LOGINSuara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood.
"Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya.
"Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha..."
"Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."
Sekeliling mereka hening sebentar.
"Jangan sampai lu jadi musuh mereka."
Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.
Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan.
"Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?"
"Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."
Leo mengelus janggutnya. "Iya, iya. Kalian memang bintang utamanya hari ini."
Geminia menepuk bahu saudara kembarnya. "Tuh, dengar sendiri."
Di tengah keramaian itu, Orin berdiri menyandar di dinding, tangan bersedekap.
"Oi, Orin. Ngapain diam di sana?" kata Leo sambil mengangkat gelas. "Ini pesta, bukan pos jaga."
Orin mendengus, lalu menarik kursi dan duduk.
"Kenapa harus pesta kayak gini?"
"Karena kita jarang punya alasan buat tertawa."
Piscessa sudah duduk di sisinya, menyodorkan gelas. "Kali ini ikut aja. Kita jarang ngadain acara begini."
Orin melirik gelas itu, lalu menatap Piscessa.
"Dan menurutmu itu penting?"
Piscessa mengangkat bahu. "Ya begitulah."
Leo menatap kembar yang makan dengan lahap. "Ribut, tapi jujur aja... kalian bikin markas ini terasa hidup."
Orin menatap meja di depannya. Wajahnya datar, tapi ia tidak bangkit, tidak pergi. Di tengah tawa dan suara piring beradu, bersama orang-orang yang tak pernah ia pilih, tapi entah sejak kapan terasa seperti keluarga.
"Jadi gimana pedagang tua itu?" tanya Leo. "Uangnya sudah lunas?"
"Sudah. Dibayar penuh. Dia nggak banyak tanya."
"Bagus. Orang yang nggak banyak tanya biasanya bertahan lebih lama."
Malam terus berjalan. Tawa perlahan melemah. Geminio bersandar di kursi, matanya setengah terpejam. "Besok kita rayain lagi," gumamnya, sebelum kepalanya jatuh ke meja. Geminia menyusul tak lama kemudian.
Satu per satu Eclipse Blood tertidur di tempat masing-masing.
Orin masih duduk, menatap api kecil di tengah ruangan.
"Kembar itu akhirnya diam juga," gumamnya pelan.
Piscessa tersenyum tipis di sampingnya. Orin tidak menjawab, lalu akhirnya merebahkan tubuhnya.
Orin terbangun lebih dulu. Ia mulai mengelap bilah pedangnya dengan kain usang, gerakannya pelan dan teratur.
Piscessa duduk di kursi seberangnya, matanya sudah jernih. "Kamu kelihatan lagi kepikiran banyak hal."
Hening beberapa detik.
"Kau tahu, kan," ucap Orin akhirnya. "Keluargaku dibantai halfwolf."
"Iya."
"Orang-orang selalu mikir itu cuma nasib buruk. Padahal waktu itu kami bisa selamat." Suaranya datar, tapi lebih berat. "Desa di sisi barat menolak membuka gerbang. Mereka takut halfwolf ikut masuk."
Ia tertawa pendek, tanpa humor.
"Mereka memilih menutup pintu dan membiarkan kami di luar."
Piscessa terdiam.
"Gw tahu itu keputusan yang masuk akal. Mereka melindungi banyak orang di dalam. Tapi keluargaku dan Elara mati di depanku." Tangannya mengeras menggenggam pedang. "Sejak hari itu, gw nggak pernah bisa memaafkan mereka."
"Kamu kesel sama mereka... dan halfwolf."
"Iya. Dua-duanya."
"Tapi kamu tetap hidup. Tetap bertarung."
"Bukan karena harapan. Cuma karena kalau gw berhenti, semua itu jadi sia-sia."
Piscessa tersenyum tipis, bukan senyum hangat, tapi pengertian. "Jangan simpan sendiri. Kamu nggak sendirian di sini."
Orin mengelap pedangnya lebih pelan. "Cukup. Itu sudah lebih dari yang biasanya aku bilang."
Piscessa berdiri. "Tapi kalau lain kali kepalamu terlalu penuh... aku ada di sini."
Orin menyarungkan pedang dan menutup matanya. Api kecil terus berderik. Dari lorong, air menetes ke lantai beton dengan irama yang tidak pernah berubah.
Pagi datang perlahan. Leo menggeliat dari sudutnya, mengelus janggut, lalu berdiri dan menuangkan air dari teko ke dua cangkir. Ia meletakkan satu di depan Orin tanpa berkata apa-apa.
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya
Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis
Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa
Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me
Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg







