Share

Bab 5 : Geminia Geminio

Author: SthenosWhy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-26 05:04:24

Mereka tidur lama.

Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.

Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.

Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu.

"Kau masak?" suaranya masih serak.

"Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya."

"Itu definisi masak."

"Kalau kau bilang begitu, terima kasih."

Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis menyentuh sisi tulang rusuknya. Sakit, tapi bukan sakit yang memburuk. Bagus.

Geminio meletakkan mangkuk di depannya tanpa komentar. Kaldu bening, irisan umbi-umbian, sepotong roti keras di pinggirnya. Tidak istimewa. Tapi hangat.

"Makasih," kata Geminia pelan.

"Jangan biasakan."

Di sudut ruangan, Leo mulai bergerak dengan wajah seseorang yang sedang berdamai dengan fakta bahwa tidur di dinding tidak sebaik tidur di kasur. Piscessa sudah bangun, membersihkan bagian-bagian senapannya dengan kain kecil dan minyak. Orin duduk di kursinya, menatap api kecil di tengah ruangan, matanya tetap waspada meski tidak ada perburuan hari ini.

Tidak ada briefing. Tidak ada peta yang dibentangkan. Tidak ada percakapan tentang target atau bayaran. Hanya orang-orang yang bergerak dengan ritme lebih lambat dari biasanya.

Geminio mencoba menyapu lantai dengan sapu yang gagangnya terlalu pendek, sehingga ia harus membungkuk dan ekspresinya menjadi seperti seseorang yang marah pada kenyataan. Setiap kali ia berhasil mengumpulkan remah ke satu titik, Geminia lewat dan menendangnya pelan hingga berpencar lagi.

"Eh, jangan! Itu susah payah!"

"Aku hanya lewat."

"Kau lewat dengan sengaja!"

"Aku tidak bisa mengontrol kaki."

"Itu bohong dan kau tahu itu bohong."

Geminia terkikik dan Geminio mengejarnya dengan sapu itu, setiap ayunannya lebih menggelikan dari mengancam. Piscessa menggeleng dari sudut, senyumnya tipis tapi ada. Leo mengangkat mata dari peta sebentar, melihat kembar itu berlarian, lalu kembali ke petanya. Orin hanya tersenyum tipis dari kursinya.

Geminio akhirnya terpeleset di tumpukan kain di sudut, jatuh dengan gaya yang terlalu dramatis untuk kecelakaan sesederhana itu. Geminia berhenti, menepuk lutut, dan tertawa keras. "Aku menang!"

"Kain itu tidak seharusnya di sana!"

"Itu kainmu sendiri yang kau lempar tadi malam."

Geminio terdiam, mencoba mengingat, lalu menyerah. "Tetap tidak adil."

Sore itu, tiba-tiba Leo berdiri dan menatap peta usang di dinding dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.

"Aku keluar sebentar. Ada sesuatu yang perlu aku urus."

"Sendiri?" tanya Orin.

"Sendiri. Jangan tunggu terlalu lama."

Pintu besi tertutup di belakangnya.

Geminio dan Geminia saling menatap. Senyum nakal tersungging di sudut bibir keduanya pada waktu yang sama.

"Yuk kita intip," bisik Geminia. "Pasti seru."

"Dia jarang pergi sendiri tanpa bilang ke mana," Geminio mengangguk cepat.

"Kalian tidak akan melakukannya," kata Piscessa.

"Tentu saja tidak," kata Geminia sambil sudah berdiri ke arah pintu.

"Sama sekali bukan rencana kami," tambah Geminio sambil mengikuti.

Orin tidak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.

Si kembar menyusuri jalanan sore dengan langkah lebih pendek dari biasanya, cukup jauh di belakang Leo untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk tidak kehilangan jejaknya. Leo belok kiri di persimpangan dekat menara jam, melewati beberapa gang sempit, lalu berhenti di depan sebuah bangunan di sudut jalan. Pintu kayunya tua, tidak ada papan nama, hanya lampu kecil menyala di atas pintu.

Ia masuk.

Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, mereka melihat ke dalam. Musik pelan. Aroma alkohol dan asap. Beberapa meja dengan orang-orang yang duduk dalam konsentrasi yang lebih cocok untuk operasi militer daripada permainan.

Leo duduk di meja tengah, serius menatap kartu dan dadu di depannya.

Geminia menahan napas. Geminio sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Mereka mengintip sambil berusaha tidak bersuara, menyaksikan chip berpindah satu per satu ke tangan orang lain. Lalu Leo melepas jaketnya dan meletakkannya di meja sebagai taruhan.

"Jaketnya?!" Geminio nyaris bersuara, langsung ditutup paksa oleh tangan Geminia.

Geminia sendiri sudah gemetar menahan tawa, bahunya naik turun tidak terkendali.

Leo menoleh ke arah pintu. Matanya bertemu dengan dua pasang mata yang langsung berusaha bersembunyi namun terlambat.

"Jangan ikut campur," katanya datar. "Ini urusan orang dewasa."

Mereka mundur, berjalan setengah berlari sampai beberapa gang jauhnya sebelum membiarkan tawa yang ditahan itu keluar sepenuhnya.

"JAKETNYA, GEMINIA."

"AKU TAHU AKU TAHU."

Mereka tertawa sampai harus berhenti di sudut tembok untuk menyangga diri, napas tersengal, air mata di sudut mata.

"Kau bayangkan kalau itu baju satu-satunya yang dia punya?" Geminio terkikik. "Pulang menggigil ke markas..."

"Badannya terlalu besar," Geminia membalas sambil menghapus sudut matanya. "Angin malam paling cuma bilang 'permisi' numpang lewat."

Di markas, Orin masih di kursinya. Piscessa masih di pojoknya. Tidak ada yang bertanya ketika si kembar masuk dengan wajah merah dan senyum yang tidak mau hilang.

"Kalian..." kata Orin tanpa menoleh.

"Tidak," kata Geminia.

"Kami hanya kebetulan melewati daerah yang sama," tambah Geminio.

"Leo akan tahu," kata Orin.

"Leo sudah tahu. Dia yang menyuruh kami pulang."

Leo kembali tidak lama kemudian. Jaketnya kembali di tubuhnya, entah bagaimana, meski wajahnya lebih lelah dari ketika berangkat dan cara ia menyimpan dompet ke dalam saku terlihat lebih ringan dari biasanya.

"Kalian," katanya begitu melihat kembar itu, "bikin semua orang tua di sini terasa seperti kakek tersiksa."

"Itu tidak mungkin," kata Geminio. "Kakek tidak setangguh Leo."

Leo menghela napas panjang. Tapi tidak ada yang sungguh-sungguh kesal di sana.

Makan malam sederhana, sup sayur, roti, dan daging yang dimasak lebih lama dari seharusnya karena Geminio terlalu sibuk bercerita untuk mengawasinya. Si kembar menceritakan versi penuh kejadian di bar dengan improvisasi di beberapa bagian yang membuat versi aslinya hampir tidak bisa dikenali. Leo mendengarkan tanpa mengoreksi.

Sebuah wortel melayang ke arah Leo di tengah cerita. Leo menangkapnya dengan satu tangan tanpa menoleh dan meletakkannya di atas meja. "Siapa yang lempar."

"Gravitasi," jawab Geminia cepat.

"Gravitasi tidak bekerja ke arah horizontal."

"Di markas ini iya."

Orin menyeruput supnya perlahan. "Kalian serius bikin cerita sendiri tiap hari."

"Hidup membosankan tanpa cerita," jawab Geminia.

"Dan hidup terlalu pendek untuk cerita yang membosankan," tambah Geminio.

Piscessa menimpali pelan: "Minimal kalian tidak menyerang siapa-siapa hari ini."

Leo menghela napas untuk kesekian kalinya, tapi seujung bibirnya terselip sesuatu yang tidak bisa benar-benar disebut cemberut.

Malam tiba. Sup habis, mangkuk ditumpuk di sudut. Si kembar mengambil tempat tidur mereka yang sebenarnya kali ini. Selimut ditarik berulang kali karena masing-masing merasa yang lain mengambil terlalu banyak.

"Besok kita istirahat lagi?" tanya Geminia.

"Kalau tidak ada klien yang datang pagi-pagi."

"Semoga tidak ada."

"Setuju."

Lampu minyak diredupkan satu per satu. Orin menatap kembar yang sudah berbaring sebentar, senyap, sebelum menutup matanya sendiri.

Markas Eclipse Blood akhirnya tenang. Suara tawa si kembar mereda menjadi bisik-bisik kecil yang semakin jarang, sampai keduanya tidak bersuara lagi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 11 : Asterion Bergerak

    Kurir itu datang menjelang sore, bukan dari jalur yang biasa digunakan orang yang berurusan dengan Eclipse Blood. Cara berjalannya orang yang tidak terbiasa membawa pesan seperti ini dan sangat ingin segera selesai. Ia menyerahkan gulungan kertas kecil ke Orin, mengambil pembayaran yang sudah disiapkan, dan pergi tanpa menunggu balasan.Orin membacanya sendiri dulu sebelum bicara ke yang lain.Pasukan kecil Asterion masuk ke wilayah Sagehold dalam kelompok-kelompok yang berpencar. Tidak ada bendera, tidak ada identitas resmi, tidak ada catatan di pos perbatasan karena mereka masuk lewat jalur yang tidak tercatat. Tapi cara mereka bergerak, jadwal rotasi dan pola patroli yang dilaporkan oleh tiga sumber berbeda di tiga titik berbeda, menunjukkan orang-orang terlatih dengan tujuan yang jelas. Bukan pasukan yang sedang patroli rutin. Pasukan yang sedang mencari.Di beberapa titik yang mereka lewati setelah masuk ke Sagehold, simbol yang sama ditemukan kembali. Bukan di kertas yang ditemp

