LOGINRuang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas.
"Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?" Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon. "Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!" Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih. "Toba!" teriak Rusdi. Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!" Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel berisi cairan bening, lalu menuangkannya ke dalam segelas kopi hitam panas yang baru diseduh. "Bawa ini ke Blok F!" perintah Rusdi, suaranya bergetar sedikit. "Berikan pada tahanan 9821. Katakan padanya ini hadiah perdamaian dari saya karena dia sudah berkelakuan baik." Toba menatap gelas kopi itu, lalu menatap wajah atasannya. Dia bukan orang bodoh. Dia tahu 'hadiah' di penjara biasanya berarti tiket satu arah ke kamar mayat. "Ijin Ndan... apa isinya?" tanya Toba ragu. "Jangan banyak tanya!" bentak Rusdi, matanya melotot buas. "Kamu mau bulan ini, anak istrimu makan atau tidak? Kerjakan saja! Pastikan dia meminumnya sampai habis!" Toba menelan ludah. Hati nuraninya berontak, tapi bayangan wajah anak-anaknya di rumah memaksanya mengangguk kaku. "Siap, laksanakan!" *** Di gudang belakang kapel, Elang baru saja selesai latihan napas bersama Hendra. Tubuhnya basah oleh keringat, tapi perasaannya jauh lebih tenang. "Napasmu sudah lebih panjang," puji Hendra singkat sambil melinting rokok klobotnya. "Tapi kewaspadaanmu masih nol." "Maksud Guru?" Belum sempat Hendra menjawab, suara langkah sepatu bot terdengar. Sipir Toba muncul di ambang pintu. Di tangannya ada nampan berisi segelas kopi hitam yang masih mengepul dan sebungkus nasi padang. Elang berdiri, sedikit terkejut. "Pak Toba?" Toba tidak berani menatap mata Elang. Dia meletakkan nampan itu di atas meja kayu reyot. "Makanlah, Lang," ujar Toba dengan suara serak. "Komandan Rusdi titip salam. Dia senang kau tidak membuat masalah di Blok F. Ini hadiah kecil. Kopi enak, premium seharga uang jajan sebulan saya," Toba tertawa aneh. Mata Elang berbinar. Sudah berbulan-bulan dia tidak mencium aroma kopi asli dan rendang. Dia pikir, mungkin strateginya berhasil. Mungkin dengan bersikap baik, pihak lapas mulai melunak. "Terima kasih, Pak! Sampaikan terima kasih saya pada Komandan," kata Elang cepat cepat menghampiri. Toba mengangguk cepat, lalu berbalik pergi setengah berlari, seolah dikejar setan. Dia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Juga tidak mau disalahkan. Elang duduk, perutnya berbunyi nyaring. Dia meraih gelas kopi itu. Aromanya begitu menggoda. "Rezeki anak yatim," gumam Elang sambil mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Tepat saat cairan hitam itu menyentuh bibir Elang, sebuah tongkat kayu melayang cepat dari sudut ruangan. TAK! Gelas di tangan Elang dipukul keras hingga terlempar dan pecah berkeping-keping di lantai. Kopi hitam itu menggenang, berbusa aneh saat menyentuh lantai semen. "Apa-apaan kau, Pak Tua?!" bentak Elang kaget dan marah. Hendra tidak menjawab. Dia berjalan tenang mendekati genangan kopi itu. Dari barisan bangku, dia mengeluarkan seekor cicak yang dia tangkap dengan sangat gerakan tangan yang sangat cepat. Dia melempar cicak itu ke genangan kopi. Hanya dalam hitungan tiga detik, cicak itu kejang-kejang, lalu mati kaku dengan perut meledak. Wajah Elang pucat pasi. Lututnya lemas. "Kopi itu--" Suara Elang tercekat. "Halusinogen dosis tinggi dicampur racun tikus," sahut Hendra datar. "Racun favorit untuk membuat napi 'gila' mendadak lalu gantung diri karena melihat hantu. Polisi akan menyebutnya bunuh diri karena depresi." Elang meraba bibirnya. Dia sempat menelan sedikit. Sangat sedikit, mungkin hanya setetes yang membasahi lidah. Tiba-tiba, pandangan Elang berbayang. Dinding gudang yang kusam itu mendadak meleleh seperti lilin. Suara Hendra terdengar menjauh dan bergema. "Pa--nas!" erang Elang. Tenggorokannya terasa terbakar. Di sudut ruangan, bayangan gelap muncul. Sosok itu berjalan mendekat. "Ayo ikut aku, Elang... Kita mati bersama..." bisik bayangan itu. Suaranya mengerikan. Elang berteriak histeris. Dia mundur ketakutan, tangannya menggapai-gapai lehernya sendiri, merasa tercekik. Obat itu bekerja sangat cepat meski hanya setetes. "Dia mulai gila," gumam Hendra. Wajah tuanya serius. "Kalau dibiarkan, jantungnya akan berhenti karena shock." Hendra bergerak cepat. Dia tidak panik. Dia mencengkeram rahang Elang dengan kuat, memaksa mulut pemuda itu terbuka. Dari balik bajunya, Hendra mengeluarkan kantong kecil berisi bubuk hitam pekat—arang aktif yang sudah dia tumbuk halus. Tanpa air, dia menjejalkan bubuk pahit itu ke mulut Elang. "Telan!" bentak Hendra. Elang meronta, berhalusinasi bahwa Hendra adalah iblis yang menyuapinya bara api. PLAK! Hendra menampar Elang keras sekali hingga kepala pemuda itu tersentak. "Sadar, bodoh! Mereka mau kamu mati! Lawan racunnya dengan pikiranmu!" Hendra menekan titik saraf di belakang leher Elang dan di ulu hatinya dengan keras. "HOEK!" Elang memuntahkan isi perutnya. Cairan hitam bercampur bubuk arang keluar. Dia muntah berkali-kali sampai hanya air empedu yang keluar. Napas Elang tersengal-sengal. Bayangan yang menyeramkan itu perlahan memudar, kembali menjadi tumpukan kardus bekas. Dinding gudang kembali tegak. Tubuh Elang ambruk ke lantai, menggigil hebat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dia selamat, tapi efek racun itu masih menyisakan sakit kepala yang luar biasa. Hendra duduk di sampingnya, menyeka tangan di bajunya. "Kamu lihat?" bisik Hendra dingin. "Tidak ada 'hadiah' di penjara ini. Toba, sipir itu... baru saja mencoba membunuhmu!" "Kenapa?" lirih Elang. "Kenapa mereka tidak biarkan aku hidup tenang?" "Karena orang mati tidak bisa mengajukan banding," jawab Hendra tajam. "Mereka takut, Nak. Kamu adalah ancaman bagi mereka. Dan itu artinya ...." Hendra menatap mata Elang yang merah. "...artinya kamu punya kekuatan yang mereka takuti. Sekarang, berhentilah mengeluh dan meremgek. Minum air ini. Besok, kamu harus bangun dan berpura-pura masih depresi. Kita akan mainkan drama mereka, sambil menyusun rencana untuk memenggal kepala mereka satu per satu!"Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan







