LOGINMereka tidur lama.
Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.
Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.
Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu.
"Kau masak?" suaranya masih serak.
"Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya."
"Itu definisi masak."
"Kalau kau bilang begitu, terima kasih."
Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis menyentuh sisi tulang rusuknya. Sakit, tapi bukan sakit yang memburuk. Bagus.
Geminio meletakkan mangkuk di depannya tanpa komentar. Kaldu bening, irisan umbi-umbian, sepotong roti keras di pinggirnya. Tidak istimewa. Tapi hangat.
"Makasih," kata Geminia pelan.
"Jangan biasakan."
Di sudut ruangan, Leo mulai bergerak dengan wajah seseorang yang sedang berdamai dengan fakta bahwa tidur di dinding tidak sebaik tidur di kasur. Piscessa sudah bangun, membersihkan bagian-bagian senapannya dengan kain kecil dan minyak. Orin duduk di kursinya, menatap api kecil di tengah ruangan, matanya tetap waspada meski tidak ada perburuan hari ini.
Tidak ada briefing. Tidak ada peta yang dibentangkan. Tidak ada percakapan tentang target atau bayaran. Hanya orang-orang yang bergerak dengan ritme lebih lambat dari biasanya.
Geminio mencoba menyapu lantai dengan sapu yang gagangnya terlalu pendek, sehingga ia harus membungkuk dan ekspresinya menjadi seperti seseorang yang marah pada kenyataan. Setiap kali ia berhasil mengumpulkan remah ke satu titik, Geminia lewat dan menendangnya pelan hingga berpencar lagi.
"Eh, jangan! Itu susah payah!"
"Aku hanya lewat."
"Kau lewat dengan sengaja!"
"Aku tidak bisa mengontrol kaki."
"Itu bohong dan kau tahu itu bohong."
Geminia terkikik dan Geminio mengejarnya dengan sapu itu, setiap ayunannya lebih menggelikan dari mengancam. Piscessa menggeleng dari sudut, senyumnya tipis tapi ada. Leo mengangkat mata dari peta sebentar, melihat kembar itu berlarian, lalu kembali ke petanya. Orin hanya tersenyum tipis dari kursinya.
Geminio akhirnya terpeleset di tumpukan kain di sudut, jatuh dengan gaya yang terlalu dramatis untuk kecelakaan sesederhana itu. Geminia berhenti, menepuk lutut, dan tertawa keras. "Aku menang!"
"Kain itu tidak seharusnya di sana!"
"Itu kainmu sendiri yang kau lempar tadi malam."
Geminio terdiam, mencoba mengingat, lalu menyerah. "Tetap tidak adil."
Sore itu, tiba-tiba Leo berdiri dan menatap peta usang di dinding dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
"Aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang perlu aku urus."
"Sendiri?" tanya Orin.
"Sendiri. Jangan tunggu terlalu lama."
Pintu besi tertutup di belakangnya.
Geminio dan Geminia saling menatap. Senyum nakal tersungging di sudut bibir keduanya pada waktu yang sama.
"Yuk kita intip," bisik Geminia. "Pasti seru."
"Dia jarang pergi sendiri tanpa bilang ke mana," Geminio mengangguk cepat.
"Kalian tidak akan melakukannya," kata Piscessa.
"Tentu saja tidak," kata Geminia sambil sudah berdiri ke arah pintu.
"Sama sekali bukan rencana kami," tambah Geminio sambil mengikuti.
Orin tidak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Si kembar menyusuri jalanan sore dengan langkah lebih pendek dari biasanya, cukup jauh di belakang Leo untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk tidak kehilangan jejaknya. Leo belok kiri di persimpangan dekat menara jam, melewati beberapa gang sempit, lalu berhenti di depan sebuah bangunan di sudut jalan. Pintu kayunya tua, tidak ada papan nama, hanya lampu kecil menyala di atas pintu.
Ia masuk.
Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, mereka melihat ke dalam. Musik pelan. Aroma alkohol dan asap. Beberapa meja dengan orang-orang yang duduk dalam konsentrasi yang lebih cocok untuk operasi militer daripada permainan.
Leo duduk di meja tengah, serius menatap kartu dan dadu di depannya.
Geminia menahan napas. Geminio sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Mereka mengintip sambil berusaha tidak bersuara, menyaksikan chip berpindah satu per satu ke tangan orang lain. Lalu Leo melepas jaketnya dan meletakkannya di meja sebagai taruhan.
"Jaketnya?!" Geminio nyaris bersuara, langsung ditutup paksa oleh tangan Geminia.
Geminia sendiri sudah gemetar menahan tawa, bahunya naik turun tidak terkendali.
Leo menoleh ke arah pintu. Matanya bertemu dengan dua pasang mata yang langsung berusaha bersembunyi namun terlambat.
