membanting mereka ke tembok kayu. Piscessa dari atap memotong momentum setiap kali salah satu dari mereka hampir terkepung.

Tapi mereka kalah jumlah.

Dua puluh menit mulai terasa berat. Di menit ketiga puluh, Leo menahan luka di lengan kiri. Geminia berdarah di pipi. Geminio kehilangan satu belatinya.

Lalu trompet membelah udara dari arah timur. Prajurit berseragam biru dan perak menyerbu dari dua arah. Halfwolf yang tadinya percaya diri mendadak terjepit.

Tiga puluh menit kemudian, suara terakhir halfwolf di Eryndel adalah auman yang terputus di tengah.

Hening.

Eclipse Blood berdiri di tengah desa. Leo mengikat lukanya. Geminia menekan tulang rusuknya, menahan napas, melepaskannya. Masih tidak patah.

Orin berdiri menghadap tengah desa, matanya menyapu kerusakan. Lalu berhenti di sumur.

Di sana, anak kecil duduk di pinggir sumur bersama seorang perempuan yang memeluknya tanpa suara. Anak itu tidak menangis. Dua lengan kecil melingkar di punggung ibunya dengan erat.

Orin menatap mereka cukup lama.

Jenderal Revan turun dari kudanya dan berjalan ke arah Orin. Wajahnya keras, luka lama di dagu. "Kalian yang menahan mereka sejak tadi?"

"Iya."

"Kalau tidak ada yang menahan sebelum kami tiba, desa ini sudah tidak ada yang bisa kami selamatkan."

"Kami hanya kebetulan lewat."

Sudut bibir Revan bergerak sedikit. "Kebetulan yang bagus."

Di sampingnya, prajurit muda berbisik setelah Eclipse Blood berbalik pergi, "Mereka siapa, Jenderal?"

Revan tidak langsung menjawab, matanya mengikuti punggung-punggung yang menghilang ke balik pepohonan. "Kau pernah dengar rumor tentang kelompok pemburu yang selalu berurusan dengan halfwolf?"

Prajurit itu mengerutkan kening, lalu matanya perlahan melebar.

"Sepertinya iya," kata Revan. Ia tidak menambahkan apapun.

Harven masih menunggu di tempat yang sama. "Sudah aman. Kita lanjut," kata Orin melewatinya.

"Terima kasih," kata Harven, suaranya serak.

Orin tidak menoleh.

Geminia berjalan di samping Geminio, diam lebih lama dari biasanya.

"Orin tadi waktu lihat anak itu di sumur. Ekspresinya aneh."

Geminio menatap punggung Orin yang berjalan di depan. "Aku tahu."

Mereka tidak membicarakannya lebih jauh. Asap dari Eryndel perlahan menipis di antara pucuk-pucuk pohon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 7 : Rowanthar

    Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 6 : Jalur Barat

    Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 5 : Geminia Geminio

    Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 4 : Hutan Karven

    Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 3 : Veilborn

    Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 2 : Eclipse Blood

    Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status