FAZER LOGINMereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.
Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu.
"Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."
Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.
Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.
Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu.
"Mau ke mana?"
"Ketemu klien."
"Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah."
"Kerjaan kita memang mengurus masalah."
Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."
Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.
Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik meja menatap Orin sekilas, lalu kembali mengusap mejanya tanpa bertanya.
Orin memilih meja dekat dinding dan menunggu.
Pria itu datang sepuluh menit kemudian. Mantelnya sederhana tapi bersih. Wajahnya tegang — bukan ketakutan biasa, lebih seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru sekarang memutuskan untuk bertindak.
Ia duduk. Mereka tidak saling menatap, tidak berjabat tangan, tidak menyebut nama.
"Eclipse Blood?" tanya pria itu pelan.
"Langsung ke permintaan," jawab Orin.
Ada halfwolf yang bergerak di sekitar jalur kafilah antara dua kota. Bukan halfwolf biasa yang sering ditangani penjaga kota. Yang ini tidak meninggalkan jejak jelas, tidak ada bau kuat, selalu menyerang dari arah yang tidak terduga. Sudah tiga kafilah dalam sebulan. Tidak semua korban mati, tapi cukup banyak yang tidak bisa melanjutkan perjalanan.
"Kenapa tidak lapor ke militer?"
"Sudah. Mereka bilang akan ditangani. Tapi sudah dua minggu dan tidak ada yang datang."
Orin mengangguk pelan.
Angka disebutkan. Cukup untuk membuktikan bahwa pria ini serius. Orin mengambil amplop kecil yang ditinggalkan di tepi meja, membuka peta kasar dan catatan singkat di dalamnya, membacanya sekali, lalu melipat kembali.
Ia keluar dari bar. Kembali ke markas menjelang sore
.Geminio dan Geminia mengunyah roti kering, saling dorong berebut meja. Leo berdiri di depan peta usang di dinding, jarinya menelusuri beberapa jalur dengan sabar. Piscessa duduk di atas peti kayu, membongkar senapan jarak jauhnya, setiap bagian diletakkan di atas kain putih kecil dengan urutan yang selalu sama.
"Kita akan berangkat malam ini," kata Orin.
Leo menoleh. "Oke."
Orin menjelaskan target kali ini halfwolf yang tidak meninggalkan jejak jelas, menyerang dari sudut tidak terduga, tiga kafilah dalam sebulan.
"Kedengarannya bakal sulit," ujar Geminio.
"Kemungkinan Veilborn," kata Orin. "Darah campuran manusia dan halfwolf. Bau mereka tidak sekuat halfwolf murni, jejaknya lebih sulit diikuti. Mereka juga lebih cerdas."
Piscessa mengunci bagian terakhir senapannya dengan bunyi klik yang bersih. "Berarti kita yang harus lebih sabar."
Tidak ada yang membantah.
Mereka menghabiskan sisa sore untuk bersiap. Piscessa menghitung peluru peraknya satu per satu. Leo memeriksa perisainya, mengangguk pelan pada retakan di tepinya, lalu mengencangkan talinya dua kali. Geminio dan Geminia bergantian mengasah belati di batu asah kecil.
"Belatimu masih miring di bagian ujungnya," kata Geminia tanpa menoleh.
"Sama sekali tidak. Kamu yang matanya miring."
"Aku bisa lihat dari sini."
"Kamu memang selalu merasa bisa lihat dari mana saja."
"Kalau kalian punya energi untuk bertengkar soal belati," kata Leo, "simpan untuk nanti."
Mereka diam. Tapi senyum tipis di sudut bibir mereka tidak benar-benar hilang.
Orin duduk di sudut, mengecek perlengkapannya sendiri, pedang perak, kain lap cadangan, tali pendek, obat luka sederhana. Kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan.
Mereka makan seadanya. Roti keras dan sup tipis. Orin menatap peta di dinding, jalur yang harus mereka tempuh sudah ia hafal. Tapi hafal jalur dan tahu apa yang menunggu di sana adalah dua hal yang berbeda.
Malam tiba. Mereka berangkat.
Pohon-pohon tua berdiri terlalu rapat, akarnya mencuat dari tanah lembap. Kabut tipis menggantung rendah, membuat segalanya terlihat satu langkah lebih jauh dari yang sebenarnya. Cahaya bulan terpotong rapat oleh kanopi.
Mereka bergerak tanpa suara. Piscessa mengambil posisi di dahan besar yang kuat. Geminio dan Geminia menyebar di sisi jalur, bergerak di antara pepohonan.
"Kalau dia tiba-tiba lompat," bisik Geminio, "kau yang kena duluan, ok?"
"Siapa takut," sahut Geminia, nyaris tanpa suara.
Leo di tengah, mata waspada, setengah tersenyum pada lawakan kembar itu.
Orin memimpin di depan.
Jejak konvoi terlihat samar di lumpur yang sudah mengeras,bekas roda tua, tanah yang pernah ditekan berat. Dua, mungkin tiga hari lalu.
"Dua hari," bisik Leo. "Hujan nutupin sisanya."
Tidak ada bau darah segar. Tidak ada bulu di semak. Tidak ada tanda panik. Hanya bekas roda, dan tanah yang terlalu bersih.
Mereka sampai di tepi sungai mati. Airnya hitam dan tenang.
"Dia sudah pergi dari sini," kata Orin.
"Kemungkinan belum jauh."
Mereka bertahan malam itu. Lampu kecil ditutup kain. Senjata dibersihkan pelan. Posisi dijaga bergantian. Tidak ada api besar, tidak ada suara sia-sia.
Geminio duduk bersandar di akar pohon besar, menarik lututnya ke dada. Geminia melakukan hal yang sama. Bahu mereka menempel.
"Kau takut?" bisik Geminia.
"Tidak." Jeda panjang. "Sedikit."
Geminia tidak menjawab. Tangannya menyentuh pergelangan tangan Geminio sebentar, satu sentuhan singkat yang tidak memerlukan kata-kata.
Leo bersandar pada pohon paling tebal di sekitarnya, mata terus menyapu kegelapan.
Piscessa tidak bergerak dari posisi tingginya.
Orin berdiri di tepi jalur, menghadap kegelapan hutan. Angin dari barat membawa bau tanah basah dan daun yang membusuk.
Kurir itu datang menjelang sore, bukan dari jalur yang biasa digunakan orang yang berurusan dengan Eclipse Blood. Cara berjalannya orang yang tidak terbiasa membawa pesan seperti ini dan sangat ingin segera selesai. Ia menyerahkan gulungan kertas kecil ke Orin, mengambil pembayaran yang sudah disiapkan, dan pergi tanpa menunggu balasan.Orin membacanya sendiri dulu sebelum bicara ke yang lain.Pasukan kecil Asterion masuk ke wilayah Sagehold dalam kelompok-kelompok yang berpencar. Tidak ada bendera, tidak ada identitas resmi, tidak ada catatan di pos perbatasan karena mereka masuk lewat jalur yang tidak tercatat. Tapi cara mereka bergerak, jadwal rotasi dan pola patroli yang dilaporkan oleh tiga sumber berbeda di tiga titik berbeda, menunjukkan orang-orang terlatih dengan tujuan yang jelas. Bukan pasukan yang sedang patroli rutin. Pasukan yang sedang mencari.Di beberapa titik yang mereka lewati setelah masuk ke Sagehold, simbol yang sama ditemukan kembali. Bukan di kertas yang ditemp
Tiga tahun setelah bergabung dengan Eclipse Blood, Leo pamit dengan kalimat yang singkat: ada urusan lama yang perlu diselesaikan. Orin mengangguk. Piscessa tidak bertanya. Kembar belum ada waktu itu. Leo pergi.Ia tidak menjelaskan lebih dari itu dan Orin memang tidak memintanya. Sudah terlalu lama mereka bekerja bersama untuk tidak saling mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dibagi sebelum waktunya.Asterion lebih besar dari yang Leo ingat. Terakhir ia menginjakkan kaki di kota pusatnya ia masih belasan tahun, masih cukup kecil untuk tidak meninggalkan jejak yang diingat siapapun. Sekarang ia datang sebagai pedagang bumbu dari Reedfall, lengkap dengan identitas yang disiapkan selama dua bulan, surat dagang palsu dari tangan kenalan lama yang Leo bayar cukup mahal. Nama di surat itu bukan namanya.Kota pusatnya berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi tembok dari batu gelap. Di setiap menara ada penjaga, di setiap perempatan ada patroli dengan jad
Mereka duduk di ruang utama markas. Bukan pagi yang khusus, matahari belum sepenuhnya naik dan lampu minyak masih menyala di dua sudut ruangan. Geminio duduk dengan kaki naik ke peti kayu, Geminia menyikutnya sampai ia menurunkannya. Leo ada di kursi yang biasa ia pakai, tangan di atas meja, tidak memegang apa-apa.Orin yang mulai. "Cerita dari awal."Leo mengangguk. Ia mengambil napas pelan, bukan napas yang dramatis, lebih seperti seseorang yang sedang memilih dari mana mulainya."Aku besar di pinggiran Asterion." Suaranya biasa saja, tidak lebih berat dari ketika ia bicara tentang hal-hal lain. "Ada pasangan tua yang menampungku waktu kecil. Bukan keluarga darah. Mereka punya ladang kecil di luar kota, tanaman sayur dan sedikit ternak. Orang biasa. Enric dan Maren namanya. Enric punya kebiasaan makan terlalu lambat dan Maren yang selalu marah karena itu, tapi marahnya tidak pernah sampai kemana-mana. Selesai makan mereka baik-baik lagi. Setiap hari seperti itu."Geminia tidak berko
Leo tidak tidur malam itu.Ia duduk di sudut ruangan dengan kertas itu di tangan, sendirian, sementara yang lain masih terlelap di posisi masing-masing. Geminio tidur di kursinya dengan kaki menjulur ke lantai, sepatunya masih terpasang. Geminia meringkuk di kasur tipis di sudut dengan selimut setengah jatuh ke lantai. Piscessa di pojok lain, punggung bersandar ke peti kayu, kepala sedikit miring. Semuanya lelah dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.Api di tengah ruangan sudah padam. Tinggal bara yang sesekali berpendar merah kalau ada angin masuk dari celah ventilasi. Baunya seperti kayu terbakar dan logam lembap, bau yang sudah begitu familiar sampai Leo kadang tidak menyadarinya lagi.Kertas itu tipis, sudah sedikit kusut di lipatannya karena terlalu sering diambil dan disimpan sejak Piscessa menemukannya di pasar Rowanthar. Simbol di pojok kanan bawahnya tidak berubah mau dilihat dari sudut manapun. Lingkaran yang memotong dirinya sendiri. Garis lurus tepat di tengah, bersih da
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya ber
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya