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 10 : Asterion

    Tiga tahun setelah bergabung dengan Eclipse Blood, Leo pamit dengan kalimat yang singkat: ada urusan lama yang perlu diselesaikan. Orin mengangguk. Piscessa tidak bertanya. Kembar belum ada waktu itu. Leo pergi.Ia tidak menjelaskan lebih dari itu dan Orin memang tidak memintanya. Sudah terlalu lama mereka bekerja bersama untuk tidak saling mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dibagi sebelum waktunya.Asterion lebih besar dari yang Leo ingat. Terakhir ia menginjakkan kaki di kota pusatnya ia masih belasan tahun, masih cukup kecil untuk tidak meninggalkan jejak yang diingat siapapun. Sekarang ia datang sebagai pedagang bumbu dari Reedfall, lengkap dengan identitas yang disiapkan selama dua bulan, surat dagang palsu dari tangan kenalan lama yang Leo bayar cukup mahal. Nama di surat itu bukan namanya.Kota pusatnya berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi tembok dari batu gelap. Di setiap menara ada penjaga, di setiap perempatan ada patroli dengan jad

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 9 : Sebelum

    Mereka duduk di ruang utama markas. Bukan pagi yang khusus, matahari belum sepenuhnya naik dan lampu minyak masih menyala di dua sudut ruangan. Geminio duduk dengan kaki naik ke peti kayu, Geminia menyikutnya sampai ia menurunkannya. Leo ada di kursi yang biasa ia pakai, tangan di atas meja, tidak memegang apa-apa.Orin yang mulai. "Cerita dari awal."Leo mengangguk. Ia mengambil napas pelan, bukan napas yang dramatis, lebih seperti seseorang yang sedang memilih dari mana mulainya."Aku besar di pinggiran Asterion." Suaranya biasa saja, tidak lebih berat dari ketika ia bicara tentang hal-hal lain. "Ada pasangan tua yang menampungku waktu kecil. Bukan keluarga darah. Mereka punya ladang kecil di luar kota, tanaman sayur dan sedikit ternak. Orang biasa. Enric dan Maren namanya. Enric punya kebiasaan makan terlalu lambat dan Maren yang selalu marah karena itu, tapi marahnya tidak pernah sampai kemana-mana. Selesai makan mereka baik-baik lagi. Setiap hari seperti itu."Geminia tidak berko

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 8 : Tanda yang tidak asing

    Leo tidak tidur malam itu.Ia duduk di sudut ruangan dengan kertas itu di tangan, sendirian, sementara yang lain masih terlelap di posisi masing-masing. Geminio tidur di kursinya dengan kaki menjulur ke lantai, sepatunya masih terpasang. Geminia meringkuk di kasur tipis di sudut dengan selimut setengah jatuh ke lantai. Piscessa di pojok lain, punggung bersandar ke peti kayu, kepala sedikit miring. Semuanya lelah dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.Api di tengah ruangan sudah padam. Tinggal bara yang sesekali berpendar merah kalau ada angin masuk dari celah ventilasi. Baunya seperti kayu terbakar dan logam lembap, bau yang sudah begitu familiar sampai Leo kadang tidak menyadarinya lagi.Kertas itu tipis, sudah sedikit kusut di lipatannya karena terlalu sering diambil dan disimpan sejak Piscessa menemukannya di pasar Rowanthar. Simbol di pojok kanan bawahnya tidak berubah mau dilihat dari sudut manapun. Lingkaran yang memotong dirinya sendiri. Garis lurus tepat di tengah, bersih da

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 7 : Simbol itu

    Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya ber

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 6 : Jalur Barat

    Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 4 : Hutan Karven

    Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 3 : Veilborn

    Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat p

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 2 : Eclipse Blood

    Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol di bar pinggiran kota. Beberapa pria duduk berbicara, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood."Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya."Akhir-akhir ini banyak halfwolf mat

  • Eclipse Blood : Pertarungan Manusia dan Halfwolf   Bab 1 : Tangis dan amarah

    500 tahun telah berlalu sejak Pahlawan Perak berhasil mengusir para halfwolf dari tanah manusia. Dari perjuangan itu lahirlah Kekaisaran Jakarta, sebuah wilayah yang dibentuk untuk mempersatukan manusia dan menjaga perdamaian di tengah ancaman yang selalu mengintai. Kekaisaran ini terbagi menjadi tu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status