Share

Bab 2 : Eclipse Blood

Penulis: SthenosWhy
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 11:23:21

Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood.

"Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya.

"Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha..."

"Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."

Sekeliling mereka hening sebentar.

"Jangan sampai lu jadi musuh mereka."

Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.

Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan.

"Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?"

"Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."

Leo mengelus janggutnya. "Iya, iya. Kalian memang bintang utamanya hari ini."

Geminia menepuk bahu saudara kembarnya. "Tuh, dengar sendiri."

Di tengah keramaian itu, Orin berdiri menyandar di dinding, tangan bersedekap.

"Oi, Orin. Ngapain diam di sana?" kata Leo sambil mengangkat gelas. "Ini pesta, bukan pos jaga."

Orin mendengus, lalu menarik kursi dan duduk.

"Kenapa harus pesta kayak gini?"

"Karena kita jarang punya alasan buat tertawa."

Piscessa sudah duduk di sisinya, menyodorkan gelas. "Kali ini ikut aja. Kita jarang ngadain acara begini."

Orin melirik gelas itu, lalu menatap Piscessa.

"Dan menurutmu itu penting?"

Piscessa mengangkat bahu. "Ya begitulah."

Leo menatap kembar yang makan dengan lahap. "Ribut, tapi jujur aja... kalian bikin markas ini terasa hidup."

Orin menatap meja di depannya. Wajahnya datar, tapi ia tidak bangkit, tidak pergi. Di tengah tawa dan suara piring beradu, bersama orang-orang yang tak pernah ia pilih, tapi entah sejak kapan terasa seperti keluarga.

"Jadi gimana pedagang tua itu?" tanya Leo. "Uangnya sudah lunas?"

"Sudah. Dibayar penuh. Dia nggak banyak tanya."

"Bagus. Orang yang nggak banyak tanya biasanya bertahan lebih lama."

Malam terus berjalan. Tawa perlahan melemah. Geminio bersandar di kursi, matanya setengah terpejam. "Besok kita rayain lagi," gumamnya, sebelum kepalanya jatuh ke meja. Geminia menyusul tak lama kemudian.

Satu per satu Eclipse Blood tertidur di tempat masing-masing.

Orin masih duduk, menatap api kecil di tengah ruangan.

"Kembar itu akhirnya diam juga," gumamnya pelan.

Piscessa tersenyum tipis di sampingnya. Orin tidak menjawab, lalu akhirnya merebahkan tubuhnya.

Orin terbangun lebih dulu. Ia mulai mengelap bilah pedangnya dengan kain usang, gerakannya pelan dan teratur.

Piscessa duduk di kursi seberangnya, matanya sudah jernih. "Kamu kelihatan lagi kepikiran banyak hal."

Hening beberapa detik.

"Kau tahu, kan," ucap Orin akhirnya. "Keluargaku dibantai halfwolf."

"Iya."

"Orang-orang selalu mikir itu cuma nasib buruk. Padahal waktu itu kami bisa selamat." Suaranya datar, tapi lebih berat. "Desa di sisi barat menolak membuka gerbang. Mereka takut halfwolf ikut masuk."

Ia tertawa pendek, tanpa humor.

"Mereka memilih menutup pintu dan membiarkan kami di luar."

Piscessa terdiam.

"Gw tahu itu keputusan yang masuk akal. Mereka melindungi banyak orang di dalam. Tapi keluargaku dan Elara mati di depanku." Tangannya mengeras menggenggam pedang. "Sejak hari itu, gw nggak pernah bisa memaafkan mereka."

"Kamu kesel sama mereka... dan halfwolf."

"Iya. Dua-duanya."

"Tapi kamu tetap hidup. Tetap bertarung."

"Bukan karena harapan. Cuma karena kalau gw berhenti, semua itu jadi sia-sia."

Piscessa tersenyum tipis, bukan senyum hangat, tapi pengertian. "Jangan simpan sendiri. Kamu nggak sendirian di sini."

Orin mengelap pedangnya lebih pelan. "Cukup. Itu sudah lebih dari yang biasanya aku bilang."

Piscessa berdiri. "Tapi kalau lain kali kepalamu terlalu penuh... aku ada di sini."

Orin menyarungkan pedang dan menutup matanya. Api kecil terus berderik. Dari lorong, air menetes ke lantai beton dengan irama yang tidak pernah berubah.

Pagi datang perlahan. Leo menggeliat dari sudutnya, mengelus janggut, lalu berdiri dan menuangkan air dari teko ke dua cangkir. Ia meletakkan satu di depan Orin tanpa berkata apa-apa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 11 : Asterion Bergerak

    Kurir itu datang menjelang sore, bukan dari jalur yang biasa digunakan orang yang berurusan dengan Eclipse Blood. Cara berjalannya orang yang tidak terbiasa membawa pesan seperti ini dan sangat ingin segera selesai. Ia menyerahkan gulungan kertas kecil ke Orin, mengambil pembayaran yang sudah disiapkan, dan pergi tanpa menunggu balasan.Orin membacanya sendiri dulu sebelum bicara ke yang lain.Pasukan kecil Asterion masuk ke wilayah Sagehold dalam kelompok-kelompok yang berpencar. Tidak ada bendera, tidak ada identitas resmi, tidak ada catatan di pos perbatasan karena mereka masuk lewat jalur yang tidak tercatat. Tapi cara mereka bergerak, jadwal rotasi dan pola patroli yang dilaporkan oleh tiga sumber berbeda di tiga titik berbeda, menunjukkan orang-orang terlatih dengan tujuan yang jelas. Bukan pasukan yang sedang patroli rutin. Pasukan yang sedang mencari.Di beberapa titik yang mereka lewati setelah masuk ke Sagehold, simbol yang sama ditemukan kembali. Bukan di kertas yang ditemp

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 10 : Asterion

    Tiga tahun setelah bergabung dengan Eclipse Blood, Leo pamit dengan kalimat yang singkat: ada urusan lama yang perlu diselesaikan. Orin mengangguk. Piscessa tidak bertanya. Kembar belum ada waktu itu. Leo pergi.Ia tidak menjelaskan lebih dari itu dan Orin memang tidak memintanya. Sudah terlalu lama mereka bekerja bersama untuk tidak saling mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dibagi sebelum waktunya.Asterion lebih besar dari yang Leo ingat. Terakhir ia menginjakkan kaki di kota pusatnya ia masih belasan tahun, masih cukup kecil untuk tidak meninggalkan jejak yang diingat siapapun. Sekarang ia datang sebagai pedagang bumbu dari Reedfall, lengkap dengan identitas yang disiapkan selama dua bulan, surat dagang palsu dari tangan kenalan lama yang Leo bayar cukup mahal. Nama di surat itu bukan namanya.Kota pusatnya berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi tembok dari batu gelap. Di setiap menara ada penjaga, di setiap perempatan ada patroli dengan jad

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 9 : Sebelum

    Mereka duduk di ruang utama markas. Bukan pagi yang khusus, matahari belum sepenuhnya naik dan lampu minyak masih menyala di dua sudut ruangan. Geminio duduk dengan kaki naik ke peti kayu, Geminia menyikutnya sampai ia menurunkannya. Leo ada di kursi yang biasa ia pakai, tangan di atas meja, tidak memegang apa-apa.Orin yang mulai. "Cerita dari awal."Leo mengangguk. Ia mengambil napas pelan, bukan napas yang dramatis, lebih seperti seseorang yang sedang memilih dari mana mulainya."Aku besar di pinggiran Asterion." Suaranya biasa saja, tidak lebih berat dari ketika ia bicara tentang hal-hal lain. "Ada pasangan tua yang menampungku waktu kecil. Bukan keluarga darah. Mereka punya ladang kecil di luar kota, tanaman sayur dan sedikit ternak. Orang biasa. Enric dan Maren namanya. Enric punya kebiasaan makan terlalu lambat dan Maren yang selalu marah karena itu, tapi marahnya tidak pernah sampai kemana-mana. Selesai makan mereka baik-baik lagi. Setiap hari seperti itu."Geminia tidak berko

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 8 : Tanda yang tidak asing

    Leo tidak tidur malam itu.Ia duduk di sudut ruangan dengan kertas itu di tangan, sendirian, sementara yang lain masih terlelap di posisi masing-masing. Geminio tidur di kursinya dengan kaki menjulur ke lantai, sepatunya masih terpasang. Geminia meringkuk di kasur tipis di sudut dengan selimut setengah jatuh ke lantai. Piscessa di pojok lain, punggung bersandar ke peti kayu, kepala sedikit miring. Semuanya lelah dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.Api di tengah ruangan sudah padam. Tinggal bara yang sesekali berpendar merah kalau ada angin masuk dari celah ventilasi. Baunya seperti kayu terbakar dan logam lembap, bau yang sudah begitu familiar sampai Leo kadang tidak menyadarinya lagi.Kertas itu tipis, sudah sedikit kusut di lipatannya karena terlalu sering diambil dan disimpan sejak Piscessa menemukannya di pasar Rowanthar. Simbol di pojok kanan bawahnya tidak berubah mau dilihat dari sudut manapun. Lingkaran yang memotong dirinya sendiri. Garis lurus tepat di tengah, bersih da

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 7 : Simbol itu

    Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya ber

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 6 : Jalur Barat

    Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status