"Jangan ikut campur," katanya datar. "Ini urusan orang dewasa."
Mereka mundur, berjalan setengah berlari sampai beberapa gang jauhnya sebelum membiarkan tawa yang ditahan itu keluar sepenuhnya.
"JAKETNYA, GEMINIA."
"AKU TAHU AKU TAHU."
Mereka tertawa sampai harus berhenti di sudut tembok untuk menyangga diri, napas tersengal, air mata di sudut mata.
"Kau bayangkan kalau itu baju satu-satunya yang dia punya?" Geminio terkikik. "Pulang menggigil ke markas..."
"Badannya terlalu besar," Geminia membalas sambil menghapus sudut matanya. "Angin malam paling cuma bilang 'permisi' numpang lewat."
Di markas, Orin masih di kursinya. Piscessa masih di pojoknya. Tidak ada yang bertanya ketika si kembar masuk dengan wajah merah dan senyum yang tidak mau hilang.
"Kalian..." kata Orin tanpa menoleh.
"Tidak," kata Geminia.
"Kami hanya kebetulan melewati daerah yang sama," tambah Geminio.
"Leo akan tahu," kata Orin.
"Leo sudah tahu. Dia yang menyuruh kami pulang."
Leo kembali tidak lama kemudian. Jaketnya kembali di tubuhnya, entah bagaimana, meski wajahnya lebih lelah dari ketika berangkat dan cara ia menyimpan dompet ke dalam saku terlihat lebih ringan dari biasanya.
"Kalian," katanya begitu melihat kembar itu, "bikin semua orang tua di sini terasa seperti kakek tersiksa."
"Itu tidak mungkin," kata Geminio. "Kakek tidak setangguh Leo."
Leo menghela napas panjang. Tapi tidak ada yang sungguh-sungguh kesal di sana.
Makan malam sederhana, sup sayur, roti, dan daging yang dimasak lebih lama dari seharusnya karena Geminio terlalu sibuk bercerita untuk mengawasinya. Si kembar menceritakan versi penuh kejadian di bar dengan improvisasi di beberapa bagian yang membuat versi aslinya hampir tidak bisa dikenali. Leo mendengarkan tanpa mengoreksi.
Sebuah wortel melayang ke arah Leo di tengah cerita. Leo menangkapnya dengan satu tangan tanpa menoleh dan meletakkannya di atas meja. "Siapa yang lempar."
"Gravitasi," jawab Geminia cepat.
"Gravitasi tidak bekerja ke arah horizontal."
"Di markas ini iya."
Orin menyeruput supnya perlahan. "Kalian serius bikin cerita sendiri tiap hari."
"Hidup membosankan tanpa cerita," jawab Geminia.
"Dan hidup terlalu pendek untuk cerita yang membosankan," tambah Geminio.
Piscessa menimpali pelan: "Minimal kalian tidak menyerang siapa-siapa hari ini."
Leo menghela napas untuk kesekian kalinya, tapi seujung bibirnya terselip sesuatu yang tidak bisa benar-benar disebut cemberut.
Malam tiba. Sup habis, mangkuk ditumpuk di sudut. Si kembar mengambil tempat tidur mereka yang sebenarnya kali ini. Selimut ditarik berulang kali karena masing-masing merasa yang lain mengambil terlalu banyak.
"Besok kita istirahat lagi?" tanya Geminia.
"Kalau tidak ada klien yang datang pagi-pagi."
"Semoga tidak ada."
"Setuju."
Lampu minyak diredupkan satu per satu. Orin menatap kembar yang sudah berbaring sebentar, senyap, sebelum menutup matanya sendiri.
Markas Eclipse Blood akhirnya tenang. Suara tawa si kembar mereda menjadi bisik-bisik kecil yang semakin jarang, sampai keduanya tidak bersuara lagi.
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya
Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis
Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa
Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu."Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.Penutup besi bergeser perlahan. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga.Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu."Mau ke mana?""Ketemu klien.""Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah.""Kerjaan kita memang mengurus masalah."Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota.Bar itu masih sepi. Lampu minyak menyala temaram, bau alkohol basi dan asap lama menggantung di udara. Pelayan muda di balik me
Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan," sahut temannya. "Mungkin dewa yang menanganinya, hahaha...""Tapi orang-orang bilang itu Eclipse Blood. Pemimpin mereka, Orin Nymphaea, satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Dingin dan nggak segan membunuh."Sekeliling mereka hening sebentar."Jangan sampai lu jadi musuh mereka."Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya.Sementara itu di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja penuh gelas kosong dan sisa makanan."Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?""Bener! Hari ini kita yang paling bersinar."Leo mengelus jangg







