แชร์

Bab 3 : Veilborn

ผู้เขียน: SthenosWhy
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-25 11:23:46

Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.

Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu.

"Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."

Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.

Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.

Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu.

"Mau ke mana?"

"Ketemu klien."

"Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah."

"Kerjaan kita memang mengurus masalah."

Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."

Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.

Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik meja menatap Orin sekilas, lalu kembali mengusap mejanya tanpa bertanya.

Orin memilih meja dekat dinding dan menunggu.

Pria itu datang sepuluh menit kemudian. Mantelnya sederhana tapi bersih. Wajahnya tegang — bukan ketakutan biasa, lebih seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru sekarang memutuskan untuk bertindak.

Ia duduk. Mereka tidak saling menatap, tidak berjabat tangan, tidak menyebut nama.

"Eclipse Blood?" tanya pria itu pelan.

"Langsung ke permintaan," jawab Orin.

Ada halfwolf yang bergerak di sekitar jalur kafilah antara dua kota. Bukan halfwolf biasa yang sering ditangani penjaga kota. Yang ini tidak meninggalkan jejak jelas, tidak ada bau kuat, selalu menyerang dari arah yang tidak terduga. Sudah tiga kafilah dalam sebulan. Tidak semua korban mati, tapi cukup banyak yang tidak bisa melanjutkan perjalanan.

"Kenapa tidak lapor ke militer?"

"Sudah. Mereka bilang akan ditangani. Tapi sudah dua minggu dan tidak ada yang datang."

Orin mengangguk pelan.

Angka disebutkan. Cukup untuk membuktikan bahwa pria ini serius. Orin mengambil amplop kecil yang ditinggalkan di tepi meja, membuka peta kasar dan catatan singkat di dalamnya, membacanya sekali, lalu melipat kembali.

Ia keluar dari bar. Kembali ke markas menjelang sore

.Geminio dan Geminia mengunyah roti kering, saling dorong berebut meja. Leo berdiri di depan peta usang di dinding, jarinya menelusuri beberapa jalur dengan sabar. Piscessa duduk di atas peti kayu, membongkar senapan jarak jauhnya, setiap bagian diletakkan di atas kain putih kecil dengan urutan yang selalu sama.

"Kita akan berangkat malam ini," kata Orin.

Leo menoleh. "Oke."

Orin menjelaskan target kali ini halfwolf yang tidak meninggalkan jejak jelas, menyerang dari sudut tidak terduga, tiga kafilah dalam sebulan.

"Kedengarannya bakal sulit," ujar Geminio.

"Kemungkinan Veilborn," kata Orin. "Darah campuran manusia dan halfwolf. Bau mereka tidak sekuat halfwolf murni, jejaknya lebih sulit diikuti. Mereka juga lebih cerdas."

Piscessa mengunci bagian terakhir senapannya dengan bunyi klik yang bersih. "Berarti kita yang harus lebih sabar."

Tidak ada yang membantah.

Mereka menghabiskan sisa sore untuk bersiap. Piscessa menghitung peluru peraknya satu per satu. Leo memeriksa perisainya, mengangguk pelan pada retakan di tepinya, lalu mengencangkan talinya dua kali. Geminio dan Geminia bergantian mengasah belati di batu asah kecil.

"Belatimu masih miring di bagian ujungnya," kata Geminia tanpa menoleh.

"Sama sekali tidak. Kamu yang matanya miring."

"Aku bisa lihat dari sini."

"Kamu memang selalu merasa bisa lihat dari mana saja."

"Kalau kalian punya energi untuk bertengkar soal belati," kata Leo, "simpan untuk nanti."

Mereka diam. Tapi senyum tipis di sudut bibir mereka tidak benar-benar hilang.

Orin duduk di sudut, mengecek perlengkapannya sendiri, pedang perak, kain lap cadangan, tali pendek, obat luka sederhana. Kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan.

Mereka makan seadanya. Roti keras dan sup tipis. Orin menatap peta di dinding, jalur yang harus mereka tempuh sudah ia hafal. Tapi hafal jalur dan tahu apa yang menunggu di sana adalah dua hal yang berbeda.

Malam tiba. Mereka berangkat.

Pohon-pohon tua berdiri terlalu rapat, akarnya mencuat dari tanah lembap. Kabut tipis menggantung rendah, membuat segalanya terlihat satu langkah lebih jauh dari yang sebenarnya. Cahaya bulan terpotong rapat oleh kanopi.

Mereka bergerak tanpa suara. Piscessa mengambil posisi di dahan besar yang kuat. Geminio dan Geminia menyebar di sisi jalur, bergerak di antara pepohonan.

"Kalau dia tiba-tiba lompat," bisik Geminio, "kau yang kena duluan, ok?"

"Siapa takut," sahut Geminia, nyaris tanpa suara.

Leo di tengah, mata waspada, setengah tersenyum pada lawakan kembar itu.

Orin memimpin di depan.

Jejak konvoi terlihat samar di lumpur yang sudah mengeras,bekas roda tua, tanah yang pernah ditekan berat. Dua, mungkin tiga hari lalu.

"Dua hari," bisik Leo. "Hujan nutupin sisanya."

Tidak ada bau darah segar. Tidak ada bulu di semak. Tidak ada tanda panik. Hanya bekas roda, dan tanah yang terlalu bersih.

Mereka sampai di tepi sungai mati. Airnya hitam dan tenang.

"Dia sudah pergi dari sini," kata Orin.

"Kemungkinan belum jauh."

Mereka bertahan malam itu. Lampu kecil ditutup kain. Senjata dibersihkan pelan. Posisi dijaga bergantian. Tidak ada api besar, tidak ada suara sia-sia.

Geminio duduk bersandar di akar pohon besar, menarik lututnya ke dada. Geminia melakukan hal yang sama. Bahu mereka menempel.

"Kau takut?" bisik Geminia.

"Tidak." Jeda panjang. "Sedikit."

Geminia tidak menjawab. Tangannya menyentuh pergelangan tangan Geminio sebentar, satu sentuhan singkat yang tidak memerlukan kata-kata.

Leo bersandar pada pohon paling tebal di sekitarnya, mata terus menyapu kegelapan.

Piscessa tidak bergerak dari posisi tingginya.

Orin berdiri di tepi jalur, menghadap kegelapan hutan. Angin dari barat membawa bau tanah basah dan daun yang membusuk.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 7 : Rowanthar

    Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 6 : Jalur Barat

    Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 5 : Geminia Geminio

    Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 4 : Hutan Karven

    Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 3 : Veilborn

    Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 2 : Eclipse Blood

    Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status